The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Hutan Misterius


__ADS_3

Hutan gugur. Arion dan Kenneth kini sedang berada di dalam hutan gugur yang cantik jika dilihat dari dekat. Daun-daun kering dari pepohonan satu per satu berjatuhan ke tanah, seakan menyambut kedatangan kedua pemuda ini.


Mereka berjalan di jalan setapak yang dihiasi oleh dedaunan yang jatuh. Kenneth merasa berada di koridor sebuah bangunan, disana sangat damai dan angin sepoi-sepoi terus berhembus meniupi rambut mereka berdua.


Arion dari tadi tidak bisa meredakan senyumannya sejak melintasi hutan ini. Ia tidak pernah sedamai ini sebelumnya. Seraya menarik kudanya, Arion menendang-nendang dedaunan yang ada di tanah layaknya seperti anak kecil.


Ikut merasa tenang, Kenneth memandangi hutan itu. Tidak ada apa-apa disana selain mereka dan juga hewan-hewan penghuni hutan yang tidak berbahaya.


Mereka terus berjalan memasuki hutan, sampai mereka bertemu dengan sebuah gubuk di tengah-tengah hutan ini. Keduanya sama-sama heran dan saling pandang.


"Ada yang tinggal disini?" tanya Kenneth sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Entahlah, menurutmu?" Arion bertanya balik tapi tidak menunggu jawaban dari Kenneth, ia melangkah menuju gubuk itu.


"Hey, apa yang kau lakukan? Disana berbahaya" Kenneth memperingatkan, ia mungkin lupa kalau Arion adalah tipe Sensor.


"Disana aman, aku tidak merasakan kehadiran siapapun di dalam sana" jawab Arion.


Arion tetap berjalan mendekat, sedangkan Kenneth tidak mau mengikutinya. Arion mengelilingi gubuk itu, mencari apa yang menarik disana. Gubuk itu terbuat dari bata dan jerami serta kayu yang telah dipoles, di luar gubuk ada semacam sumur tua yang kecil, dan ada kebun yang tampaknya tidak terawat.


"Penghuninya mungkin sudah pergi" ucap Arion dengan nada yang tinggi, bermaksud untuk memberitahu Kenneth yang sedang duduk disana, memperhatikannya.


"Dasar gila, awas saja kalau dia kena masalah" gumam Kenneth.


Arion melangkahkan kakinya ke atas gubuk sebelum membuka pintu gubuk yang terbuat dari kayu itu. Suara decitan terdengar hingga ke telinga Kenneth, Arion masuk dan mengintip ke dalam.


"Hebat, dia masuk" kata Kenneth, bicara kepada kudanya.


Tiba-tiba, Arion masuk tapi seperti ditarik ke dalam. Kenneth mengerjap, lalu mengusap kedua matanya dan kemudian menyipitkan matanya kearah pintu yang dimasuki oleh Arion tadi. Berusaha untuk mencerna apa yang ia lihat barusan.


"Kau lihat itu?" tanya Kenneth kepada kudanya. Kudanya itu hanya mengunyah rumput, seolah tidak mempedulikan apa yang terjadi.


Kenneth menarik pedang dari sarungnya secara perlahan. Ia berjalan mendekati gubuk, dengan sikap was-was, Kenneth membuka pintu gubuk dengan lebar dan cepat. Ia mundur selangkah sambil menggenggam ganggang pedangnya dengan erat.


"Arion?" panggil Kenneth.


Di dalam gubuk itu gelap, tidak ada penerangan apa-apa disana selain cahaya matahari yang masuk dari pintu yang terbuka dan sela-sela kecil gubuk. Kenneth masih bisa melihat keadaan gubuk yang sudah berantakan dan berdebu, belum lagi sarang laba-laba yang memenuhi sudut-sudut rumah.


"Arion.." panggil Kenneth lagi.


Ada dua kursi kayu di tengah-tengah gubuk, meja rotan di depan kedua kursi itu. Lalu, ada sebuah tempat tidur yang masih berdiri dengan kokoh di pinggir gubuk. Sebuah tungku api juga ada disana, rak obat bertengger diatas tungku itu.


"Macam gubuk Kakek saja.." gumam Kenneth.


Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam dengan hati-hati. Tapi, ketika ia masuk lebih dalam, pintu gubuk itu perlahan menutup hingga menimbulkan suara berdecit. Melihat hal itu, Kenneth melepaskan pedangnya, lalu berlari kearah pintu untuk menahan gerakan pintu yang menutup. Namun, pintu terus bergerak menutup, Kenneth tidak bisa menahannya.


"Hey, tolong aku! Aku akan terkunci!" Kenneth berseru kepada kudanya yang sedang asyik memakan rumput. Tapi, bukannya menolong atau melihat kearah Kenneth, kuda itu malah berbalik dengan bokongnya yang menghadap ke Kenneth.


"Apa?" Kenneth melebarkan matanya. Ia merasa telah dihina oleh hewan itu.


"Kurang ajar! Akan kusembelih kau nanti!" teriak Kenneth. Kuda itu menjawab dengan kibasan ekornya. Pintu tertutup dengan rapat dan ia terkurung disana.

__ADS_1


Suasana kembali sepi. Kenneth terdiam disana dengan tubuhnya yang merinding karena takut. Salah satu hal yang ditakuti seorang Kenneth adalah tempat gelap yang kemungkinan angker.


Ia menelan ludahnya dengan kasar. Lalu, ia teringat kalau pedangnya sudah tidak ada dalam genggamannya. Terpaksa Kenneth harus merangkak mencari pedangnya itu.


"Dimana kau pedang?"


Kenneth terus mencari dengan susah payah. Beberapa saat kemudian, ia memegang ganggang pedang, untuk sesaat ia bisa lega dan senang. Kenneth bangkit dan menarik pedangnya itu.


"Syukurlah.." kata Kenneth sambil memandangi pedangnya itu. Tapi, wajahnya kembali masam karena yang ia pegang saat ini bukan pedangnya, melainkan pedang batu.


"Pedang apa ini?"


Mendadak, Kenneth kembali merinding, tubuhnya membeku karena ia merasakan ada sesuatu di belakangnya. Ia mencoba untuk mengumpulkan seluruh keberaniannya yang tersisa. Kenneth menoleh pelan ke belakangnya, ada seekor makhluk hitam tinggi dan kurus dengan mata putih dan gigi yang tajam.


Jantung Kenneth berdetak cepat dan dadanya naik turun. Mulutnya semakin lama semakin terbuka, lalu matanya juga melotot kearah makhluk itu.


Kenneth menjerit histeris dari dalam gubuk hingga terdengar sampai keluar. Kuda Kenneth hanya mendengus pelan lalu kembali melanjutkan makan yang tiada henti.


***


"Jangan makan aku, jangan makan aku, jangan makan aku.." Kenneth terus mengucapkan itu, ia tidak ingin membuka matanya sejak bertemu dengan makhluk mengerikan itu.


Tiba-tiba, ada sesuatu yang memegang pundaknya. Sesuatu yang terasa seperti tangan manusia. Tubuh Kenneth menegang, ia pun menjerit.


"Ya ampun" Arion menjadi kaget sendiri melihat Kenneth berteriak seperti itu. "Hey, kenapa kau ini?" Arion mencoba menenangkan Kenneth tapi tidak bisa.


Ia terus mencoba tapi sia-sia, alhasil Arion menampar pipi Kenneth hingga ia berhenti berteriak. Lelaki itu membuka matanya secara perlahan, mendapati Arion dan seorang gadis disampingnya. Mereka berdua duduk mengamati Kenneth yang mati ketakutan.


Gadis itu berkulit putih, berambut merah sepunggung, wajahnya sedikit chubby namun badannya langsing dan sexy. Wajahnya yang cantik dan berseri dihiasi oleh kacamata lingkaran.


"Aneh" sahut Arion. Mata tajam Kenneth berpindah dengan cepat kearah Arion. Ia menampar Arion dengan keras, membalas perbuatan lelaki itu kepadanya tadi.


"Apa yang kau lakukan?!" seru Arion seraya memegangi pipinya yang perlahan panas akibat tamparan Kenneth.


"Kenapa kau menamparku?!" tanya Kenneth.


"Karena kau susah disadarkan!" jawab Arion. Ia ingin menampar Kenneth kembali tapi setiap tamparan yang dilesatkan Arion pasti ditangkis dengan cepat.


"Ehem" Gadis itu mendehem, membuat keduanya berhenti dan sama-sama menoleh kearahnya. Arion mendengus pelan, ia duduk dengan tenang di depan Kenneth.


"Apa benar hanya kalian berdua saja yang kemari?" tanya gadis itu, menatap mereka berdua dengan curiga.


"Ya, hanya kami berdua" jawab Arion. "Dengar, kami tidak bermaksud untuk masuk ke dalam rumah, kami hanya mengecek saja"


"Ya, cukup aneh melihat sebuah gubuk di tempat entah berantah seperti disini" tambah Kenneth. Ia memandangi sekitar, disini cukup bersih dan terang, berbeda dengan tempat tadi yang gelap dan kumuh.


"Ngomong-ngomong, siapa kau? Dan kami ini dimana?" tanya Kenneth.


"Seharusnya aku yang bertanya begitu kepada kalian? Siapa dan kenapa kalian kesini?" Gadis itu bertanya balik sambil melipat tangan di dadanya. Ia menyipitkan matanya kearah Kenneth.


Arion menghela napas panjang melihat perang dingin diantara mereka berdua.

__ADS_1


"Namaku Arion dan dia Kenneth, kami sedang pergi menuju Athiesh Kingdom dan sengaja melewati hutan ini. Kami tidak sengaja bertemu dengan gubukmu" jawab Arion.


Gadis menatap diam kearah Arion. "Sepertinya laki-laki ini lebih bijak daripada yang ini" batinnya sambil melirik ke Kenneth.


"Kalau begitu, aku Elena" gadis itu memperkenalkan dirinya. "Kalian telah tersesat dan masuk ke dalam jaringan ilusiku" lanjutnya.


"Ilusi?" Kenneth sedikit kaget, ia menoleh ke Arion. "Kenapa kau tidak bisa merasakannya?"


"Aku tidak tahu. Aku merasa kemampuan Sensor-ku mati ketika memasuki hutan" jawab Arion, dengan setengah rasa bingung.


"Itu karena seisi hutan telah kupasang anti-Qube sehingga kalian tidak bisa menggunakan kekuatan" jawab Elena, datar.


Elena bangkit. "Ayo, kita keluar" ajaknya. Mereka berada di ruang yang terbilang agak sempit, disini banyak barang-barang, bermacam-macam variasi.


"Kau merampas barang orang-orang, ya?" tanya Kenneth, sedikit menuduh.


"Menurutmu bagaimana?" Elena tersenyum tipis, senyuman itu bagai ancaman kematian.


"Kau Thief, dasar" Kenneth menggeleng, ia turut bangkit dan baru teringat sesuatu. "Oh iya, makhluk hitam tadi mana?"


"Dia temanku, jangan takut. Dia ada diluar, kalau mau tahu dia apa, dia adalah Hell Beast" Elena berucap santai sambil keluar dari sana. Arion dan Kenneth bergidik ngeri kepada gadis Thief itu.


Keduanya keluar dari pintu bawah tanah. Kenneth kebingungan, ternyata ia dibawa ke ruang bawah tanah yang sempit. Mereka keluar dari gubuk itu, angin menyambut mereka duluan.


"Eh?" Arion merasa kaget. "Dimana kuda kita?!"


"Iya! Dimana mereka?!" Kenneth juga kaget. "Padahal aku ingin menyemblih mereka, sialan"


Elena menatap mereka seakan mereka berdua seperti anak bodoh yang tersesat. Menghiraukan kecemasan mereka, Elena menyatukan telapak tangannya lalu menggenggamnya.


"High Art - Re-Illusion"


Tanah mulai bergetar, gubuk itu mulai berubah menjadi sebuah rumah kecil namun layak ditinggali. Ada sebuah kebun yang dua kali lebih besar dari semula dan kandang kuda yang tidak ada satupun kuda disana.


"Oh, jadi ini bentuk asli rumahmu" kata Kenneth.


"Ya"


"Bagaimana kita bisa pergi dari sini?" tanya Arion, yang terlihat malas karena kudanya menghilang.


"Kudamu akan kembali tapi tidak tahu kapan, jika kau tetap bersikeras aku bisa mengantar kalian keluar tapi dengan upah yang kutentukan sendiri" ujar Elena.


"Tapi, kami hanya punya sedikit uang" jawab Arion.


"Ya, itu tergantung kalian sendiri. Mau menunggu kuda kalian disini atau tersesat di hutan, terserah kalian" Elena mengedikkan kedua bahunya dan berjalan menuju kandang kuda.


Mereka berdua berunding cukup singkat sampai akhirnya mendapat kesepakatan. "Baiklah, kami akan menunggu disini. Tapi, apa itu tidak terlalu membuat kau terganggu atau.. risih?" tanya Arion.


"Risih bagaimana?" Elena mengangkat alisnya.


"Ya.. kau tahu, kami berdua laki-laki, sedangkan kau perempuan" jawab Arion, sedikit malu.

__ADS_1


"Oh.." Elena mengambil sebuah sabit. "Jika kalian macam-macam, aku tidak ragu untuk memotongnya"


"Iiih!" Kenneth menjerit. "Baik, kami tidak akan macam-macam!" seru mereka berdua.


__ADS_2