THE CEO'S GENIUS DAUGHTER

THE CEO'S GENIUS DAUGHTER
TCGD-39


__ADS_3

PERINGATAN! Sedikit panas, bocel mohon lewati part yang di akhir! Othor pun melewati bab ini karena diriku masih bocel bau kencur!


Setelah kembali dari club Beauty Night, Arkian merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Namun ia kembali teringat saat sang rekan Daniel berkata, "nikmati malam ini bersama istrimu yang kau rahasiakan itu!"


"Sial, Daniel memasukkan obat perangsang ke dalam minuman tadi! Kenapa aku bisa sebodoh ini?"


Ginal yang tengah mengemudi pun terlonjak, karena Arkian yang sedari tadi diam tiba-tiba berbicara sembari meninju belakang kursi pengemudi.


"Apa ada sesuatu yang terjadi, Tuan?"


"Lebih cepat, Gina! Hasrat ini semakin membakar akal sehatku! Daniel memasukkan obat pembangkit gairah ke dalam minuman yang aku minum tadi! Sialan dia pasti ingin membalasku karena aku mengejeknya saat di sekolah anaknya!"


Sahut Arkian, pria itu seakan kesal pada keadaan. Tahu begini ia tidak akan menelan minuman sialan itu. Sekarang yang ia butuhkan hanya istrinya seorang, ia tidak butuh siapapun.


"Baik Tuan!"


Ginal yang melihat tuannya menderita pun akhirnya semakin mempercepat laju mobil. Untung jalanan sepi, karena ini sudah tengah malam.


"Gina, bagaimana kalau istriku tidur? Akhhh!"


Pria itu menggeram, birahinya sudah di puncak ubun-ubun. Dinginnya angin malam seakan sama sekali tidak menembus kulit Arkian, bahkan pria itu merasa badannya begitu panas seperti tengah berada di atas api saja. Tidak, panas yang ia rasakan sekarang berbeda, bukan panas dari luar namun panas dari dalam. Ia semakin memukul-mukul kursi belakang Ginal.


"Jangan dipukul, Tuan. Saya semakin gugup nanti kita bisa kecelakaan!"


"Sudah untung aku tidak memukul wajahmu! Cepatlah jangan banyak bicara seperti mamahku saja yang mengomel terus!"


Kini sang ibu pun turut ia libatkan, karena bagi Arkian, Ginal itu kebanyakan berbicara hingga menjadi seperti ibu-ibu saja. Ginal merengut sebal, jika Arkian bukan tuannya, sudah ia masukkan ke dalam lubang buaya. Kalau ngomong selalu saja tidak memakai otak, hanya modal tekat saja.


Setelah lima belas menit menahan gejolak asmara alias gejolak birahi, akhirnya mobil Arkian telah terparkir indah di depan mansion daddy-nya, yaitu Tuan besar. Setelah masuk ke dalam mansion, pemandangan pertama yang ia lihat adalah kegelapan. Karena semua lampu sudah dimatikan atas kehendak dari nyonya ratu, siapa lagi kalau bukan mamahnya.


Pria itu segera berlari menuju ke kamar istrinya di lantai atas.


Bruak!


Ia membuka pintu kamar istrinya dengan keras. Namun, ia hanya melihat kegelapan, tidak ada secercah cahaya pun dalam ruangan itu.


Tuk.


Lampu menyala, nampaklah sang istri yang tengah meringkuk membelakangi dirinya. Namun, punggung wanita itu bergetar seperti orang yang tengah menangis sesenggukan. Arkian pun membuka selimut yang melapisi tubuh sang istri. Ia menyentuh kain hijab wanita itu, walaupun hendak tidur wanita itu tidak melepas hijabnya.


"Sayang, kenapa menangis?"


"Hiks... Hiks..."


"Sayang, jangan menangis, sekarang aku butuh kamu!"


"Hiks... Hiks..."


"Please, temanku menjebakku, dia menaruh obat pembangkit gairah di dalam minumanku. Aku ingin sekarang, Sayang! Aku bisa gila kalau begini terus."

__ADS_1


"Mas!"


Mendengar suaminya menggeram seperti orang yang tengah kesakitan, hati Kynara tersentuh. Ia bangkit dengan mata sembabnya dan meraup wajah suaminya yang memang tengah duduk di tepi ranjang.


"Iya Sayang."


Sang suami menjawab sembari menutup rapat matanya. Seakan tengah menahan sesuatu.


"Mas datang dari mana?"


"Sayang, aku mohon ini bukan waktu yang tepat untuk sesi tanya jawab. Sekarang aku hanya butuh kamu, aku butuh dilayani, Sayang. Akhh! Ini menyiksaku!"


Wanita itu sedikit berpikir, ia masih belum siap. Namun melihat suaminya menderita, apakah ia sanggup? Bagaimana ia mencintai pria itu, dirinya hanya ingin melihat seberapa besar perjuangan pria itu untuk memperjuangkan cintanya.


"Hiks... Myh! Mommyh!"


Si kecil yang tengah berada di sebelah Kynara pun terusik tidurnya, karena suara sang Daddy yang terus menggeram tak karuan.


Arkian mendelik, sedari tadi ia tidak menyadari keberadaan sang putri. Ia harus segera mengantisipasi, yaitu dengan menitipkan putrinya kepada ibunya agar ia bisa melakukan ritual pelepasan sabun cair dengan aman nyaman dan tenang tentunya.


"Eh eh Mas, mau dibawa kemana?"


"Ke kamar mamah!"


Arkian segera membopong tubuh kecil putrinya menuju kamar ibu dan ayahnya.


"Apa sih? Ganggu orang tidur!"


"Dad! Bisakah aku titip putriku sebentar?"


"Tidak bisa! Daddy sedang pijat-pijat nikmat bersama mamahmu!"


"Ayolah Dad!"


"Lihatlah ada apa di belakang Daddy, what mamah keluar tanpa pakaian?"


Melihat daddy-nya berbalik terkecoh, Arkian segera menerobos ke dalam dan menaruh sang putri di sofa kamar Daddy-nya. Kemudian ia segera berlari sebelum terkena amukan pria paruh baya itu.


"Anak menyusahkan! Sial kenapa aku sebodoh ini, hingga tertipu oleh si tengik itu?"


Bruak!


Tuan besar masuk ke dalam dan kembali memakai pakaiannya, serta meminta sang istri untuk membatalkan acara pijat-pijat nikmat malam ini.


"Sayang, sudahlah Aileen kan juga cucu kita!"


"Tapi, aku sebal dengan anak tengik itu."


"Kau pikir dia benih siapa?"

__ADS_1


"Benihku! Lihat saja ketampanannya sama sepertiku, walaupun aku lebih tampan sedikit!"


"Pokonya besok aku mau double!"


"Terserah, kau mau double atau triple juga tidak masalah!"


Nyonya Ellena sudah frustasi menghadapi suami mesumnya itu. Benar-benar tidak ada puasnya melakukan hal itu. Walau di usia mereka yang terbilang tidak lagi muda, namun mereka tidak kalah romantis dengan pasutri muda yang baru menikah.


Kembali ke kamar sepasang generasi muda yang usia pernikahannya masih seumur jagung. Arkian, pria itu kini tengah memohon kepada istrinya.


"Sayang, ayolah! Aku sudah engga tahan lagi."


"Ehmm, tapi Mas."


"Sayang, kamu tega sama suami kamu?"


"Heuh, baiklah!"


Merasa mendapat lampu hijau, Arkian segera saja menyerang bibir peach wanita itu. Ia dengan sigap meraup wajah mungil istrinya dan ******* bibir yang menjadi pusat perhatiannya itu. Kynara tentu terkejut, ia terlonjak ke belakang karena dorongan dari suaminya. Karena tidak terbiasa melakukan hal itu, Kynara hanya bisa diam tanpa membalas apa yang suaminya lakukan.


"Akh! Sayang!"


Pria itu membuka setiap helai kain yang menempel di tubuh istrinya. Ia juga melakukan hal sama pada dirinya sendiri. Dengan tergesa-gesa, Arkian melempar semua pakaian-pakaian yang berharga selangit itu. Entah ke mana jatuhnya, tidak ada yang tahu.


"M... Mas?"


Melihat benda panjang besar berotot itu, mata Kynara sukses mendelik. Dadanya bergemuruh, bulu kuduknya berdiri seketika. Ini memang bukan yang pertama kali bagi Kynara, namun ia merasa trauma melihat benda itu lagi.


"Bersiaplah Sayang, ini hanya akan sedikit sakit."


Kynara memejam mata, ketika sang suami sudah memposisikan benda itu di antara kedua pahanya yang sudah dibuka lebar oleh Arkian. Wanita itu memalingkan wajahnya ke samping, namun Arkian kembali menahan wajah istrinya agar tidak berpaling.


"Lihat mataku, Sayang!"


Perlahan Kynara membuka katupan matanya, ia menatap intens ke netra sang suami. Netra tajam itu seakan menerawang kejadian yang sebentar lagi akan terjadi.


.


.


.


.


.


TBC!


YOK RAMAIKAN! JANGAN LUPA VOTE LIKE AND KOMENNYA YAH!💖 LOPE YOU GUYS!

__ADS_1


__ADS_2