
Bruak!!
Koper yang tengah Kynara pegang langsung terpental ke pojok ruangan karena hentakan tangan suaminya. Mungkin pria itu sudah geram, jika hanya marah atau mengomel ia akan tahan, tetapi istrinya telah melebihi batas dengan ingin pergi darinya. Bagaimana ia bisa hidup tanpa sang istri disampingnya.
Kynara termenung membeku, hanya terdengar suara hembusan AC dan juga gerakan jarum jam. Hatinya tengah emosi tetapi juga takut suaminya berbuat macam-macam. Ia seorang wanita yang tenaganya tidak seberapa dibandingkan dengan Arkian.
"Apa kau berpikir untuk meninggalkan aku? Sampai titik darah penghabisan, tak akan aku biarkan kau pergi, Kynara!" Ujar Arkian dengan mencengkeram rahang cantik istrinya. Ia perlahan mendorong tubuh wanita itu mundur. Jangan lupakan sifat tempramen Arkian, yang tidak akan bisa menahan emosi lebih lama.
"Aku sudah berusaha memaklumi semua sikap kamu. Tapi bukan berarti kamu bisa egois!"
Kalimat terakhir yang terlontar dari bibir pria itu, membuat sang istri seketika mendelik tajam.
"Aku? Egois? Lalu bagaimana sama kamu! Yang pergi begitu aja tanpa kabar, meninggalkan luka yang dalam untuk aku. Hiks... Apa kamu engga mikir gimana perasaan aku! Gimana perasaan putri kita? Sakit Mas! Sekarang giliran aku ingin pergi, kamu melarang! Jelaskan, siapa yang egois! JELASKAN!"
Teriak wanita berhijab itu dengan disertai lelehan air bening yang terus mengalir dari pelupuk matanya. Sudah sakit hati karena dibohongi kini dirinya harus kembali disakiti fisik oleh lelaki yang dicintainya itu. Egois? Jika dirinya dibilang egois, lalu bagaimana dengan Arkian? Yang hilang tanpa kabar dan berita. Bagaimana dengan sikap pria itu yang membohongi dirinya. Apa Arkian pikir mudah untuk bangkit dari saat-saat itu, tentu tidak semudah yang semua orang pikirkan.
Wanita itu meringkuk menangis di lantai. Arkian berdiri diam, seperti tengah menyusun kata demi kata yang pas untuk berbicara pada sang istri. Ia harus menjelaskan pada istrinya.
__ADS_1
"Sayang!"
Ia duduk mensejajarkan diri dengan Kynara, mencoba memegang bahu Kynara walau langsung ditepis oleh Kynara. Sebisa mungkin ia menekan emosinya, ia harus bisa menjelaskan dengan perlahan agar istrinya bisa meresapi, bukan dengan kekerasan.
"Hiks... Hiks..."
"Sayang, boleh aku jelasin sesuatu?"
"Hmm!"
"Heuh, aku tahu aku salah. Aku egois, aku engga mikiran perasaan kamu dan aku selalu aja nyakitin kamu. Tapi kamu harus tahu, kalau semua ini ada alasannya. Engga mungkin aku melakukan sesuatu tanpa alasan dan latar belakang yang kuat. Aku ngelakuin ini demia kamu dan putri kita, supaya kalian terbebas dari gangguan manusia tidak berguna itu!"
"Maksud kamu apa, Mas? Manusia siapa?"
"Kamu engga akan paham sebelum kamu melihat sendiri buktinya. Jadi, bersediakah kamu ikut bersamaku besok ke suatu tempat yang jauh dari sini!"
"Mas engga bohong lagi kan?"
__ADS_1
Arkian tidak menyangka ternyata kebohongan yang ia rencanakan menghilangkan kepercayaan dalam hati istrinya untuk dirinya.
"Engga Sayang!"
"Hiks! Nara itu engga tahu kenapa belakangan ini emosi Nara engga terkontrol. Sering marah, terus sedih, Nara juga bingung Mas. Waktu hamil Aileen, Nara engga kaya gini banget."
Kynara perlahan menerima rengkuhan sang suami, ia mulai berhenti menangis dan mengusap bekas air matanya dengan ujung kain hijabnya. Jujur dirinya pun tidak tahu, kenapa ia merasa dirinya berlebihan belakangan ini. Seperti mudah emosi contohnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC!
Vote like and komennya guys.