
Hai semuanya!
Perkenalkan nama saya Haritsataqi Jaman, seorang penulis amatir. Saya baru saja mencoba menulis cerita pada tahun 2018 sampai sekarang. Dikarenakan saya masih pemula, saya harap para hadirin semuanya memaklumi jika ada salah kata dalam penulisan saya.
Yap, itu saja. Silahkan nikmati perjuangan Arion Whiteblood**!!!
----
Ribuan tahun yang lalu, terjadi perang besar di Dunia Tengah. Perperangan ini bersumber dari kebangkitan Sang Naga yang telah tertidur di langit selama jutaan tahun. Bersamaan dengan bangunnya Sang Naga, sebuah pulau kecil tiba-tiba muncul di tengah-tengah samudera. Pulau itu seperti tempat kematian, dengan ratusan karang besar di sekitar pulau itu dan juga ada suatu benda raksasa yang muncul sesaat setelah pulau itu muncul ke permukaan.
Benda itu berbentuk seperti sarang burung yang terbuat dari batu dan arang.
Lalu, ribuan pasukan mayat hidup muncul dari laut dengan berbagai bentuk. Mereka menggunakan senjata tombak trisula.
Bangsa Garvens yang mengetahui kemunculan mereka langsung menganggap mereka sebagai ancaman. Seluruh ras bersatu untuk berperang melawan mereka.
Leluhur suatu klan muncul di tengah-tengah perperangan. Mereka berambut putih dan bermata biru. Klan itu adalah Whiteblood, klan yang agung.
Perang itu berlangsung lima tahun lamanya dan setelah itu bangsa Garvens keluar sebagai pemenang, tetapi bayaran yang harus mereka telan sangat banyak. Kehancuran terjadi dimana-mana, banyak yang jatuh sebagai korban, puluhan kerajaan hancur dan yang paling mengejutkan klan Whiteblood musnah.
Dan juga, sampai sekarang pulau dan benda berbentuk sarang burung itu belum lenyap dan tetap diatas samudera.
***
"Serang! Jangan sampai ada satupun yang lari!" seru seorang pria dengan baju zirah yang lengkap sambil menunggangi kuda.
Puluhan pasukan menyerbu sebuah desa yang telah diserang oleh ras Goblin. Pasukan itu memakai baju zirah yang sama dengan pria berkuda tadi, baju zirah corak hijau.
Para Goblin yang melihat kedatangan pasukan tersebut langsung lari terbirit-birit meninggalkan desa. Setengah dari pasukan tersebut mengejar mereka.
"Evakuasi! Cari orang yang masih hidup!" perintah pria itu.
"Tapi, Yang Mulia ... sepertinya tidak ada siapapun di desa ini" kata seorang pria botak disampingnya.
Tidak lama kemudian, ada suara rintihan minta tolong dari dalam salah satu rumah di sana. Pria itu turun dari kudanya dan berjalan menuju rumah tersebut.
Sesampainya ia di sana, pria berbaju zirah tersebut membuka pintu rumah dengan perlahan. Suara decitan pintu dapat terdengar dari pintu itu. Ketika ia membukanya, kondisi dalam rumah terlihat kacau, bahkan kayu-kayu pondasi atap ada yang runtuh.
Pria itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling lalu mendapati cahaya biru terang dari suatu ruangan. Perlahan ia berjalan menuju ruangan itu dengan tangan berada di ganggang pedangnya.
"Yang Mulia Hanza" kata pria botak tadi. Ia saat ini berada di luar rumah.
"Tunggu disana, Thomas" kata Hanza.
Ia terus berjalan, Hanza mengintip ke dalam ruangan itu sebelum membuka pintu ruangan tersebut.
Napasnya tertahan ketika melihat cahaya itu berasal dari perisai sihir dan di dalamnya ada seorang anak kecil yang sedang duduk dengan tatapan kebingungan.
Pandangannya lalu tertuju pada seorang wanita yang tertimpa kayu di lantai rumah. Hanza segera mengangkat kayu itu dari tubuh wanita tersebut. Ada bekas luka cakar di perut dan lengan wanita itu.
"Apa kau tidak apa-apa?" Hanza mengangkat kepala wanita itu. Napasnya terdengar lemah.
"Akan kupanggil ..." Hanza hendak memanggil orang-orangnya, namun wanita itu memegang lengan Hanza.
"Jangan ... kumohon .. jangan pergi .." ucapnya dengan suara terputus-putus. Hanza berhenti dan terpaksa menurutinya.
"Anakku ... dia ini anakku .. kumohon .. rawat dia .. aku tidak .. punya siapa .. siapa untuk mengasuh anakku lagi .."
Wanita itu mengalami batuk darah, bahkan darahnya sampai ke pipi Hanza.
"Ambil ini .." ia memberikan Hanza sebuah liontin. Hanza menerimanya.
"Kau ini siapa?" tanya Hanza.
"Aku .. seorang ... Whiteblood"
Hanza melebarkan matanya, ia kaget dengan ucapan wanita itu. Hanza melihat rambut wanita tersebut, rambutnya berwarna hitam bukan putih.
"Kumohon .. jaga anakku .. baik-baik .." wanita itupun menghembuskan napas terakhirnya, matanya tertutup perlahan-lahan. Tidak lama setelah itu, rambut hitam wanita tersebut berubah perlahan menjadi putih.
"Seorang Whiteblood" gumam Hanza. Ia pun menoleh ke perisai sihir itu, anak kecil di dalam perisai tersebut menatapnya, wajah polos dan lugunya itu seolah tidak menggambarkan ketakutan dan kesedihan.
Beberapa detik kemudian, perisai tersebut mulai terurai dan mengeluarkan cahaya. Bocah itu keluar dari perisai tetapi tetap duduk di tempatnya.
__ADS_1
"Nak .." Hanza memanggil anak itu. "Siapa namamu?"
"Arion" jawabnya.
"Arion .. mulai sekarang akan kuangkat kau jadi anakku. Bagaimana menurutmu?" Hanza bertanya.
Arion menatap jasad ibunya yang masih berada di dekat Hanza. "Ya ... aku mau, itu adalah pesan dari ibuku ..." jawabnya.
Hanza berdecak kagum, ia menebak Arion baru berumur 6-7 tahun tapi ia sudah bisa berpikir selayaknya orang dewasa. Sama seperti ibunya, rambut Arion juga hitam.
"Namaku Hanza Gareins, aku adalah raja dari Kerajaan Rabadar, kau bisa memanggilku sebagai Ayah mulai saat ini dan sampai kapanpun"
Arion mengangguk perlahan. Hanza tersenyum lalu ia mengangkat ibu Arion keluar rumah. Arion mengikuti dari belakang.
"Yang Mulia" Thomas kaget Hanza membawa seorang korban bersama seorang anak kecil.
"Kita kuburkan dia di sekitar sini, wanita ini perlu diberi pemakaman yang layak" kata Hanza.
"Baik, Yang Mulia. Kalian semua! Siapkan tempat kuburan" perintah Thomas.
"Baik!!"
Thomas mengalihkan perhatiannya pada Arion. Sadar pandangan Thomas tertuju pada anak angkatnya, Hanza pun menjelaskan apa yang baru ia alami di dalam rumah itu, kecuali di bagian ia seorang Whiteblood.
"Kuyakin Daendra akan senang mendapat saudara baru" Hanza mengelus kepala Arion.
"Saya juga beranggapan sama" Thomas tersenyum ramah.
Beberapa saat kemudian, pasukan yang mengajar para Goblin kembali. Mereka melaporkan ada beberapa Goblin yang lolos. Hanza menghela napas panjang, ia menyesal tidak datang lebih awal ke desa ini.
"Pemakamannya sudah siap, Yang Mulia" kata salah satu prajurit.
"Bagus, mari kita menguburkannya dengan layak" ajak Hanza.
Ibu Arion dimakamkan di dekat desa itu yang berada di tempat tersembunyi. Mereka berdoa sebelum meninggalkan kuburan itu.
Arion masih berdiri disana sambil menatap kuburan ibunya. Hanza menunggu di belakangnya.
"Arion" panggil Hanza.
"Ayo, kita pulang" Hanza mengulurkan tangannya. Arion diam sejenak, ia pun menggapai tangan Hanza lalu mereka pergi dari sana.
Arion melambai ke kuburan ibunya sebelum benar-benar pergi menjauh.
***
"Yang Mulia Ratu, Baginda Raja sedang dalam perlajanan pulang" seorang pelayan wanita melaporkan hal itu kepada wanita yang ada di hadapannya.
"Benarkah? Apa misinya sudah selesai?" tanya Ratu itu dengan antusias.
"Benar, Yang Mulia. Raja Hanza telah berhasil mengusir para Goblin dari Anvio Village" jawab pelayan itu.
"Itu kabar baik, persiapkan pesta kedatangan raja"
"Baik, Ratu"
Di taman kerajaan, seorang anak berusia 9 tahun dengan penampilan mewah terlihat sedang menganggu seekor kucing. Ia tidak sendirian, ada tiga bocah yang seumuran dengannya dan juga berpenampilan mewah.
Anak itu terlihat menikmati perbuatannya menganggu hewan tersebut sampai seorang pelayan wanita datang untuk menegurnya.
"Pangeran, anda tidak boleh bersikap itu padanya, kucing ini juga makhluk hidup" ucap gadis itu.
"Cih! Siapa kau yang berani melarangku?" anak itu memandang rendah pelayan tersebut.
"Tapi, Pangeran ..." pelayan itu menghentikan ucapannya ketika melihat seorang gadis kecil berras Demi-Human datang menghampiri mereka.
"Daendra, Daendra, kau nakal sekali. Kalau ibumu melihat tingkahmu ini, pasti dia akan marah besar" ucapnya sambil menggeleng kepala pelan. Gadis itu mempunyai ekor dan daun telinga seekor rubah. Rambutnya berwarna oranye sama seperti ekornya. Ekornya yang besar ia kibas-kibaskan kesana kemari.
"Jangan ikut campur, Faesa" Daendra menatapnya dengan dingin.
"Huuu ... takutnya!" Faesa tertawa kecil. "Walau bagaimanapun juga, akan kuberitahu kepada Ratu dan Nyonya Cataine" Faesa langsung berlari dari sana. Daendra kaget, ia langsung mengejar Faesa.
Saat mereka berlarian di koridor, Faesa tidak sengaja menabrak tubuh seseorang, Daendra yang tidak sempat mengerem juga ikut menabrak.
__ADS_1
"Aduh ...!" Faesa mengelus jidatnya.
"Aw!" Sedangkan Daendra memegang hidungnya yang tidak sengaja menabrak kepala Faesa.
Mereka berdua sama-sama mendongakkan kepalanya keatas untuk melihat siapa yang baru saja mereka tabrak.
"Pa-paman Dominick!" Daendra menjerit histeris.
Dominick merupakan adik dari Hanza sekaligus paman dari Daendra. Awalnya ia adalah panglima Rabadar Kingdom tetapi ia dipensiunkan karena kehilangan tangan kirinya akibat bertarung dengan kerajaan lain. Wataknya yang ganas dan pemarah membuat orang-orang pada segan dan takut padanya, terutama Daendra. Dominick mempunyai paras yang kejam tentunya, berambut panjang, tinggi dan mempunyai sifat yang dingin.
"M-maafkan kami!" Daendra membungkukkan badannya cepat-cepat.
"Kenapa kalian berlarian di koridor?" tanya Dominick.
"I-itu ... Faesa mengambil kalungku!" tuduh Daendra yang membuat Faesa kaget dan segera menoleh kearahnya.
"Apa itu benar?" Dominick bertanya pada Faesa.
"Tentu saja tidak! Dia berbohong!" Faesa membela dirinya.
"Tunjukkan padaku siapa diantara kalian yang berbohong?"
Daendra dan Faesa meneguk ludah mereka masing-masing karena saking takutnya. Pada akhirnya, Daendra mengakui kesalahannya.
"Pangeran, aku menyukai orang yang jujur tapi kau sedikit keterlaluan tadi karena membohongiku, jadi kau akan kuberi hukuman" ucap Dominick.
Lalu, Dominick menyuruh Faesa pergi. Keduanya pun berjalan menuju lapangan latihan.
Daendra terus berdoa dalam hatinya agar tidak disakiti oleh pamannya ini.
Mereka pun sampai, Dominick berdiri di hadapan Daendra yang tengah memainkan jari-jarinya.
"Coba serang aku" kata Dominick.
"Ha? Apa?" Daendra sedikit bingung.
"Coba serang aku" ucapnya lagi.
"Kena— Arrrggh!!!" Belum sempat Daendra menyelesaikan kalimatnya, ia sudah diserang oleh Dominick dengan sihirnya.
Dominick cukup mengibaskan tangannya untuk mengeluarkan angin yang cukup untuk menyerang Daendra sampai terjatuh.
Daendra bangkit, ia langsung siaga.
"Coba serang aku" kata Dominick.
Daendra mengangkat kedua tangannya ke depan lalu kemudian memutar-mutarkannya. Terciptalah pusaran api dari putaran kedua tangannya itu. Api itu mengarah langsung menuju Dominick, namun dengan sekali kibasan tangan Dominick, api tadi menghilang meninggalkan asap.
Daendra terkejut tapi tidak berani berkomentar.
"Hanya segitu? Latihanmu selama ini untuk apa?" tanya Dominick.
Daendra menunduk dan tidak menjawab.
Dominick mendekati Daendra. "Apa kau tahu yang dibawa Ayahmu saat pulang nanti?" tanya Dominick lagi. Daendra mengangkat kepalanya dengan raut wajah bingung.
"Bukan mainan atau makanan, melainkan seorang bocah laki-laki"
"Apa?" Daendra kaget.
"Bocah itu bisa saja lebih jenius darimu. Ayahmu tidak sembarangan membawa seseorang ke dalam istana ini. Posisimu sebagai Putra Mahkota dan Heaven General bisa terancam"
"Tidak mungkin!" Daendra mengepal tangannya erat.
"Maka dari itu berlatihlah sungguh-sungguh. Aku akan terus mendukungmu dan tidak akan kubiarkan kau dikalahkan oleh orang yang bukan keturunan Raja" sahut Dominick.
"Aku pasti tidak akan kalah darinya!"
Dari kejauhan, Faesa mendengar semuanya dari balik tiang bangunan. Ia tersenyum melihat wajah marah dari Daendra dan juga berita tentang kedatangan bocah misterius ini.
***
**Hanya sebagai pemberitahuan saja kalau saat ini saya sedang membuat sebuah novel fantasi juga yang berjudul 'Dataran Lafier'.
__ADS_1
Mampir, ya**!