
Dor!
Suara lepasan peluru demi peluru terus menggema di dalam mansion berlantai dua itu. Ginal bahkan tidak mengira jika pihak musuh telah mencium kedatangan mereka karena sopir Jeep yang mereka naiki tadi telah melapor kepada Vero sebelum tewas ditembak oleh Ginal.
Vero, adalah adik kandung Veronica yang merupakan kembar namun tak identik. Ia begitu mendendam kepada Arkian karena telah menghabisi kakak tercintanya. Pria yang berasal dari Asia Timur itu merasa begitu terpukul melihat tubuh kakaknya diberikan untuk hiu-hiu lapar di laut lepas. Terlebih lagi melihat sang Daddy dan Mommy-nya yang terlihat lebih terpukul lagi.
"Awas Tuan!"
Ginal menghindar ketika satu peluru yang datang dari lantai atas hampir saja menembus keningnya. Untung seorang anggota Black Blood mendorong tubuhnya. Kedua kubu itu terus saling menyerang dan melempar peluru dari pistol masing-masing. Hanya saja, anggota musuh menyerang dari persembunyiannya di lantai atas. Sedangkan anggota Black Blood, menyerang dari lantai bawah. Seraya bersembunyi di antara dinding dan juga furniture di dalam mansion.
Dor!
Satu-persatu pasukan musuh tumbang. Hingga kini tinggallah dua orang pasukan musuh. Sedangkan anggota Ginal sama sekali tidak ada yang tumbang, hanya tiga orang terkena luka tembak di area kaki dan tangannya.
Vero merasa geram, ketika melihat anggotanya di bantai habis oleh Ginal. Pria itu pun keluar dari persembunyiannya dan menantang Ginal secara blak-blakan.
"Arkian! Jika memang kau berani keluar kau. Jangan bersembunyi seperti anak ayam yang takut kehilangan induknya! Dasar pecundang hanya berani di kandang."
Ujar Vero sarkas seraya tersenyum menyeringai. Ia begitu yakin bahwa Arkian hanyalah pria lemah yang akan mudah ia taklukkan. Karena dirinya tidak pernah melihat kebrutalan seorang Arkian.
"Jangan menghina Lord kami! Atau kepalamu akan menjadi hiasan dindingnya!"
Ginal keluar dengan mengacungkan pistolnya tepat di depan kening Vero. Tangan kanan Arkian itu merasa tidak terima jika ada seseorang yang menghina atau meremehkan tuan yang ia banggakan itu. Karena baginya Arkian adalah pria terhebat yang pernah ia temui. Ia lebih tahu Arkian daripada siapapun juga. Hanya kepada Ginal, Arkian akan menceritakan semua keluh kesahnya.
"Waw waw! Hey Arkian! Bonekamu ada di sini untuk melindungi dirimu. Apa kau setakut itu untuk bergabung kemari?"
"DIAM PECUNDANG!"
"Aku disini!"
"Lord! Kenapa Anda kemari? Biar kamu yang menghabisi pecundang tak berguna ini!"
Arkian datang, ia sengaja datang ketika melihat musuhnya telah jatuh. Dan sepertinya ini saat yang tepat untuk melanjutkan rencananya. Semua anggota Black Blood mundur termasuk Ginal. Mereka memberi ruang kepada Lord Wolf untuk berbicara langsung kepada Vero.
"Apa kau hanya mengandalkan anggotamu? Apa kau selemah itu?"
"Jangan banyak bicara, Keluarkan saja semua senjata yang kau miliki."
Arkian tetap berdiri tegap menatap garang musuhnya. Ketua Klan Black Blood itu tidak akan membiarkan siapapun lepas begitu saja dari genggamannya.
"Aku tidak memiliki senjata, bukankah kau melihat itu!"
__ADS_1
Vero mengangkat kedua tangannya. Menunjukkan bahwa dirinya tangan kosong tanpa senjata.
"Tubuhmu adalah senjata, mari bertarung."
Bug!
Pukulan pertama Arkian tepat mengenai rahang tegas Vero. Dan bibir pria itu sobek dengan luka yang meneteskan sedikit darah. Vero berdiri seraya mengusap darah yang mengucur.
Bugg!
Vero membalas dengan tak kalah kerasnya dan dapat ditangkap oleh Arkian. Arkian menangkap kepalan tangan Vero dan memutarnya ke lawan arah. Hingga bunyi patahan tulang itu begitu terdengar nyata.
Kretek!
"Ash! Sialan!"
Umpat Vero, seraya tangan sebelahnya mengeluarkan sesuatu dari dalam saku Hoodie yang ia pakai. Arkian sengaja melakukan ini, karena Arkian tahu kalau Verio pasti membawa sebuah senjata. Dan ia harus mendesak agar Vero segera mengeluarkan senjatanya.
Arkian paham, Vero itu lemah dalam bertarung tanpa senjata. Pria itu akan kuat jika sebilah pisau telah berada di genggamannya. Untuk bisa mengalahkan pria itu, Arkian harus bisa menyingkirkan pisau itu agar lepas dari jangkauan Vero. Dengan begitu ia akan mudah menaklukkan Vero.
Srak.
Vero menghentak-hentakkan pisaunya tepat di dada Arkian. Hingga mantel hitam yang dikenakan suami Kynara itu terkoyak lebar. Arkian menggenggam pisau itu yang hampir saja mengoyak dadanya. Walaupun tangannya sudah meneteskan darah, pria itu seakan tak peduli dan sudah mati rasa.
Klak!
Pisau itu patah ketika Arkian mempererat genggaman tangannya. Vero pun dibuat menelan ludah kasar saat ada orang yang bisa mematahkan pisau tajam kesayangannya. Vero bahkan tahu setajam apa pisau itu, yang bahkan bisa mengoyak daging hewan-hewan buas ketika ia berburu.
"Mulai!"
Vero berteriak, ia berbalik dan hendak kabur. Namun, Arkian mencegat jalannya. Arkian terus menyerang Vero sedangkan Vero yang tidak ada persiapan pun hanya bisa mengelak untuk menghindari atau menangkis serangan bertubi-tubi yang diberikan Arkian. Sekuat apapun Vero mengelak, pada akhirnya dadanya juga terkoyak oleh sabitan pisau Arkian. Dan wajahnya sudah tidak berbentuk lagi akibat terkena bogem mentah terus-menerus.
"Tiga puluh detik lagi, Tuan!"
"Turunkan helicopter-ku!"
Vero sebisa mungkin berbicara kepada anggotanya. Perlahan Ginal paham apa yang sedang dibicarakan oleh Vero dan juga anggotanya. Ginal pun bergegas menelepon seseorang dan meminta mereka bersiap di atap mansion.
"Tuan mereka memasang peledak yang akan menghancurkan seluruh mansion. Mari kita pergi, Tuan!"
"Tidak Ginal, aku akan menghukum pria sialan ini."
__ADS_1
Seutas tali turun dari atas. Dengan segera Vero menggapai tali itu dan mulai naik ke atas. Dengan brutal, Arkian menembak tali itu hingga putus.
Bruakk!
"Jangan pernah berfikir aku akan melepaskan dirimu! Kau pikir aku tidak tahu siapa ibumu dan ayahmu! Orang yang telah menghancurkan keluarga istriku! Akan aku buat mereka berlutut di hadapan istriku."
"Ginal, pastikan semua anggota naik ke helicopter. Aku akan menahan pria ini hingga meledak disini!"
"Tapi Tuan!"
"Turuti apa kataku!"
"Berjanjilah Anda akan selamat, Tuan!"
"Ya, satu helicopter untukku."
"Sesuai keinginan Anda, Tuan!"
Setelahnya Ginal segera pergi menuju ke atap mansion dan menaiki helicopter bersama dengan anggota khusus Black Blood.
Meninggalkan sang pemimpin yang masih ada di dalam bangunan yang sebentar lagi akan meledak itu. Hitungan sepuluh detik lagi mansion itu akan segera meledak. Dan dengan brutal, Arkian menembak kaki Vero. Namun sayang!
Duarrr!
Bangunan itu pecah berkeping-keping, menelan dan juga menghancurkan setiap benda hidup ataupun mati di dalamnya. Semuanya telah hangus hanya ada reruntuhan bangunan yang menjadi gunungan pasir.
"Tuannn!"
Ginal berteriak seraya memanggil tuannya. Air matanya tiba-tiba saja menetes. Melihat kejadian baru saja nyata di depan matanya langsung. Begitupun Anggota Black Blood yang merasa begitu bangga memiliki pemimpin seperti Arkian.
.
.
.
.
.
TBC!
__ADS_1
Vote like and komennya guys.