
Dua bulan telah berlalu, tak sedikit pun perubahan yang dialami Kynara. Wanita itu tetap seperti orang linglung yang menatap kosong ke depan dengan air mata yang akan terus merembes ketika ia mengingat sosok yang lima bulan ini telah menemani dirinya. Bahkan Kynara tidak mau pindah tempat tinggal, ia seakan engga untuk kembali mengingat hal-hal indah yang telah dilewatinya bersama Arkian. Entah kenapa itu menjadi Boomerang tersendiri untuk Kynara.
Perutnya sedikit membesar, tetapi hubungannya dengan sang putri semakin renggang. Karena Kynara yang semenjak tidak ada Arkian, mulai diam dan terus diam. Hanya sesekali akan bicara jika sang putri telah menangis sedih meminta ibunya untuk berbicara. Tak jarang, Nyonya Ellena yang menyiapkan semuanya untuk Kynara. Seperti makan minum atau vitamin untuk kandungan Kynara.
"Nyonya, saya mohon jangan seperti ini. Tuan Arkian pasti akan sedih melihat Anda seperti ini."
Pagi ini Ginal datang ke mansion, pria berwajah tampan itu begitu emosional melihat penampilan dan keadaan Kynara. Ginal dan Nyonya Ellena duduk di sisi kanan dan kiri bankar Kynara. Seraya Nyonya Ellena mengelap air matanya dan mengusuk pelan punggung Kynara. Sudah ada satu psikiater yang menangani khusus Kynara. Wanita itu depresi ketika harus terpisah dari pria yang dicintainya yang selalu menemani dirinya. Rasa cinta yang tersimpan di dalam hatinya telah ada semenjak belasan tahun yang lalu.
"Kynara sadarlah, Sayang. Ada nyawa lain yang harus kamu jaga. Kalau kamu terus seperti, bagaimana dia akan tumbuh dengan baik, Nak. Arkian pasti sedih melihat kamu begini."
Nyonya Ellena berujar lembut sembari mengusap perlahan perut Kynara yang masih datar. Namun, tanpa disangka Kynara menangis. Wanita mengusap lembut perutnya. Walaupun kondisinya masih tidak memungkinkan, tetapi jiwa kasih sayang seorang ibu tidak akan pernah memudar.
"Mah. Nara mau ke makam Mas Kian."
Deg.
Nyonya Ellena dan Ginal tertegun. Kali pertama Kynara meminta untuk mengunjungi makam Arkian. Juga kali pertama dimana matanya tidak lagi menatap kosong. Wanita itu menatap netra ibu mertuanya yang tersenyum mengangguk.
"Berjanjilah Nak, Nara akan kembali seperti dulu. Nara harus berlajar mengikhlaskan apa yang telah pergi. Tuhan tau yang terbaik untuk Nara."
Deg.
"Aileen butuh kamu, Nak. Kamu harus bangkit, Nara. Jika kamu terus seperti ini, bagaimana nasib putri kamu? Dia juga kehilangan Daddy-nya, Nak. Dia juga sama sedihnya seperti kamu, tetapi dia masih membutuhkanmu. Ibunya, orang terdekatnya!"
Deg.
Perkataan Nyonya Ellena benar-benar menampar lubuk hati Kynara. Hatinya tergugah untuk menyadari apa yang telah ia perbuat selama ini. Tuhan telah memberinya hidayah untuk kembali seperti semula walaupun harus bertahap, tidak bisa langsung kembali seperti semula.
__ADS_1
"Maafkan Nara, Mah. Nara nyusahin Mamah sama Papah terus. Hiks... ."
Wanita berhijab itu menunduk sedih menangis sesegukan. Nyonya Ellena pun naik ke bankar, memberikan pelukan lembut bak seorang ibu kepada menantunya itu. Menantu yang telah dianggapnya layaknya putri kandungnya sendiri.
***
Kynara duduk di pusaran tanah memeluk sebuah nisan bertuliskan Arkiansa Wijaya. Menangis tersedu-sedu, sembari memeluk putrinya yang juga menangis.
Hatinya mencelos, mengingat hal-hal yang telah dilakukan suaminya untuk dirinya. Bagaimana pria itu memperlakukan dirinya dengan begitu romantis. Ia rindu dengan segala sifat nakal dan bijaksana Arkian.
"Myh, Aileen engga bisa ketemu Daddy lagi yah. Hiks.. hiks... ."
"Hiks... Aileen, Daddy sudah bahagia di sana. Aileen disini sama Mommyh, Sayang."
"Daddy akan sedih kalau melihat Aileen sedih."
Kynata sebisa mungkin berusaha untuk kembali bangkit dan memulai lembaran baru bersama putri tercintanya dan juga calon anaknya yang masih tumbuh dalam rahimnya.
"Nyonya ini surat untuk Anda."
Ginal yang tengah mengemudi memberikan sebuah surat yang ditulis khusus oleh Arkian untuk putri dan istrinya.
Sayang, maafkan aku yah. Aku engga bisa bahagiain kamu sama Aileen. Aku masih belum bisa buat kalian tertawa. Aku masih belum bisa jadi suami dan ayah yang sempurna. Tapi kamu harus tahu, kalau aku mencintai kamu dan putri kita. Tolong cintai putri kita hingga dia menjadi pribadi yang baik dan bisa mencapai apa yang ia inginkan. Aku cinta kalian lebih dari apapun.
Daddy Aileen ♡.
***
__ADS_1
Plakk!
Dengan seenaknya seorang pria berperawakan jangkung tinggi besar menggeplak tengkuk Ginal. Karena bukannya menjalankan perintahnya, Ginal justru enak menikmati nasi goreng yang ia buat baru saja. Walau kesehatannya masih belum sepenuhnya membaik, ia memaksa untuk belajar memasak. Tentunya untuk menyenangkan seseorang.
"Sebentar, saya masih lapar. Dan saya juga ngidam nasi goreng."
"Dasar bawahan laknat! Aku potong sepenuhnya gaji kamu bulan ini!"
Seketika Ginal berdiri meninggalkan nasi goreng yang masih tersisa sedikit di piring.
"Saya siap Tuan, nasi goreng sialan ini! Saya pasti menjalankan semuanya, Tuan. Dia sudab divonis penjara seumur hidup, Tuan. Dan sisanya akan kita laksanakan saat Anda sudah benar-benar pulih. Ehm, Maaf Tuan! Apa saya bisa mendapatkan separuh gaji saya kembali!"
"Mimpi saja kau! Bahkan kau tak akan mendapatkan segelas dari gajianmu!"
Dengan santainya pria itu pergi meninggalkan Ginal yang stres sendiri menghadapi tuannya itu beberapa hari ini. Sepertinya ia juga sudah mulai depresi.
.
.
.
.
.
TBC!
__ADS_1
Vote like and komennya guys!
maaf yah belum bisa up teratur, karena real life Cyndi harus fokus belajar juga. Tapi diusahakan up setiap hari kok.