
"Panggil semua ke markas!"
"Baik Lord!"
Saat ketua Klan Black Blood itu tengah dalam keadaan emosi, tidak ada satu orang pun yang berani mencela ucapan pria itu. Bahkan untuk sekedar mendongak wajah saja mereka takut. Karena mereka tahu benar bagaimana kegilaan Arkian saat marah. Di luar ruangan sang istri, ia berteriak pada bawahannya. Yang hanya bisa tertunduk takut.
Arkian tergesa-gesa menelepon sang ibu untuk menjaga putrinya sementara. Karena ia masih harus menuntaskan masalah ini. Ia bersumpah akan membalas tuntas kejadian yang menimpa sang istri. Berani sekali mereka menyentuh keluarganya, itu artinya mereka telah mengibarkan genderang perang.
"Sayang, aku pergi dulu, sebentar lagi aku segera kembali."
"Iya Mas, hati-hati."
"Kamu engga usah khawatir, Aileen sudah aku titipkan pada mamah."
Arkian seraya mengelus puncak kepala istrinya. Kemudian ia segera keluar untuk menuju ke markasnya menaiki helicopter pribadinya. Perjalanan ke markas hanya memakan waktu satu jam perjalanan. Helicopter itu telah mendarat tepat di atas sebuah bangunan yang letaknya begitu ekstrem yaitu di tengah lautan yang luas.
Bruakk.
Satu persatu orang keluar dari helicopter dengan melompat. Mereka segera saja berbaris rapi memberikan jalan untuk sang Lord. Arkian, pria itu berjalan dengan gagahnya ia menduduki kursi kebesarannya. Dimana semua bawahannya akan berbaris rapi di depannya.
"Apa kerja kalian?"
"APA KERJA KALIAN? Hingga menjaga satu wanita saja tidak becus!"
Pria itu geram pada semua bawahannya, jika mereka becus menjada sang istri, Kynara pasti tidak akan terluka.
"Gina!"
"Saya Lord."
"Bawa wanita itu ke ruang eksekusi!"
"Baik Lord!"
Inilah Lord Wolf, tidak akan mengampuni siapapun yang berani menyentuh keluarganya. Pria itu bahkan tidak segan-segan untuk menyiksa bahkan membunuh semua korbannya dengan sadis. Pria tempramen itu sama sekali tidak suka jika ada orang yang berani menentangnya.
Pintu besi itu terbuka, nampaklah ruangan yang begitu kental dengan bau anyir darah. Sebenarnya itu bukan ruangan, karena langsung berhadapan dengan laut dalam. Ruangan itu terbuka, banyak para penjaga yang berkeliaran di sana. Menjaga semua tahanan Arkian agar tidak berani kabur, jika hendak kabur pun itu percuma karena semua sisi bangunan itu adalah laut dengan kedalaman ratusan bahkan ribuan kaki.
"Lepaskan aku! Daddy pasti akan menyelamatkan aku."
"Mimpi saja kau bodoh! Sekarang kau akan menjadi makanan hiu-hiu di laut ini."
Arkian mencengkeram rahang wanita itu. Wanita yang tengah diikat di sebuah tiang dengan kondisi yang sudah mengenaskan. Karena sedari tadi, wanita itu memberontak untuk kabur, jadi bawahan Arkian sedikit memberikan penyiksaan.
Dor!
Dalam sekali tembakan, tubuh wanita itu telah terlukai lemas. Peluru yang keluar dari pistol Arkian, tepat bersarang di jantung wanita itu.
"Kalian buang tubuhnya ke laut. Dan kirim kepalanya kepada orang yang ia banggakan, daddy-nya itu!"
"Baik Tuan!"
__ADS_1
Beberapa bawahannya segera melakukan apa yang ia perintahkan. Sedangkan Arkian tersenyum puas setelah mengeksekusi orang yang telah berani melukai istrinya.
"Pastikan istri dan anakku tetap aman. Jika keluargaku sampai terluka, kalian yang akan menanggung akibatnya!"
"Baik Lord!"
Arkian berjalan terus keluar dari bangunan yang berpondasi seperti sebuah kapal pesiar itu. Kini ia harus kembali ke rumah sakit, istrinya pasti membutuhkan dirinya.
Helicopter yang ditumpangi oleh pria itu terus berjalan. Menuju rumah sakit dimana sang istri dirawat.
Sampainya di ruangan sang istri, Arkian tersenyum manis ternyata semua keluarganya tengah berada di ruangan itu. Bercanda ria menghibur istrinya agar semangat untuk sembuh. Ia masuk ke dalam dengan menenteng dua buah tas yang berisi makanan.
"Daddy datang!"
"Daddyh Aileen lindu."
Gadis kecil yang melihat daddy-nya telah datang. Segera melompat ke dalam rengkuhan sang Daddy, Arkian pun melepas dua tas yang ia tenteng dan segera merengkuh erat putri kesayangannya itu. Ia mengecup pipi chubby mulus putrinya.
"Lihat apa yang Daddy bawa?"
"Apa itu Glandma? Aileen mau!"
Jawab Aileen dengan antusias, bahkan ia langsung turun dari gendongan daddy-nya dan melihat isi dalam kedua tas itu. Makanan kesukaannya, Daging panggang dengan lumuran keju mozzarella di atasnya. Benar-benar menggunggah selera, gadis kecil itu seketika berbinar senang.
"Eleh, kamu beli makanan kesukaan kamu sendiri, dasar bocah ingusan."
Nyonya Ellena melempar sebuah bantal kecil tepat mengenai dada bidang Arkian. Pria itu hanya cengingisan seperti orang yang tak memiliki dosa. Selain Aileen, makanan itu merupakan menu kesukaan Arkian.
"Itu juga makanan kesukaan Aileen, Mah. Daging panggang dengan lumuran keju mozzarella."
"Iya Pah."
"Like father like daughter!"
Dengan bangganya, pria itu merentangkan tangannya seraya menunjukkan kepada semua orang bahwa putrinya adalah keturunannya.
"Ya, jelas seleranya seperti aku karena dia anakku, bukan anaknya Mamah!"
"Heh dasar anak tidak tahu diri, kau pikir kau lahir dari siapa?"
"Dari Mamah lah, gitu aja kok nanya."
"Berarti Aileen juga bagian dari mamah!"
"Mas! Sudahlah, Mamah kan juga mau sama Aileen, kamu ngalah sama orang tua."
Pasien yang tengah terbaring di ranjang empuk itu menjawab, perempuan itu jengah melihat kelakuan sang suami. Yang bahkan tidak mau kalah dari ibunya sendiri.
"Iya iya, Sayang."
"Kok ollang-ollang bicalla tellus syih! Aileen lapell mau matan!"
__ADS_1
Mereka semua terlalu asyik berbicara, hingga melupakan gadis kecil itu yang tengah menatap mereka semua dengan tatapan tajamnya. Tidak membuang Arkian, tatapan tajam itu sama persis seperti tatapan Arkian.
"Oh oh, maaf ya, Sayang cucunya Grandma. Sini Grandma bukain."
Akhirnya Nyonya Ellena menghidangkan setiap menu ke piring masing-masing. Arkian terlebih dahulu menyuapi istrinya sebelum ia makan. Sedangkan gadis kecil itu makan sendiri karena sudah besar katanya. Nyonya Ellena dan Tuan besar makan di piring masing-masing. Semua menu sama, yang berbeda hanyalah porsinya saja. Milik Aileen porsinya tidak terlalu banyak, karena gadis itu masih kecil.
"Mas, tadi kamu dari mana?"
"Hanya dari kantor, Sayang."
"Terus siapa yang beli semua ini?"
"Gina, Sayang."
Arkian menjawab dengan entengnya, tidak tahu saja dia bahwa Ginal sudah kesal setengah mati karena tuannya itu mengganggu jam makan siangnya.
***
Di tempat lain, seorang pria menerima sebuah paket misterius. Sebuah box yang tercium bau anyir darah di dalamnya. Dengan perlahan pria itu membuka box itu. Seketika bola matanya membola lebar saat melihat isi di dalam box misterius itu. Rahangnya mengetat dan giginya menggertak.
"Pu... Putriku! Tidak ini tidak mungkin, tidak!" Pengawal!"
"Iya Tuan?"
"Siapkan semua helicopter dam pesawat tempur, kita berperang hari ini juga!"
"Ta.. tapi Tu--"
"Dia telah membunuh putriku, cepat lakukan perintahku!"
"Vero, Kakakmu telah dibunuh! Siapkan semua anggota, kita berperang hari ini juga!"
["Keparatt kau Arkian! Jangan gegabah, Dad! Kita harus memiliki rencana matang, atau kita akan terjebak dalam permainan kita sendiri."]
"Tapi Son, kakakmu telah menjadi korban!"
["Maka dari itu, kita harus membalas semua ini dengan rencana yang matang, Dad. Jika kita tiba-tiba menyerang, kita sama saja dengan bunuh diri, Dad!"]
"Baiklah Son, Daddy akan memakamkan kakakmu dengan layak, datanglah ke mansion."
["Tentu Dad, jangan bersedih kita akan membalas untuk semua penderitaan kakak Veronica!"]
.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC!
YOK RAMAIKANNN! JANGAN LUPA VOTE LIKE AND KOMENNYA YAH!💖 LOPE YOU GUYSS!