
Siapa sangka, kemunculan foto-foto shoot Aileen benar-benar menggemparkan dunia maya. Bahkan kini banyak paket-paket misterius yang berdatangan entah dari mana. Banyak dari mereka yang isinya boneka Barbie atau selembar surat cinta untuk idola. Atau bahkan coklat yang begitu manis dengan dibumbui pita berwarna pink cerah. Secerah senyum Aileen yang kini tengah berbunga karena mendapat banyak hadiah.
Belum ada limat menit duduk, Kynara kembali beranjak dari sofa. Karena kurir berbeda kembali mengetuk pintu rumahnya, untung saja wanita itu penyabar. Jadi tidak ada keributan walaupun kurir-kurir itu sedikit mengganggu ketenangannya dan sang putri.
"Dapet apa laddi, Myh?" Tanya Aileen yang kini tengah duduk manis di sofa ruang tamu. Gadis itu terlihat menikmati sebatang white chocolate. Sang Mommy hanya menggeleng kepala tidak percaya atas kelakuan centil putrinya itu. Ternyata, sifat centil alias anti jaim Tanisa menurun penuh pada Aileen. Lihat saja, sekarang ia tengah berjingkrak kegirangan karena banyak paket-paket misterius yang berdatangan ke rumahnya.
"Buat Aileen, ada satu buket bunga. Dan satunya lagi berisi coklat lagi." Sahut sang ibunda sehabis membuka dua paket yang baru saja datang.
"Isinya totlat tellus. Aileen udah manis mutaknya, nanti talau mattan totlat tellus Aileen tennak diabetes." Kynara tercekik.
"Sayang, Nak. Kamu tahu darimana kalimat itu?" Darimana sang putri tahu kalimat buaya itu? Pikirnya. Masih kecil sudah bisa menggombal, jangan sampai putrinya itu benar-benar menjadi gatal nantinya.
"Dalli hape lah."
"Mulai sekarang, Mommy izinin kamu lihat hape, asalkan engga lihat tontonan orang dewasa. Atau engga ada hape-hapean lagi." Seketika mata Aileen membulat penuh, jangan sampai hak asasi bermain hape direbut kembali oleh sang ibu. Itulah yang kira-kira dipikirkan oleh Aileen.
"Enda, Myh. Sheukallang Aileen ttumak lihat si telliting doang. Aileen danddi enda batalan liat itu laddi." Sahutnya. Ia tundukkan kepalanya, menghiba belas kasih sang ibu.
"Okey, jangan berbohong, karena--"
"Awwoh enda syutak, nanti Aileen masyuk nellatta." Ia sudah hafal kata-kata yang biasa diucapkan oleh sang mommy. Sampai-sampai ia menyahut terlebih dahulu sebelum mommy nya menyelesaikan dialog nya.
"Myh, Aileen mau bellak. Aileen beddah mattan totlat tellus." Ia mengusap-usap perutnya. Yang tidak bisa buncit walaupun ia sudah makan banyak.
"Mommy sudah bilang tadi kan? Sekarang kalau sudah begah perutnya baru berhenti, coklat itu tidak baik untuk asam lambung, Sayang. Jangan makan terlalu banyak coklat, ayo biar mommy anterin ke kamar mandi." Seraya beranjak dari duduknya, menggiring Aileen untuk segera ke kamar mandi. Dan menuntaskan panggilan alam nya.
***
Arkiansa Wijaya, pria yang kini telah dikalahkan ketenarannya oleh putri kandungnya sendiri. Yang masih belum diketahuinya. Pagi ini, ia duduk di kursi kebesarannya. Bergelut dengan segudang file-file di hadapannya. Dan sebuah dokumen yang ia pinta dari asistennya kemarin. Dokumen mengenai data-data gadis kecil yang kini tengah viral itu.
"Tuan, hari ini kita tidak bisa datang ke butik itu. Karena ada jadwal meeting mendadak." Ujar Ginal, ia datang dengan membawa teh tawar kesukaan Arkian.
"Sial! Kau suruh saja salah satu karyawan untuk datang mewakili! Gina, untuk sementara aku akan membaca dokumen ini. Jadi kau selesaikan semua file-file merepotkan ini!" Arkian menyahut sebuah dokumen yang berisi data-data Aileen.
Gina lagi, Gina lagi. Kalau saja Anda bukan atasan saya, sudah saya lempar ada ke dalam kubangan kotoran sapi!
"Hey! Kau mengumpatku? Cepat selesaikan, kau ini benar-benar tuli yah." Arkian kembali memaki Ginal, karena pria itu masih saja bengong di tempat.
"Ah saya mana berani, Tuan." Gina segera mengambil alih setumpuk file yang ada di meja tuannya. Ia hendak membawanya ke dalam ruangannnya.
__ADS_1
"Eh eh, kau mau kemana?" Arkian menyela sebelum Ginal benar-benar keluar dari ruangan CEO itu.
"Tentu saja mau membawa semua file ini me ruangan saya, Tuan."
"Siapa yang menyuruh mu untuk membawa semua file itu? Aku meminta kau untuk mengerjakan disini saja. File-file itu hanya butuh tanda tangan ku. Tugasmu hanya memeriksa saja, takut ada yang salah!"
"Ah baiklah. Saya berencana--"
"Kau berencana hendak meneleponku, saat membutuhkan tanda tangan. Dan hendak berlaku seperti seorang CEO?"
Eh eh, serem, bagaimana Anda bisa tahu? Jangan-jangan Anda anak indigo yah?
"Ah tidak jadi, Tuan."
"Oh jadi kau benar-benar ingin melakukan itu?"
"Maksud saya, tidak jadi pindah, Tuan. Biar saya kerjakan disini saja."
"Bagus!"
Arkian kembali menilik dengan saksama dokumen yang ada di genggaman tangan nya itu.
"Aileen Shaquilla, usia lima tahun." Gumam Arkian. Ia tetap membaca semua detail-detail nya. Namun saat hendak membaca mengenai kedua orang tua gadis itu, smartphone nya berdering.
"Baik Tuan!" Akhirnya Ginal menaruh dokumen itu di dalam ruangannnya. Ia meminta salah satu staff untuk menaruhkan dokumen itu di ruangannya.
"Halo Pah."
["Hallo, Sayang."]
"Mamah? Kenapa menggunakan handphone papah? Aku kira penting!"
["Iya handphone mamah sedang dicharge. Ini memang penting, Sayang. Mengenai hari pernikahan kamu sama Veronica"]
"Aku minta pada Mamah, berhenti mengatur hidupku. Aku berhak memilih pilihan ku sendiri!"
["Ah tidak bisa, Sayang. Pilihan mu adalah wanita berhijab yang tidak berkasta itu? Mama tidak akan merestui kalian!"]
"Aku banyak kerjaan!"
__ADS_1
Tutt.
Arkian benar-benar lelah, karena sang ibu selalu saja ngotot untuk menjodohkan dirinya. Apalagi dia hendak dijodohkan dengan wanita yang sama sekali tidak dicintainya. Sang ibu menentang hubungan dengan Kynara hanya karena Kynara tidak sama kasta dengan mereka. Sejak saat itu, Arkian tidak lagi mau mengenal yang namanya wanita. Ia sudah merasa muak, bahkan ia sampai membeli sebuah apartment pribadi agar bisa terhindar dari wnaita itu. Ibunya benar-benar mengatur penuh kehidupannya.
"Aku pusing, Gina!"
"Sabar Tuan. Nanti saya doakan semoga nyonya besar diberikan hidayah."
"Ku doakan juga kau diberikan hidayah agar otakmu sedikit bekerja. Aku pusing karena file-file sialan itu. Aku jadi tidak tidur semalaman. Kenapa kau malah mendoakan ibuku? Seharusnya kau doakan semua klien kita itu, agar mendapat hidayah!"
"Ah ya, Anda benar Tuan. Saya akan mendoakan semoga mereka mendapat hidayah, dan tidak lagi menyusahkan Anda."
Karena otomatis saya juga akan susah. Batin Ginal berteriak.
"Gina, apa utusan kita sudah berangkat ke butik itu?"
"Baru beberapa menit yang lalu, Tuan. Kemungkinan akan sampai satu atau dua jam lagi." Ujar Ginal.
"Bagus, sekarang kau kerjakan semua itu. Aku akan pergi sebentar."
Sebentar bagi Anda itu lama bagi saya! Mana ada orang bilang sebentar, baru kembali tiga jam kemudian.
"Baik Tuan, ngomong-ngomong Anda mau kemana?"
"Jangan kepo urusan orang, kau urusi file-file merepotkan itu!"
"Ah baik, Tuan." Ginal pun mengunci rapat-rapat mulutnya. Kalau ia salah bicara, bisa-bisa ia disuruh push up.
Inilah sisi yang tidak banyak diketahui orang lain perihal Arkian. Sebenarnya Arkian itu akan humble jika berdekatan dengan orang-orang terdekatnya. Seperti Ginal contohnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC!
Yok ramaikan, vote like and komennya!