
Wanita berhijab yang kini tengah duduk tegap di sofa kamar bersiap mendengar penjelasan sang suami. Sedangkan Arkian, lelaki itu terlihat santai duduk di sofa tepat di sebelah istrinya. Ia menghela nafas perlahan, dan menatap netra istrinya. Mata indah itu hampir saja meneteskan air matanya seakan tidak percaya melihat kenyataan yang baru saja terungkap.
Dinginnya air conditioner seakan tidak berhasil mendinginkan hati dan kepala Kynara yang kini tengah panas mengepul. Bahkan Kynara sudah menahan sekuat yang ia bisa agar air matanya tidak jatuh, namun sayang. Air bening itu tetap mengalir melewati kedua pipinya. Ia tidak bisa, semua ini terlalu mengejutkan hati dan jiwanya.
Bayangkan saja, dengan santainya Arkian menguliti manusia. Kynara terbayang akan itu hingga membuat hatinya selalu mengucap maaf kepada sang pencipta atas kesalahan yang telah diperbuat suaminya. Ia marah tetapi ia juga ingin tahu, kenapa alasan suaminya melakukan ini semua.
"Hiks... Hiks... ."
"Sayang, aku bisa jelain semuanya. Jangan menangis, Sayang."
Arkian mendekat, ia mengusap lelehan air mata sang istri dengan lembut. Ia menangkup wajah istrinya dan membuat wanita itu menatap netranya. Kynara masih terdiam membisu, lidahnya kelu untuk hanya sekedar berbicara. Ia ingin menjerit dan berteriak meminta pengampunan atas semua dosa ini, namun lidahnya saja Kelu dan bibirnya tetap terkatup rapat.
"Hiks... Jelaskan!"
"Kamu benar, Aku adalah seorang ketua Klan Mafia penguasa Eropa dan Asia!"
"Astagfirullah."
Kynara beristighfar, ia mengelus dadanya seraya memberi ketabahan untuk hatinya. Mendengar dan melihat langsung semua kenyataan ini membuat Kynara benar-benar terkejut, seakan semua harapannya runtuh dan luruh.
Maafkan suamiku, Ya Allah. Maafkan suamiku, Ya Allah.
"Aku adalah penerus ketua klan mafia, Black Blood yang sebelumnya dipegang oleh Daddy. Mau tak mau aku harus meneruskan apa yang telah dibangun oleh Daddy. Dan ini sudah menjadi kebiasaanku, membunuh semua lawanku. Lawan-lawan yang mencoba untuk menghancurkan diriku dan juga keluargaku. Yang mencoba untuk mengusik anak dan istriku dan juga yang mencoba untuk mengganggu Bisnisku! Aku Arkiansa Wijaya tidak akan pernah membiarkan satu orang pun mengusik ketenangan keluarga yang aku sayangi!"
"Membunuh, menyiksa, dan apa yang kau lihat tadi sudah menjadi kebiasaanku. Dari yang awalnya jijik hingga aku merasa terbiasa dan bahkan seperti sebuah keharusan untuk memberikan semua orang biadab itu hukuman yang setimpal."
"Hiks... Hikss... Ya Allah... ."
Wanita itu luruh, wanita berhati baik itu duduk di lantai memeluk lututnya dan menangis sesegukan. Sungguh Arkian tidak bisa melihat istrinya dalam kondisi seperti ini. Mata lelaki itu akhirnya juga menangis, ia tidak sebegitu tega membuat sang istri kecewa.
Setelah puas melepas kekecewaan hatinya dengan menangis, Kynara kembali duduk di sofa dan menatap netra elang milik Arkian. Sekarang ia berusaha untuk menahan semua air mata kesedihan itu.
"Katakan apa saja yang telah kamu lakukan?"
"Membunuh, menguliti, menyiksa dan banyak lagi. Itu semua pekerjaan anak buahku! Aku hanya ingin menghibur diri sesekali."
"Istighfar kamu Mas, ini bukan bahan hiburan! Nyawa manusia juga bukan bahan hiburan!"
"Lalu apa yang akan kamu lakukan jika nyawamu dan nyawa keluarga kamu terancam? Apa kamu hanya akan diam menonton semua yang akan terjadi? Ingat satu hal, dunia ini keras Kynara! Bunuh dia yang mengusikmu! Sebelum kamu yang dia bunuh!"
"Aku bukan manusia suci, aku juga bukan manusia kotor. Aku hanya manusia biasa yang bisa berbuat jahat dan juga baik. Aku tidak memiliki hati sebaik kamu, aku mafia!"
"Berhenti, Mas! Jika kamu benar-benar mencintai aku, ayo Mas kita ubah semua ini. Aku janji, aku akan selalu ada untuk kamu asalkan jangan lagi membunuh."
"Sayang, baiklah, tapi aku mohon satu hal, jangan pernah melarangku untuk menjadi ketua Klan Black Blood. Karena Daddy pasti kecewa."
"Tapi, heuh!"
Wanita itu dilema, di satu sisi ia ingin suaminya berhenti melakukan hal menjijikkan itu. Namun di sisi lain ia tidak ingin membuat mertuanya kecewa.
"Baiklah, aku tidak ingin Mengecewakan papah. Tetapi Mas tidak boleh membunuh lagi! Dan untuk hal ini, aku masih kecewa sama, Mas!"
Kynara beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Arkian berusaha mengejar, namun sayang Kynara segera menutup pintu kamar mandi.
"Sayanggg, kamu udah maafin aku kan?"
"Iya iya, Mas. Udah sana ih, jangan ganggu Nara mandi!"
Kynara berendam, wanita cantik itu tengah merilekskan pikiran dan tubuhnya setelah kejadian beberapa saat barusan. Yang membuat jiwanya bergetar hampir saja tergoncang. Namun keteguhan iman yang ia miliki membuat jiwanya kembali tenang setelah sedikit perdebatan bersama suaminya.
Tetapi tetap saja, Kynara masih harus memberi pelajaran untuk suaminya. Walaupun ia telah memaafkan sang suami, bukan berarti lelaki itu akan lepas dari hukuman. Sekarang bayangkan bagaimana seorang Kynara Zulfah akan menghukum pria yang merupakan penguasa bisnis.
"Mas!"
"Iya Sayang, ada apa?"
Selesai makan malam, Arkian menidurkan Aileen dan kembali ke kamarnya bersama sang istri. Entah kenapa belakangan ini putrinya itu manja sekali padanya. Tidak seperti hari-hari sebelumnya. Mungkin karena sedang mood saja, itulah yang Arkian kirakan.
"Boleh minta tolong?"
Walaupun sedang memberi hukuman, namun suara lembut nan mendayu-dayu itu tetap tidak berubah. Walaupun dalam bentuk membentak, namun bagi Arkian itu suara terlembut yang pernah ia dengar.
"Apa Sayang?"
"Pijitin kaki, Nara, yah?"
"Iya Sayang."
"Mas ikhlas kan? Ridho kan?"
__ADS_1
"Iya iya, Sayangku cintaku!"
Arkian mengambil minyak pijit di dalam buffet dan memangku kaki istrinya yang tengkurap di ranjang. Perlahan ia memijat betis mulus nan putih itu. Betapa lembut dan beningnya kulit istrinya, mungkin karena selalu terkena air wudhu.
"Sayang, siapa saja yang udah megang betis kamu?"
"Engga ada selain Mas sama Tanisa."
"Tanisa?"
"Iya Mas, kan dulu kalau aku capek, Tanisa yang mijitin. Begitu juga sebaliknya."
"Tapi--"
"Mas, udah pijitin aja yah. Nara mau bobok, jangan nanya-nanya lagi."
Senang sekali rasanya bisa membuat suaminya kesal. Hitung-hitung hukuman untuk suaminya yang kejam itu.
Lima belas menit berselang, Arkian sudah mulai jengah dengan kegiatannya. Sedari tadi istrinya bahkan tidur, tega sekali wanita itu.
"Sayang, Mas boleh peluk? Udahan ya mijitnya?"
"Mas? Mas engga ridho mijitin Nara? Baru lima menit loh, Mas!"
Lima menit dari mana!! Ini sudah lima belas menit!!
Ingin rasanya Arkian berteriak sedemikian di hadapan wajah sang istri yang terlihat polos seakan tak memiliki dosa.
.
.
.
.
.
TBC!
Sorry typo guys, belum di edit hehe.
Wanita berhijab yang kini tengah duduk tegap di sofa kamar bersiap mendengar penjelasan sang suami. Sedangkan Arkian, lelaki itu terlihat santai duduk di sofa tepat di sebelah istrinya. Ia menghela nafas perlahan, dan menatap netra istrinya. Mata indah itu hampir saja meneteskan air matanya seakan tidak percaya melihat kenyataan yang baru saja terungkap.
Dinginnya air conditioner seakan tidak berhasil mendinginkan hati dan kepala Kynara yang kini tengah panas mengepul. Bahkan Kynara sudah menahan sekuat yang ia bisa agar air matanya tidak jatuh, namun sayang. Air bening itu tetap mengalir melewati kedua pipinya. Ia tidak bisa, semua ini terlalu mengejutkan hati dan jiwanya.
Bayangkan saja, dengan santainya Arkian menguliti manusia. Kynara terbayang akan itu hingga membuat hatinya selalu mengucap maaf kepada sang pencipta atas kesalahan yang telah diperbuat suaminya. Ia marah tetapi ia juga ingin tahu, kenapa alasan suaminya melakukan ini semua.
"Hiks... Hiks... ."
"Sayang, aku bisa jelain semuanya. Jangan menangis, Sayang."
Arkian mendekat, ia mengusap lelehan air mata sang istri dengan lembut. Ia menangkup wajah istrinya dan membuat wanita itu menatap netranya. Kynara masih terdiam membisu, lidahnya kelu untuk hanya sekedar berbicara. Ia ingin menjerit dan berteriak meminta pengampunan atas semua dosa ini, namun lidahnya saja Kelu dan bibirnya tetap terkatup rapat.
"Hiks... Jelaskan!"
"Kamu benar, Aku adalah seorang ketua Klan Mafia penguasa Eropa dan Asia!"
"Astagfirullah."
Kynara beristighfar, ia mengelus dadanya seraya memberi ketabahan untuk hatinya. Mendengar dan melihat langsung semua kenyataan ini membuat Kynara benar-benar terkejut, seakan semua harapannya runtuh dan luruh.
Maafkan suamiku, Ya Allah. Maafkan suamiku, Ya Allah.
"Aku adalah penerus ketua klan mafia, Black Blood yang sebelumnya dipegang oleh Daddy. Mau tak mau aku harus meneruskan apa yang telah dibangun oleh Daddy. Dan ini sudah menjadi kebiasaanku, membunuh semua lawanku. Lawan-lawan yang mencoba untuk menghancurkan diriku dan juga keluargaku. Yang mencoba untuk mengusik anak dan istriku dan juga yang mencoba untuk mengganggu Bisnisku! Aku Arkiansa Wijaya tidak akan pernah membiarkan satu orang pun mengusik ketenangan keluarga yang aku sayangi!"
"Membunuh, menyiksa, dan apa yang kau lihat tadi sudah menjadi kebiasaanku. Dari yang awalnya jijik hingga aku merasa terbiasa dan bahkan seperti sebuah keharusan untuk memberikan semua orang biadab itu hukuman yang setimpal."
"Hiks... Hikss... Ya Allah... ."
Wanita itu luruh, wanita berhati baik itu duduk di lantai memeluk lututnya dan menangis sesegukan. Sungguh Arkian tidak bisa melihat istrinya dalam kondisi seperti ini. Mata lelaki itu akhirnya juga menangis, ia tidak sebegitu tega membuat sang istri kecewa.
Setelah puas melepas kekecewaan hatinya dengan menangis, Kynara kembali duduk di sofa dan menatap netra elang milik Arkian. Sekarang ia berusaha untuk menahan semua air mata kesedihan itu.
"Katakan apa saja yang telah kamu lakukan?"
"Membunuh, menguliti, menyiksa dan banyak lagi. Itu semua pekerjaan anak buahku! Aku hanya ingin menghibur diri sesekali."
"Istighfar kamu Mas, ini bukan bahan hiburan! Nyawa manusia juga bukan bahan hiburan!"
__ADS_1
"Lalu apa yang akan kamu lakukan jika nyawamu dan nyawa keluarga kamu terancam? Apa kamu hanya akan diam menonton semua yang akan terjadi? Ingat satu hal, dunia ini keras Kynara! Bunuh dia yang mengusikmu! Sebelum kamu yang dia bunuh!"
"Aku bukan manusia suci, aku juga bukan manusia kotor. Aku hanya manusia biasa yang bisa berbuat jahat dan juga baik. Aku tidak memiliki hati sebaik kamu, aku mafia!"
"Berhenti, Mas! Jika kamu benar-benar mencintai aku, ayo Mas kita ubah semua ini. Aku janji, aku akan selalu ada untuk kamu asalkan jangan lagi membunuh."
"Sayang, baiklah, tapi aku mohon satu hal, jangan pernah melarangku untuk menjadi ketua Klan Black Blood. Karena Daddy pasti kecewa."
"Tapi, heuh!"
Wanita itu dilema, di satu sisi ia ingin suaminya berhenti melakukan hal menjijikkan itu. Namun di sisi lain ia tidak ingin membuat mertuanya kecewa.
"Baiklah, aku tidak ingin Mengecewakan papah. Tetapi Mas tidak boleh membunuh lagi! Dan untuk hal ini, aku masih kecewa sama, Mas!"
Kynara beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Arkian berusaha mengejar, namun sayang Kynara segera menutup pintu kamar mandi.
"Sayanggg, kamu udah maafin aku kan?"
"Iya iya, Mas. Udah sana ih, jangan ganggu Nara mandi!"
Kynara berendam, wanita cantik itu tengah merilekskan pikiran dan tubuhnya setelah kejadian beberapa saat barusan. Yang membuat jiwanya bergetar hampir saja tergoncang. Namun keteguhan iman yang ia miliki membuat jiwanya kembali tenang setelah sedikit perdebatan bersama suaminya.
Tetapi tetap saja, Kynara masih harus memberi pelajaran untuk suaminya. Walaupun ia telah memaafkan sang suami, bukan berarti lelaki itu akan lepas dari hukuman. Sekarang bayangkan bagaimana seorang Kynara Zulfah akan menghukum pria yang merupakan penguasa bisnis.
"Mas!"
"Iya Sayang, ada apa?"
Selesai makan malam, Arkian menidurkan Aileen dan kembali ke kamarnya bersama sang istri. Entah kenapa belakangan ini putrinya itu manja sekali padanya. Tidak seperti hari-hari sebelumnya. Mungkin karena sedang mood saja, itulah yang Arkian kirakan.
"Boleh minta tolong?"
Walaupun sedang memberi hukuman, namun suara lembut nan mendayu-dayu itu tetap tidak berubah. Walaupun dalam bentuk membentak, namun bagi Arkian itu suara terlembut yang pernah ia dengar.
"Apa Sayang?"
"Pijitin kaki, Nara, yah?"
"Iya Sayang."
"Mas ikhlas kan? Ridho kan?"
"Iya iya, Sayangku cintaku!"
Arkian mengambil minyak pijit di dalam buffet dan memangku kaki istrinya yang tengkurap di ranjang. Perlahan ia memijat betis mulus nan putih itu. Betapa lembut dan beningnya kulit istrinya, mungkin karena selalu terkena air wudhu.
"Sayang, siapa saja yang udah megang betis kamu?"
"Engga ada selain Mas sama Tanisa."
"Tanisa?"
"Iya Mas, kan dulu kalau aku capek, Tanisa yang mijitin. Begitu juga sebaliknya."
"Tapi--"
"Mas, udah pijitin aja yah. Nara mau bobok, jangan nanya-nanya lagi."
Senang sekali rasanya bisa membuat suaminya kesal. Hitung-hitung hukuman untuk suaminya yang kejam itu.
Lima belas menit berselang, Arkian sudah mulai jengah dengan kegiatannya. Sedari tadi istrinya bahkan tidur, tega sekali wanita itu.
"Sayang, Mas boleh peluk? Udahan ya mijitnya?"
"Mas? Mas engga ridho mijitin Nara? Baru lima menit loh, Mas!"
Lima menit dari mana!! Ini sudah lima belas menit!!
Ingin rasanya Arkian berteriak sedemikian di hadapan wajah sang istri yang terlihat polos seakan tak memiliki dosa.
.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC!
Sorry typo guys, belum di edit hehe.