
Arion memimpin jalan di depan, mereka sudah menelusuri hutan selama dua jam.
Hampir dari mereka semua kelelahan. Daendra sendiri sudah mandi keringat tapi ia tetap tidak ingin berhenti.
"Kapt, apa sebaiknya kita berhenti dulu?" tanya Neo.
Arion ingin menjawab tapi Daendra langsung menyerobot. "Tidak, kita tidak punya waktu"
Eden menyipitkan matanya ke depan. "Semuanya diam"
Eden mengaktifkan kekuatan matanya. Mata emasnya itu mengeluarkan cahaya, tiba-tiba saja ia mengeluarkan belati dan melemparnya ke salah satu pohon.
"Keluarlah, kau tidak pantas untuk bersembunyi" kata Eden.
Dari balik pohon itu, terdengar tawa yang sinis. Ia pun memperlihatkan dirinya kepada mereka. Seorang pria bertopeng dengan jubah.
"Aku ketahuan. Dari mana kau tahu, Nak?" tanya pria itu.
"Detak jantungmu terlalu berisik. Mungkin kau takut menghadapi kami?" tanya Eden, ia berbohong soal mendengar detak jantung tersebut.
"Takut?" pria itu memiringkan kepalanya. "Hmph! Yang benar saja"
"Ya, aku benar" kata Eden.
Entah kenapa pria itu menjadi kesal mendengar jawaban Eden. "Menarik, bagaimana kalau kita bertarung?"
"Tidak, aku tidak suka bertarung dengan orang asing" Eden menaruh kedua tangannya ke belakang.
"Ayolah, ini tak akan sebentar. Aku akan bermain-main denganmu sejenak"
"Oh? Ya, baiklah. Tapi, hanya kita berdua saja, ya" Eden menatap dingin pada pria itu. Sedetik kemudian, lobang hitam muncul dibawah Arion dan teman-temannya.
"Apa?!" kata mereka serentak. Pria itu juga tak kalah kaget.
Arion dan kelompoknya terjatuh ke dalam lobang. Eden menoleh sejenak ke belakang, Arion dapat melihat wajah Eden sebelum benar-benar menghilang di telan lobang itu.
Setelah mereka hilang, Eden kembali menoleh ke depan. Pria itu tertawa terbahak-bahak.
"Kau licik sekali, mempermainkanku untuk menyelamatkan temanmu"
Lalu, gelak tawanya berhenti. "Tapi, bukan berarti mereka selamat. Dua rekanku sudah menunggu mereka disana"
"Ya, terserah apa katamu" jawab Eden, datar seperti biasanya.
Pria itu menghilang dari hadapan Eden dan muncul tiba-tiba dari belakangnya. Eden dengan cepat menangkis serangan pria itu dengan menggunakan pedangnya.
"Kau lemah" kata pria itu.
"Dan kau bodoh" jawab Eden.
Mereka mundur beberapa langkah sebelum kembali bertarung.
***
Seekor rusa sedang menikmati waktu makannya di hutan, sebelum lubang hitam besar muncul diatasnya.
Arion dan kelompoknya muncul dari lubang itu. Mereka semua jatuh ke tanah, saling berhimpit-himpitan.
Arion segera bangkit, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Mereka sudah tidak di tempat yang sama lagi dan juga Eden tidak bersama mereka.
"Aduh, badanku ..." Luke mengelus punggungnya.
"Dimana kita?" tanya Daendra.
"Mana Eden?" tanya Neo.
"Eden memindahkan kita ke sini dengan kemampuan teleportasinya. Kita sudah berpisah dengannya, kita berada di tempat yang berbeda" jawab Arion.
__ADS_1
"Maksudmu, Eden membuat kita pergi lalu ia bertarung dengan orang itu? Sendirian?" tanya Luke.
Arion mengangguk.
"Dia tidak akan selamat" Daendra mengerutkan dahinya.
"Tidak. Dia pasti bisa mengatasinya" jawab Arion, yakin. "Kita harus pergi secepat mungkin ke tempat Retian. Sepertinya, Necromancer itu sudah tahu keberadaan kita"
Ia memimpin di depan. Wajahnya terlihat tenang tapi hatinya gelisah. Ia sempat melihat Eden sekilas tadi. Eden mengembangkan senyumnya, walau itu tipis.
"Janganlah mati" batin Arion.
Mereka terus jalan, namun kali ini lebih cepat dari sebelumnya. Mereka bahkan harus beberapa kali berlari dan berayun dari pohon ke pohon.
"Arion!" seru Luke.
Arion menjadi kaget, sedetik kemudian muncul tombak hitam dari sampingnya. Arion dapat menangkisnya dengan belatinya namun lengan Arion sedikit tergores karenanya.
Mereka semua lalu berhenti. Seorang bertopeng muncul di hadapan mereka, menarik kembali tombak yang ia lempar dengan tali baja yang terletak di ujung bawah tombak itu.
"Hati-hati" kata Arion. Ia mengangkat pedangnya ke depan.
Daendra dan yang lainnya juga ikut bersiaga. Tidak lama kemudian, suara tawa terdengar dari balik topeng itu. Suaranya terdengar seperti suara wanita.
"Dari lekuk tubuhnya juga seperti wanita" kata Luke.
"Kalian ... betapa beruntungnya aku menghadapi kalian" kata wanita itu. Ia mengelus topengnya sendiri dengan menggunakan jari jemarinya.
"Wajah kalian .. yang muda itu, uuuhh! Sangat menggairahkan!" ucapnya.
Arion masih menatapnya. Ia harus terus fokus jika wanita itu nantinya akan menyerang secara tiba-tiba.
"Sebaiknya kalian ikut denganku!" Lengan kiri wanita itu memanjang seperti tali pelacut.
"Menyingkir!" seru Daendra. Tepat setelah itu, lengan wanita tersebut berada di atas mereka dan menghantam tepat kearah mereka.
Arion dan yang lainnya menghindar tepat waktu, sehingga lengan wanita tersebut hanya mengenai tanah yang mereka injak sebelumnya.
"HAHAHA!! Akan kuawetkan mayatmu!" ucapnya.
Wanita itu hendak menyerang tubuh Daendra dengan tombaknya, tetapi Arion langsung mengeluarkan Element esnya dan membekukan gerakan wanita itu.
Dengan mengerang, Daendra berhasil memenggal kepala wanita itu. Tubuhnya tumbang ke tanah tanpa kepala. Daendra duduk berlutut karena kelelahan, mungkin efek lukanya.
"Sudah?" tanya Neo.
"Kupikir begitu" jawab Arion.
Namun, tidak lama kemudian terdengar suara tawa wanita itu. Arion menjadi bersiaga, begitu juga dengan lainnya.
Mayat wanita tersebut berubah menjadi abu, Daendra melotot lalu langsung menjauh dari sana. Sebuah tombak melesat dari atas dan menancap di hadapan mereka semua.
"Amatir sekali" ia datang dari atas tombaknya itu, sambil melipat tangannya di dada.
"Apa?!" Luke menjadi tercengang.
"Jangan berpikir semudah itu untuk mengalahkanku. Yang tadi itu hanyalah cloning-ku saja"
"Ini gawat. Wanita ini hanya akan memperlambat kita saja" kata Arion, geram.
Luke memegang bahu Arion. "Serahkan kepada kami semua, kau pergilah bersama Daendra"
"Apa? Jangan bercanda, dia ini kuat dan berada diluar kemampuan kita" tolak Arion.
Luke menggeleng. "Kau percayakan saja kepadaku. Prioritas kita adalah Rena, jika kita semua tertahan di sini, maka berakhir sudah"
Arion terdiam, ia memikirkan ucapan Luke itu.
__ADS_1
"Baiklah, jaga dirimu"
"Kita pasti akan bertemu kembali" Luke tersenyum.
Pertama-tama mereka harus mengalihkan perhatian wanita bertopeng itu. Luke telah menyiapkan rencana.
Dalam pertarungan ini, Luke akan berada di garis depan dan bakal menjadi umpan. Setelah wanita itu fokus terhadap Luke, Neo dan satu anggota lain muncul dari dua sisi wanita itu, mereka akan mengunci pergerakannya.
Dan sisanya, harus menyerbu musuh, sehingga wanita bertopeng tidak akan melihat Arion dan Daendra kabur.
Luke tersenyum puas melihat rencana mentahnya berhasil. Arion menoleh ke belakang sambil berlari, ia melihat Luke dan yang lainnya sedang bertarung dengan wanita itu.
"Ayo, kita harus cepat. Mereka sudah menyiapkan waktu untuk kita" kata Daendra.
Arion mengangguk. Mereka berdua mempercepat langkah di hutan hujan itu.
***
Masih di Ovaio Forest, ledakan terjadi secara bertubi-tubi sebanyak lima kali. Beberapa pohon tumbang akibat ledakan itu.
Eden keluar dari asap ledakan, napasnya terputus-putus. Namun pria bertopeng itu tidak membiarkan Eden untuk bernapas lega.
Ia muncul dari balik asap, melesat cepat menuju Eden dengan pedang besarnya yang terhunus ke depan. Eden langsung menangkisnya, kakinya menjadi terseret ke belakang.
Mereka kembali beradu pedang dengan cepat. Tiba-tiba, pria itu menghantam tanah dengan pedangnya, membuat retakan yang besar dan Eden menjadi terhempas ke langit.
Belum selesai sampai disitu, pria tersebut muncul diatasnya dengan pedang terhunus keatas.
"Qube Art - Dark Flame!"
Pusaran api hitam muncul ditengah-tengah mereka, pria itu membatalkan serangannya. Eden memanfaatkan itu, ia menembakkan api hitam miliknya ke pria bertopeng tersebut.
"High Art - Elemental Shield!"
Sriing!!
Muncul perisai besar melindungi pria itu dari api hitam milik Eden. Eden tidak kaget, ia hanya memberi tatapan dingin pada pria itu.
Mereka pun turun kembali ke tanah. Namun, tidak sampai sedetik, mereka kembali bertarung.
Eden melempar senjatanya ke pria itu. Dengan mudahnya, ia menangkis tapi bukan itu serangan Eden. Ia datang dari samping, lalu melesatkan kakinya ke wajah topeng itu.
Bug!
Satu tendangan berhasil digunakan.
"Sial!" katanya.
Eden muncul dari depan, kali ini ia menggunakan belatinya. Ia bertarung dengan pria yang jauh lebih tinggi darinya itu menggunakan belati saja.
"Kau meremehkanku!" Pria itu melesatkan pukulannya ke Eden, tapi Eden memiringkan kepalanya sehingga pukulan itu tidak mengenainya.
Eden memutarkan belati di tangannya, lalu ia hunuskan ke wajah topeng itu.
Srek!
Sayangnya, Eden hanya bisa menggores topeng itu saja. Pria itu mengangkat tubuh Eden, lalu ia lempar ke samping. Kebetulan, ia dilempar kearah pedangnya jatuh. Eden langsung mengambil pedangnya.
"Orang ini kuat, aku menjadi ragu bisa mengalahkannya" batin Eden.
"Jangan lengah kau!"
"Huh?!" Eden menengok keatas, tiba-tiba saja pria itu muncul diatasnya. Dengan mengerang, pria bertopeng tersebut bersiap untuk menebas Eden.
Boom!
Ledakan terjadi tepat di antara mereka dan terciptalah gelombang angin yang cukup kuat, membuat pepohonan disana ingin terlepas dari tanah.
__ADS_1
"Selesai sudah" ucapnya sambil tersenyum, namun beberapa saat kemudian ia melotot.
"A-apa?!"