
"Ka..kalian?"
Tanya Kynara bingung seraya menghidupkan lampu agar bisa melihat jelas siapa yang tengah bersama dengan papah mertuanya. Ia melangkah turun dari tangga dan menghidupkan saklar lampu hingga ruangan besar itu menjadi terang-benderang.
"Ginal? Kamu nginap?"
Imbuhnya kala melihat sang mertua seperti berbicara empat mata dengan Ginal. Wanita itu menyerengit heran, kenapa mereka berbicara di waktu yang masih gelap gulita. Matahari saja masih belum menampakkan dirinya apalagi membeberkan cahaya dan juga kehangatannya.
"Eh Nyonya, kami tengah membicarakan sesuatu yang berurusan dengan perusahaan. Kebetulan saya menginap, Nyonya."
Ginal sebisa mungkin mengelak, kalau tidak Arkian bisa ketahuan. Bahkan Ginal harus berusaha keras untuk menahan Arkian di belakangnya dan Tuna besar menyumpal mulut putranya itu dengan memasukkan sebuah kain. Sedangkan Dokter Franco bertugas memegangi tubuh Arkian agar tidak bergerak.
Walau begitu Arkian terus memberontak, jujur ia sangat ingin merengkuh wanita yang sangat ia rindukan itu. Apalah daya, tiga orang berbadan besar tengah menahannya dan berkomplot untuk tidak menampakkan dirinya di depan sang istri.
"Owh, mau Nara buatkan kopi?"
"Ah boleh, Nyonya!"
Sahut Ginal yang masih saja menempelkan badannya ke badan Tuan besar agar Arkian yang berada di belakangnya tidak terlihat oleh Kynara. Membuat wanita berhijab itu semakin curiga saja, tetapi ia mencoba menampik. Siapa tahu mereka memang tengah membicarakan bisnis dan perusahaan.
"Baiklah, tunggu sebentar yah. Kalian boleh menunggu di sofa ruang tamu!"
"Tidak perlu, Nak! Biar kami menunggu disini saja."
Jawab Tuan besar dengan tetap mempertahankan gestur gagahnya sebisa mungkin agar Arkian tetap dalam kontrolnya. Kalau tidak, putranya itu bisa saja merusak rencana yang telah disusun dengan rapih menjadi kacau balau.
Kynara hanya geleng-geleng kemudian melangkah ke dapur. Walau dengan keheranan di hatinya, tidak biasanya papah mertuanya itu bicara banyak. Biasanya hanya satu kata dan itupun sulit untuk keluar. Tetapi barusan mereka seperti terlihat terdesak oleh sesuatu. Biar sajalah! Toh itu bukan urusannya.
"Heuh! Selamat!" Ujar Ginal mengusap lega dada bidangnya yang dibaluti oleh kemeja putih dan jas hitamnya.
Plak!
"Auh! Sakit Tuan!"
"Sialan! Kalian ingin membunuhku ya! Daddy juga, kenapa memasukkan kain bau itu ke dalam mulutku! Kau juga kenapa memegangi tubuhku! Aku bukan gay! Aku masih normal, dan aku hanya mencintai istriku. Sekali lagi kau berani memelukku seperti tadi, akan ku potong burung peliharaanmu!"
__ADS_1
Arkian mengomel kepada tiga orang yang telah bersekongkol untuk menganiaya dirinya.
Dokter Franco bergidik ngeri hanya bisa diam membisu seraya tertunduk takut mendengar ancaman Arkian. Apalagi ia masih perjaka ting-ting, bisa lepas masa depannya kalau Arkian sampai memotong burung piaraannya itu.
Pluk!
"Dad!"
"Bodoh! Kau mau mengacaukan rencana yang telah kita susun. Kau ingin istrimu tahu semua ini lebih awal dan membuatnya jantungan?"
"Ehehe... Tidak juga sih!"
"Makanya diam! Jangan banyak protes. Dasar netizen!"
"Sudah sana masuk dan istirahatlah. Franco kau bisa istirahat di kamar sebelah."
Dokter Franco dan Arkian pun akhirnya memilih menyerah, dibandingkan harus berakhir terkena tampolan pria paruh baya itu. Lebih baik mereka tidur dan mengistirahatkan diri. Toh ini masih dini hari.
***
Pagi ini, seperti biasa keluarga akan berkumpul di meja makan untuk pelaksanaan sarapan. Nyonya Ellena dan Kynara akan turun tangan langsung untuk urusan dapur. Hanya sesekali akan dibantu oleh para pelayan.
"Aileen mau roti sama selai kacang, Myh."
Dengan cekatan, Kynara membantu sang putri untuk mengoles selai di atas lembaran roti. Sama seperti sang ayah, Aileen tidak terlalu suka roti, gadis itu hanya menggemari daging dengan lumuran keju di atasnya sama persis dengan Arkian.
Selepas makan, mereka berkeliling santai di tepi pantai. Dengan kaki telanjang, menikmati deburan ombak pantai yang dingin dan juga semilir angin yang menyejukkan. Terpaan angin membuat rambut hitam lurus sebahu itu terbang, hingga Kynara harus turun tangan untuk menguncir rambut putrinya selayaknya ekor kuda.
Menikmati semilir angin di pagi hari memang menyejukkan, rencananya memang akan berolahraga. Tetapi ibu mertuanya menolak karena sedang tidak mood. Jadilah mereka hanya berkeliling saja. Kynara dan Aileen duduk di sebuah gazebo yang disediakan di dekat pantai. Yang terbuat dari kayu kokoh dan beratap jerami.
Bercengkrama ringan bersama sang putri sembari menikmati segelas teh hangat manis memang tiada duanya. Dua jam telah berlalu, sang putri pun telah terlelap di pangkuan Kynara. Cuaca memang mendukung untuk membuat siapapun yang menikmatinya terlelap. Kynara membopong putri kecilnya, walau setelah sampai di mansion ia ditegur oleh Nyonya Ellena. Karena wanita itu tengah hamil dan tidak boleh membopong beban berat.
"Myh, Aileen mau Daddy!"
"Daddy. Hiks... Hiks... ."
__ADS_1
Aileen terus meracau dalam tidurnya menyebut sang Daddy. Kynara segera naik ke ranjang dan kembali mengusuk-ngusuk punggung putrinya sampai kembali tenang dan terlelap.
Cup.
Sebelum keluar dari kamar putrinya, terlebih dahulu ia kecup dahi putih sang putri. Tidak ada lagi yang lebih penting dari Aileen bagi Kynara. Hanya dengan memandang wajah Aileen, ia bisa memandang kilasan wajah Arkian. Sehingga rasa rindunya pada sang suami bisa sedikit teratasi. Kilatan wajah dan mata indah itu sama persis seperti milik Arkian, tatapan mata sang putri yang tajam dan memekik. Begitulah cara suaminya ketika menatap seseorang.
Malam hari kembali datang, membawa sejuta kenangan dengan kegelapan. Suasana gelap yang hanya disinari oleh rembulan yang remang-remang. Hawa dingin begitu menusuk kulit dengan kicauan hewan-hewan malam yang menambah daya tarik tersendiri juga sekaligus membuat bulu-bulu halus seketika berdiri.
Selesai menunaikan sholat, masih dengan mukenahnya, Kynara melangkah menuju balkon. Seperti biasa wanita itu sangat suka suasana dan hawa di malam hari walau berkali-kali Nyonya Ellena sudah melarangnya.
Setelah beberapa menit termenung sendiri, akhirnya Kynara memutuskan untuk kembali ke dalam kamarnya. Namun, seketika matanya melebar ketika ia melihat seorang pria tengah berbaring miring di atas ranjangnya. Dengan santainya pria itu tersenyum kepada Kynara.
"Ya Allah, aku sudah ikhlas. Aku mohon, aku tidak ingin berhalusinasi seperti ini. Suamiku sudah tenang di alam sana!"
Lirih wanita itu, duduk di lantai menangis pilu sembari meratapi nasibnya. Ia menutup wajahnya dengan untaian kain mukenah yang tengah dikenakannya. Setelah beberapa menit menangis, Kynara mencoba untuk kembali mendongak. Lelaki itu masih tetap ada dan terasa seperti nyata. Kynara kembali menunduk dan menangis pilu tersedu-sedu.
"Hiks... Hiks... Ma..mas, Nara rin..rindu! Ya Allah, Nara pingin banget. Di...mimpiin sama Mas Kian. Se..sekali ini aja!"
Kynara mendongak seraya menarik kain hijab yang menutupi matanya. Dan benar saja, tak ada seorangpun di atas ranjangnya. Barusan hanyalah ilusinya saja. Mungkin ia sudah terlalu lama tidak mengunjungi suaminya. Kynara berdiri dengan masih memegang untaian tasbih dan juga air mata yang merembes dengan mulut yang komat-kamit.
"Ehm!"
Deg.
.
.
.
.
.
TBC!
__ADS_1
Vote like and komennya guys!