The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Siasat


__ADS_3

Beberapa orang masuk ke dalam lorong gelap itu dan mereka terhenti di depan tumpukan es yang menghalangi jalan masuk. Retian melangkah diantara para anak buahnya.


"Whiteblood itu cukup cerdik" kata Retian.


Seorang anak buahnya berjalan membungkuk dan menghampirinya. "Sebaiknya kita cari jalan alternatif, kehilangan bocah ini sama saja kehilangan harta yang paling berharga"


"Hm, kau benar. Kita cari jalan lain" Retian setuju. Ia berbalik dan memerintahkan seluruh anak buahnya untuk mencari cara agar Arion dapat ditangkap.


Anak buah yang mengusulkan saran tadi mengembangkan senyum sinisnya. "Sebentar lagi, kaulah yang akan kuserap" ia menatap Retian dari belakang.


***


Arion dan yang lainnya sudah keluar dari lorong. Mereka tembus ke sebuah hutan yang letaknya tidak jauh dari kota. Tempat itu bukan hutan alami, melainkan komplek yang sudah tidak berpenghuni dan sudah menjadi sarang para hewan.


Banyak rumah dan juga beberapa menara yang telah disamarkan oleh tumbuhan. Jalan yang terbuat dari bata sudah dipenuhi dengan lumut.


"Kota hantu" gumam Kenneth.


"Tempat apa ini?" tanya Arion.


"Ini adalah komplek elit. Biasanya orang-orang kaya tinggal disini, karena suatu alasan tempat ini ditinggalkan" jawab Fieyni.


"Hebat!" Avan tiba-tiba berseru. Semuanya menoleh kearah lelaki itu. "Sungguh hebat! Sekarang dimana kita tinggal?"


"Tenanglah, kita akan-"


"Kacau! Ini menjadi kacau sejak kedatangan kalian!" Avan bertambah kesal dan memotong ucapan Kenneth, ia juga bahkan menunjuk kearah Arion dan Kenneth.


Bug!


Fieyni memukul wajah Avan hingga ia terjatuh ketanah. Avan meringis kesakitan sambil memegang wajahnya. Fieyni menarik kerah baju Avan.


"Jaga ucapanmu, aku tidak segan menghajarmu disini" nada ucapan Fieyni sangat dingin.


Avan memalingkan wajahnya, tidak berani menatap wajah saudarinya itu. Secara kekuatan, Fieyni memanglah lebih kuat dari Avan.


"Hentikan, kalian berdua!" Ayah mereka berseru. Fieyni bangkit dari tubuh Avan, Avan sendiri segera berdiri.


"Kejadian ini memanglah takdir, jangan ada yang saling salah-menyalahkan. Kita berdiam disini untuk sementara, besok pagi baru kita bergerak" ucap Ayah Fieyni.


Avan mendengus kesal, lalu melangkah pergi dari sana. Arion hendak mengikuti, namun Fieyni melarangnya. "Biarkan, ia perlu waktu sendiri"


Malam terus berlalu. Mereka kembali tidur, kecuali Arion dan Kenneth. Mereka terus memandangi perapian sambil sibuk dengan kegiatan masing-masing.


"Jadi, dari mana kau bertemu dengan Necromancer itu?" tanya Kenneth, membuka suara.


"Sudah lama. Saat aku berumur 14 tahun. Waktu itu, aku sedang melakukan ujian terakhir disebuah desa dan... yah! Aku bertemu dengannya" jawab Arion sambil mengelap pedangnya.


"Kau sendiri?"


"Menghadapinya? Tentu tidak, dia itu kuat dan sampai sekarang aku takut untuk menghadapinya. Aku cukup beruntung masih hidup saat itu. Saat itu juga bukan aku yang bertarung penuh melawannya"


Kenneth mengangguk pelan, ia melirik ke tongkat Arion yang terletak di samping pohon.


"Ngomong-ngomong, kau belum menggunakannya" tunjuk Kenneth. Arion menoleh sejenak ke tongkatnya dan terkekeh pelan.


"Ya, aku masih belum terbiasa untuk menggunakannya di pertarungan asli"


Tiba-tiba, mereka mendengar suara semak. Keduanya segera berdiri dan bersiaga, ternyata yang keluar dari sana adalah Avan.


"Kau rupanya. Sudah selesai merenungnya?" tanya Kenneth, iseng.


"Sudahlah" kata Arion.


Avan hanya diam dengan kepala menunduk menghadap tanah, jalannya sempoyongan dan berhenti beberapa meter di hadapan mereka.


"Ada apa dengannya?" tanya Kenneth, bingung.


Arion diam, tidak merespon. Ia terus memperhatikan Avan yang tingkah sudah tidak biasa.


"Avan?" Panggil Arion.


"Lakukanlah"


Suara itu mendadak muncul di kepala Avan. Avan terduduk di tanah sambil memegangi kepalanya, ia berteriak seperti orang yang sudah kehilangan kewarasannya. Fieyni dan keluarganya terbangun akibat teriakan itu.

__ADS_1


Melihat anaknya seperti itu, Ibu Fieyni berniat untuk menghampiri Avan, tetapi Arion melarangnya.


"Apa yang terjadi dengan Avan?" Fieyni terdengar panik.


Arion mengambil tongkatnya dan mengangkatnya ke depan. Kemudian, muncul rantai sihir dari dalam tanah, mengikat kedua lengan, leher dan badan Avan hingga ia duduk dengan posisi tegak.


"Hey! Apa yang kau lakukan?!" Fieyni memegang bahu Arion.


Arion mendengus pelan. "Kabar buruk, ia sudah menjadi Cremon" Arion menjawab tanpa menoleh ke Fieyni.


"Hah? Apa itu Cremon?" tanya Kenneth.


"Ras Demi-Human yang menjadi hewan seutuhnya disebut sebagai Cremon. Itulah yang meneror masyarakat saat ini" Arion menjawab dengan nada datar.


"Tidak mungkin.." Ibu Fieyni tidak mempercayainya.


"Mundur" kata Arion.


"Tapi-" Fieyni ingin berbicara, tapi Avan mulai bereaksi. Mulutnya mengeluarkan busa, urat-urat muncul dengan jelas dari dalam kulitnya. Ia memberontak keras untuk lepas dari ikatan rantai Arion.


"Mundur sekarang!" teriak Arion. Tepat setelah itu, Avan berubah sepenuhnya menjadi harimau raksasa dengan tinggi empat meter. Rantai sihir itu hancur karena daya kekuatan Avan yang besar dan juga ia mengeluarkan gelombang udara yang kuat, membuat Arion dan yang lainnya terdorong ke belakang.


"Serahkan Avan kepadaku. Dia masih bisa terselamatkan" kata Arion.


"Tidak, aku tetap disini" jawab Fieyni.


"Tidak ada waktu berdebat, Nona. Aku akan membantu Arion disini" kata Kenneth.


"Cepatlah pergi!" Arion mulai bersiap untuk bertarung. Dengan berat hati, Fieyni mundur lebih jauh bersama keluarganya.


"Cremon memiliki Hardening Skin. Berhati-hatilah" kata Arion.


"Baik" jawab Kenneth.


Tiba-tiba saja, ketiga adik Fieyni berteriak. Arion dan Kenneth yang kaget langsung menoleh kebelakang, disana sudah ada prajurit Undead yang menghalau jalan kaburnya Fieyni dan keluarganya. Bukan hanya itu, seluruh prajurit Undead telah mengepung lokasi disana.


"Mereka dimana-mana" kata Kenneth, menatap tajam kearah prajurit-prajurit Undead itu.


Arion menoleh kesampingnya, disana muncul Retian melalui asap hitam yang muncul dari langit. Pria berjubah itu memegang tongkatnya lalu menghentakkannya pelan ke tanah.


"Apa yang harus kita lakukan, Arion?" Kenneth mengangkat pedangnya ke depan, bersiap untuk bertarung kapanpun.


Tidak lama kemudian, muncul seseorang dari samping Avan. Pria itu mengenakan jubah hitam seperti pasukan Retian, tapi ia tidak Undead melainkan dari ras Demi-Human berjenis Burung Hantu, hanya saja ia tidak memiliki paruh.


"Langsung saja, Tuan. Kita tangkap Whiteblood itu" katanya.


Arion sedikit membungkukkan badannya dan menatap ke depan. Retian mengangkat tongkatnya ke udara lalu menghentakkannya ke tanah. Puluhan batu terangkat ke udara begitu saja di sekitar Retian, batu-batu itu kemudian melesat menuju Arion.


Secara bersamaan, Arion menghentakkan tongkatnya ke tanah dan Kenneth mengaktifkan pelindung perisai es. Muncul pelindung tembus pandang dihadapan Arion, ditambah dengan perisai es milik Kenneth.


Puluhan batu itu menerjang perisai milik mereka. Fieyni dan keluarganya segera mendekat ke Arion untuk berlindung. Arion berkeringat, hantaman batu-batu itu sangat kuat membuat Arion harus tiga kali lebih fokus untuk mempertahankan perisainya.


Tiba-tiba saja, puluhan batu tersebut berhenti, Kenneth dan Arion menjadi bingung. Namun, Arion merasakan ada yang datang dari belakang, segera saja ia membentuk tangan es raksasa untuk menghentikan orang itu. Ternyata yang muncul adalah pria Burung Hantu itu. Arion berhasil menangkis serangan pedangnya dengan tangan es raksasa. Pria itu terlihat tersenyum sinis.


"Biar aku yang tangani orang ini" Kenneth melompat dan menebaskan pedangnya ke orang tersebut, tetapi dapat ditangkis dengan mudah olehnya.


"Serang mereka!" Seru pria itu. Avan mulai bereaksi, ia berlari kearah Arion. Disisi lain, Retian hendak bergerak.


"Sulit. Sangat sulit" batin Arion.


"Ck! Tidak ada pilihan lain selain memanggilnya" gumam Arion. Walaupun kesal, ia tetap merapalkan mantra dengan cepat tanpa bersuara. Ia mengambil belatinya dan ia goreskan ke tangannya hingga darah segar keluar darisana.


Partikel cahaya mengelilingi Arion, kemudian segumpal darah Arion yang ada di tanah bergerak-gerak hinggal membentuk diri menjadi seekor kucing putih, seputih salju.


"Kau memanggilku, Bocah Idiot?" Itulah ucapan pertamanya. Ia adalah Jenderal Kucing, Lord Caith. Rupanya seperti kucing rumahan biasa dengan memakai baju berwarna merah dan kalung emas, matanya berwarna merah dan ia juga selalu membawa topi kecil di kepalanya.


Caith melihat sekitarnya, dan yang ia kesalkan adalah seekor harimau raksasa berlari kearahnya.


"Siapa dia?"


"Dia itu lawan sekaligus kawan" jawab Arion.


"Oh? Berarti jangan bunuh dia?"


"Iya, cepat! Dia akan kemari!" Seru Arion.

__ADS_1


"Jangan membentakku!" Caith membesarkan dirinya. Tubuhnya menjadi kekar, besar dan tingginya mencapai 5 meter. Wajahnya menjadi garang dan giginya menjadi tajam dan besar.


"Kali ini bayarannya separuh dari Qubemu!" kata Caith.


Arion tersenyum pahit mendengarnya. Avan berlari kearah Caith, dengan satu pukulan cakar, Caith mengenai wajah Avan dengan telak hingga ia terhempas ke samping.


Melihat Caith bisa menangani Avan dan Kenneth mendapat bantuan dari Fieyni dan Ayahnya dalam melawan pria Burung Hantu, kini Arion bisa memfokuskan diri ke Retian.


"Aku sudah kehilangan gadis keturunan naga itu, tapi itu tidak masalah jika dihadapanku ini lebih berharga darinya" ucap Retian.


"Daripada bertarung, bagaimana kita damai saja? Di dunia ini sangat dibutuhkan perdamaian. Ada lagunya lho" bujuk Arion. Ia mencoba mengulur waktu, dari tadi ia mengumpulkan sejumlah Qube untuk ia lepaskan nantinya.


"Aku akan menciptakan perdamaian versiku sendiri" jawab Retian.


"Baiklah. Sekarang rasakan ini!" Ia melepaskan Qube itu. Qube tersebut ia oper ke tongkatnya, sejumlah cahaya dan partikel muncul di atas tongkatnya itu. Kemudian, ia menodongkannya ke Retian.


"Dorum Art - Megatosmic!"


Arion melepaskan Qube yang berada diatas tongkatnya dan menembakkannya ke Retian seperti laser.


Retian duduk berlutut sambil menghentakkan tongkatnya ke tanah. Muncul perisai hitam di sekeliling Retian, untuk melindungi dirinya dari tembakan laser Arion.


Laser itu menyebar kemana-mana hingga mengenai pasukan Undead Retian. Salah satu prajurit langsung menjadi abu karenanya. Retian yang berada di dalam perisai itu tetap tenang. Sedangkan Arion perlahan menjadi kelelahan.


Tidak butuh waktu lama, tembakan laser Arion akhirnya berhenti. Daya hancurnya sangat kuat, area komplek itu menjadi hancur sebagian tapi tidak untuk perisai Retian. Ia kebal.


Arion duduk di tanah sambil memegangi tongkatnya. Napasnya terputus-putus karena telah mengeluarkan Qube yang cukup banyak.


Retian keluar dari perisainya, ia melangkah menghampiri Arion.


"Sudah main-mainnya?" tanya Retian. Arion memberinya tatapan dingin.


Retian mencengkram pipi Arion. "Whiteblood, kuakui kau kuat tapi kau masih bodoh. Dengan begini, kau tetap saja menjadi incaran yang empuk" ia melepaskan wajah Arion dengan kasar.


Tubuh Arion ditutupi oleh besi yang tebal, hanya kepalanya saja yang tidak ditutupi.


"Kau akan kubawa" kata Retian.


Kenneth melihat Arion yang sudah dikurung oleh Retian. "Arion!" seru Kenneth.


Ia menendang pria itu lalu berbalik menyerang Retian dengan Element es. Lengan kiri Retian menjadi beku, namun es itu dapat dihancurkan dengan mudah. Retian mengangkat tangannya tepat kearah Kenneth, ia mengeluarkan jurus yang membuat Kenneth terhempas jauh darinya.


"Ken!" jerit Arion.


"Sudah waktunya" Retian mengangkat tongkatnya ke udara. Di sisi lain, Avan sedang bertarung dengan Caith.


"Tangkap Retian! Jangan sampai ia kabur!"


Avan menoleh ke Retian. Ia berlari cepat kearah pria itu, meninggalkan Caith. Avan membuka mulutnya, menyadari Avan mendekat, Retian melompat menjauh dan mengikat Avan dengan rantai sihir.


"Apa-apaan ini? Kau mencoba menyerangku, Banier?!" Retian menatap tajam pria Burung Hantu itu.


Pria itu terkikik lalu tertawa kencang. "Ya! Itulah yang kurencanakan!"


"Apa maksudmu?" Retian mengerutkan dahinya.


"Apa kau tidak tahu? Aku ini berasal dari Ethinos! Selama ini aku mengikutimu hanya karena untuk mendapatkan darah dan energi dari seorang Necromancer!" Jawabnya.


"Aku tahu kau sedang mencari Whiteblood itu. Dengan begitu, aku bekerja sama dengan anggota Ethinos lainnya" Banier menunjuk Fieyni.


"Apa?!" Arion kaget.


"Maafkan aku. Aku memang berasal dari Ethinos, kami semua" jawab Fieyni dengan nada menyesal.


"Aku mendapat kabar bahwa Whiteblood itu sudah sampai di kota. Lalu, aku memerintahkan Fieyni untuk bertemu dengan Whiteblood itu di sebuah restoran. Dan aku melaporkannya kepadamu kalau seorang Whiteblood berada di kota ini lalu kau melancarkan serangan dengan tujuan bocah itu keluar. Disaat kau lengah, Fieyni menyerangmu dan membawanya ke tempat persembunyian. Lalu, disinilah kita"


Arion mencoba keluar dari besi itu. Ia sudah dua kali dikhianati dan Arion benci itu.


"Kami dari Ethinos sama sekali tidak tertarik dengan darah Whiteblood, kecuali beberapa orang. Tapi, pimpinan kami lebih menyukai darah dan energi dari pengguna energi kegelapan. Tapi, aku berterima kasih kepadamu karena telah menangkap Whiteblood ini. Tidak ada salahnya untuk membawa kalian berdua ke markas"


Selusin orang dari Ethinos membuka diri dari penyamaran mereka.


"Habislah kau kali ini" tunjuk Banier.


"Tidak" Retian menggeleng pelan. Ia melepaskan Avan lalu menghempaskannya dari sana. Retian melangkah menghampiri Arion, ia melepaskan selimut besi itu dari tubuhnya. Arion merasa bingung, ia kembali bangkit dan memegangi tongkatnya.

__ADS_1


"Jika Necromancer dan seorang Whiteblood bekerja sama, apa jadinya, ya?" ucap Retian sambil tersenyum miring.


__ADS_2