
Beberapa pedagang melewati jalan setapak di pinggir hutan pada malam hari dengan keadaan yang sepi. Mereka biasa melewati jalan ini karena merupakan jalur yang terdekat dengan desa.
Tetapi, siapa sangka ada bahaya mengancam di setiap malamnya. Mereka tidak menyadari ada gerakan di dalam hutan.
"Um.. apa sebaiknya kita kembali ke jalan pasar?" salah satu dari mereka mendapat firasat yang tidak enak.
"Buang-buang waktu, lagipula jalan pasar sudah terlalu jauh dari sini" jawab pedagang yang berjalan di depan. Sebenarnya, ia juga sama takutnya, terlihat keringat dingin bercucuran diwajahnya.
Lalu, mereka melihat ada seseorang berjalan sempoyongan di depan mereka. Pria itu tidak mengenakan baju, hanya memakai celana kulit saja.
"Tolong.." rintihnya.
"Lihat disana, ada orang" kata salah satu pedagang.
"Jangan pedulikan, mungkin dia hanya orang mabuk saja"
Pria itu jalan kearah mereka, namun ia sudah tersungkur ke tanah. Para pedagang itu terkejut, mereka segera menghampiri pria tersebut.
"Hey, kau baik-baik saja?"
"T-tolong.. aku.."
"Kenapa kau?"
Lalu, salah satu pedagang melihat ada simbol diatas pusar pria itu. Simbol dengan bentuk seperti kepala singa bertanduk domba.
"Simbol apa itu?"
Tiba-tiba, mata pria tersebut melebar dan mengeluarkan cahaya hijau. Para pedagang tersentak kaget dan segera menjauhinya. Pria itu menggelepar, urat-uratnya terlihat jelas di kulit dan ia teriak-teriak seperti orang ketakutan.
"K-kenapa dia?!"
"Apa yang terjadi?!"
Tubuhnya membesar dan dipenuhi dengan bulu hitam. Wajahnya berubah, terlihat seperti seekor kera. Tangan dan kakinya penuh dengan otot, lalu tingginya mencapai 5 meter.
Para pedagang itu menjerit histeris. Mereka lari menyelamatkan diri meninggalkan barang dagangan mereka.
Pria yang sudah menjadi gorila raksasa itu mengamuk dan memukul-mukul dadanya sendiri. Ia melompat dan muncul di depan mereka.
Para pedagang itu hendak putar balik, tetapi sebagian dari mereka dihantam begitu saja ke samping hingga terhempas kemana-mana. Yang tersisa berusaha lari secepat mungkin.
"Awas!!"
Bum!
Seorang pedagang dipukul ke tanah dengan brutal lalu dilempar begitu saja ke udara. Tinggal tersisa dua pedagang lagi yang terduduk di tanah dengan syok dan wajah pucat.
"Tolong.."
Gorila itu hendak memukul, namun seseorang berjubah kulit muncul di hadapannya. Tubuh gorila itu dililit oleh tali elastis berwarna ungu. Gerakannya langsung terhenti, ia tidak bisa memberontak.
"Tahan, kau tidak boleh membunuh mereka semua" kata orang misterius itu dengan suara yang serak.
"S-siapa kau?" tanya mereka.
Orang itu tersenyum miring, ia membuka tudung jubahnya, menampakkan wajah pucatnya, rambutnya berwarna merah gelap, bibirnya tipis dan matanya agak besar. Sesekali ia mengeluarkan lidahnya yang panjang.
"Aku? Kalian tidak perlu tahu" jawabnya. Tiba-tiba, ia menghilang dan muncul di belakang dua pedagang itu.
"Kalian tidak sengaja masuk ke wilayahnya, makanya ia marah" lelaki itu memegang kedua kepala pedagang tersebut. "Tapi, untung saja aku ada disini, jadinya kalian bisa merasakan hidup lebih lama. Ya... mungkin sekitar dua menit lebih lama"
Lalu, tubuh kedua pedagang itu bergetar hebat. Tubuh mereka lama kelamaan mengurus, terlihat seperti mayat lalu mereka dijatuhkan ke tanah.
"Uuh.. Qube dan energinya tidak banyak tapi lumayan"
Lalu, ia menoleh ke gorila itu. "Kau menyusahkan saja" ia mengangkat tangannya ke depan. Gorila itu kembali menjadi manusia tapi ia dalam keadaan pingsan.
"Kau ini.." lelaki itu menghela napas panjang.
***
"Kau mau pergi ke kastil Midorian besok?" tanya Daendra, menatap Arion tidak percaya. Ia kaget tentunya, mendengar Arion tiba-tiba memutuskan itu.
Arion sendiri juga menyembunyikan pesan Eden kepada Daendra, ia sebenarnya bingung juga ingin memberi alasan yang masuk akal.
__ADS_1
"Begitulah. Aku harus berkemas mulai sekarang dan hari ini juga aku akan pergi" jawab Arion.
Mereka berdua berjalan tergesa-gesa di koridor, menuju ke tempat Hanza untuk meminta izin.
"Kenapa kau kesana?" tanya Daendra sambil memegang lengan Arion untuk berhenti.
"Aku-"
"Ada acara sayembara Putri Midorian disana" Faesa muncul di belakang mereka. Keduanya menoleh ke gadis itu.
"Acara sayembara apa?" tanya Daendra.
"Bukan sayembara sih, Tetua Midorian membuat acara pertunangan untuk anaknya. Acara itu berlangsung selama lebih dari seminggu dan masih banyak pria yang berdatangan untuk melamarnya. Ya, tidak ada satupun dari mereka yang tertarik oleh Putri Midorian" jelas Faesa.
Daendra menoleh ke Arion. "Kau juga ingin melamarnya?"
Wajah Arion memerah secara tiba-tiba. "Apa maksudmu?! Tentu saja tidak, aku... kesana hanya.. um.. menghadiri beberapa tempat saja disana"
"Kalau begitu, aku akan ikut denganmu" kata Daendra.
"Ikut? Tidak, tidak, tidak perlu. Kau ingin membuat Rena menunggumu lagi? Dia disini hanya karenamu dan.. tanpamu ia akan terancam bahaya" jawab Arion.
"Lagipula, hanya Ayah dan kita saja yang tahu rahasianya" bisik Arion. Faesa mengerutkan dahinya, ia merasa Arion dan Daendra menyembunyikan sesuatu.
"Kau ada benarnya. Tapi, apa tidak apa bagimu? Kau baru berumur 14 tahun, dunia luar sangat kejam" ujar Daendra.
"Tidak apa, biar aku yang menemaninya" sahut Faesa.
"Apa? Tidak perlu, aku bisa menjaga diriku sendiri" tolak Arion.
"Dengan dirimu yang menempati rangking satu, jangan membuat ancaman dunia ini sepele. Yang Mulia juga tidak akan mengizinkanmu pergi sendirian"
Arion terdiam, ia ingin mencari alasan lain namun sudah tidak ada di otaknya. "Baik.. kita berangkat sekarang"
Setelah mendapatkan izin dari Hanza, Arion dan Faesa langsung bersiap untuk berangkat. Sepasang kuda sudah disiapkan di depan istana, Hanza, Lenia dan Daendra berada disana mengantarkan kepergian mereka.
"Kau masih ingin pergi, Nak?" tanya Hanza, sedikit khawatir.
"Iya, Ayah. Inilah keinginanku" jawab Arion, penuh keyakinan.
"Kemarilah" Daendra menarik Arion ke dalam pelukannya. "Hati-hati disana, jangan sampai terbunuh"
"Astaga. Kau ingin pergi, Arion?" tanya Yaena.
"Iya, Kak"
"Kau baru saja pulang"
"Ya, aku tahu itu"
Yaena memeluk Arion erat, tak lupa mengelus kepalanya. "Jaga dirimu"
"Baik"
"Hey, pelukan untukku?" tanya Faesa, pura-pura cemberut.
"Kemarilah" Yaena memeluk Faesa juga.
"Kembalilah dengan selamat"
"Kami mengerti"
Arion dan Faesa menaiki kuda masing-masing. Arion menatap ke depan sejenak, lalu mengucapkan selamat tinggal kepada mereka yang sudah mengantarkan mereka.
"Kita berangkat?" tanya Faesa sambil tersenyum.
"Iya"
Merekapun memacukan kuda mereka. Arion memandang langit biru diatasnya. Mereka melewati bangunan-bangunan dan segala infrastruktur kota. Beberapa saat kemudian, mereka melewati gerbang kota yang dijaga oleh beberapa prajurit, mereka membungkuk hormat pada keduanya ketika melewati gerbang.
Mereka menggunakan jalan besar yang diapit oleh hutan yang dipisahkan oleh jalan itu sendiri. Masih banyak orang yang berlalu lalang disana, terutama pedagang dan petani yang membawa hasil panen mereka. Kebetulan tahun ini musim panen.
"Berapa lama kita sampai ke Midoria?" tanya Arion.
"Jika cepat, mungkin akan sampai pagi hari" jawab Faesa.
__ADS_1
"Baik, kita harus cepat"
"Tunggu. Kenapa begitu terburu-buru? Kau akan bertemu dengan siapa disana?"
"Seorang kawan"
Faesa memutarkan kedua bola matanya. Ia sudah tidak memahami jalan pikir Arion, untuk saat ini ia hanya mengikuti Arion saja.
***
- Midoria, Kastil Midorian
Frimeya duduk di kamarnya sambil memandang keluar jendela. Langit pagi dan hari yang sama lagi, ia sudah bosan dengan pertunjukkan masa depan ini. Banyak pria yang berdatangan, banyak juga yang ia tolak, seluruhnya. Dari kalangan bangsawan sampai biasa. Bahkan seorang Raja ia juga menolaknya.
"Mungkin memang belum saatnya.." ia menghela napas pendek.
Seseorang membuka pintu kamarnya. Vaya ternyata.
"Vaya?"
"Kakak! Bisa menemaniku latihan?" tanya Vaya.
Frimeya berpikir sejenak sebelum menuruti keinginan Sang Adik. Mereka latihan di lapangan milik kastil yang berada di belakang kastil.
Lapangan itu tidak tertutup, orang-orang yang lewat bisa melihat mereka latihan. Kali ini, banyak orang yang berdatangan hanya untuk melihat Frimeya beraksi lagi.
Ada seseorang berjubah hitam dengan tudung hitam sambil merokok menghentikan langkahnya disana. Ia tidak sengaja melihat Frimeya dan Vaya latihan, orang itupun memutuskan untuk melihatnya sebentar.
"Perhatikan tanganmu. Letak kakimu, Eh? Vaya, fokus ke depan"
Vaya menatap targetnya yang merupakan patung jerami. Frimeya berdiri disampingnya sambil mengarahkan.
"Tembak" kata Frimeya.
Vaya melesatkan anak panahnya, namun sayang, tidak kena tepat sasaran, hanya melewati patung itu.
Vaya menjadi kecewa. Frimeya melihat itu, ia mengambil busur yang tergeletak di tanah. Ia siap untuk menembak dengan anak panah biasa.
Orang-orang yang menonton mulai antusias. Mereka terpukau melihat gadis itu ingin beraksi.
Dengan satu tarikan napas, anak panah itu melesat dan kena tepat sasaran, bahkan patung itu terjatuh ke tanah akibat tekanan kekuatan yang ditanamkan Frimeya.
"Dasar jenius Archer" gumam orang berjubah itu, lalu ia pergi dari sana.
Frimeya menoleh ke Vaya. "Kau hanya harus fokus dan yakin. Dengan begitu, kau pasti bisa membuat target berada dalam jangkauanmu"
"Tapi, aku tidak sehebat Kakak" jawab Vaya.
Frimeya duduk berlutut di depan Vaya. "Bukan soal hebatnya, Vaya. Ini soal kemampuanmu sendiri, percaya tidaknya kau dengan dirimu. Ingat, kehebatan dan skill seseorang tidak muncul dari bakat mereka saja, percaya diri dan keyakinan juga dibutuhkan. Kau paham?"
Vaya tersenyum dan mengangguk, semangatnya muncul kembali.
"Gadis pintar" Frimeya mengembangkan senyumnya, lalu mengusap kepala adiknya itu.
Seorang prajurit datang menghampiri mereka dengan membawa pesan dari Ayah Frimeya.
"Nona, anda harus bersiap-siap, acaranya akan dimulai"
Frimeya menghela napas panjang. "Baiklah" lalu prajurit itu pergi.
"Kakak pergi dulu, ya"
"Eh, tunggu. Coba Kakak perlihatkan satu trik untukku" kata Vaya.
"Boleh" Frimeya mengambil ancang-ancang untuk menembak. Ia menarik tali busur, lalu muncul dua anak panah di busur itu.
"El-Mefrisio"
Dua anak panah sihir itu melesat cepat. Di udara, kedua benda itu berputar-putar lalu semakin lama semakin mendekat antara satu sama lain, dan dua anak panah itu berubah menjadi seekor harimau putih.
"Wah!" Vaya berdecak kagum, begitu pula dengan orang-orang yang melihatnya.
Harimau putih itu berlari cepat di udara. Sambil mengaum, hewan itu menyerang tiga patung jerami dengan cakar raksasanya hingga hancur lebur.
Harimau itu pun menghilang menjadi partikel cahaya.
__ADS_1
"Keren.." gumam Vaya.
"Belajarlah dan berlatihlah selalu. Kakak pergi dulu" Frimeya mencubit pipi Vaya, lalu pergi dari sana.