The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Simbol


__ADS_3

Jleb!


Sebuah pedang menembus dada seorang Goblin hingga tumbang ke tanah. Eden menarik kembali pedangnya dari tubuh Goblin itu. Ia menoleh ke belakang melalui bahu, memeriksa pekerjaan yang dilakukan oleh kelompoknya.


Kelompok Eden berhasil memberantas sekawanan Goblin yang menyerang desa yang mereka tempati untuk bertugas. Mayat-mayat Goblin berserakan di tanah dan mulai membusuk.


"Sacred Turn" Aciel memurnikan mayat-mayat Goblin itu hingga berubah menjadi abu.


Seorang pria paruh baya datang berlari menghampiri mereka. "Terima kasih, Tuan! Terima kasih karena telah menolong desa kami" ucapnya sambil duduk berlutut di hadapan mereka.


"Ya" Eden menanggapi dengan dingin, ia berjalan melewati pria itu. Faesa membantunya berdiri kembali.


"Sudah tugas kami, Pak. Kami akan menjaga desa kalian sampai para Goblin itu tidak akan berani kembali kemari" kata Faesa, meyakinkan.


"Terima kasih, Nona, aku sudah tidak tahu harus membalas dengan apa" ucap pria itu.


"Selain Goblin, apakah ada yang berani menganggu desa anda?" tanya Aciel.


Pria itu terdiam sejenak sebelum menceritakan tentang kedatangan para Bandit ke desa mereka.


"Mereka mengancam kami untuk memberikan hasil panen sebulan sekali dan sekantung koin emas kepada mereka atau tidak mereka akan membawa para gadis dari desa kami"


"Begitu ya. Hm ... ini sulit. Eden, bagaimana menurutmu?" tanya Faesa.


"Apa? Biarkan saja mereka kemari, kita lihat seberapa besar kekuatan mereka" jawab Eden sebelum pergi dari sana.


Faesa dan Aciel saling pandang. "Begitulah, kita turuti saja" kata Aciel.


Faesa dan Aciel memutuskan untuk mengantar pria itu ke rumahnya. Mereka berdua dituntun oleh beberapa warga karena tertarik dengan pemuda-pemudi itu.


Eden pergi ke suatu tempat untuk menyendiri. Ia menemukan tempat yang bagus di tepi danau, namun ia tidak sendirian di sana, ada seorang gadis kecil dengan rambut dikuncir kuda sedang duduk di sana sambil memainkan sulingnya.


Eden diam menatap gadis itu, ia tidak ingin menganggunya. Tiba-tiba, ia menghentikan permainannya dan menoleh ke Eden.


"Kau ingin membawaku pergi?" tanya gadis itu tiba-tiba. Ia menatap Eden dengan raut wajah kesal.


"Apa maksudmu?" tanya Eden, bingung tapi tetap datar.


"Kau salah satu dari mereka, kan?" tanya gadis itu lagi.


"Aku tidak paham yang kau bicarakan" jawab Eden.


"Kau bandit, kan?"


"Tidak"


"Bohong"


"Aku bukan bandit"


"Dengar, ya ...  aku tidak suka orang yang pembohong"


"Terserah apa katamu"


Eden pun melangkah pergi dari sana. Gadis itu bangkit dari duduknya, ia membersihkan sisa rumput yang menempel di pakaiannya, lalu berlari menghampiri Eden.


Eden berhenti dan berbalik. "Ada apa? Kenapa kau menghampiriku?"

__ADS_1


"Sepertinya kau jujur. Kalau bukan bandit, kau ini siapa?" Gadis itu bertanya kembali.


Eden menggeleng pelan dan kembali berjalan, mengacuhkan bocah itu.


"Hey! Kenapa kau tidak menjawabku? Hey! Pria aneh, jawab pertanyaanku!"


Tiba-tiba, Eden berhenti mendadak, membuat gadis itu menabrak dirinya lalu terjatuh ke tanah.


"Aduh!" katanya.


Eden berbalik, menatap dingin pada gadis itu. "Kau yang aneh" ia lalu berjalan kembali, kali ini bocah perempuan itu tidak mengikutinya.


***


Pada malam harinya, Eden duduk di tepi api unggun, sendirian. Kelompoknya sedang berada di penginapan dengan kasur yang empuk dan kamar yang hangat.


Eden hanya duduk beralaskan rumput dan beratapkan langit. Ia menatap langit malam yang dipenuhi dengan bintang-bintang.


Dengan iseng, Eden mengeluarkan bola api hitam di atas telapak tangan kanannya. Ia membentuk bola api itu menjadi seekor burung. Burung api hitam itu berterbangan di tangannya.


"Wah! Itu keren!"


Tiba-tiba saja, gadis tadi siang muncul di sampingnya. Eden yang kaget tidak sengaja menghancurkan burung itu, lalu berubah menjadi asap.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Eden.


"Apa yang kulakukan di sini? Aku bisa melakukan apa saja disini" jawab gadis itu dengan nada bicara yang sombong sambil melipat tangan di dadanya.


"Sebaiknya kau pulang, malam biasanya berbahaya" kata Eden.


"Aku tidak takut, kau pikir siapa aku?" jawabnya.


"Ngomong-ngomong, namamu siapa? Aku tidak pernah melihatmu di sekitar sini sebelumnya" tanya gadis itu.


"Eden"


"Nama yang keren. Aku Alen"


Tiba-tiba, seekor serigala berbulu abu-abu dengan mata merah dan berbadan kekar. Alen menjadi bersiaga, ia berdiri seolah melindungi Eden yang sedang duduk dan seperti tampak tidak peduli dengan kedatangan serigala itu.


"Jangan khawatir! Aku akan menanganinya" kata Alen.


Serigala itu mengeram padanya. Tangan Alen perlahan masuk ke dalam kantong belakang yang terletak di belakang bawah punggungnya.


"Rasakan ini!" Alen melempar tiga pisau kearah serigala itu. Ketiga benda tersebut mengenai tubuh serigala itu, tapi tampaknya tiga pisau tersebut tidak bisa menancap di tubuh serigala itu.


"Apa?!" Alen tidak mempercayai apa yang ia lihat.


"Hardening Skin" sahut Eden.


"Teknik apa itu?!" tanya Alen.


"Teknik yang biasa dipakai oleh seseorang yang mendalami Ilmu Dorum" jawab Eden.


"Aku tidak pernah mendengarnya" ucap Alen.


"Awas, dia ingin menyerangmu" tunjuk Eden dengan santai.

__ADS_1


Alen langsung menghindar setelah mendengar peringatan dari Eden. Ia mengambil pisau yang lain dari sakunya, Alen kembali melempar pisaunya ke tubuh hewan itu, tetapi hasilnya sama saja.


"Apa yang harus kulakukan?!"


"Hardening Skin adalah teknik yang merepotkan untuk orang-orang yang masih berada di bawah Ilmu Dorum. Biasanya mereka memilih lari" jawab Eden.


"Jawabanmu tidak membantu!" teriaknya.


Eden bangkit dari duduknya. "Melawan orang yang menguasai Hardening Skin memang merepotkan, hanya ada sedikit cara untuk bisa mengalahkannya" batin Eden.


Ketika serigala itu sedang sibuk bertarung dengan Alen, Eden mengeluarkan pisau dari kantong yang terletak di pinggangnya.


Ia melemparnya ke tubuh serigala itu. Sama seperti serangan Alen tadi, lemparan pisau Eden juga tidak mempan, namun bukan itu yang ia rencanakan.


Hewan itu menggeram kepada Eden. Mata mereka saling bertatapan.


Tiba-tiba, mata emas Eden menyala, memuncul lingkaran cahaya emas dengan sebuah simbol cakaran di tengahnya. Lingkaran itu mengikat tubuh serigala tersebut, simbol cakaran yang ada di tengah-tengah lingkaran keluar dari sana. Simbol itu berubah menjadi pedang lalu menyerang tubuh serigala sampai sesuatu di tubuhnya mengeluarkan bunyi pecahan.


Alen tercengang melihatnya. Tubuh serigala itu melemas karena kehilangan tenaga. Matanya menutup dan perlahan tubuhnya mengecil, berubah menjadi seorang pria tanpa busana.


Di kepala pria itu ada sepasang telinga berbulu mirip seperti serigala dan ia mempunyai ekor serigala pula.


"Seorang Demi-Human" kata Alen.


"Ya ..." Eden mengambil sehelai kain lalu menutupi tubuh pria itu.


"Kenapa dia berubah menjadi buas seperti tadi?" tanya Alen.


Eden diam, ia duduk berjongkok di samping pria itu. Eden meneliti tubuh pria tersebut untuk mencari petunjuk. Ia mendapati sebuah simbol singa bertanduk domba terletak diatas pusarnya.


"Bocah, kemarilah" panggil Eden.


"Jangan panggil aku bocah" gerutunya.


"Kau tahu apa ini?" tanya Eden sambil menunjuk kearah simbol itu.


"Aku tidak tahu itu apa" Alen menggeleng tidak tahu.


Eden penasaran, ia menyentuh simbol itu dengan jarinya. Tiba-tiba, aliran Qube keluar dari simbol itu. Aliran tersebut berwarna hijau dan mengarah ke dalam hutan. Eden dan Alen menoleh kearah sana.


"Kita akan masuk?" tanya Alen.


Eden diam sejenak sebelum menjawab. "Tidak, terlalu berisiko"


"Eeehh?! Kenapa?"


"Apa kau tidak dengar? Terlalu berisiko"


Eden memeriksa denyut nadi pria itu. Ternyata masih berdetak namun agak lemah. "Dia akan sadar dalam beberapa waktu, kau jaga dia"


"Kenapa aku?" tanya Alen.


"Karena kau yang ada di sini dan aku tidak ingin kau mengikutiku" jawab Eden sambil bangkit berdiri.


"Kau gila? Aku seorang gadis dan kau ingin meninggalkanku dengan pria asing ... tanpa satu helai kain pun?!" tanya Alen dengan nada yang semakin meninggi.


Eden menghela napas panjang. "Kalau begitu, pulanglah. Tinggalkan saja dia di sini, nanti ada orang yang menemukannya"

__ADS_1


Eden melangkah pergi menuju desa. Alen menatap pria itu sejenak sebelum menyusul Eden. Setelah mereka pergi, mata pria itu terbuka dan mengeluarkan cahaya hijau.


__ADS_2