
Kedua pria berbadan kekar yang merupakan atasan dan bawahan itu masih saja berdiri di depan pintu rumah Kynara. Mereka masih berdebat sengit dengan sang pemilik rumah. Bukan hanya Kynara tetapi juga Tanisa, karena bagaimanapun Tanisa tidak mau melihat sahabatnya ditindas oleh kedua pria tak berhati itu.
"Jika Anda tidak pergi dari sini, maka saya akan laporkan Anda pada ketua RT!" Ancam Tanisa, sebisa mungkin ia harus bersikap tegas. Agar Arkian tidak selalu meremehkan keluarganya.
Jujur saja, Kynara sedih dan juga geram melihat semua ini. Namun, bibir peach itu sama sekali tidak bisa untuk mengeluarkan umpatan-umpatan kasar. Entah kenapa ada wanita yang sesabar ini. Sampai-sampai Tanisa juga ikut geram melihat kebungkaman Kynara.
"Baiklah kami akan pergi, tetapi ingat! Kami pasti akan kembali." Ujar Ginal, kemudian ia menarik tangan Arkian untuk pergi dari rumah itu. Karena kedatangan mereka saja sudah tidak diterima dengan baik.
"Lepaskan aku, Gina!" Arkian memberontak, namun Ginal terus memaksanya masuk ke dalam mobil. Hingga dirinya hanya bisa membenturkan kepalanya di sandaran kursi pengemudi.
"Arghh sial!" Umpatnya.
"Kita tidak bisa seperti ini, Tuan. Kita harus punya rencana, jika kita meminta izin, mereka pasti akan menolak mentah-mentah. Saya berjanji, saya akan membantu Anda." Ujar Ginal dengan tegas dan lugas. Arkian bahkan sampai melongo, seolah membeo. Ia berpikir, kenapa seolah-olah Ginal adalah atasan dan ia bawahan? Dan akhirnya lemparan kaus kaki itu mendarat sempurna di hidung Ginal.
"Iyuuwww, bau!" Pria itu mengembalikan kaus kaki tuannya yang mungkin sudah tidak dicuci dua hari.
***
Di rumah, Tanisa masih geram kepada Kynara. Bahkan wanita itu tidak berhenti menceramahi Kynara, ia dudukkan sahabatnya itu, kemudian ia duduk dan ceramah.
"Aileen ke kamar dulu, Nak. Aunty mau ngomong penting sama mommy!" Gadis kecil itu seraya turun dari gendongan mommy-nya dan berlari ke arah kamarnya.
"Nara, jujur aku marah kalau kamu kaya gini terus. Kamu jangan hanya diam, Nara! Jangan naif! Kamu harus bisa ngelawan mereka! Coba Bersikaplah tegas, jika bukan untuk diri kamu sendiri, setidaknya lakukan itu untuk putrimu. Jujur aku geram melihat mereka seakan ingin merebut putrimu! Selama ini kita sudah susah payah merawat Aileen, membesarkan gadis kecil itu dengan sepenuh hati. Tetapi dengan sekejap mereka seenaknya ingin merebutnya dari kita. Hatiku sakit Nara! Aku juga ibunya, aku juga yang merawatnya, aku menyayangi dia seperti putriku sendiri. Aku tak rela dia direbut oleh pria tak berguna itu, jika kamu tidak bersikap tegas, maka lihat saja mereka pasti akan merebut putrimu!"
Tanisa menangis, perasaannya terlukai, ketika dengan seenaknya kedua pria itu meminta melakukan tes DNA. Mereka pikir mereka siapa? Bahkan Arkian tak pernah ada dalam saat-saat tersulit dalam hidup Kynara. Demi apapun, Tanisa tidak akan rela kesayangannya direbut begitu saja.
Kynara yang mendengar nasehat sahabatnya itu, hanya bisa tertunduk diam. Jujur, ia juga sedih. Ia ingin marah, tetapi kepada siapa? Wanita itu tidak tega jika harus menyakiti perasaan orang lain.
"Aku mohon, sekali ini saja. Bersikaplah tegas! Kamu tidak perlu menyakiti hati siapa pun, aku tahu kamu tidak akan tega. Cukup bersikap tegas, itu saja." Tanisa tahu apa yang kini tengah dirasakan oleh sahabatnya itu.
"Heuh, mulai sekarang aku berjanji di hadapan Allah. Demi sahabat dan putriku, aku akan belajar untuk bersikap tegas! Insyaallah." Setelah berpikir panjang, akhirnya wanita itu mengambil keputusannya.
Demi putri dan sahabatnya, ia harus bisa melakukan ini. Walaupun berat dan tidak terbiasa, namun mulai dari detik ini Kynara akan membiasakan untuk bersikap tegas. Walaupun masih dengan kesabaran yang luar biasa.
__ADS_1
"Ingatlah, lembut itu bukan berarti lemah, Tanisa." Ujarnya.
"Tetapi tegas juga bukan berarti kasar, Kynara."
"Aku tahu, dan insyaallah aku akan bisa membiasakan. Kapan aku harus bersikap tegas dan kapan aku harus bersikap lembut!" Wanita mencoba sedikit menegaskan suaranya, walaupun nasih dengan nada yang sedikit mendayu-dayu. Namun sudah terdengar sedikit tegas dan lugas dari sebelumnya.
"Insyaallah!"
***
Setelah menidurkan putrinya, Kynara mengajak Tanisa untuk belanja bulanan ke supermarket. Dan baru saja taxi yang mereka tumpangi sampai di depan supermarket.
Namun, mata tajam Tanisa melihat seorang wanita. Yang berpakaian begitu minim, dengan high heels yang melekat di kedua kakinya. Serta gincu bibir yang begitu merona merah, mirip seperti badut! Canda badut.
"Sebentar, Nara!" Tanisa menjegal tangan Kynara, hingga keduanya berhenti berjalan. Ia menunjuk pada wanita yang tengah berjalan tepat di sebelah kanan mereka, namun sedikit jauh.
"Aku seperti pernah bertemu dengan wanita itu, tapi dimana yah?"
Kynara memerhatikan dengan saksama, kemudian ia ingat. Wanita itu adalah Veronica, tunangan Arkian yang sempat ia temui di villa saat pemotretan tempo hari.
"Ah iya!"
"Udah yuk, ngapain merhatiin dia, kan kita mau belanja bulanan, Tan."
"Kuy lah!"
***
Setelah dirasa cukup, mereka membawa semua barang belanjaannya ke kasir dan membayar tagihan. Namun, saat perjalan keluar, Tanisa tidak sengaja menabrak seseorang.
Dugg.
"Aduh, maaf ya mbak." Tanisa membantu wanita itu berdiri, namun dengan kasar wanita itu menepis tangannya.
__ADS_1
"Lihat-lihat dong kalau jalan! Kaya engga punya mata aja!" Ketus wanita itu seraya membersihkan high heels mahalnya yang terkena debu. Ia menoleh ke arah Tanisa dan Kynara.
Degg.
Ini kan mantan kekasihnya Tuan Arkian? Sekalian aja aku panas-panasin!
"Loh mbak kok malah nyolot sih!"
"Maaf yah mbak, kan sahabat saya sudah minta maaf!" Benar saja, Kynara membuktikan ucapannya untuk bersikap tegas.
"Kamu mantan pacarnya Arkian kan? Kami lihat ini baik-baik, ini adalah bukti cinta Arkian kepada saya. Sampai dia memberikan banyak tanda di tubuh saya, saat kami bercinta!" Kemudian ia berlalu saja pergi.
"Tan!"
"Dasar wanita gila!" Umpat Tanisa.
Tega kamu Mas, sudah berhubungan dengan tunanganmu, tetapi masih mengaku mencintai aku. Kamu jahat, Mas!
"Jangan hiraukan wanita gila itu, ayo pergi!"
Dan mereka berdua pun kembali pulang ke rumah, dengan menaiki taxi seperti biasa. Dengan perasaan yang sedikit tergores karena perkataan wanita itu. Khususnya, wanita berhijab itu yang memang menjadi korban terluka batin.
.
.
.
.
.
TBC!
__ADS_1
YOK RAMAIKAN! JANGAN LUPA VOTE LIKE AND KOMENNYA YAH!💖