
"Aku sengaja menaruhnya disitu agar kamu melihatnya. Kalau Aileen memang benar-benar putriku dan jangan sembunyikan dia lagi! Aku juga berhak atas putriku, Sayang. Dia darah dagingku, lihat saja surat itu dengan saksama!"
Arkian sebisa mungkin mencari untaian kata yang pas untuk ia katakan kepada sang pujaan hati. Karena kalau lidahnya sampai keseleo sedikit saja, bisa perang lagi nanti. Entahlah, seminggu ini istrinya berperilaku sedikit aneh. Wanita itu biasanya begitu lembut dan penyabar, namun seminggu ini istrinya terlihat sedikit galak.
"Astagfirullah, Mas! Ngapain aku sembunyikan putriku sendiri. Kalau dia sudah tahu siapa Daddy-nya."
Jawab Kynara, jujur dirinya menyesal karena telah menyembunyikan keberadaan Aileen dari Arkian. Wanita berhijab itu maju dan merengkuh suaminya, seraya mengucapkan permintaan maaf.
"Ya sudah, ayo! Katanya mau anterin bekalnya Aileen."
Mereka berdua berangkat menuju sekolah Aileen. Dengan hati senang, Kynara menenteng sebuah kotak bekal berkarikatur Upin dan Ipin. Putrinya memang menyukai warna kuning, dan Kynara sengaja membeli itu untuk putri kecilnya.
Perjalanan dari mansion menuju ke sekolah Aileen hanya membutuhkan lima belas menit perjalanan. Dan kebetulan jalanan tidak macet karena hari sudah lumayan siang.
Mobil mewah Arkian terus melaju membelah jalanan ibukota. Di bawah terik matahari yang masih belum begitu terik.
Ckittt!
Mobil berhenti tepat di depan gerbang yang menjulang tinggi. Ada security yang sudah berdiri dan membukakan pintu gerbang untuk Arkian dan Kynara. Sepasang suami istri yang terlihat begitu serasi, suaminya yang tampan dan terlihat begitu berwibawa. Dan istrinya yang cantik dengan balutan kain hijab yang membuatnya terlihat begitu kalem.
"Selamat siang, Nyonya dan Tuan!"
Ujar security sembari membungkuk untuk memberi sapaan hormat pada sang donatur tetap.
"Selamat pagi, Pak Security."
"Hmm!"
Berbeda dengan sang istri, Arkian hanya menjawab seadanya saja. Ia tidak terlalu suka banyak bicara.
"Assalamualaikum, Bu Guru! Loh, ini ada apa?"
Ujar Kynara, karena mereka melihat semua guru mondar mandir tidak jelas. Akhirnya Kynara bertanya, bukannya seharusnya jam segini mereka masih mengajar para murid? Lalu kenapa mereka malah berkumpul.
"Wa... Waalaikumsalam, Nyo... Nya Kynara? Tu... Tuan?"
Salah satu ibu guru yang merupakan guru kelas Aileen menjawab dengan gugup. Seakan sesuatu yang menakutkan telah terjadi.
"Ada apa ini, Bu?"
Tanya Kynara, wanita itu tetap kekeuh bertanya. Ia mendekat ke arah ibu guru dan semakin mendesak ibu guru untuk menjawab pertanyaannya.
"Maafkan kamu, Bu. Kami mengaku kalau ini benar-benar kesalahan kami! Kamu benar-benar minta maaf yang sebesar-besarnya. Dan kami akan bertanggungjawab untuk ini!"
__ADS_1
Tiba-tiba saja ibu guru memegang tangan Kynara. Dan pandangannya seakan meminta belas kasih yang dari wanita berhijab itu.
"Ada apa, Bu?"
Karena perkataan ibu guru yang semakin aneh, membuat Kynara semakin merasa penasaran dan juga khawatir.
"Aileen, Bu!"
"Anak saya kenapa, Bu?"
Kynara semakin mendesak ketika ibu guru menyebutkan nama putrinya. Sebenarnya ada apa? Kenapa semua orang terlihat panik seperti ini? Itulah yang ia pikirkan sekarang.
"Aileen diculik, Bu!"
"APA?"
Mata Kynara membelalak penuh. Seketika pacuan jantungnya bertambah kecepatan dan hatinya bergetar mendengar berita ini. Putri kecilnya yang jelas-jelas tengah berada di dalam lingkungan sekolah bisa diculik? Tentu ini kesalahan dari pihak sekolah yang tidak bisa menjaga dan memantau muridnya dengan benar.
"Mas, gimana ini?"
Arkian hanya terlihat santai, karena tidak ada seorangpun yang bisa menyentuh sang putri. Siapapun itu, Arkian tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Pria berkuasa itu tidak sembarang melepas putrinya tanpa pengawasan. Ia menaruh banyak pengawal di sekitar putrinya, walaupun tanpa pengetahuan siapapun.
Arkian menunjuk wajah kepala sekolah. Bagaimana bisa kejadian membahayakan seperti ini terjadi ketika jam sekolah berlangsung? Ini sudah tidak benar.
"Jangan, Tuan. Kami mohon maafkan kesalahan kami!"
Kepala sekolah itu menghiba, bahkan ia sampai berlutut di hadapan Arkian. Namun, Arkian tetaplah Arkian yang tidak akan lagi mengulangi kesalahan yang sama. Yaitu dengan membiarkan putrinya berkeliaran.
"Ayo pulang!''
Arkian mengabaikan kepala sekolah itu dan segera menarik lengan istrinya untuk pulang. Kynara terlihat ragu, sebelum akhirnya ia mengiyakan saja ajakan suaminya. Toh, dengan hanya berdiam diri di sekolah tidak akan membuat putrinya kembali. Ia yakin suaminya pasti tahu, apa yang sebaiknya di lakukan. Karena mereka masih belum bisa melapor jika kurang dari dua puluh empat jam.
Brummm!
Mobil melaju dengan kecepatan penuh. Amarah Arkian telah membabi buta, tentu saja. Ayah mana yang akan terima jika putrinya diusik.
"Mas, bagaimana putri kita? Hiks... ."
Kynara memberanikan diri untuk bertanya, karena ia juga berhak tahu perihal keberadaan putrinya. Wanita malang itu berusaha untuk menahan air matanya, ia tidak bisa membayangkan jika harus kehilangan putri tercintanya.
"Tidak akan terjadi apa-apa."
__ADS_1
Suara dingin Arkian yang memenuhi seluruh mobil. Pria itu tetap fokus mengemudi dan tidak terlihat khawatir sedikitpun.
"Turun!"
"Mommyh! Daddyh!"
Baru saja sampai di mansion, Kynara sudah disambut oleh teriakan melengking khas dari suara putri kecilnya. Lalu, yang tadi diculik siapa? Jika Aileen saja jelas-jelas masih ada di rumah.
Grep.
Wanita itu berlari menerjang tubuh kecil itu. Yang telah membuatnya panik setengah hidup.
"Aileen engga apa-apa kan, Sayang?"
"Engga apa-apa kok Myh, tadi ada uncle-uncle besall yang nyelamatin Aileen. Tadi, Aileen dibawa pelgi sama aunty jahat. Tellus Aileen mau di masukin di hutan, Myh. Aileen engga takut, Aileen gigit telinga aunty itu sampai belldalah. Tellus banyak uncle yang nyelamatin Aileen!"
Gadis itu bercerita sedetail mungkin kejadian yang baru saja dialaminya kepada sang ibu. Kynara bangga mendengar keberanian sang putri. Namun wanita itu juga takut dan khawatir jika hal ini akan terjadi lagi.
"Apa yang terjadi, Son?"
Tuan besar datang dengan membawa secangkir kopi. Ia baru saja mendengar kalau cucunya hendak diculik. Wajahnya tidak terlihat khawatir bahkan terkesan santai seakan tidak terjadi apa-apa. Karena tuan besar tahu benar, kalau putranya tidak akan berdiam diri saja. Tuan besar percaya Arkian bisa menangani kasus kecil itu dengan sangat baik.
"Hanya kejadian kecil, Dad. Dan aku akan segera menghukum pelakunya!"
Pria itu menyeringai. Tangannya sudah gatal ingin mengoyak tubuh dari orang yang telah berani menyentuh putri kesayangannya.
"Jaga putrimu dengan baik, Son. Daddy percayakan semuanya padamu!"
"Tentu, Dad!"
Arkian beranjak menuju ke ruangan keluarga. Karena sang istri tengah menemani putrinya menonton di sana. Mungkin efek khawatir, jadi istrinya masih sedikit posesif dan tidak mau jauh dari putrinya.
.
.
.
.
.
TBC!
__ADS_1
Vote sama likenya dong biar semangat up-nya. lope you guys.