The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Pihak Daendra dan Rencananya


__ADS_3

Sebuah peta di bentangkan di atas empat meja yang telah disusun berdekatan. Lima orang berkumpul mengelilingi peta itu.


Daendra, Arion, Hanza, Luke dan Mifori.


Peta itu menggambarkan seluruh wilayah Rabadar Empire. Ini rencana mereka, dari sini mereka akan mulai melakukan kudeta kepada pemimpin Rabadar saat ini.


"Ini peta Rabadar. Terima kasih kepada Mifori, kita dapat peta ini" kata Daendra.


Daendra mulai menjelaskan. Wilayah Rabadar termasuk yang paling luas, tentunya penjagaan dan prajurit juga ditambah. Mereka mempunyai aliansi dari beberapa kerajaan yang cukup tangguh.


Jadi, rencana ini akan sulit dan mungkin tidak akan berjalan mulus.


"Kita hanya harus yakin" sahut Hanza.


Sekutu yang akan Luke janjikan ditugaskan mengepung segala sisi dari Rabadar City. Mereka akan ditempat di berbagai posisi. Itu akan mengunci pergerakan dari dalam dan juga luar.


"Seperti yang kubilang, jumlah rekan yang akan kujanjikan mungkin tidak akan sesuai ekspetasi" kata Luke.


Setelah Rabadar City dikepung, Arion dan Daendra akan masuk. Mereka akan ditemani oleh beberapa orang bawahan Daendra yang telah ia kumpulkan selama ini. Totalnya ada 57 orang, kebanyakan dari mereka berasal dari kelas Swordman dan Spartan.


"Kita juga akan membutuhkan ras Centaur" kata Daendra.


"Aku punya 10 kenalan ras Centaur dan dua orang Giant" jawab Mifori.


"Itu bagus" Daendra tersenyum puas.


"Bagaimana dengan Summonku? Apa itu perlu?" tanya Arion.


"Lebih bagus lagi..."


Daendra lalu mengubah sedikit rencana. Caith akan dimasukkan di tengah-tengah kota dan memulai kekacauan. Hal itu akan memancing orang-orang istana.


Arion dan Daendra kemungkinan akan berhadapan dengan orang-orang dalam waktu lebih cepat, tapi mari berharap mereka tidak akan terkena masalah lebih besar.


"Kita juga punya Thief, Elena. Ia akan melaporkan setiap pergerakan musuh kepada kami berdua" ujar Daendra.


Lalu, Kenneth akan mengikuti Luke. Mereka akan menyerang dari sisi timur bersama lima Centaur kenalannya Mifori.


"Bagaimana dengan bala bantuan mereka?" tanya Hanza.


"Sekutu Luke akan menanganinya" jawab Daendra.


Hanza juga berpesan, sebisa mungkin jangan memakan korban dari para warga biasa. Kepercayaan mereka akan dibutuhkan nantinya.


Daendra mengangguk paham. Lalu, Arion teringat tentang Aciel dan juga Klein.


"Aciel kita kesampingkan dulu, mengenai Klein.. dia sangat berbahaya" Daendra terdiam berpikir. "Kurasa jika kita berdua menghadapinya tetap saja tidak cukup"

__ADS_1


Arion memegang pundak Daendra. "Tetap saja, dia hanya seorang manusia yang memiliki satu nyawa. Ia tidak akan bisa berpindah dengan cepat dari satu tempat ke tempat yang lain"


"Baik, Ksatria yang harus kita hadapi disana tidak banyak" Hanza mengambil beberapa patung lilin kecil yang diletakkan di atas peta itu. Lalu, ia menyusunnya secara berjejer.


"Ada Klein, Reilo, Garne dan Dominick"


Mereka mungkin akan berpencar dan Dominick pasti akan menunggu di singgasananya. Cepat atau lambat mereka akan bertemu salah satu diantara mereka.


"Berharap saja kita memiliki bala bantuan juga" kata Mifori.


***


Mike duduk diranjang, termenung menatap lantai. Tidak ada yang mengajaknya bicara, Glenn juga masih tertidur pulas karena harus memulihkan energinya.


Rena masuk ke dalam ruangan sambil membawakan nampan berataskan sepiring makanan dan segelas minuman.


"Oh, kau sudah bangun, Mike" Rena menghampirinya. Ia meletakkan nampan itu di meja samping ranjang Mike.


Mike hanya memandangi diam kearah Rena. Tatapan matanya kosong dan tubuhnya terasa hampa. Ia masih syok dengan kejadian di kampung halamannya.


"Kau tidak apa, kan?" tanya Rena. Mike hanya diam.


"Ah, ini makanan. Kau harus makan agar tubuhmu kembali bertenaga" Rena menyodorkan piring kearah Mike.


"Untuk apa?" tanya Mike dengan suara seraknya. "Aku sudah tidak bertenaga. Aku... sedang malas"


"Kau.. bisa memahaminya?"


Rena mengangguk sembari tersenyum, sangat hangat. "Aku paham. Aku juga pernah kehilangan, tapi kita ambil sisi positifnya. Dari kehilangan itu kita bisa menjadi lebih kuat"


"Aku iri padamu, Rena" Mike tertunduk lesu. "Padahal dulu, kau hanya gadis biasa dengan status sebagai Keturunan Naga. Tapi.. sekarang kau bisa tersenyum dan membantu orang lain. Kau sungguh kuat"


Rena menggeleng pelan. "Kau salah, Mike. Aku sampai seperti ini karena ada mereka yang masih ingin aku untuk berjuang. Mungkin, kau akan menjadi lebih baik, percayalah"


Rena kembali menyodorkan piring makanan itu. Akhirnya, Mike mau menerimanya. Tidak lama kemudian, Arion masuk bersama Mifori.


"Kau sudah bangun, Mike. Senang melihatmu lagi" kata Arion seraya tersenyum lebar.


"Arion? Kau kah itu?" tanya Mike.


"Siapa lagi?" Arion terkekeh. Ia menghampiri Mike. "Kau sudah baikkan?"


"Lumayan" jawab Mike dengan senyum tipisnya.


"Arion" panggil Rena. "Dimana Daendra?"


"Dia sedang mengantarkan Luke pulang. Ia akan kembali beberapa hari lagi, mungkin bersama dengan ratusan orang"

__ADS_1


"Eh, kenapa? Banyak sekali" Rena menjadi bingung.


Arion mengembangkan senyumnya. "Karena, kita akan melakukan kudeta tidak lama lagi"


"K-kudeta?! Kau serius? Kalian serius akan melakukan hal itu?!" Rena menjadi sangat terkejut.


"Ya, dan rencananya telah mulai di jalankan" Arion mengacungkan jempolnya.


"Telah dimulai? Sekarang?" Rena masih kaget. Ia tidak akan menyangka secepat ini.


Arion melirik ke Mifori. Pemuda itupun memberi penjelasan. "Ya, Nona, mulai hari ini kita akan merebut kerajaan kita. Aku telah menyampaikan pesan kepada orang-orangku disana"


"Dan, mereka akan mulai melakukan aksi disana. Saat ini, mungkin mereka sedang bergaul dengan petugas-petugas disana, sebelum mengambil alih kekuasaan militer" sambung Arion.


Mifori melipat tangannya di dada. "Setelah itu, perang akan dimulai"


***


- Rabadar Empire


"Ya! Akhirnya daganganku habis" seorang pedagang menghela napas lega sambil meregangkan badannya. "Saatnya tutup"


Ia menutup kedainya, setelah itu ia melangkah pulang. Rumahnya tidak jauh dari kedai miliknya itu. Namun, bukannya malah berbelok ke kiri, jalan ke rumahnya, ia memilih belok ke kanan.


Ia masuk ke dalam sebuah gedung yang tak terlalu besar. Gedung itu diapit oleh dua bangunan disampingnya.


Sesampainya di dalam, ia menunjukkan telapak tangannya, identitasnya, kepada petugas lobby. Setelah itu, petugas tersebut menuntunnya ke suatu ruangan di pojokkan.


"Semuanya sudah menunggumu" kata petugas itu.


"Ya, aku tahu" jawabnya seadanya.


Ia membuka ruangan itu. Ternyata isinya lebih luas. Lebih mirip seperti ruangan Casino dan lobby hotel. Banyak sekali orang-orang yang sedang nongkrong disana, mereka tertawa, mabuk-mabukkan dan berjudi.


Perhatian mereka segera tertarik oleh kedatangan pemuda itu. Sekejap kemudian, mereka bersorak dengan mengangkat kedua tangan mereka keatas.


Pemuda itu tersenyum lalu membungkukkan badannya kearah mereka.


"Datang juga kau, Indra!" teriak salah satu dari mereka.


"Sialan, kau lama sekal!"


"Indra!" seseorang berambut gondrong datang menghampirinya. Wajahnya memiliki bekas luka dari mata hingga ke sisi kiri mulutnya. Perawakannya sangat ganas, ketika ia tersenyum ada sebuah gigi emas bersarang di mulutnya.


"Kukira kau tak akan datang" suara beratnya menggelegar ke seisi ruangan.


"Aku pasti datang, Bos Ka" kata Indra. "Karena Yang Mulia Daendra membutuhkan kita"

__ADS_1


Ka tersenyum lebar. "Ini waktunya pembalasan"


__ADS_2