THE CEO'S GENIUS DAUGHTER

THE CEO'S GENIUS DAUGHTER
TCGD-50


__ADS_3

Tanpa terasa tiga Minggu sudah berlalu, satu Minggu yang lalu hasil tes DNA itu keluar. Dan benar saja, Arkian masih belum sempat membacanya karena kepadatan pekerjaan belakangan ini.


"Selamat pagi, Lord!"


"Hmm!"


Lord Wolf berjalan dengan wibawa dan angkuhnya memasuki markas besar Klan Black Blood. Para anggota telah membungkukkan badan menyambut kedatangan pemimpin mereka. Dengan Ginal yang setia berjalan di belakang Arkian.


"Gina, bagaimana informasi soal wanita pelacur itu?"


Setelah sampai di ruangan pribadinya, Arkian segera mendudukkan dirinya di kursi kebesaran milik Pemimpin Black Blood. Jelas ia pantas di posisi itu, selain karena keberhasilan dan keberanian yang ia miliki. Arkian juga telah mengantongi banyak prestasi dalam mengalahkan musuh-musuhnya.


"Dia adalah ibu tiri dari Nyonya, Lord. Dan dialah yang berencana untuk membunuh Nyonya, supaya Nyonya tidak lagi bisa mengambil harta yang telah ia rebut."


"Bajingan! Jangan beritahu apapun pada istriku!"


"Baik, Lord!"


"Dan pria tua itu mengutus orangnya untuk bertemu dengan Anda, Lord."


"Hahaha... Pengecut memang tidak berani berhadapan langsung!"


"Siapa bilang, Tuan Arkian!"


Seseorang berpakaian serba hitam dengan masker dan topi di yang ia kenakan, tiba-tiba saja masuk dan menatap Arkian dengan tajam seraya duduk di sofa ruangan Arkian. Arkian tidak terkejut sama sekali, karena tidak ada yang bisa masuk markasnya tanpa seizin darinya. Ginal sudah memberitahu perihal kedatangan pria tua itu sejak awal.


"Baguslah kau datang! Aku tidak suka banyak basa-basi!"


"Apa begini caramu menyegani tamu?"


Velix menyeringai, ia tahu Arkian pria yang tempramen. Dan Velix berencana untuk memanfaatkan emosi Arkian sebagai kelemahan Arkian. Namun, sepertinya pemikirannya terlalu dangkal, karena tidak semudah itu untuk menaklukan seorang Arkiansa Wijaya. Yang akan menyerang dalam diam!


"Berikan apa yang menjadi hak istriku secara baik-baik. Atau ku pastikan kau akan menyesal. Karena penyesalan bagiku adalah kematian!"


Arkian tetap tidak bergeming, bahkan ia sama sekali tidak mengedipkan mata elangnya. Hembusan anginpun tidak akan bisa membuat mata itu berair. Siapapun dan dimanapun musuh yang ia hadapi, lelaki itu tak pernah gentar sedikitpun.


"Waw, kau terlihat begitu menakutkan, Tuan Arkian!"


"Tetapi, bagaimana kalau aku tidak mau?"


Imbuh Velix, rupanya ia masih ingin bergurau. Dengan santainya Velix duduk tanpa membuka masker dan topinya. Sepertinya pria itu tidak ingin Arkian melihat wajahnya yang asli.

__ADS_1


"Apa perlu aku melenyapkan semua anggota keluargamu? Baru kau akan menyerah?"


Sial! Dia tahu anggota keluargaku!


"Jangan pernah berfikir aku bodoh, Velix! Aku tahu semua titik lemahmu! Menyerah atu perang?"


"Perang! Kau lebih bodoh dari yang aku kira, hahaha... ."


Jawab Velix, setelahnya ia pergi dengan santai tanpa berpamitan kepada Arkian. Tetapi Arkian tentu tersenyum penuh kemenangan karena ia telah berhasil menyusupkan sesuatu. Sebuah alat pendeteksi kecil yang tidak terlihat jika hanya sekilas. Karena alat itu akan bercampur dan melebur dengan warna yang sama, seperti benda yang menjadi tempatnya melekat.


"Bodoh!"


"Alat pendeteksi itu akan bekerja, Lord. Dan kita akan tahu kemana saja pria itu pergi. Karena kita harus tahu tempat tinggal wanita itu. Untuk itu kita bisa menyerang di titik yang berbeda secara bersamaan."


"Bagus, Gina! Jangan menyerang, ingat satu hal! Kita menyerang dalam diam! Biarkan dia meluncurkan semua serangan yang dia miliki. Setelahnya, baru giliran kita!"


Arkian menyeringai, kini ia tahu ternyata musuhnya tidak secerdik yang ia kira. Pria tua bodoh yang menyerahkan nyawanya sendiri dengan menantang ketua Klan Black Blood.


Drrtttt drttt.


["Assalamualaikum Mas, kamu dimana? Apa aku ganggu?"]


"Waalaikumsalam, Sayang. Ini aku lagi ada di markas!"


"Markas Klan Black Blood!"


["Heuh, kamu bisa pulang sekarang? Tadi aku lupa bawain bekal Aileen. Kasihan dia, karena sekarang awal pekan Aileen akan ada les tambahan untuk kelas modeling."]


Kynara memang sengaja mengikutsertakan Aileen dalam sebuah pelatihan modeling. Karena ibu muda itu paham kalau minat dan bakat putrinya ada di dunia modeling. Sebagai seorang ibu, ia ingin anaknya menjadi seorang yang sukses kelak. Dan bisa membanggakan kedua orangtua.


"Okey Sayang, aku pulang sekarang yah. Kamu siap-siap aja dulu!"


Tutt.


Kynara segera bersiap dan mematikan sambungan teleponnya.


Kynara mengganti gamisnya dengan gamis yang baru karena ia hanya memakai gamis tipis rumahan. Wanita itu sama sekali tidak bersolek, hanya memakai liptint tipis dan juga sedikit bedak agar wajahnya tidak pucat. Dan tidak lupa hijab pasmina berwarna senada dengan gamisnya.


Klek!


Kynara membuka buffett meja riasnya, namun sesuatu jatuh dari dalam buffet.

__ADS_1


"Apa ini? Surat apa ini?"


Sebuah surat dengan amplop masih utuh. Entah siapa yang menaruh, karena Kynara tidak pernah menaruh surat di dalam buffet. Karena rasa penasaran yang muncul, akhirnya wanita itu membuka surat itu dengan penuh kecurigaan. Takutnya itu surat penting atau surat kontrak milik suaminya. Tetapi Kynara merasa itu hanya surat tidak penting, karena tidak mungkin Arkian menaruh surat penting sembarangan.


"WJY RS? Ini surat dari rumah sakit? Apa Mas Arkian sakit?"


Gumam Kynara, ia takut kalau sang suami menyembunyikan sesuatu darinya. Apalagi itu penyakit, yang seharusnya diberitahu bukan malah disembunyikan. Dengan segera wanita cantik berhijab itu membuka dan mengeluarkan sebuah surat dari dalam amplop rumah sakit itu.


Deggg.


"Tes DNA? Positif? Aileen Shaquilla dan Arkiansa Wijaya? Jadi Mas Arkian engga percaya kalau Aileen itu putrinya?"


Lagi dan lagi sang suami membuatnya kecewa. Tetapi ia tidak boleh berburuk sangka, mungkin suaminya melakukan hal ini untuk suatu kepentingan. Lebih baik jika ia tanyakan langsung pada orang yang bersangkutan.


Kynara termenung di depan kaca rias dengan tetap memegang surat itu. Ia tengah menunggu suaminya untuk segera menanyakan perihal surat itu.


Cklek!


Pintu kamar terbuka, Kynara tersentak karena sedari tadi dirinya melamun. Hingga sang suami membuka pintu dan mengejutkannya.


"Sayang? Kamu kenapa?"


Ujar Arkian, ia berdiri menghadap istrinya dan sang istri pun mencium telapak tangannya. Seraya menunjukkan sebuah surat kepada Arkian. Arkian dengan senang hati membaca surat itu. Dan benar saja, ini semua kecerobohannya, seharusnya ia tidak menaruh surat itu di dalam buffet meja rias istrinya.


"Aku bisa jelasin, Sayang!"


"Apa lagi, Mas? Apa lagi ini, Mas? Cukup Mas! Cukup aku engga mau lagi ada kebohongan! Sekarang jujur sama aku, apa lagi ini?"


Perang untuk gelombang kedua akan segera terjadi. Memang tidak mudah untuk menggapai secercah kebahagiaan. Karena hanya untuk sebutir nasi saja kita harus membayar dengan tetesan peluh kerja keras. Begitu pula dengan kebahagiaan, yang akan datang ketika cobaan telah berlalu. Maka kuatkan iman dalam dirimu untuk itu.


.


.


.


.


.


TBC!

__ADS_1


Votenya lah guys, jangan pelit yah. Lope you


__ADS_2