THE CEO'S GENIUS DAUGHTER

THE CEO'S GENIUS DAUGHTER
TCGD-26 APAKAH AILEEN ADALAH PUTRIKU?


__ADS_3

Kini, Arkian tengah duduk santai di pusaran ranjangnya. Ia masih berpikir mengenai kejadian enam tahun yang lalu. Apa benar gadis cantik itu adalah putrinya? Tetapi Arkian masih ragu, karena kehadiran Alex di cafe tempo hari.


"Apa benar di putriku?" Gumamnya.


"Jika memang benar dia putriku, aku adalah ayah yang paling buruk di dunia! Aku sudah mengatakan putriku sendiri sebagai anak haram? Argh!" Ia benar-benar frustasi akan kebungkaman Kynara soal ini. Ia ingin dengar langsung kejujuran dari mulut wanita itu. Namun, mengapa sangat sulit bahkan hanya untuk menjawab pertanyaan darinya.


"Kynara! Kamu membuatku gila, aku bisa gila jika begini terus."


Sedari tadi ia sudah rela berakting seakan-akan dirinya mabuk di hadapan Ginal. Hanya agar Ginal bisa mempertemukan dirinya dengan Kynara. Karena ia yakin, jika ia yang menjemput, Kynara pasti akan langsung menolak ajakannya. Tetapi jika Ginal yang memohon, wanita itu pasti tidak akan tega untuk menolak.


Pagi hari ini, Arkian tidak bekerja. Ia ingin menemui wanita itu, ia ingin memastikan langsung kebenarannya. Dan pria itu akan meminta Ginal untuk menemaninya. Toh, ia tidak akan bangkrut hanya karena tidak bekerja sehari.


Tangan kekar itu segera menggapai gawai-nya yang ia letakan di atas nakas di sebelah lampu tidurnya. Dan ia tekan nomor tangan kanannya itu.


"Gina!"


["Ha? Iya Tuan."] Ginal yang masih bermimpi indah, terpaksa harus keluar dari alam mimpinya karena getaran gawai-nya itu.


"Cepat ke apartemen-ku! Lima menit dari sekarang." Dengan lugas dan tegas, Arkian menitah Ginal. Walaupun ia tahu pria itu masih terbang ke awang-awang dan terpaksa harus tercebur empang akibat telepon darinya.


["Iya Tuan."] Sahut Ginal dengan wajah yang masih ditekuk lesu. Bahkan ia masih belum sadar sebenarnya apa yang dikatakan oleh tuannya, ia hanya asal berkata iya.


Tutt.


"Tuan ini mengganggu saja! Mana menyuruhku untuk datang lima men... What? Lima menit? Aku belum mandi, sial!" Setelah kesadaran kembali, pria itu baru segera bergegas meloncat ke dalam kamar mandi.


***


"Kau lama sekali!" Baru saja Ginal datang, sudah disambut dengan hardikan keras dari tuannya itu. Pria itu terlihat tengah duduk di meja makan dan menikmati selembar roti dengan selai kacang kesukaannya. Atasannya itu bahkan sudah rapi dengan setelan kasualnya.


Ah, nyesel aku pakai jas dan kemeja, tahu begini tadi lebih baik aku pakai handuk! Canda handuk, lebih baik aku pakai casual saja.


"Sudahlah tidak usah berpikir untuk memakai pakaian seperti aku. Toh, aku tetap lebih tampan!" Arkian benar-benar hafal betul apa isi otak pria yang berstatus sebagai sekertarisnya itu.


"Hehe!" Cengiran yang sedikit mengintimidasi. Raut kekesalan jelas terlihat dari wajah Ginal. Seakan ia ingin menyumpal mulut tuannya yang selalu menindasnya itu.


"Duduk!"


Ginal duduk tepat di seberang Arkian, akhirnya pria itu menceritakan segalanya kepada sang tangan kanannya. Ia percaya hanya Ginal yang bisa menyimpan seluruh rahasianya dengan baik. Bahkan Ginal tak segan untuk melakukan apapun yang diinginkan Arkian.

__ADS_1


"Jadi apa tindakan yang akan Anda lakukan, Tuan?"


Jujur saja, mendengar cerita tuannya, membuat Ginal kaget. Karena setahunya, tuannya itu bukan orang yang suka **** bebas. Tuannya sangat tertutup dan begitu menjaga diri dari yang namanya wanita.


"Sekarang aku hanya ingin memastikan, apakah Aileen adalah putriku atau bukan!"


Arkian selesai dengan makannya, ia selembar tissue dan membersihkan sisa-sisa makanan yang masih menempel di bibirnya. Kemudian meneguk air putihnya hingga tandas.


"Saya akan selalu bersama Anda, Tuan."


"Pertama kita temui Kynara. Dan kita minta baik-baik, aku ingin melakukan tes DNA."


"Apa Anda yakin Nona Kynara akan memberi izinnya? Saya kurang yakin, Tuan."


"Jangan banyak protes, Gina."


"Baiklah, Tuan."


***


Di rumah sederhana, sebuah keluarga kecil tengah berkumpul. Membicarakan hal-hal yang menyenangkan selepas sarapan.


"Tan."


"Iya?" Sahut sang pemilik nama.


"Tolong panggilkan Aileen di ruang tamu." Kynara mengelap tangannya yang basah pasca mencuci piring kotor bekas sarapan tadi.


"Nara! Putrimu berbicara bersama seorang pria!" Dari kejauhan Tanisa bisa melihat, Aileen tengah berada di pintu rumah seraya berbicara bersama dua orang pria.


Kedua wanita dewasa itu bergegas menghampiri putri kecil mereka. Kynara kemudian segera memanggil sang putri dan meminta gadis kecil itu untuk masuk.


"Aileen masuk, Sayang!"


"Iya Myh, ini ada Om Dahat disini!" Sebenarnya gadis kecil itu tengah menghadang pria yang ia sebuy sebagai om jahat agar tidak masuk ke dalam rumahnya.


"Siapa, Nak?" Kynara seraya menggendong sang putri. Tanisa sudah terbengong di tempat, ketika melihat siapa yang datang.


"Anda--" Begitu melihat siapa yang datang, lidah Kynara langsung berhenti bergerak. Seakan membisu, tenggorokan itu tercekat. Dan tak mau mengeluarkan suara.

__ADS_1


"Assalamualaikum!" Ujar kedua pria kekar yang berdiri tegap di depan pintu rumahnya yang terbuka itu.


"Wa.. waalaikumsalam!"


"Untuk apa kamu kesini?" Kynara to the point. Jujur saja ia sudah lelah dengan pria satu itu.


"Untuk menanyakan, apakah Aileen adalah putriku?"


Deggg.


Pertanyaan yang keluar dari mulut pria itu benar-benar menghunus jantung Kynara. Kynara melongo, ia tercengang mendengar pertanyaan itu. Bagaimana pria itu bisa mengetahui hal itu? Bagaimana pria itu bisa menanyakan perihal itu? Pikir Kynara.


"Aku ingin melakukan tes DNA bersama Aileen!"


"Tidak!"


"Aku mohon, Mas. Jika Mas meminta kami menjauh, kami akan menjauh. Asalkan Mas jangan ganggu kami lagi, biarkan kami bahagia Mas." Nada lembut nan mendayu-dayu tetap terasa menyakitkan bagi Arkian.


"Jika begitu, itu artinya Aileen adalah putriku?"


"Izinkan! Atau aku akan merebutnya darimu!"


Maafkan aku, Sayang. Aku terpaksa mengancam mu, aku juga punya hak jika dia memang putriku. Aku sungguh ingin tahu kebenaran ini.


Ancaman itu, berhasil membuat jantung Kynara berdetak dengan kencang. Dirinya ini adalah seorang ibu, tidak ada seorang ibu yang mau terpisah dari putrinya. Kenapa pria di hadapannya itu selalu dan selalu membuat dirinya menangis?


Ya Allah, aku seorang ibu. Aku tak sanggup berpisah dari putriku, aku mohon, jangan biarkan pria ini merenggut putriku.


.


.


.


.


.


TBC!

__ADS_1


YOK RAMAIKAN! JANGAN LUPA VOTE LIKE AND KOMENNYA YAH! 💖


BTW MAKASIH YA GUYS VOTE-NYA. DAN, YANG MAU GABUNG GRUP CHAT, SILAHKAN KLIK PROFIL OTHOR YAH!💖


__ADS_2