
Bulatan bola mata itu melebar kala mendengar sebuah suara yang sangat ia kenal. Suara pria yang begitu ia rindukan dengan cepat Kynara menoleh ke belakang. Namun nihil, ia tak menemukan siapapun di sana. Hanya ada gorden yang terus bergerak karena tertiup hembusan angin malam. Seketika, wanita itu kembali tertunduk sedih. Sebegitu merindunya ia pada sang suami. Membuat penglihatan bahkan pendengarannya memunculkan sebuah ilusi.
"Hiks... Mas Kian. Hiks... Nar...a kangen."
Ujarnya menangis meringkuk di atas sajadah yang ia beberkan di atas lantai. Wanita itu beranjak setelah menangis beberapa saat, tenggorokannya serasa kering. Ia melipat kembali mukenah dan sajadahnya dan melangkah menuju dapur.
Sret!
Saat hendak melangkah turun, sekelebat Kynara melihat bayangan seseorang yang lewat. Ia kira itu Nyonya Ellena, tetapi untuk apa ibu mertuanya itu menuju ke lantai paling atas. Akhirnya, Kynara mengikuti dengan niatan ingin menemani Nyonya Ellena dan bersantai mengobrol bersama wanita paruh baya yang telah dianggapnya selayaknya ibunya sendiri.
Kynara terus melangkah menaiki tangga, karena bayangan itu lebih memilih naik tangga dibandingkan naik lift.
"Mah... Mamah tunggu Nara!"
Sedari tadi dirinya meneriaki mamahnya dari belakang. Tetapi tidak ada sahutan sama sekali sehingga mau tidak mau Kynara hanya mengejar. Walau pinggangnya rasanya hampir remuk karena menaiki tangga yang lumayan banyak. Hingga akhirnya sampailah ia ke rooftop.
"Huh! Huh!"
__ADS_1
Ia menunduk seraya mengusap peluh yang timbul di bagian wajahnya. Kemudian kembali mendongak untuk melihat kemana bayangan itu pergi.
Degg!
"Sayang!"
Kynara terpaku, tidak bisa berkata apapun untuk pemandangan yang ia lihat ini. Ia terdiam membisu, lidahnya seakan lemas dan lututnya pun demikian. Rasanya ia sudah tidak kuat lagi untuk berdiri, ia tidak bisa percaya apa semua yang ada di hadapannya itu nyata? Atau lagi dan lagi hanya halusinasinya belaka? Kynara mencoba dengan menampar pipinya beberapa kali, dan rasanya sakit. Itu artinya... INI NYATA!
"I..ini nyata? Ka..kamu disini?"
Seorang pria yang ia rindukan tengah berdiri di hadapannya. Dengan keluarganya lengkap di belakang, Nyonya Ellena, Ginal, Tuan besar dan putri kecilnya yang tengah memakai sebuah dress cantik. Dan juga rooftop yang dihiasi oleh lampu-lampu kecil yang menampilkan gemerlapan seperti kunang-kunang yang tengah mengerubungi mereka. Sebuah meja yang telah diberi lilin dan juga taburan kelopak mawar merah.
Dan artinya... Selama ini pria itu hanya berpura-pura mati? Pria itu membohongi dirinya? Apa Arkian pikir semua ini lucu? Apa ia pikir dibohongi itu tidak sakit? Kebohongan itu menyakitkan, tak pedulikan sekecil apapun itu. Terlebih lagi jika orang tercinta kita yang tega membohongi kita. Untuk alasan apapun, kebohongan tetaplah akan menyakitkan.
Tidak tahukah Arkian, betapa sakitnya dibohongi. Jika keluarganya juga ikut serta, itu berarti ini semua rencana mereka untuk bersekongkol membohongi dirinya? Tetapi Aileen tidak mungkin berani membohongi dirinya, Kynara masih belum paham akan semua kenyataan yang ia lihat.
Bumil itu tetap menangis seraya melepas genggaman tangannya. Ia menjauh dan langsung berlari kembali menuju kamarnya. Hatinya yang belakangan ini sensitif, begitu merasa sakit saat tahu dirinya ternyata menjadi korban kebohongan selama ini. Ia marah dan kecewa, bagaimanapun ia seharusnya diberitahu bukannya dibohongi. Kynara merasa ini semua tidak adil baginya. Kenapa mereka setega ini padanya? Apa salahnya?
__ADS_1
Arkian mengejar sang istri sembari meneriakkan nama wanita itu untuk berhenti. Karena tidak baik berlari untuk usia kehamilannya yang sudah berjalan enam bulan. Hampir saja ia masuk ke dalam lift, tetapi pintu lift lebih dulu tertutupdan memboyong istrinya menuju lantai dua. Wanita itu dengan gesit berlari walau harus memegang perut bagian bawahnya yang bergoyang-goyang seirama dengan pijakan kakinya.
"Ya Allah! Tega kalian... Hiks..hiks.."
Arkian dengan segera mengejar sang istri dan hampir mengapai pintu kamar istrinya. Namun, nihil pintu itu lebih dulu ditutup dan dikunci dari dalam. Seketika Arkian kelimpungan, bukan apa, tetapi mencari kunci cadangan dari ruangan itu.
Wanita berhijab itu menyandar di daun pintu, tubuh rapuhnya terus menggelosor hingga pantat yang kian mengembang itu menyentuh permukaan lantai yang dingin. Dibalik kain hijab, sesegukan itu tercipta dan air mata perlahan membasahi lembaran kain tipis berwarna krem. Kynara tak lagi mendengarkan walau sekeras apapun suaminya menggedor pintu. Ia seakan tuli dan tak peduli lagi, ini bukan salahnya. Ini salah suaminya yang menciptakan bayang-bayang emosi dalam hatinya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC!
Vote like and komennya guys!