
Matahari telah menampakkan dirinya, tetapi wanita yang semalam tertidur cukup larut itu baru saja bangun. Setelah melaksanakan sholat shubuh tadi, ia kembali tertidur mungkin karena terlalu lelah. Sampai ia melupakan satu orang yang tengah menunggu dirinya di meja makan.
"Uh!" Kynara merenggangkan tangannya dan beranjak duduk. Ia terdiam sejenak seraya cahaya matahari yang terus perlahan menghangatkan dirinya. Mungkin bibi yang membuka gorden jendela. Pikirnya. Setelah dirasa cukup untuk menenangkan diri, Kynara mencuci muka dan mengenakan hijabnya kembali.
"Ya Allah, anak aku belum makan! Lupa lagi!"
Ujarnya di pertengahan anak tangga. Ia segera mempercepat langkahnya walau sedikit tergopoh-gopoh karena beban yang tengah ia bawa. Tetapi demi menjaga keselamatan, Kynara tetap berpegangan pada pegangan tangga.
"Selamat pagi, Mom!"
"Pagi Nak, Aileen sudah makan?"
Sesampainya di meja makan, ternyata sang putri sudah rapih dan cantik dengan seragam sekolahnya karena sebentar lagi guru privat Aileen akan datang. Ia yakin pasti Nyonya Ellena yang memandikan gadis kecil itu.
"Mah, kok engga bangunin Nara? Biar Nara yang mandikan Aileen, Nara engga enak kalau ngerepotin Mamah terus."
Nyonya Ellena menyerengit, dirinya pun baru saja sampai di meja makan sebelum Kynara. Ia tidak tahu siapa yang memandikan cucunya, ia pikir pelayan. Tetapi seorang pria tampan dan gagah yang telah nampak begitu rapih dengan setelan casualnya datang.
"Itu Daddy yang mandiin Aileen, Mom."
__ADS_1
Kynara tercengang, lelaki itu ternyata masih ada di mansion. Ia kira sang suami sudah berangkat bekerja.
"Tadi mau bangunin kamu, engga tega aku. Soalnya kamu nyenyak banget."
Ujar Arkian menimpali perkataan sang putri. Memang dirinya yang membantu Aileen mandi dan memakaikan seragam untuk putrinya. Walaupun ia tidak selihai Kynara, tetapi kurang lebih ia sudah bisa. Karena beberapa kali dirinya memang pernah memandikan sang putri.
Siapa sangka, mimik wajah Kynara justru berubah sedih dan seperti tengah menahan sesuatu. Wanita berhijab itu segera pergi berbalik menuju kamarnya. Tanpa menghiraukan siapapun yang ada di sana, entah kenapa ia merasa keberadaannya sama sekali tidak berguna. Kenapa keberadaannya seakan tidak diperlukan? Pendapatnya sama sekali tidak dibutuhkan. Apakah ia tidak seberguna itu?
"Sayang? Jangan lari-lari, ingat kandungan kamu!"
Arkian tiba dengan merengkuh tubuh wanita yang kini tengah meringkuk di sandaran ranjang. Menangis tersedu-sedu dengan menutup wajahnya menggunakan kain hijab yang dikenakannya. Arkian hanya bisa bersabar dan menghela nafasnya. Sebelumnya Nyonya Ellena telah menasehati Arkian, bahwa orang hamil itu memang mood-nya berubah-ubah. Kadang marah dan dengan cepat akan senang kembali. Perasaannya sensitif, seperti mudah tersinggung.
"Hiks...hiks..."
"Lepas Mas!"
"Sayang, maafin aku. Aku engga bermak--"
"Lepas aku bilang!"
__ADS_1
Semakin dibiarkan, wanitanya itu justru semakin melunjak dan membentak dirinya. Tidak biasanya wanita itu berani meneriaki apalagi sampai memaki dirinya. Tetapi Arkian masih mencoba untuk bersabar. Lelaki itu masih saja berusaha untuk menenangkan istrinya, mungkin ini karena pengaruh hormon kehamilan.
"Maaf Sayang!"
"Aku itu engva berguna disini! Aku nyusahin terus, lebih baik aku pergi dari sini!"
Entah dari mana pikiran dangkal itu datang, Kynara beranjak mengambil sebuah koper dan membukanya.
Bruakk!
.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC!
Vote like and komennya guys! besok lagi yah, lope youuu! hehe