
Setelah kejadian di cafe tadi, Alex langsung mengantarkan Kynara ke rumah wanita itu. Jujur Kynara kini tengah menahan air mata yang sudah siap untuk meluncur. Alex yang melihat kesakitan dalam tatapan mata indah Kynara, benar-benar merasa terpukul. Wanita penyabar yang baik hati, kenapa masih diperlakukan seburuk itu? Apa kurangnya wanita itu, dengan kesabaran yang tak tertandingi dan kecantikan yang paripurna.
Ya Allah, kenapa masih saja ada orang yang memperlakukan dia dengan buruk? Kurang apa dia Ya Allah? Wanita dengan sejuta kesabaran dan ketulusan hatinya. Jika saja wanita lain ada posisinya, mungkin mereka akan membalas membentak Arkian tadi. Tetapi wanita ini, tetap saja diam dan menahan sakit hatinya sendiri. Aku berharap kamu akan selalu bahagia, Kynara.
"Om Danteng, Aileen syuka es tlimnya." Gadis kecil itu seraya bergelayut manja di pangkuan Alex yang tengah mengemudi. Entah kenapa gadis itu sangat lengket dengan Alex, membuat Alex merasa gemas.
"Alhamdulillah kalau putri cantik om ini suka." Balasnya, Alex juga mengacak gemas pucuk kepala gadis kecil yang tengah berkoala pada dirinya itu.
Kynara tak mengindah, ia seperti terbengong akan lamunannya. Entah kenapa, seakan ada bisikan yang terus mengingatkan dirinya untuk selalu beristighfar atas segala kejadian yang menimpa dirinya. Kynara terus beristighfar, menenangkan emosi yang bergejolak dalam hatinya. Ia tidak mau, kalau sampai emosinya itu membutakan hatinya dan logikanya. Apalagi sampai menyakiti perasaan orang lain.
"Kenapa kamu tadi tidak membalas perkataannya Kynara? Padahal apa yang dia katakan tadi sama sekali tidak ada benarnya." Tanya Alex, ia sedikit khawatir akan kondisi wanita itu. Karena sedari perjalanan tadi, Kynara selalu diam. Bahkan Aileen pun tak berani mengganggu sang mommy, seakan tahu kalau mommy nya tengah dalam mode tidak mau diganggu.
"Biarlah Allah yang mengungkapkan kebenaran ini, Lex. Aku tidak mau melontarkan kalimat yang bisa menyakiti hati orang lain. Kamu tahu kan, dibentak itu rasanya sakit, apalagi difitnah. Maka dari itu, aku pun tidak mau membentak dan memfitnah orang lain." Sahutnya, masih sempat-sempatnya wanita itu tersenyum tulus ke arah Alex.
Ya Allah, terbuat dari apa hati kamu, Kynara? Kenapa kamu sebaik ini, aku jadi tidak tega melihat kondisi kamu.
Batin Alex menyeruak, jika Kynara tidak melarang, sudah ia bunuh lelaki tidak bermoral itu.
"Myhh, saball yah. Nanti Aileen mallahin balik Om Dahat itu. Mommy danan nanis." Aileen seraya menatap iba kepada sang ibu. Karena tadi dirinya mendengar dan melihat sendiri, bagaimana Arkian memaki dan membentak Kynara. Hingga gadis kecil itu sedikit gemetar dan memanggil ayah biologisnya sendiri dengan sebutan 'Om Jahat.'
Ya Allah, berikan hamba kekuatan dan kesabaran untuk menghadapi ini semua. Hamba tahu, engkau tidak akan memberikan ujian melebihi batas kemampuan hamba-Mu. Engkau yang Maha Besar, Ya Allah.
Kynara benar-benar mengusap dadanya, ia baru kali ini dimaki dan dibentak seperti tadi. Dulu, perlakuan ibu tirinya kepada dirinya tidak sesakit ini. Perkataannya pun tidak sekejam itu, walaupun dirinya kerap kali disiksa dan dihina. Namun, ia tetap berterimakasih kepada wanita yang merupakan ibu tirinya itu. Karena telah merawat dirinya semenjak ia kecil, walaupun dirinya yang notabene nya hanya anak tiri.
"Aileen, engga boleh gitu, Nak. Mommy engga apa-apa kok!" Sahutnya. Ia tidak mau hati anaknya terkotori hanya karena dendam. Ia sama sekali tidak ingin mengajarkan keburukan untuk putrinya. Ia tidak mau, hati suci gadis kecil itu kotor akan dendam.
__ADS_1
"Iya Myh, maaf ya Myh. Aileen cinta mommy." Gadis kecil itu seraya membentuk love dari jari-jari kecilnya. Kynara tersenyum hangat, ia memberi kecupan udara untuk sang putri.
Setelah menempuh lima belas menit perjalanan, akhirnya mobil yang menumpangi tiga orang itu, sampai di rumah Kynara. Mereka bertiga pun turun, dan Kynara tidak lupa untuk mempersilahkan Alex masuk ke dalam rumahnya. Namun, pria itu menolak dengan halus. Karena dirinya memang harus menyelesaikan urusannya.
"Myh, Aileen mau tidull."
"Ayo mommy temenin." Kynara pun menyanyikan lagu pengantar tidur untuk sang putri. Dan tidak lupa membaca doa sebelum tidur. Sesaat setelah putrinya terlelap, Kynara segera beranjak. Ia menuju kamar mandi.
Kynara menutup dan mengunci pintu kamar mandi. Ia sandarkan tubuhnya di pintu kamar mandi. Ia menangis, melampiaskan emosi yang berdongkol dalam hatinya. Ia menangis tersedu-sedu, seraya mengusap dadanya. Kata-kata itu benar-benar menusuk hatinya, melukai batinnya, walaupun tidak melukai raganya sama sekali. Namun luka batin jauh lebih sakit dari luka nyata.
"Hiks.. Hiks.. Ya Allah, sakit.. sakit... ." Ia terus menangis, untuk melepaskan emosi dari setan yang terus menghasutnya untuk memaki Arkian balik. Namun, Kynara terus mengokohkan imannya, ia tidak mau imannya terkikis hanya karena emosi sesaat.
"Kuat Nara, kamu harus kuat. Ingat putrimu, demi dia Nara!" Ia bermonolog, seraya memberikan semangat untuk dirinya sendiri. Ia sudah berjuang sejauh ini untuk putrinya, jangan sampai emosi sesaat ini membuat perjuangannya menjadi sia-sia. Itulah yang menjadi pusat pemikirannya sekarang.
Di tempat lain, Arkian tengah terpuruk. Di balkon kamarnya, ia duduk sendiri dengan kondisi yang masih sama seperti tadi. Dia ingin sendiri, dan segera saja meminta Ginal untuk pulang. Tidak tahu saja pria itu, kalau Ginal masih berdiri tegap di depan apartemen Arkian. Sebenarnya Ginal sudah hendak pergi, namun hatinya tidak tega meninggalkan atasannya itu sendiri dalam kondisi yang tidak memungkinkan. Ia takut, Arkian melakukan hal yang nekat, walaupun Arkian bukan tipe orang yang mudah putus asa.
"Aduh, bagaimana kalau tuan sampai bunuh diri? Bagaimana kalau tuan stres dan gantung diri? Gara-gara cinta tak direstui dan berpindah ke lain hati. Aduh, aku bisa kehilangan gajiku. Ah, maksudku aku bisa kehilangan majikan terkejam sejagad Maya." Ia bermonolog dalam dirinya sendiri. Seraya mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di dagunya.
Handphone Ginal berdering, ia segera saja menjawab telepon yang ternyata dari Arkian. Untuk apa pria itu menelepon dirinya lagi? Pikir Ginal.
["Gina!"]
"Iya Tuan?"
["Berhenti membicarakan aku! Dan pergilah dari depan pintu apartemen-ku!"]
__ADS_1
Bagaimana pria ini bisa tahu, apa dia punya mata batin? Atau Indra ke enam?
["Aku tidak punya Indra ke enam, tapi lihatlah di atasmu ada cctv bodoh!"]
Ginal segera saja menengok ke atas, dan benar saja. Cctv itu melekat tepat di atas pintu apartemen Arkian.
"Aha, baiklah saya akan segera pulang, Tuan."
["Bagus!"]
Arkian mengambil beberapa botol wine yang koleksinya. Ia ingin melupakan kejadian tadi. Ia ingin bersenang-senang dan melupakan segala kegelisahan hatinya. Dan melupakan beban yang tersimpan dalam hati dan pikirannya. Ini semua benar-benar menyiksanya, dan membuatnya menjadi lelah. Bukan hanya fisik tapi juga pikiran.
.
.
.
.
.
TBC!
YOK RAMAIKAN! VOTE LIKE AND KOMENNYA YAH! 💖
__ADS_1