THE CEO'S GENIUS DAUGHTER

THE CEO'S GENIUS DAUGHTER
TCGD-42


__ADS_3

Siapa sangka kini nasibnya sudah berubah. Dulunya bahkan hanya untuk mencari sesuap nasi, Kynara harus bekerja keras tetapi sekarang ia bahkan bisa membeli seisi kota dengan apa yang telah dimiliki oleh suaminya.


"Kamu boleh pakai kartu yang kemarin aku kasih buat kamu. Pakai untuk membeli apapun yang kamu mau, Sayang."


"Kartu hitam itu!"


"Iya!"


"Kamu bisa kosongkan seisi mall dengan kartu itu."


"What?"


"Sayang, Aileen mana?"


"Ikut papah ke taman belakang, Mas."


Kynara benar-benar dibuat jantungan. Nasibnya telah berubah, namun wanita itu bukan tipikal orang yang suka menghamburkan uang. Maka ia akan tetap saja menggunakan kartu itu untuk seperlunya.


"Nara minta uang cash aja ya Mas!"


"Kenapa Sayang, kamu engga suka kartu itu? Mau yang lain, yang gold atau yang silver?"


"Bukan Mas, kalau ke pasar kan engga bisa bayar pakai itu."


"Oh baiklah, biar nanti aku kasih."


Kynara beranjak, ia membantu sang suami mengeringkan rambutnya. Walaupun ia senang, tetapi ia harus tetap ingat untuk berbagi. Jangan hanya untuk dirinya sendiri.


"Mas, kalau Nara bagi uangnya buat panti asuhan boleh engga?"


"Pokonya mau kamu apain terserah kamu. Asalkan jangan gunakan untuk hal yang tidak baik, Sayang."


"Terimakasih Mas!"


"Hmm."


Semua keluarga berkumpul di lantai bawah untuk makan. Dengan sedikit bercengkrama setelah makan. Namun tidak dengan Arkian dan Tuan besar, karena dua orang itu sibuk melakukan sesuatu, entah apa itu.


"Dad, aku menemukan data orang itu. Dia adalah Velix! Ternyata harta yang dimilikinya itu sebenarnya milik istriku!"


"Bagaimana itu mungkin, Son?"


"Untuk merebut kembali apa yang menjadi hak istriku, satu-satunya cara adalah memusnahkan mereka semua!"


"Berhati-hatilah, Son. Pria ini sangat licik."


"Aku tahu, Dad. Kita lihat saja, apa yang bisa aku lakukan."


Arkian tersenyum smirk, perempuan tua itu telah sengaja melakukan hal menjijikkan itu. Merusak rumah tangga orang lain dan mengeruk harta orang. Arkian sungguh geram, sebenarnya ular yang berbisa adalah perempuan itu. Karena perempuan itu adalah dalang di balik semua ini.


"Istriku itu sangatlah polos, Dad! Ia tidak tahu kalau harta itu bukanlah milik mereka, melainkan miliknya yang telah direbut."


"Darimana kamu tahu hal itu, Son?"

__ADS_1


"Dari Ginal dan juga rekan Arkian, Dad. Dia adalah seorang yang handal dalam dunia IT, bahkan bisa meretas data apa saja. Dan aku memintanya untuk meretas data milik pria tua itu. Karena pria licik itu memiliki identitas yang berbeda di setiap negara, jadi Kian sedikit bingung."


"Dulu, Daddy pun tidak mudah untuk mendapatkan mamahmu. Mamahmu itu adalah primadona, banyak disukai oleh banyak pria. Bahkan Daddy harus melawan banyak musuh untuk mendapatkan mamahmu, apalagi dulu Daddy tidak mempunyai apa-apa, sampai kini usaha Daddy tidaklah sia-sia."


"Aku tahu, Daddy adalah yang terbaik."


Arkian bangga pada sang ayah, yang bisa membangun semuanya dari nol. Bahkan dulu Daddy-nya itu berasal dari keluarga sederhana, namun sekarang pria paruh baya itu memiliki segalanya. Berkat usaha dan kerja kerasnya selama ini, membuatnya ditakuti dan disegani oleh dunia.


Ini semua ia lakukan demi keturunannya kelak, agar Arkian bisa menikmati hidup enak tanpa harus kesulitan seperti dirinya.


"Baiklah Son, bekerja keraslah untuk ini. Tidak ada yang tidak mungkin jika kamu mau berusaha. Daddy selalu siap untuk membantu!"


"Tentu Dad!"


"Daddy!"


Seorang gadis kecil tiba-tiba melompat ke pangkuan Arkian. Pria itu memang tengah duduk di sofa ruang keluarga, sedangkan sang istri dan sang ibu berada di sofa ruang tamu.


"Jangan berlari, Nak. What happen, Girl?"


"I got something, Dad."


"What did you get?"


"Aku mendapatkan piala, Dad!"


Aileen menunjukkan piala penghargaan yang ia dapatkan dari sekolah tadi. Karena dirinya menang lomba menggambar. Arkian bangga melihat ketekunan putrinya dalam belajar dan menggapai masa depan. Belajar dan juga berkarier, sang putri mampu menjalan keduanya dengan baik. Arkian yakin benihnya tidak akan pernah gagal.


"Daddy proud of you, Baby!"


"Apa yang Aileen inginkan?"


"I just wanna baby."


Perlahan, cara berbicara Aileen sudah tidak lagi cadel, hanya saja tidak bisa jika ada huruf 'r' namun selebihnya, gadis kecil itu sudah sempurna.


"Kemarilah, Daddy akan membisikkan sesuatu!"


Arkian membisikkan sesuatu tepat di telinga Aileen. Dan setelah itu, gadis kecil itu terlihat mengangguk senang. Ia segera turun dari pangkuan sang Daddy dan berlari menuju ke ruang tamu.


"Glanma!"


"Iya Nak?"


"Nanti Aileen mau tidull sama Glandma!"


"Tentu, Sayang."


Sedangkan Tuan besar yang mendengar hal itu merasa begitu jengah. Sang putra selalu saja mengambil kesempatan, ia benar-benar kesal pada putra semata wayangnya itu. Lihat saja, ia akan balas perbuatan putranya ini.


"Sayang!"


"Iya Mas?"

__ADS_1


"Ayo ke kamar!"


"Baiklah, Mah Pah, Nara ke kamar dulu yah.".


"Baiklah."


"Selamat bersenang-senang dengan cucu kesayangan, Mah and Dad."


"Putra sialan!"


"Sudahlah Pah."


"Mamah sih! Aileen tidur sama Daddy ya, Nak?"


"Tapi kata Daddy Aileen hallus tidull sama Glandma and Glandpa, biall Aileen dapat baby. Kata Daddy, membuat baby itu hallus belldua saja!"


"Sialan anak itu mengotori pikiran cucuku, lihat saja akan aku balas nanti!"


Tuan besar dan Nyonya Ellena kembali harus tidur bersama cucu mereka. Dan menunda kegiatan malam untuk suami dan istri. Berbeda dengan Arkian yang kini tengah menggoda istrinya.


Malam ini ia akan menggempur wanita itu, Arkian tidak akan melepas istrinya walaupun hanya untuk satu menit.


Namun, sudah hampir dirinya bersatu dengan sang istri, Ginal justru meneleponnya.


["Tuan."]


"Hmm?"


"Mereka mencoba untuk meretas CCTV di mansion Tuan besar!"


"Aku tahu, dan aku juga sudah mengamankan semua keamanan di mansion ini!"


["Baiklah kalau begitu, Tuan."]


Arkian tidak akan membiarkan siapapun meretas keamanan di mansion daddy-nya. Pria itu bahkan tahu, kalau ada mata-mata di sekitar mansion. Namun ia hanya diam, ia bergerak tanpa diketahui oleh siapapun, Arkian juga tidak kalah licik.


"Kalian pikir, kalian bisa mengecoh Arkiansa Wijaya? Aku tidak sebodoh yang kalian pikir!"


"Siapa yang bodoh, Mas?"


"Ah tidak ada, Sayang. Ayo lanjutkan!"


Arkian melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda karena telepon dari Ginal. Bahkan Arkian merutuki Ginal, jika saja Ginal tidak menelepon, mungkin dirinya sudah ada di puncak kenikmatan sekarang.


.


.


.


.


.

__ADS_1


TBC!


YOK RAMAIKAN! JANGAN LUPA VOTE LIKE AND KOMENNYA YAH! LOPE YOU GUYS!


__ADS_2