
Siapa sangka, gadis kecil dengan paras cantik nan imut itu benar-benar menggemparkan dunia modeling. Banyak akun-akun media sosial model ternama yang mem-follow akun medsos milik butik Tanisa. Bahkan sang ibu pun baru saja menyadari bahwa sang putri benar-benar memiliki bakat dalam dunia modeling. Maka, dirinya akan selalu mendukung kemanapun putrinya melangkah. Seiring bertambahnya usia, ia yakin putrinya pasti bisa memilih jalannya sendiri. Ia tak mau banyak menekan, yang akhirnya akan memberangkatkan putrinya sendiri.
Hari ini, Tanisa sudah menyiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan. Kynara tidak bisa ikut ke butik, karena ia harus menjaga si kecil. Hanya Tanisa yang akan berbicara langsung dengan utusan dari WJY ENTERTAINMENT. Toh, surat izin dari orang tua kandung sudah ada di tangan Tanisa.
"Nona Boss, ada tamu perwakilan dari WJY ENTERTAINMENT. Katanya hendak bertemu Anda." Ujar Delia yang memang merupakan tangan kanan Tanisa. Semua laporan yang ada, harus melalui Delia. Kemudian baru bisa tersampaikan pada Tanisa.
"Suruh saja masuk, Del." Sahut Tanisa. Ia berdiri hendak menyambut. Tanisa meminta Delia untuk segera membuatkan sesuguhan untuk mereka. Tapi sepertinya hanya ada dua orang, Tanisa menyarankan agar tidak terlalu banyak.
"Mari masuk, Tuan dan Nona." Ujar Delia mempersilahkan tamu pentingnya untuk masuk. Mereka berdua yang merupakan utusan langsung dari WJY ENTERTAINMENT hanya tersenyum ramah.
"Saya undur diri dulu sebentar." Delia membungkuk hormat, di hadapan Tanisa serta kedua utusan itu.
"Ah, perkenalkan Nona dan Tuan. Saya Tanisa owner dari butik ini." Tanisa menjabat tangan mereka. Mereka tersenyum ramah, kemudian segera memperkenalkan dirinya juga.
"Saya Bram, Nona."
"Dan saya Dela, Nona."
"Baiklah, jadi kedatangan kami kesini untuk mengajukan surat kontrak perjanjian antara si model cilik dengan agensi kami. Kami diutus langsung oleh tangan kanan CEO." Ujar Dela yang merupakan salah satu utusan Ginal.
"Baiklah, ini berkas-berkas yang diminta sudah tertata rapi. Saya hanya tinggal menandatangani surat kontrak tersebut kan?"
Tanisa mengambil file yang diberikan oleh Dela. Kemudian ia melampirkan tanda tangan nya di kolom yang disediakan. Sebelumnya Tanisa telah membaca semua isi surat kontrak itu dengan saksama. Hanya beberapa point yang melibat Kynara.
Contohnya di dalam surat itu tertera, bahwa wali dari model harus selalu siaga jika ada pekerjaan mendadak. Dan juga wali dari Aileen harus mengizinkan jika pihak agensi memiliki hak penuh atas penampilan sang model saat diluar rumah.
"Permisi, silahkan diminum tehnya. Dan dimakan camilannya." Delia datang membawa sesuguhan. Sepiring cookies dan dua cup teh manis hangat.
"Terimakasih." Sahut mereka berdua, kemudian menyeruput teh masing-masing.
"Jadi begini, Nona. Presdir berkata, beliau akan menyuntikkan dana untuk butik ini, selama masa kontrak si model dengan butik ini berlaku."
"Dan juga di dalam surat perjanjian kontrak telah tertulis, bahwa kami berhak mengatur penampilan atau style yang digunakan oleh si model ketika berada di luar. Karena jelas, model kami akan menjadi sorotan media. Gaya berbusana yang tidak sopan akan mempengaruhi nama baik agensi kami. Jadi selaku wali, harus mengizinkan."
"Ah tentu, kami akan sangat senang. Jika style-nya sudah ada yang mengatur."
__ADS_1
"Untuk style yang dilarang adalah, berpakaian terlampau seksi. Atau terbuka pada bagian dada, dan pakaian yang terlalu minim pada bagian paha. Karena usia si model yang masih terlalu kecil, sehingga kami melarang hal itu. Untuk selebihnya boleh mengenakan style apapun."
"Anda bisa berkonsultasi dengan pihak kami, jika Anda kebingungan untuk menentukan style model itu sendiri. Dengan senang hati, kami akan membantu." Dela dan Bram menjelaskan dengan begitu mendetail. Begitupun dengan Tanisa dan Delia yang mendengarkan dengan saksama.
"Tentu." Sahutnya.
"Kami menyarankan agar Anda dan model cilik kami menetap di ibukota. Karena kantor pusat kami ada di sana, jadi akan lebih mudah jika Anda ingin berkonsultasi."
"Saya sudah memiliki rencana untuk pindah. Butik ini akan saya percayakan pada tangan kanan saya ini." Tanisa melirik Delia, yang hanya tersenyum ramah.
"Ah itu ide yang bagus, Nona."
"Baiklah, saya rasa Anda sudah paham. Kalau begitu kami pamit dulu. Sebenarnya, tangan kanan Presdir yang akan hadir, namun karena ada meeting mendadak. Jadi beliau tak bisa hadir, dan meminta kami menggantikan." Dela dan Bram terlihat memasukkan kembali surat kontrak yang telah ditandatangani dan beberapa berkas-berkas milik Aileen.
Akhirnya pertemuan pun selesai, jujur saja Tanisa sedikit nervous. Karena dirinya tidak pernah bekerja sama dengan agensi-agensi ternama di ibukota. Ia yakin sang keponakan pasti akan menorehkan prestasi-prestasi dalam dunia modeling. Karena Aileen adalah anak genius, bahkan anak kecil itu banyak mempelajari pose-pose melalui handphone. Bisa dikatakan otodidak, sang mommy saja bingung. Tetapi bagaimana putri kecilnya itu bisa sepaham itu? Otak kecil milik Aileen sungguh bekerja dengan begitu baik.
"Del, kau handle semua pekerjaan ku."
"Baik, Nona Boss."
***
"Nara, Assalamualaikum."
"Waalaitumsallam, sebentar."
"Nara, aku sudah menandatangani kontrak dengan mereka. Sekarang kita harus pindah ke ibukota." Mendengar kalimat yang dilontarkan Tanisa, membuat Kynara tercengang.
Deggg.
Ibukota, kota yang banyak menggoreng luka di hati dan raganya. Membuat hatinya tak lagi merasakan kebahagiaan. Kesucian yang ia jaga pun juga direnggut paksa. Membuat ia harus menerima banyak cemooh dan hinaan dari masyarakat, karena berbadan dua tanpa suami. Ia malu, ia berhijab tetapi kelakuannya dinilai bejat oleh orang-orang. Walaupun mereka tidak tahu cerita sesungguhnya, tetapi tetap saja hinaan itu selalu terlontar lancar dari mulut mereka.
Air matanya menetes, Kynara menatap kosong. Ia tidak mau lagi menginjak kota itu. Ia sudah trauma akan semua penderitaan yang ia alami. Ia hanya ingin hidup bahagia bersama sang putri.
"Duduk." Tanisa menggiring Kynara untuk duduk.
__ADS_1
"Nara, lupakanlah, bukankah Allah sudah menggantikan rasa sakit mu dengan kehadiran Aileen. Biarkan putri mu berkembang, Nara. Putrimu pasti bisa mendongkrak kepopulerannya di dunia modeling. Kau tahu kan, betapa bahagianya dia ketika ikut pemotretan di butik? Kau ingin menghancurkan kilauan kebahagiaan itu dai hidupnya? Kau ingin merenggut masa depannya, hanya karena masalah mu dengan pria itu? Lupakanlah, toh sekarang kamu sudah bahagia bersama Aileen." Tanisa mencoba untuk menasehati Kynara.
"Bukan masalah itu Tan, baiklah aku setuju." Wanita penyabar itu tentu tidak akan sanggup merenggut kebahagiaan putrinya. Walaupun dirinya harus merasakan sakit, ia rela asalkan putrinya bahagia.
"Terimakasih, Aileen harus bisa menggapai masa depan yang lebih cerah dari aunty dan ibunya."
"Ya kamu benar, putriku pasti bisa!"
"Tapi, bagaimana jika Arkian menemukan kami?" itulah yang sedari tadi ia khawatirkan.
"Apa yang harus aku katakan?"
"Kita akan menghadapi ini bersama! Sudah jangan pikirkan pria tak berguna itu lagi. Aku benar-benar muak mendengarnya." Ujar Tanisa.
"Kita tidak perlu menyembunyikan lagu perihal keberadaan Aileen. Tapi bukan berarti kamu memberitahu langsung bahwa Arkian adalah ayah biologisnya."
"Kamu abaikan saja dia, okey?" Dan Kynara mengangguk.
Mereka berdua tidak menyadari bahwa si kecil yang sedari tadi mereka bicarakan, tengah mengintip di balik dinding. Sepertinya sang mommy tidak mengizinkannya, ia harus membujuk mommy nya, pikir Aileen. Tapi, gadis kecil itu juga tidak mau membuat mommy nya sedih.
"Ayah biolloddis?"
.
.
.
.
.
TBC!
YOK RAMAIKAN, VOTE LIKE DAN KOMENNYA YAH! 💖
__ADS_1