
"Hy, Uncle Ginal. Daddy mana?" Ujar seorang gadis cantik yang baru saja turun dari tangga. Ia bergelayut manja pada uncle kesayangannya, siapa lagi kalau bukan Ginal. Pria dewasa itu pun tak segan untuk menggendong Aileen seraya mengecup pusaran rambut gadis kecil cerdiknya itu.
"Kenapa datang malam, Ginal? Kemana suamiku?"
"Kemana Kian?"
Bukan hanya Kynara, Nyonya Ellena pun turut menanyakan keberadaan Arkian yang biasanya selalu di depan mendahului Ginal. Namun, mereka berdua sama sekali tidak melihat batang hidung Arkian seharian ini.
"Maaf, Nyonya Muda dan Nyonya besar. Tuan Arkian... ."
Ginal berhenti, ia menurunkan Aileen dan menatap manik Kynara. Ginal menatap serius, seraya mengepalkan tangannya mengingat kejadian tadi. Ia menghela nafas berat dan melepaskannya sarkas.
"Tuan Arkian telah tiada!"
Deg.
Satu kalimat yang terlontar dari mulut Ginal, sama sekali tidak membuat Kynara gentar. Istri Arkian itu masih mengira bahwa Ginal hanya bercanda. Tidak mungkin suaminya yang kemarin menemui dirinya sekarang telah tiada. Itu hanya bualan Ginal saja. Kynara mencoba tersenyum dan menggeleng seraya kembali bertanya.
"Jangan bercanda, Ginal! Dimana Mas Kian?"
Nyonya Ellena sempat tertegun. Entah mengapa perasaannya tiba-tiba melow. Dan seperti ada sesuatu yang mengganjal.
"Jangan bercanda, aku ibunya berhak tahu!"
"Sayangnya, saya tidak bercanda!"
Deg!
Kynara langsung luruh terjatuh. Lututnya dengan keras membentur lantai marmer di ruangan itu. Air matanya menetes merembes keluar dari pelupuk mata indahnya. Ia kembali bangun, dan melangkah ke arah Ginal. Mencengkeram kerah kemeja Ginal dan menggoyang perlahan seraya terus menangis dan bertanya bahwa itu semua hanya fiktif.
"Ini engga nyata kan? Hiks... Ginal! Suamiku engga apa-apa kan? Mas Kian masih sibuk kan? DIMANA SUAMIKU?"
__ADS_1
Baru kali ini dalam sejarah hidup Kynara ia berteriak dengan penuh emosi. Emosi yang timbul dalam hatinya, telah membuatnya buta akan keadaan bahwa putri dan kedua mertuanya kini tengah menyaksikan dirinya. Emosi itu juga telah berhasil membuat seorang Kynara membentak orang yang bahkan sama sekali tidak bersalah.
"Hiks... Ya Allah... Su.. suamiku! Engga, ini engga mungkin."
Wanita berhijab itu begitu shock juga terkejut hebat saat mendengar berita mendadak ini. Seharian dirinya tidak menghidupkan handphone atau televisi. Ia berdiri dan berlari mengambil remote control televisi. Wanita itu terus mencari dari satu channel ke channel lainnya. Tetapi tidak ada satupun channel yang memberitakan perihak sang suami. Kalaupun apa yang Ginal katakan itu benar, seharusnya Jagad Maya sudah gempar akan beritu itu.
Aileen menangis tersedu-sedu di pelukan Tuan besar. Melihat keadaan ibunya, gadis kecil itu merasa sangat prihatin, ia juga tidak mempercayai apa yang baru saja dikatakan pamannya. Hatinya seakan terkoyak, baru saja ia bertemu Daddy-nya tetapi Tuhan sepertinya lebih sayang pada Daddy-nya daripada dirinya.
"Cup cup... Cucu cantik grandpa tidak boleh menangis."
"Hiks... Hiks... Da... Dy. A... Ailen mau Daddy."
Tuan besar hanya diam tidak memberikan reaksi untuk berita ini. Pria baruh baya itu justru sibuk menenangkan cucunya. Entah itu dengan menepuk-nepuk pelan punggung Aileen ataupun dengan mengusap lelehan air mata di wajah Aileen. Kini wajah cantik yang biasanya menebar keceriaan itu telah berubah menjadi wajah yang memerah padam dengan lelehan ingus dan air mata. Sedari tadi hanya menangis sesegukan sesekali berteriak memanggil nama sang Daddy.
"Pah, katakan ini bohong. Putraku masih hidup kan? KATAKAN!"
"Sayangnya inilah kenyataannya, Mah. Kita harus bisa mengikhlaskan dirinya. Agar ia lebih tenang disana."
Nyonya Ellena, mundur perlahan. Ia menunjuk wajah suaminya dan menatap penuh emosi. Wajar saja, ibu mana yang terima anaknya mati begitu saja. Ibu mana yang terima kehilangan anaknya. Terlebih lagi anak semata wayang dan anak yang telah ia rawat sejak kecil. Anak yang telah ia didik dengan sedemikian rupa agar menjadi pribadi yang baik di kemudian hari. Dan juga anak yang telah ia lahirkan ke dunia dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri.
"Tenanglah Nyonya."
"Diam kau!"
"Nyonya!"
Nyonya Ellena pingsan begitupun dengan Kynara. Kedua wanita kesayangan Arkian itu pingsan secara bersamaan dengan kondisi yang mengenaskan. Tidak ada lagi kesan anggun untuk kedua wanita itu ketika sedang menangis meraung-raung seperti barusan. Ginal meminta para pelayan wanita untuk membantu membawa Kynara dan Nyonya Ellena ke dalam kamar tamu yang ada di lantai bawah. Mereka berdua di tidurkan di ranjang masing-masing. Dan telah dipasang sebuah selang infus di pergelangan tangannya oleh seorang dokter pribadi yang ada di mansion.
Sedangkan gadis kecil cantik itu tertidur pulas setelah lelah menangis dua jam lamanya. Tuan besar pun menaruh cucunya di sebelah Kynara dengan hati-hati agar tidak mengganggu tidur nyenyak Aileen.
"Bagaimana keadaan istriku dan juga menantuku?"
__ADS_1
"Nyonya Muda dan juga Nyonya besar tidak apa-apa, Tuan. Beliau berdua hanya shock dan juga terlalu banyak menangis dan berteriak sehingga membuatnya dehidrasi dan pingsan."
"Dan saya juga memprediksi kalau Nyonya Muda tengah berbadan dua, Tuan. Tolong, pantau kegiatan yang dilakukan Nyonya Muda agar tidak terlalu berat dan tidak membuat dirinya lelah. Untuk gizi, saya sendiri yang akan menentukan."
"Benarkah? Berapa usia kandungannya?"
"Kita akan lihat nanti, Tuan. Setelah Nyonya Muda siuman."
"Baiklah, terimakasih, Dokter!"
Dokter mengangguk dan pamit undur diri setelahnya. Tuan besar begitu bahagia, mendengar ia sebentar lagi akan memiliki cucu baru. Namun, ia masih harus segera menyelesaikan masalah ini.
"Kau urus semua media agar tidak ikut campur."
"Baik Tuan!"
Setelah dokter pergi, Tuan besar berbicara empat mata dengan tangan kanan Arkian itu. Seraya mengingatkan Ginal agar menutupi berita ini dari para awak media. Juga untuk sementara waktu, Nyonya Ellena dan Kynara akan dirawat di mansion pribadi itu. Bahkan kedua ruangan mereka kini telah disulap menjadi ruang rawat pasien.
.
.
.
.
.
TBC!
Vote like and komennya guys!
__ADS_1