
Dua Minggu telah berlalu, pengobatan Arkian pun telah selesai. Lebih tepatnya pria itu memaksa untuk segera selesai alasannya sudah tidak sabar bertemu istri tercinta. Dasar pria bucin! Besok pagi adalah saatnya untuk Arkian pulang dan memberitahukan segalanya kepada sang istri.
"Suntikkan penenang!"
Arkian meminta Gondrong untuk menyuntikkan obat bius pada wanita yang ada di dalam sel itu. Karena terus memberontak membuat Gondrong terpaksa harus berbuat kasar. Dokter Franco tetap berada di sana tentunya untuk mengawasi Arkian tetap dalam kondisi terkontrol. Untuk mencegah drop di jalan.
Perlahan tubuh wanita paruh baya itu melemah dan akhirnya jatuh tidak sadarkan diri. Dua anggota membopong tubuh wanita itu dan dibawa masuk ke dalam pesawat. Karena mereka memerlukan sebuah pesawat untuk sampai di pulau pribadi Arkian itu. Dimana istri dan keluarganya berada. Mungkin perjalanan akan ditempuh kurang lebih dua jam.
***
Sesampainya di pulau pribadinya, Arkian tidak langsung masuk ke dalam mansion. Ia masih ingin istri dan mamahnya tetap hidup. Kalau ia langsung masuk tanpa instruksi satu mansion bisa jantungan nanti.
"Gina! Mana daddy-ku?"
"Daddy disini! Dasar tidak sabaran!"
Tuan besar datang. Karena hanya pria paruh baya itulah yang tahu-menahu mengenai semua rencana dan keberhasilan Arkian.
Ia memeluk dan menepuk bangga bahu putranya karena telah bisa menyelesaikan misi ini tanpa bantuan siapapun. Arkian memang ambisius, tidak diragukan lagi.
"Dad, ayo!"
__ADS_1
"Tunggu! Kau mau membuat istri dan menantuku jantungan?"
Ujar Tuan besar, ia melihat sekeliling yang hanya ada pantai dan pepohonan tembakau. Langit masih gelap, jam masih menunjukkan pukul empat pagi. Waktu dini hari, angin pantai begitu dingin dan menampar kulit telanjang.
"Mana wanita itu?"
"Wanita itu aman, Dad! Aku telah menyelesaikan semuanya. Selangkah lagi istriku akan tahu, siapa dia sebenarnya! Siapa ibunya dan ayahnya yang sebenarnya!"
"Daddy bangga padamu! Lindungi istrimy seperti kau melindungi mamahmu! Karena mereka sama-sama wanita, sekuat apapun wanita itu tetaplah lemah lembut, Kian! Mereka tetap mudah sakit hati. Mungkin mereka pandai dalam bersilat lidah, namun tak akan sepandai pria dalam hal adu otot."
"Ya, Daddy benar! Wanita itu harus dilindungi. Karena mereka istimewa. Tetapi wanita yang tetap menjunjung harga diri dan martabatnya. Bukanlah wanita yang menginjak harga dirinya sendiri! Wanita jahat seperti dia tidak pantas dilindungi. Lebih baik musnahkan saja hama itu!"
Mereka melangkah pergi, beranjak menuju mansion. Bersama Ginal dan Dokter Franco yang setia membuntuti kedua majikannya itu.
Mansion masih sepi dan cahaya pun masih tamaram belum begitu terang. Para pelayan masih belum memunculkan diri mereka. Terpaksa ketiga pria itu, selain Tuan besar harus menyelinap masuk ke dalam kamar tamu seperti maling sapi. Tentu dengan bantuan Tuan besar.
Namun sayang, saat hendak masuk ke dalam kamarnya, Arkian tak sengaja menyenggol sebuah vas bunga sedang yang berada tepat di sisi pintu.
Pyar!
Seorang wanita berhijab yang tengah menuruni tangga terlonjak ketika mendengar suara pecahan vas yang begitu nyaring.
__ADS_1
Kynara turun bermaksud untuk membangunkan Nyonya Ellena dan putrinya untuk mengajak lari pagi. Karena ia pikir cuacanya sangat mendukung dan entah moodnya sedang ingin saja.
Perlahan Kynara mendekat dan terus mendekatkan dirinya. Arkian pun semakin dibuat lemas, ia bingung harus apa lagi sekarang karena istrinya sudah hampir menjangkau dirinya. Jujur pria itu tidak bisa mengendalikan emosi yang tiba-tiba muncul dalam hatinya saat melihat wajah cantik istrinya walau dalam cahaya yang remang-remang.
Hampir saja ia berlari dan memeluk wanita itu. Namun, akal sehatnya masih bisa digunakan berkat geplakan keras dipunggung yang dilayangkan oleh Daddy-nya, siapa lagi kalau bukan Tuan besar.
"Ka... Kalian?"
.
.
.
.
.
TBC!
Vote like and komennya guys!
__ADS_1