The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Ujian Dimulai


__ADS_3

"Baiklah, kalau begitu kami pamit dulu" kata Arion.


"Tunggu, ada yang ingin kuberikan pada kalian" Mike menghentikan mereka, lalu mengeluarkan benda dari dalam sakunya.


"Apa ini?" tanya Arion, memandangi cermin yang diberikan Mike.


"Itu cermin" Glenn yang menjawab.


"Aku tahu itu! Maksudku, kenapa kau memberikanku cermin?"


"Cermin ini akan membuat kita berkomunikasi dari jarak jauh. Kau akan melihat wajahku di sana, dengan begitu kita dapat memberi info setiap waktu" jawab Mike.


Arion mengangguk. "Aku paham"


"Semoga berhasil, Nak" ucap Kepala Desa. Arion membungkuk hormat, lalu keluar dari ruangan itu.


Mereka bertiga pergi keluar rumah dan menjauh dari sana. Ketika sudah jauh, mereka bertiga menanggalkan baju zirah dan membuangnya ke semak-semak.


"Baik, panggil seluruh anggota, kita akan membuat pertemuan di penginapan, tempat kalian menginap"


"Baiklah" Glenn dan Luke mengangguk paham, mereka berdua pergi kearah penginapan sedangkan Arion kembali ke rumah Rena.


Tetapi, tiba-tiba Arion merasakan energi jahat masuk ke dalam kepalanya. Ia menghentikan langkahnya dan mencoba meneliti energi itu.


"Kemampuan Sensorikku muncul.." gumamnya. "Ini ... ada yang mendekati desa. Aku harus memperingati Daendra" ia berlari menuju rumah Rena.


***


Daendra duduk di salah satu pondok kayu yang terletak di pinggir kebun teh. Setelah memetik daun teh dalam waktu yang cukup lama, ia menjadi kelelahan dan keringatnya mengucur deras.


"Aku tidak mengira akan ... selelah ini" katanya.


Rena datang membawakan air untuknya. "Tuan, anda haus, kan?"


Daendra mengambil gelas itu lalu meneguk air dengan sangat cepat. "Fuaaah! Lega sekali ..." kata Daendra setelah melepaskan dahaganya.


Rena tertawa kecil, lalu duduk disamping Daendra. "Luka anda tidak apa-apa?"


"Tentu saja, aku masih bisa mengatasinya"


Rena tidak yakin, ia mencoba untuk menyentuh badan Daendra. Rena pun mengaktifkan sihir penyembuhan untuk memeriksa apa benar lukanya tidak terkena masalah.


Daendra diam sampai Rena selesai.


"Oh, anda benar, tidak apa-apa"


"Kenapa kau sangat khawatir?" tanya Daendra, heran.


"Karena ... Tuan sudah berani menghalau makhluk itu. Jika bukan karena Tuan, pasti ... hal yang sangat buruk akan terjadi pada desa ini, terlebihnya kepadaku dan adik-adikku" jawab Rena sambil menatap tanah.


Daendra mengusap kepala Rena. "Bagiku melindungi orang-orang yang berharga sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang ksatria. Jadi, jangan terlalu cemas"


Rena terdiam menatap Daendra, lalu ia tersenyum hangat kepadanya. "Iya, terima kasih!"


Daendra pun sadar apa yang ia katakan dan kembali menarik tangannya dari kepala Rena, wajahnya juga mulai memerah.


"A-aku tidak bermaksud!" teriaknya.


Tiba-tiba, sebuah tombak kecil datang dari langit dan menancap di depan mereka. Daendra dan Rena kaget tentunya.


Daendra berdiri dan langsung bersiaga. Ia mengambil celurit sebagai senjatanya. Rena berdiri berlindung di belakang Daendra.

__ADS_1


"Tombak siapa ini?" tanya Daendra.


Tidak lama kemudian, seorang Goblin bertopi merah terlihat dari ujung kebun teh. Ia terlihat menyeret seorang gadis yang tubuhnya terikat oleh lilitan ular.


"Apa-apaan itu?" Daendra


menyipitkan matanya.


"Serahkan keturunan Sang Naga kepada kami! Atau aku akan menghabisi gadis malang ini!" seru Goblin bertopi merah itu.


Rena reflek kaget, secara tak sadar ia memegang lengan Daendra. Daendra sendiri mengerutkan dahinya, ia tahu cerita keturunan itu tapi selama ini ia mengira itu hanya cerita isapan jempol belaka, ternyata Goblin itu mencari keturunan tersebut.


"Apa maksudnya?" gumam Daendra.


"Tidak ada yang ingin menyerahkannya, ya? Baiklah, aku akan membunuh gadis ini!"


Gadis tersebut menjerit histeris, air mata bercucuran deras di pipinya. Ketika Goblin itu hendak menusuk gadis tersebut dengan belatinya, sebuah celurit melesat mengenai pisau itu hingga terlempar dari tangan Goblin.


Goblin itu menoleh ke pelakunya. Daendra menatap tajam pada makhluk bertubuh hijau itu.


"Jangan macam-macam kau!" tunjuk Daendra.


Goblin tersebut menatap dingin padanya, ia mengangkat tangan kanannya ke atas. Tiba-tiba, sekelompok Goblin berpisau muncul dari dalam kebun teh. Mereka tersebar di kebun teh itu, mengepung Daendra dan warga disana.


"Berani sekali kalian memandangku seperti itu!" seru Daendra kesal. Ia sebenarnya tidak tahu apa yang harus ia perbuat saat ini.


"Memangnya kau siapa? Kau hanya manusia rendahan!" ucap Goblin bertopi itu.


"Terkutuk kau menyebutku sebagai rendahan. Serendah-rendahnya manusia, kalian ras kotor tetap berada di bawah kami!" jawab Daendra.


Goblin, sebagai makhluk berakal rendah langsung terpancing emosinya. Ia lalu memerintahkan kawanannya untuk menyerang Daendra.


Salah satu Goblin melempar pisaunya ke Daendra. Dengan cepat, Daendra mengambil bakul yang terletak di pondok untuk menangkis serangan itu.


Daendra melebarkan matanya, mustahil untuk menangkis seluruhnya, belum lagi ada Rena di belakangnya.


"Sial"


Tiba-tiba, Arion muncul menghalau semua pisau yang mengarah ke Daendra dengan gerakan pedangnya yang gesit.


"Tuan Arion!" Rena kaget.


"Bocah!" Begitu juga dengan Daendra.


Arion belum selesai, ia menyemburkan esnya kepada para Goblin yang berada di jangkauannya. Mereka membeku, daun-daun teh itu juga ikut menjadi es.


Arion mengepalkan tangannya, lalu seluruh benda atau makhluk yang ia bekukan menjadi hancur berkeping-keping.


"Terlalu terangan-terangan, ya? Kalau begitu kita sama, tujuanku juga mencari keturunan ini tapi bedanya aku akan menyelamatkannya dan tidak akan kubiarkan orang itu jatuh ke tangan kalian" ucap Arion. Ia menatap dingin pada Goblin bertopi itu.


Goblin tersebut menjadi sangat terkejut. Ia tidak pernah menyadari akan ada prajurit lagi di desa ini. Kalau begini, ia akan mati, pikirnya.


"Tuan—" Rena hendak memanggil Arion.


"Kalian berdua pergilah menjauh dari sini, tempat ini terlalu berbahaya" kata Arion, memotong perkataan Rena.


"Apa? Kau sudah mulai berani memerintahkanku? Aku akan ikut bertarung denganmu" tolak Daendra.


"Kau masih terluka. Aku membutuhkanmu di pertarungan selanjutnya, jika saat itu tiba kau sudah harus pulih, karena mungkin saja ... lawan kita lebih berat dari ini" kata Arion.


"Hah? Apa maksudmu? Aku tidak akan—"

__ADS_1


"Daendra, untuk kali ini percayalah kepadaku" Arion menatap Daendra dengan raut wajah serius.


Daendra menghela napas pendek. "Baik, baik, aku akan pergi. Sebaiknya kau kembali hidup-hidup agar aku tidak menyesali keputusanku ini"


"Tentu saja" Arion tersenyum tipis. Daendra dan Rena pergi dari sana bersama para warga lainnya.


Tinggal Arion dengan sekawanan Goblin yang jumlahnya melebihi dirinya yang satu orang. Arion memasang kuda-kudanya, ia memegang pedang ke depan dengan erat.


"Hell Beast lebih menyeramkan dari ini" gumam Arion, ia mencoba untuk menenangkan dirinya.


Salah satu Goblin mengerang, diikuti dengan yang lainnya. Mereka berlari menyerang menuju Arion.


Dengan sekali tarikan napas, Arion menebas Goblin yang melompat kearahnya lalu melanjutkan serangan ke Goblin lainnya.


Darah segar Goblin muncrat ke wajahnya selagi ia terus menebas tubuh Goblin, sambil melangkah maju.


"Sial, mereka tidak habis-habisnya" kata Arion. Seorang Goblin muncul dari atas, Arion menebasnya dengan cepat, tapi Goblin lain meloncat naik ke punggungnya.


Di sisi lain, Goblin bertopi itu mengembangkan senyum sinisnya.


***


Daendra dan Rena berlari menjauhi kebun teh itu. Masyarakat desa sudah mulai berlarian karena telah mendapat pengumuman bahwa pasukan Goblin akan datang.


"Kita harus cari tempat aman dulu!" seru Daendra.


Tiba-tiba, dua Goblin dengan pisau kecil muncul di hadapan mereka. Daendra langsung berhenti dan menarik Rena ke belakang.


"Mundur kalian!" Daendra berteriak pada dua Goblin. Dalam situasi ini, Daendra sangatlah dirugikan, ia tidak memiliki senjata dan tubuhnya juga sedang terluka.


Goblin itu seakan tidak mempedulikan ucapan Daendra. Mereka tersenyum sinis dengan memperlihatkan gigi mereka yang tajam sambil mengacungkan pisau kearah Daendra.


Tiba-tiba...


BUM!!


Sebuah gada menghancurkan salah satu Goblin sampai rata dengan tanah. Goblin satunya menjadi kaget, namun sedetik kemudian, sebuah panah melesat menusuk leher Goblin itu.


Daendra terkejut dengan kemunculan dua senjata itu. Tidak lama kemudian, seorang lelaki muncul dari atas dan mengambil gada itu.


"Kau tidak apa, Pangeran?" ucap lelaki itu sambil tersenyum miring.


"Glenn" ucap Daendra.


Lalu, beberapa lelaki lain yang tidak lain adalah anggota kelompok Daendra tiba, termasuk pemanah yang menembak Goblin terakhir.


"Woah, apa yang terjadi padamu?" Luke dapat melihat perban di tubuh Daendra, padahal ia sudah menutupinya dengan pakaian.


"Nanti saja, kita harus mengevakuasi warga secepat mungkin. Ujian kita sudah dimulai" kata Daendra.


Daendra berbalik, menatap Rena. "Kau harus pergi ke tempat aman"


"Bagaimana dengan, Tuan?" tanya Rena, sangat cemas.


"Aku akan baik-baik saja. Tidak perlu khawatir" jawab Daendra dengan senyuman. Ia menoleh ke Glenn. "Jaga dia sampai ke tempat yang aman"


"Tentu saja, Pangeran. Mari Nona" Glenn tersenyum lebar, ia mengangkat gada ke bahunya. Sebelum pergi, Rena menatap Daendra agak lama, seakan tidak rela berpisah dengannya.


"Tidak apa" ucap Daendra dengan yakin. Rena mengangguk lalu pergi bersama Glenn.


"Ada yang bawa senjata?" tanya Daendra. Ia diberi pedang oleh Luke.

__ADS_1


"Tampaknya kau sudah damai dengan gadis itu" goda Luke.


"Gadis itu yang mendamaikanku dulu" Daendra tersenyum tipis.


__ADS_2