The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Berakhirnya Ujian


__ADS_3

- Rabadar Kingdom


Hanza baru saja keluar dari ruang tahta. Ia menyelesaikan rapat bersama petinggi kerajaan soal pembangunan infrastruktur di kota.


Seorang penjaga datang menghampirinya membawa sepucuk surat.


"Dari Pangeran Daendra, Yang Mulia" kata penjaga itu.


"Daendra? Tiba-tiba sekali" Hanza merasa heran. Ia menerima surat itu dan mengizinkan penjaga tersebut untuk pergi.


Hanza membacanya. Ia terkejut sekaligus terkesima dengan surat pemberian Daendra itu.


"Aku harus melakukan sesuatu"


***


- Egrit Village


Keesokan harinya...


Seluruh kelompok Arion, bahkan Arion sendiri masih tertidur pulas di kasur mereka. Sinar matahari yang masuk ke dalam kamar tidak membuat mereka terbangun dari mimpi.


Wajar saja, karena kemarin mereka bertarung habis-habisan melawan lawan yang tangguh dan kuat. Mereka juga harus memulihkan kembali Qube dan juga tenaga.


Di sisi lain, Rena sedang berada di rumahnya. Kali ini kehidupannya sudah berubah. Dulu saat pagi, ia sudah bekerja di kebun dan mengobrol dengan teman-temannya, tetapi saat ini ia dilarang untuk berkeliaran selain diizinkan oleh penjaga.


Pada malam hari saat kepulangan mereka semua ke desa. Kepala Desa menemui mereka dan mengadakan pembicaraan di rumah Rena. Rena, Arion, Daendra dan Eden beserta Mike berada disana sedangkan anggota kelompok lainnya diperbolehkan ke tempat penginapan.


Dengan mengetahui Rena adalah keturunan naga, Kepala Desa harus mau tidak mau menjaga keselamatan Rena lebih ketat lagi, sebelum pihak kerajaan yang menjemputnya.


Merasa khawatir akan keselamatan Rena, Daendra mengusulkan untuk membawa Rena ke Rabadar Kingdom dan menjaganya disana. Awalnya Eden bersedia untuk membawa Rena ke Blackclaws Temple, tapi kalau dipikir-pikir lagi olehnya, Rena malah akan kesepian dan menjadi suram.


Saat ditanya pendapatnya untuk dibawa ke Rabadar Kingdom, Rena sempat ragu. Ia mencemaskan kebahagiaan kedua adiknya dan takut akan dikucilkan orang-orang disana.


Daendra ingin membujuk lagi, tapi Arion langsung menyorobot dengan mengatakan Daendra adalah Pangeran Mahkota disana. Ia akan menjadi Raja berikutnya, sehingga Rena tidak perlu takut.


Rena terkejut mendengar kalau Daendra adalah Pangeran dari suatu kerajaan besar. Begitu juga dengan Kepala Desa dan Mike. Mereka langsung membungkuk hormat dan meminta maaf atas ketidaktahuan mereka.


Daendra segera meminta mereka semua bersikap seperti biasanya dan tidak memandangnya tinggi. Arion tersenyum dan merasakan kelegaan di hatinya, ia melihat Daendra sudah berubah dan tidak lagi arogan seperti dulu.


Dengan begitu, Rena sudah dapat dipindahkan ke Rabadar Kingdom. Mereka pun sepakat.


Kembali ke hari ini. Rena duduk termenung di dalam rumah karena saking bosannya dan tidak punya kegiatan lagi. Kedua adiknya sedang makan di sampingnya, sampai saat ini ia juga tidak menyangka kalau ia dan kedua adiknya adalah keturunan naga.


Rena bangkit dari kursinya, ia melangkah keluar menemui penjaga yang berdiri di depan rumahnya.


"Aku ingin menemui Daendra" kata Rena.


"Maafkan aku, tapi jika tidak diizinkan Kepala Desa maka..."


"Akan kutemani" Eden muncul dihadapan mereka secara tiba-tiba, seperti biasanya. Ia memakai baju hitam lengan panjang dan tidak memakai jubah.


"Kepala Desa telah memberiku izin"


Penjaga itu mengangguk dan membiarkan Rena pergi bersama Eden. Mereka berdua melangkah menuju penginapan yang ditempati oleh Arion dan teman-temannya.


"Jadi, apa kau gugup?" tanya Eden, membuka suaranya.


"Gugup? Tentang apa?" Rena bertanya balik.


"Hari ini keberangkatanmu ke Rabadar Kingdom. Masyarakat disana pasti akan penasaran denganmu walau identitasmu akan disembunyikan pihak kerajaan"


"Ya, aku gugup sekali. Pergi ke kota dan ke istana tak pernah kubayangkan sama sekali"


"Walau Daendra dan Arion bersamamu?"


"Iya, walau mereka juga bersamaku. Apa reaksi orang-orang istana nanti melihat kedatangan gadis desa sepertiku?"


"Mereka penasaran, hanya itu dan selebihnya hanya mereka yang tahu. Kau tidak perlu cemas akan hal itu"


"Kau juga berasal dari kerajaan?"


"Tidak. Aku berasal dari desa sama sepertimu"


"Lalu?"

__ADS_1


"Kau pernah dengar ucapanku ini sebelumnya. Ayahku menjadi tak waras. Setelah semua itu terjadi, aku menjadi perampok kecil dan berakhir disini, bersama kalian"


"Perampok?"


"Ya, perampok. Aku mencuri sepersen dari harta korban yang kurampok"


"Bagaimana..? Kenapa sepersen?"


"Aku berpikir merampok itu tidak baik, sebenarnya dan juga segala hal yang berlebih, sangat buruk untuk kita"


Mereka pun sampai di penginapan. Eden bertanya ke petugas lobby tentang lokasi kamar Arion. Setelah mendapat petunjuk, mereka berdua melangkah kesana.


"Terkunci" ucap Eden saat ingin membuka pintu. "Sepertinya merek masih tertidur seperti bayi"


"Ah, tidak apa-apa, aku hanya ingin mengunjungi mereka saja. Kalau begitu, kita kesini beberapa jam lagi" kata Rena. Ia tidak ingin membangunkan mereka semua.


"Beberapa jam itu terlalu lama, walau begitu aku sebentar lagi akan pergi" ucap Eden.


"Pergi?" tanya Rena.


"Ya, lagipula mereka sudah kesiangan"


Eden memasukkan kedua tangannya ke saku celananya. Kemudian, ia mendobrak pintu kamar dengan kakinya. Berhasil, pintu itu terbuka dan terjatuh ke lantai karena saking kuatnya tendangan Eden.


Penghuni kamar menjadi terkejut. Luke dan Glenn terbangun, begitu juga dengan tiga orang lainnya.


"Eden! Kau mengagetkanku saja!" seru Luke kesal.


"Kau sengaja, ya?!" Glenn menaikan lengan bajunya, isyarat untuk mengajak Eden berkelahi.


"Aku mencari kamar Arion" balas Eden, datar dan tanpa rasa bersalah.


"Yang kau cari itu dikamar sebelah!" jawab Luke, kesal.


Eden melangkah ke kamar sebelah, Rena meminta maaf atas keributan yang ditimbulkan Eden.


Eden kembali melakukan hal yang sama sebelumnya. Arion, Daendra dan Neo beserta satu anggota lainnya terbangun kecuali satu anggota yang lain.


"Blackclaws sialan! Kau mengajak ribut, ya?!" Daendra kesal karena ia dikejutkan dari tidurnya.


"Ini sudah siang" kata Eden.


"Aku tidak peduli!" seru Daendra.


"Kalian berkemaslah"


"Kau bukan Ibuku!"


Rena menutup wajah dengan kedua tangannya melihat keributan dan kekonyolan yang ditimbulkan mereka semua.


***


Masih di desa Egrit dan mereka berempat berada di rumah Rena. Arion diberitahu oleh Mike melalui cermin kalau tim penjemput Rena akan sampai beberapa jam lagi.


Arion terkejut dan langsung memberitahu berita ini kepada yang lainnya.


"Ayah setuju?!" Daendra tersedak tehnya sendiri. Lalu, ia melompat kegirangan seperti anak kecil. Ia memeluk Rena erat lalu memeluk Arion.


"Ayah setuju!" soraknya. Ia melepaskan Arion dari pelukannya dan kemudian kembali duduk di kursi.


Arion menggeleng pelan melihat tingkah saudaranya itu. Eden melirik sekilas tadi dan kembali membaca gulungan yang ia baca sejak tadi.


"Tapi, Rena, Rofa dan Ed akan pergi ke istana tanpa kita" ucap Arion.


"Kenapa?" tanya Daendra.


"Kau lupa? Kita harus ke akademi dulu untuk memberi laporan ujian lalu kita akan mengadakan upacara perpisahan, pesta perpisahan dan akhirnya pulang yang akan menempuh waktu beberapa hari" jawab Arion.


"Apa? Kau serius?" tanya Daendra, kurang percaya.


"Apa aku terlihat bercanda bagimu?" Arion mengangkat salah satu alisnya.


Daendra menghela napas panjang. Ia sedikit kecewa karena tidak bisa langsung menemani Rena ke istana. Rena melihat kekecewaan itu di wajah Daendra, ia meletakkan nampan minuman di meja yang sedari tadi ia peluk.


Rena duduk disamping Daendra. "Tidak apa, aku bisa menjaga diri disana. Aku akan menunggu kepulanganmu"

__ADS_1


Daendra tersenyum lalu mengangguk. "Baiklah" jawabnya.


Eden mendehem. "Arion, jika ada yang akan menikah, jangan lupa untuk mengundangku" ia mengucapkannya dengan wajah datar.


Arion membalas mendehem. "Tentu saja, mungkin pesta pernikahan itu akan digelar dua hari dua malam"


Merasa dirinya sedang dibicarakan, Daendra melempari keduanya dengan nampan yang ada di meja.


Melihat matahari semakin naik, Eden bangkit dari kursinya. Ia memasang jubahnya dan menggantungkan pedang di pinggangnya.


"Kau sudah mau pergi?" tanya Arion.


"Ya, waktu libur ku sudah hampir habis. Aciel dan Faesa sudah menungguku disana" jawab Eden.


"Begitu, ya"


Eden menaiki kuda yang dari tadi sudah terparkir di depan rumah Rena.


"Kenapa kau tidak menggunakan kemampuan teleportasimu?" tanya Daendra.


"Aku tidak ingin membuang-buang Qube-ku. Lagipula, aku lebih suka mengendarai kuda dan menikmati alam daripada berjalan di gerbang antar waktu" jawab Eden.


Ia pun memacu kudanya dan menjauh dari sana.


"Jika boleh memilih, aku akan menggunakan kemampuan teleportasinya" kata Daendra.


"Itulah dia. Berbeda dari yang lain" sahut Arion.


***


Kereta istana sudah tiba. Dikawal oleh belasan prajurit berkuda dan puluhan prajurit lainnya, Kepala Desa menjadi terpukau melihat pengawalan yang cukup ketat disiapkan oleh Rabadar Kingdom untuk Rena.


Pemimpin penjemputan itu adalah Thomas. Ia turun dari kudanya dan berjalan menghampiri Thomas. Pria botak itu kini sudah berambut dan bertambah tua tentunya. Ia memberi hormat pada Daendra.


"Komandan" Daendra membalas hormat. Ia pun memeluk Thomas. Walau cukup kaget, ia membalas pelukan itu.


"Kau sudah besar, Pangeran" kata Thomas sambil tersenyum.


Ia menoleh ke Arion. "Pangeran Arion, kau juga sudah besar" ia memeluk Arion. Melihat bocah kecil yang ditemui disebuah desa, telah tumbuh besar, membuat Thomas menjadi bangga.


"Kalian berdua terlihat berbeda" kata Thomas.


"Kami.. telah melalui jalan yang sedikit berliku" kata Daendra dengan sedikit tertawaan.


"Iya, walaupun itu sangat sakit" Arion menunjuk perutnya sendiri sambil memandangi Daendra. Ia mengingatkan Daendra tentang bekas lukanya yang ditimbulkan akibat Hell Beast beberapa waktu yang lalu.


"Ah iya! Tapi, ada untungnya juga" Daendra dan Arion tertawa lepas. Thomas ikut tertawa juga, melihat mereka sudah akrab.


Kemudian, Daendra memperkenalkan Rena kepada Thomas. Ia juga mengatakan Rena adalah keturunan itu.


"Baiklah, kami akan memastikan Rena selamat sampai istana" kata Thomas.


"Kami mengandalkanmu" ucap Arion.


Dua prajurit menaikan barang-barang Rena dan kedua adiknya ke dalam kereta kuda. Rena membungkuk hormat pada Arion dan Daendra.


"Kita akan bertemu lagi" ucap Daendra, sambil tersenyum hangat.


"Iya!" Rena membalas senyuman itu dengan senyuman cerahnya.


Mereka bertiga masuk ke dalam kereta. Rofa dan Ed melambai kepada dua Pangeran itu. Mereka membalas lambaian tersebut.


"Kami berangkat dulu, Pangeran" kata Thomas.


"Baik. Hati-hati di jalan" jawab Arion.


Rombongan itu pergi dari desa. Namun sesuatu yang tidak mereka sadari adalah ada yang mengawasi mereka dari tadi dan baru saja menghilang entah kemana.


"Sebaiknya kita juga harus pulang ke akademi" ucap Arion.


Daendra menghela napas pendek. "Ya, kau benar"


Arion melangkah menemui Mike. Ia berniat untuk mengembalikan cermin itu tapi Mike menolak dan malah menambahkan tujuh cermin kepadanya.


"Kami punya banyak, kau tidak perlu khawatir" kata Mike.

__ADS_1


"Baiklah, terima kasih, Mike" kata Arion sambil tersenyum. Dan hari itu juga, Arion dan kelompoknya kembali ke akademi dengan meraih keberhasilan dan sesuatu yang tidak pernah mereka duga.


__ADS_2