
Hari ini Tanisa tengah bekerja di butiknya. Dirinya sudah mendapat kiriman foto-foto terbaru Aileen. Semua foto-foto itu benar-benar menakjubkan. Ia pasti akan memposting semua foto itu di akun media sosialnya. Ia tengah meminta sang asisten Delia, untuk mencetak semua foto itu. Karena dirinya hendak menjadikan gadis kecil itu sebagai ikon model butiknya. Disandingkan dengan foto Bellie.
"Del, kamu print out semuanya. Setelah itu kamu buat buku khusus untuk Aileen. Agar kita bisa menunjukkan rancangan baru untuk anak kecil, kepada semua costumer." Titahnya pada Delia.
"Baik, Nona Boss!" Delia pun undur diri. Jika sang atasan sudah mempercayakan kepadanya, maka ia akan melakukan sebaik mungkin. Delia menyiapkan cover buku yang bagus. Dan juga ia akan mengatur selebihnya menjadi lebih menarik.
Tanisa memang selalu mengajarkan kepada semua pekerjanya, agar tidak usah sungkan kepada dirinya. Katakan saja jika mereka memang butuh uang, Tanisa pasti akan membantu. Dan juga wanita satu itu tak pernah sekalipun memarahi atau membentak pekerjanya. Karena ia tahu mereka sudah dewasa dan pasti akan paham jika diberitahukan secara baik-baik apabila melakukan kesalahan.
Justru hal itulah yang membuat semua pekerjanya menjadi segan kepada Tanisa. Mereka benar-benar bekerja dengan baik dan sungguh-sungguh. Karena tidak mau mengecewakan sang atasan. Mereka semua seakan berpikir, sang atasan sudah begitu baik, sanggupkah mereka membuat wanita baik itu kecewa karena pekerjaan mereka yang tidak becus. Tidak ada satu pun dari pekerja Tanisa yang berbuat curang, karena sang atasan selalu memberikan apapun yang mereka butuhkan. Apabila mereka curhat dengan baik, Tanisa pasti akan membantu.
"Nona Boss!"
"Ah iya, Bellie?"
Bellie baru saja datang siang ini. Karena dirinya memang punya jadwal sekarang. Bellie tidak pernah terlambat, ia selalu datang on time. Itulah yang membuat Tanisa semakin suka akan kepribadian dan sikap Bellie. Bellie memiliki sikap disiplin akan waktu dan tak pernah berbohong akan apapun.
"Apa Nyonya Kynara dan Nona kecil tidak datang? Saya kesepian!"
"Duduklah Bell, bukannya jadwalmu masih tiga puluh menit lagi?"
"Iya, Nona Boss. Terimakasih." Bellie duduk di salah satu sofa di ruangan Tanisa. Sementara Tanisa tetap berkutat dengan gambarnya dan tetap duduk di kursi kebesarannya.
"Kynara ada di rumah. Si kecil juga ada di rumah, besok si kecil ada jadwal pemotretan. Tetapi sekarang tidak ada, jika kamu kesepian duduk saja disini bersamaku." Sahutnya.
"Ah Nona Boss bisa saja. Ya kali saya disuruh duduk seharian disinilah nemenin Nona Boss. Bisa-bisa saya ambeien duduk terus, haha." Bellie dan Tanisa tertawa. Candaan yang benar-benar garing.
"Siapa yang suruh kamu duduk seharian? Emang kamu mau duduk sampai malam? Saya kan pulangnya sore. Ya kamu juga harus pulang lah!" Jawab Tanisa. Seraya membenarkan posisi duduknya yang sedikit miring.
"Haha... Baiklah saya duluan, Nona. Saya ditunggu oleh photographer." Seraya berdiri dan menilik jam yang menempel di pergelangan tangannya. Lima menit lagi pemotretan akan dimulai.
"Okey!"
Tanisa pun kembali fokus pada gambar design barunya. Sembari menunggu Delia yang masih menggarap buku yang ia minta. Nanti ketika ada customer yang hendak melihat rancangan baju untuk anak kecil, ia tinggal meminta Delia untuk memberikan buku itu pada customer. Agar mereka melihat rancangan-rancangan baju untuk anak kecil.
__ADS_1
"Nona, bukunya sudah jadi, hehe." Delia datang seraya menunjukkan sebuah buku cantik karyanya. Di dalamnya sudah terpampang foto-foto pemotretan Aileen. Delia benar-benar menghias buku itu menjadi lebih menarik untuk dilihat.
"Kemarikan Del, aku mau lihat." Tanisa menilik halaman demi halaman yang ada di buku itu. Semua nya terlihat lebih menarik berkat coretan tangan Delia.
"Bagus, Del! Nanti kalau ada customer yang mau melihat design-design untuk pakaian anak kecil. Kamu bisa tunjukin buku ini yah. Karena produknya belum kita produksi. Jadi akan kita produksi lagi setelah ada yang order!"
"Baik, Nona Boss."
***
Akhirnya setelah lima belas menit berselang, Tanisa telah menyelesaikan rancangan barunya. Ia kini tengah menilik satu persatu foto Aileen di layar smartphone nya. Ia memilih lima foto yang bagus untuk ia post di akun media sosial butik nya.
"Ah, saatnya aku post." Tanisa memberikan caption 'Aileen Shaquilla, akan segera launching. Silahkan DM kami jika kalian berminat.'
Setelahnya Tanisa segera beranjak, ia hendak memberikan rancangan barunya kepada salah satu kepala penjahit. Agar bisa diproduksi langsung. Dan bisa launching dengan segera, karena pakaian itu tengah viral. Jadi Tanisa sengaja merancangnya dengan sedikit design yang berbeda dari yang lain.
"Kamu atur warnanya supaya jadi menarik."
***
Hari sudah sore, sang Surya sudah hampir tenggelam di sebelah barat. Tanisa yang baru saja selesai bekerja, segera memesan taxi online untuk pulang. Ia pulang dengan wajah penatnya. Ia sudah berencana hendak mandi, makan dan tidur setelah sampai rumah. Kalau tidak bisa-bisa dia menjadi panda dadakan besok.
Setalah dua puluh menit, Tanisa sampai di pintu rumah. Ia membuka pintu dan menilik dalam rumah, terdengar suara gaduh dari arah dapur. Tanisa segera masuk ke kamarnya dan mandi. Ia harus membersihkan diri terlebih dahulu agar lintah darat eh canda, agar kuman-kuman jahat tak menempel di tubuhnya.
"Assalamualaikum, aunty pulang!"
"Waalaikumsalam."
"Waalaitumsallam."
"Ah yeyy, Aunty Tan Tan pullang. Aunty sheukallang Aileen laddi masyak-masyak, aunty tadi ini Aileen yang bullat-bullatin nuddetnya." Baru saja tiba di dapur, keponakan kecilnya itu sudah banyak berceloteh. Membuat Tanisa gemas melihat bibir mungil nan imut itu.
"Really?" Sahutnya.
__ADS_1
"Yes Aunty, today I'm making a nuddet. See see, i'm so smalt, Aunty." Ia berkata dirinya pintar karena bisa membentuk bulatan-bulatan cantik dari adonan nugheg yang dibuat Kynara.
"Oh my God, baby. I'm proud of you! Come come." Tanisa seraya berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan gadis kecil itu. Kemudian ia merentangkan tangannya meminta gadis kecil itu masuk dalam rengkuhannya.
"Baiklah mentang-mentang aunty Tan Tan bisa bahasa Inggris, Mommy jadi engga diajak nih?" Kynara menambah sedikit candaan.
"Mommy nanti belladdal yah, biall pintall tayak Aunty Tan Tan." Gadis kecil itu benar-benar sudah berpikir seperti orang dewasa sepertinya.
"Okey Putri cantik Mommy!"
"Sekarang kita makan yah, sehabis makan, duduk dulu sebentar. Baru kita akan sholat Maghrib berjamaah. Aunty Tan Tan imamnya." Ujar Kynara sembari menata menu makanan malam ini di atas meja makan.
Ada sepiring nugget ayam buatannya. Kuah sayur bayam dan sepiring tempe dan tahu serta Nasi hangat. Jika tidak habis pun, Kynara akan menyimpannya di dalam lemari pendingin untuk dihangatkan di pagi hari. Namun tidak dengan nasi, karena Kynara menanak nasi dalam porsi pas. Jadi nasinya pasti selalu habis.
"Awwahumma balliklana fimallozaktana waqina adza bannal."
"Aamiin." Ujar Tanisa dan Kynara. Dan mereja memulai makan malam bersama tersebut.
***
.
.
.
.
.
TBC!
Yok ramaikan, vote like and komennya yah!
__ADS_1