
Tanisa beserta Kynara dan Aileen kini telah pindah rumah. Mereka memutuskan untuk kembali ke kota dimana meninggalkan kesan buruk dalam ingatan Kynara. Karena kejadian naas itulah yang membuat Aileen hadir di dalam hidup Kynara. Bukannya Kynara menyesal karena telah melahirkan Aileen, namun dirinya masih sakit ketika ingatan mengenai kejadian itu kembali datang mengusik pikirannya.
Seminggu sudah mereka menempati rumah baru itu. Rumah sederhana namun masih terkesan indah. Dengan halaman yang tidak begitu luas, namun masih terlihat hijau akan rerumputan dan tanaman-tanaman pendukung lainnya.
Tanisa bahkan sudah mempercayakan urusan butiknya kepada Delia. Delia hanya akan mengirimkan laporan saja kepada Tanisa. Dan Tanisa hanya duduk diam sembari merancang design baru untuk pakaian yang akan dilaunching bulan depan atau bahkan minggu depan.
"Tan, mau masak apa?" Kynara dan Tanisa kini memang tengah berada di dapur. Hendak memasak sarapan. Seperti inilah kegiatan sehari-hari mereka semenjak pindah rumah. Tanisa hanya bekerja di malam hari, sedangkan pagi sampai sore hanya melakukan pekerjaan rumah. Itupun dibantu banyak oleh Kynara.
"Gimana kalau lalapan aja? Ayam goreng dan beberapa sayur. Seperti timun, kol, dan sambal." Tanisa kemarin sempat membeli ayam potong saat di minimarket.
"Kemarin kan kita udah beli semua bahannya di minimarket. Aku pikir masih segar deh, di kulkas." Imbuhnya.
"Okey, yuk masak." Dan acara masak-memasak pun dimulai. Dengan mereka berdua yang berbagi tugas. Namun tiba-tiba, handphone Tanisa bergetar. Ada panggilan dari pihak agensi.
"Sebentar aku jawab telpon dulu. Dari pihak agensi!" Dan Kynara mengangguk.
"Iya selamat pagi."
["Jadi begini Nona, kami dari pihak agensi sudah memberikan schedule resmi untuk Nona Aileen melalui email. Silahkan dicek yah, besok anggota kami akan datang menjemput. Mohon kerjasamanya, dengan datang tepat waktu."]
"Ah baiklah, saya akan melihat email-nya. Insyaallah kami akan datang on time." Jawab Tanisa kemudian mematikan sambungan teleponnya setelah mengucapkan kalimat penutup.
"Ada apa, Tan?" Ujar Kynara yang sedari tadi masih sibuk dengan bahan-bahan makanan. Entah apa yang hendak dibuatnya.
"Oh my God, besok Aileen ada jadwal pemotretan di villa puncak. Lokasinya di kota ini tetapi lumayan jauh dari sini. Mungkin butuh waktu kurang lebih satu jam perjalanan." Sahut Tanisa. Baru saja ia lihat schedule yang dikirimkan oleh pihak agensi melalui email.
"Kita berangkat naik apa?" Tanya Kynara, karena taxi tidak mungkin mau jika sejauh itu. Kecuali travel, barulah bisa menjangkau lokasi sejauh itu.
"Tidak perlu khawatir, karena mereka akan mengirimkan anggotanya untuk menjemput kita. Dan kita diharuskan untuk datang on time."
"Baiklah, Insyaallah."
Tanisa dan Kynara kembali berkutat dengan alat-alat dapur. Karena sebentar lagi masuk waktu sarapan, jadi mereka lumayan ngebut. Sedangkan Aileen, jangan ditanya. Si kecil itu tengah asyik melihat si keriting di handphone sang ibu. Kynara memang memperbolehkan Aileen untuk bermain gadget, namun dengan batasan waktu. Dan batasan usia untuk video-video yang ia tonton.
__ADS_1
"Si telliting punnak ayah biolloddis atau endak yah? Talau ayah biolloddis na Aileen itu nama na Alltian. Tapi ayah biolloddis itu apa yah?" Gumam si kecil itu, tatapannya seakan menerawang jauh. Mengira-ngira apa itu ayah biologis, apakah sama dengan seorang Daddy? Atau hanya sama dengan om atau uncle.
"Myhh, Aunty!" Ia berlari menghampiri sang ibu di dapur.
Gedebuggg.
"Aileen!!"
Karena berlari dengan cepat, Aileen kehilangan keseimbangan dan menabrak meja makan. Hingga meja itu sedikit bergeser, namun kepala gadis itu juga benjol.
"Makanya hati-hati, Sayang." Kynara dan Tanisa segera saja menghampiri Aileen yang terlihat oleng. Kynara memeriksa kepala Aileen yang tadi terbentur tepian meja. Ia tiup bekas kemerahan dan sedikit meninggalkan benjolan kecil.
"Hehe Myhh, Aileen mau tannak dong." Dengan masih sedikit oleng, untung saja Kynara dengan sigap memegangi tubuh kecil itu, jadi tidak jatuh.
"Tanya apa?"
"Ayah biolloddis itu apa sih?"
Tanisa dan Kynara mengernyitkan dahinya, kenapa tiba-tiba sang putri bertanya demikian.
"Dalli Aunty Tantan. Temallin Aunty bilang, talau ayah biolloddis na Aileen itu Alltian."
Degg.
Bukan hanya Tanisa, Kynara bahkan lebih terkejut. Jantung nya Seketika berpacu dengan cepat. Pikiran kedua wanita dewasa itu kini terarahkan akan pembicaraan mereka tempo hari. Saat mereka masih belum pindah rumah, saat dimana Tanisa mengatakan bahwa ayah biologis Aileen adalah Arkian. Namun siapa sangka, jika gadis itu ternyata mendengar pembicaraan mereka.
Memang setelah selesai berbicara, Aileen tiba-tiba muncul dari balik dinding. Tanisa mengira Aileen baru saja datang dari kamarnya. Namun, ternyata gadis itu mendengar pembicaraan mereka.
"Apa aku harus berbohong?" Tanya Tanisa, sekarang dirinya tengah dilanda dilema. Berbohong takut akan berdampak buruk pada pemahaman Aileen. Namun jujur takut akan berdampak kesedihan untuk Kynara. Selama ini bahkan Kynara berusaha sekuat mungkin untuk tidak memberitahu kebenarannya pada Aileen.
Maafkan mommy nak, Mommy berdosa sama kamu. Mommy terpaksa harus berbohong. Mommy engga mau kehilangan kamu, Sayang._
Kynara mengangguk, akhirnya terpaksa Tanisa berkata bohong. Baru pertama kali ini dalam sejarah hidupnya, Kynara menyetujui kebohongan. Baru pertama kali ini ia merasakan rasanya berbohong. Rasa yang menyesakkan, membuat hati dan pikirannya sama sekali tidak tenang.
__ADS_1
"Jadi, ayah biologis itu om, Sayang. Kan Om Arkian itu temannya aunty Tan Tan. Jadi Aileen harus manggil Om." Tanisa mencoba berkilah sebaik mungkin. Agar si cerdas itu tak mengetahui kebohongan yang tengah dikarangnya itu.
"Oh bellalti, Aileen bolleh minta es tlim syama Om Alltian?" Kynara dan Tanisa sukses menepuk jidat mendengar celotehan putrinya. Centil tak terobati, bisa dibilang nekat bukan centil.
"Bo... boleh, Sayang" Sahut Tanisa dengan gugup. Dari pada masalah semakin rumit, lebih baik Tanisa iyakan saja.
Kynara berdiri, ia segera berlalu ke kamar mandi. Ia tutup pintu kamar mandi dan disandarkannya tubuhnya di dinding kamar mandi. Ia rapuh, ia tidak bisa seperti ini. Berbohong kepada snag putri dan membuat opini berbeda dalam pikiran Aileen mengenai Ayah biologis.
"Maafkan Mommy, Nak. Mommy engga bermaksud menjauhkan Aileen dari Ayah biologis Aileen. Mommy cuma takut kehilangan kamu, Nak. Dia berkuasa, dia punya segalanya, dengan mudah dia pasti bisa merebut kamu dari mommy. Jika dia tahu, dia pasti akan merebut kamu dari mommy." Kynara terus menangis sembari meluapkan semua uneg-uneg hatinya. Ia berusaha melepaskan semua itu, dan kembali beristighfar. Ia usap bekas air matanya, kemudian Ia segera keluar untuk menata sarapan.
"Duduk saja, biar aku yang tata." Ujar Tanisa yang terlihat tengah menata menu makanan.
Kynara duduk termenung tepat di sebelah kursi sang putri. Gadis kecil itu berbinar begitu melihat ayam goreng terpampang nyata di hadapannya.
"Waw ayam dolleng, syama sayul tol sama sayull timun dan adda syambel duddak."
"Sayur kol, Sayang. Kalau tol itu jalan, bukan sayur." Tanisa sedikit memberi candaan agar suasana tidak terlalu beku.
"Ish Aunty, dalan itu ya enda adda nama na. Mana adda dallan toll? Toll itu sayull."
"Iya Sayang, jangan hiraukan Aunty Tan Tan. Haha..."
Keluarga kecil yang bahagia, dengan berbagai kesederhanaan di dalamnya. Serta dengan dibumbui cinta dan kasih sayang.
.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC!
YOK RAMAIKAN! VOTE LIKE AND KOMENNYA YAH! 💖