The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Panglima Wanita


__ADS_3

- Windnemus City


Tengah malam di kota besar. Suasana yang sepi dan tenang tapi mencekam. Seekor burung hantu bertengger di atas rumah warga yang besar dan mewah.


Itu adalah rumah seorang Earl. Salah satu bangsawan di kota ini dan malangnya rumah Earl itu sedang dibobol oleh maling kelas kakap.


Seluruh pengawal rumah tersebut telah dikalahkan. Mereka semua dikumpulkan di gudang dalam keadaan terikat, sedangkan pemilik rumah di kunci di kamar bersama keluarganya.


"Earl ini sangat boros tapi uang selalu mengalir kepadanya" kata salah satu maling sambil tertawa sinis.


"Dia tidak pantas kaya!"


Lalu, seorang pria muncul dari lantai satu. Ia membawa dua kapak di punggungnya, sebuah belati digantung di pinggangnya. Di wajahnya ada bekas bakar dan matanya buta sebelah.


"Bawa semuanya cepat, aku akan bermain-main dulu dengan keluarga serakah ini"


"Baik, Bos"


Pria itu melangkah masuk ke kamar, tempat dimana Earl dan keluarganya disekap. Mereka ingin menjerit tapi mulutnya dikunci oleh sihir.


"Malang sekali. Kalian pasti lelah, tapi jangan khawatir, setelah kami mengangkut seluruh harta benda kalian, kami pasti pergi" kata pria itu. Ia melirik ke putri sulung Earl itu.


"Kau memiliki anak gadis yang sangat cantik, aku akui itu" katanya sambil mengelus pipi gadis itu dengan punggung jari telunjuknya.


"Begini saja, akan kutinggalkan hartamu sebanyak 30% sebagai gantinya akan kubawa putrimu ini"


Mendengar tawaran itu, Putri sulung Earl itu menjerit tanpa membuka mulutnya. Ia memberontak kasar tapi ikatan tali itu terlalu kuat untuknya bebas.


Earl itu sendiri menggeleng cepat. Ia juga menjerit tanpa membuka mulutnya.


Tanpa mereka semua sadari, ada seekor burung hantu hinggap di pinggir jendela. Menatap tajam kearah mereka semua dengan matanya yang besar


***


Seorang prajurit berseragam datang menghampiri sekumpulan orang-orang yang sedang berkumpul di luar kantor keamanan.


"Lapor, kawanan bandit yang dipimpin Viel kembali beraksi, kini di rumah Earl Anvost"


"Ya, aku tahu" jawab seorang perempuan, berambut biru gelap panjang sepunggung, sebagian wajahnya ditutupi oleh rambutnya, memiliki wajah yang dingin, berkulit putih dan masih muda.


"Kumpulkan pasukan, kita kesana sekarang"


"Baik Kapten" prajurit itu pergi.


Gadis yang dipanggil Kapten itu juga bersiap-siap. Ia menyarungkan pedangnya, mengenakan jaket kulit, memakai sarung tangan hitamnya, lalu menguncir kuda rambutnya.


Mereka semua segera berangkat menuju lokasi penjarahan.


***


Ketika Viel masih berunding dengan Earl Anvost, salah satu anak buahnya melaporkan situasi mereka terkini. Ia mengatakan bahwa Pasukan Divisi Keamanan sedang dalam perjalanan kemari.


"Cepat angkut semua! Masukkan ke dalam kereta" perintah Viel, lalu ia mengangkat putri sulung Earl itu.


"Aku bawa ini" katanya. Earl dan istrinya menjerit dan berusaha untuk lepas dari ikatan tali itu, namun sia-sia.


Para bandit ini keluar dari halaman belakang, sudah ada tiga kereta kuda yang menunggu disana. Mereka memasukkan barang rampokkan ke dalam kereta itu, sementara untuk sang Gadis diletakkan di kereta kuda yang paling depan bersama Viel.


"Berangkat cepat" kata Viel.


Kereta kuda itu melesat darisana. Tak lama kemudian, Pasukan Divisi Keamanan tiba di rumah Earl Anvost. Mereka segera masuk ke dalam rumah Earl itu. Setelah mencari-cari penghuni rumah di berbagai ruangan, akhirnya mereka menemukan Earl dan keluarganya di kamar yang berada di lantai dua dalam keadaan baik-baik saja.


"Turn"


Kapten itu melepaskan sihir dari mulut mereka. Anak buahnya segera melepaskan ikatan tali itu dari tubuh mereka.

__ADS_1


"Nona, tolong selamatkan anakku. Ia dibawa oleh bandit-bandit itu!" kata Anvost sambil terisak-isak.


"Tentu, anda tidak perlu khawatir, kami akan menangkap mereka dan membawa anakmu kembali"


Gadis itu keluar dari rumah Earl melalui halaman belakang. Disana ada beberapa prajuritnya yang sedang menunggu kedatangannya.


"Kapt" mereka memberi hormat kepadanya.


Gadis itu mengangguk membalas hormat dari mereka, lalu ia menaiki kudanya. Salah seorang anak buahnya menghampiri gadis itu.


"Kapten, kami tidak dapat melacak mereka"


"Ikuti saja aku. Ada seorang mata-mata yang telah kukirim untuk mengikuti mereka" jawabnya.


Prajurit itu memandanginya dengan bingung. Kapten itu lalu memacu kudanya.


"Tenanglah Anak Baru, Kapten Alice sangat mahir kalau menangani masalah ini. Walau umurnya baru 18 tahun, ia sudah diakui sebagai Kapten divisi ini" ucap seorang senior.


Kembali ke Alice. Ia masuk ke dalam hutan pinus. Beberapa anggota timnya sudah mulai menyusul.


"Mereka ada beberapa meter di depan kita. Bersiaplah" ucapnya.


Seekor burung hantu terbang diatas para bandit. Mereka tidak sadar kalau mereka sedang diikuti oleh Alice dan yang lainnya.


Tiba-tiba, kereta kuda yang berada paling belakang dikepung oleh empat petugas. Dua dari mereka langsung naik ke kereta dan membekuk tiga bandit disana.


Setelah selesai menangkap ketiga maling, mereka berlanjut ke kereta kuda yang kedua. Lagi-lagi, mereka bisa menyelesaikannya dengan cepat dan tanpa bersuara. Namun, salah seorang yang berada di kereta paling depan menyadari dua kereta di belakang sudah diambil alih. Ia segera melapor ke Viel.


"Percepat keretanya!" seru Viel.


Sadar pergerakan kereta kuda paling depan semakin cepat, Alice pun harus turun tangan disini. Ia memerintahkan timnya untuk menangani bandit yang baru saja mereka tangkap.


Di sisi lain, Viel merasa tenang. Ia punya rencana untuk meloloskan diri dari kejaran Alice dan Divisi Keamanan. Ia hanya perlu menyandera putri Earl Anvost itu.


"Astaga!" teriak kusir kuda itu.


Viel dan isi serta orang yang ada di kereta terjatuh ke tanah. Viel meringis kesakitan, tetapi ia langsung menyekap putri Earl itu. Empat bandit yang bersama Viel di kereta yang sama segera bangkit dan bersiaga.


"Jangan mendekat!" seru Viel. "Atau kubunuh gadis ini!"


Belati yang dipegang Viel kini berada di depan leher putri Earl itu yang hanya berjarak 1 cm. Alice tersenyum tipis, ia kembali menyarungkan pedangnya dan mengangkat kedua tangannya keatas.


"Tenang, kita selesaikan baik-baik" kata Alice.


"Aku suka itu, bagaimana kalau kau membiarkan kami pergi?" tawar Viel.


"Kita coba jalan lain" jawab Alice. Ia menyembunyikan sebuah jarum diantara jari telunjuk dan jari tengahnya.


"Baik. Bagaimana kalau kuberi kau 5% dari barang curianku dan kau lepaskan kami?"


"Hm.. boleh juga"


Untuk sekejap Viel boleh merasa puas. Tapi, selanjutnya...


"Tapi, bagaimana kalau aku jebolkan kau ke penjara!" Alice melempar jarum itu dan tepat mengenai dahi Viel sampai tergores.


Viel meringis kesakitan, ia tidak sengaja melepaskan putri Earl itu. Melihat kesempatan itu, ia lari menjauhinya dan Alice bergerak cepat. Ia menggunakan teknik Flicker sehingga ia bisa berpindah ke belakang Viel dan menyekapnya.


"Menyerahlah" kata Alice, dingin.


"Cih!" Viel menjadi kesal karena telah dikerjai.


***


Viel dan kawanannya dimasukkan digiring ke penjara. Alice dan beberapa petugas kembali ke rumah Earl Anvost untuk mengantar putri dan harta mereka yang telah dicuri.

__ADS_1


"Terima kasih, Kapten Alice! Kami sangat berhutang budi padamu" kata Anvost, terharu.


"Tidak masalah, Earl. Sudah tugas kami sebagai petugas untuk membuat warga Windnemus City menjadi aman dan damai" jawab Alice sambil tersenyum tipis.


Setelah urusan mereka selesai disana, Pasukan Divisi Keamanan kembali ke kantor mereka. Alice segera duduk di ruangannya untuk melepas penat. Belum semenit ia beristirahat, seseorang datang mengetuk pintu ruangannya.


Sambil menghela napas, ia menyuruhnya masuk.


"Maaf, Kapten"


"Ada apa?"


"Kami baru saja mendapat laporan tentang Mender Blackclaws dan Brian Blackclaws"


"Hm, dua Blackclaws itu, ya. Kenapa dengan mereka?"


"Mereka terlihat di Devonia City. Kabar yang beredar, keduanya sama-sama keluar masuk penjara tapi dengan arah masuk yang berbeda, begitu juga dengan keluarnya"


"Lalu? Dimana mereka sekarang?"


"Lokasi Mender Blackclaws sudah hilang dari jangkauan kami. Sedangkan, Brian bergerak ke desa terdekat"


"Sepertinya Mender masih berada disana, menunggu waktu yang pas untuk kabur. Ini bukan kesempatan yang bagus untuk menangkap mereka, tapi kita akan kesana secepatnya"


Lalu, Alice mengizinkannya pergi. Ia bersandar di kursinya sambil menatap dua poster yang tertempel di dinding ruangannya.


"Mender Blackclaws dan Brian Blackclaws. Dua buronan dunia" gumamnya. Ia mengepal tangannya erat, lalu melemparkan belatinya dan tepat mengenai poster wajah Mender.


"Aku bersumpah akan memburumu sepanjang hidupku"


***


- Midoria


Angin masuk ke dalam kamar Faesa. Gadis itu sedang tertidur nyenyak diatas ranjangnya yang empuk.


Tap!


Sesuatu baru saja menginjak ambang jendela kamar yang terbuka. Faesa yang mendengarnya membuka matanya perlahan, ia menoleh pelan ke jendela dan mendapati seorang pria duduk berjongkok di ambang jendela kamarnya.


Faesa segera bangkit dan menjauh dari jendela. Ia hendak mengambil pedangnya, namun gerakannya terhenti. Ia seperti diikat oleh rantai.


"Animo Cage"


Pria itu tersenyum miring. Faesa menatap geram pada orang itu.


Arion dan Eden masih duduk di balkon kastil. Dimana orang-orang sudah tertidur, mereka masih terjaga. Suasana kastil Midorian juga sudah sepi, hanya penjaga malam saja yang masih terjaga.


Mereka bisa mendengar suara kecapi yang dialunkan di jalan.


Malam ini sedikit mendung, bintang-bintang jadi tidak terlihat dan bulan hanya menampakkan setengah dari bentuknya aslinya.


"Aku masih terkejut jika ras Demi-Human sendiri yang melakukan semua ini" kata Arion.


"Beberapa orang sepertinya ingin memulai era baru" jawab Eden, asal-asalan.


"Revolusi?"


"Mungkin"


"Mereka mengincar orang yang berasal dari ras Demi-Human saja. Kemungkinan besar, pelaku ini tidak bisa meletakkan sihir ke tubuh ras selain Demi-Human" ujar Eden sambil menghembus asap rokoknya.


"Faesa.." gumam Arion, tiba-tiba ia menjadi panik. "Faesa!"


"Kenapa kau? Dia di dalam 'kan?"

__ADS_1


"Aku harus memeriksa sesuatu!" Arion berlari ke dalam.


__ADS_2