
Arion membuka kedua matanya. Kali ini, ia mendapati dirinya berada di pantai. Suara debur ombak terdengar menenangkan hatinya. Pagi itu tidak terlalu panas, malahan bisa menghangatkan tubuhnya, ditambah oleh angin sepoi-sepoi dan suara burung yang berterbangan diatasnya.
Ia bertanya-tanya, dimana ia saat ini. Sambil menoleh kesana kemari, Arion tidak melihat siapapun disana. Hanya dia sendiri, sampai suara seseorang disampingnya mengagetkannya.
"Kau sudah besar, Arion"
Arion menoleh cepat ke sumber suara itu. Matanya melebar, ada wanita cantik disampingnya, mengenakan gaun putih panjang. Rambut putihnya panjang, hampir menyentuh tanah.
"Ibu.."
Matanya langsung berkaca-kaca. Lama-kelamaan, air mata itu mengalir di pipinya.
"Sudah besar tapi masih menangis, dasar cengeng" Ibunya tertawa kecil sambil mengusap air mata itu dari pipi Arion.
"Aku sangat merindukan Ibu" kata Arion.
"Ibu tahu itu. Ibu selalu menjagamu dan berada di sisimu"
"Kita dimana?"
"Sebut saja ini alam bawah sadarmu"
"Aku tidak pernah menyangka akan setenang ini"
Ibunya terkekeh. "Yah, kau tidak akan pernah menyangkanya"
Tiba-tiba, Arion teringat sesuatu. "Soal klan, apa ada yang bisa kulakukan?"
"Tentu, jika itu memberikan dampak yang positif" Lalu, Ibunya berdiri.
"Ibu mau kemana?" tanya Arion.
"Ibu tidak akan kemana-mana, Ibu selalu ada di sisimu, ingat?" Ibunya tersenyum hangat.
Tubuh Arion mengeluarkan partikel cahaya, ia menjadi bingung sekaligus panik.
"T-tunggu, ada banyak yang ingin kutanyakan pada Ibu!"
"Ibu yakin, kau bisa mencari jawabannya sendiri" jawabnya sambil melambai.
...
..
.
Air mata mengalir di pipi Arion. Ia sedang tertidur tetapi raut wajahnya sangat sedih. Melihat Arion seperti itu, Daendra segera membangunkannya.
"Arion! Hey, bangun!" ucapnya sambil mengguncang-guncang tubuh Arion dengan pelan.
Arion terbangun dari tidurnya. Sadar air matanya mengalir di pipinya, ia segera menyekanya dan memperbaiki duduknya.
"Kau kenapa?" tanya Daendra.
Arion menggeleng cepat.
"T-tidak, aku tidak apa-apa"
"Bersiaplah, kita mau sampai"
Arion mengangguk, ia melihat keluar jendela. Sesuai perkataan Daendra, mereka mau sampai. Di depan sana sudah terlihat gerbang kota.
Gerbang telah dibuka, rombongan lulusan akademi masuk ke dalam. Mereka langsung disambut oleh masyarakat disana.
Arion melirik ke Daendra. Tangan lelaki itu bergemetar, Arion menjadi heran.
"Kau kenapa bergetar?"
"Aku... lapar! Ya, aku lapar" jawabnya, ngeles.
__ADS_1
Arion mengangkat salah satu alisnya, ia pun tidak mempedulikannya. Mereka sudah sampai di terminal, seluruh orang tua dan wali murid telah menunggu kedatangan mereka.
Tidak seperti keberangkatan kemarin, kepulangan mereka tidak ada namanya pembagian kereta berdasarkan kasta. Mereka bercampur-campur.
Aciel turun dari keretanya, dibantu oleh salah satu prajurit untuk menurunkan barang-barangnya dari kereta. Faesa juga ikut turun sambil membawa barang-barangnya. Seluruh murid langsung bereuni dengan keluarga mereka di terminal, kerinduan bercampur haru memenuhi suasana terminal.
Arion dan Daendra turun dari kereta yang sama, menambah aura kewibawaan disana. Keduanya dibantu oleh dua prajurit untuk dibawakan barang-barang mereka, namun dua Pangeran itu menolak secara halus.
"Wow.." Faesa terpana melihat Daendra yang terlihat seperti Arion. "Habis makan apa kau tadi?"
"Berisik" kata Daendra kepada Faesa.
Mereka dikawal ke istana. Ketiga putra putri istana telah pulang dengan membawa ilmu. Mereka bertiga terlihat dewasa dan tidak lagi seperti anak-anak yang suka bertengkar sepanjang waktu.
Arion dan Daendra tersenyum, Faesa tertawa. Mereka bernostalgia kembali tentang masa kecil mereka yang selalu diwarnai dengan keributan.
Akhirnya, mereka sampai di istana. Gerbang istana dibuka untuk mereka, ketiganya disambut oleh keluarga kerajaan. Hanza dan Lenia menunggu kedatangan mereka di teras istana dengan senyuman.
Mereka bertiga mengedarkan pandangan kesekeliling, perkarangan depan istana dihiasi dengan kristal biru dan cahaya emas yang ditabur dimana-mana. Lalu, ada beberapa penari yang menyambut mereka sambil berjalan.
"Indah sekali.." gumam Faesa.
"Kurasa kita berada di istana yang salah" ucap Daendra, sama takjubnya.
Ketiganya berdiri dihadapan Raja dan Ratu. Disana sudah berdiri beberapa pejabat kerajaan bersama putra-putri mereka, lalu ada Thomas, Dominick, Yaena dan yang paling dirinduka oleh Daendra, Rena.
Ia sempat termenung melihat gadis itu. Ia kini dibaluti pakaian yang terlihat memukau untuknya, rambutnya juga diikat dan wajahnya di dandan sedemikian rupa layaknya putri istana.
"Oi" bisik Faesa, membuyarkan lamunan Daendra.
Setelah Daendra kembali sadar, mereka bertiga memberi hormat kepada Hanza dan Lenia.
Lenia langsung memeluk Daendra. "Kau sudah besar dan sangat tampan. Ayahmu bahkan kalah darimu"
"Ehem! Aku dengar itu" sahut Hanza yang merasa disindir.
"I-Ibu.. sudahlah. Sekarang giliran Arion" ia menarik Arion merapat ke Ibunya.
"Oh iya! Ibu hampir lupa" sambil tertawa kecil, ia memeluk Arion dan mengelus kepalanya.
Yaena merasa ingin juga mengelus kepala Arion yang sudah lama tak ia rasakan. "Rambut Arion itu seperti bulu domba, sangat halus" katanya.
Dominick yang melihat Daendra akrab dengan Arion segera mengerutkan dahinya. Ia merasa bingung sekaligus heran.
Daendra lalu memeluk Ayahnya. Arion masih berbicara ringan dengan Ibu angkatnya bersama Faesa.
"Kau sudah besar. Sudah terlihat seperti Pangeran Mahkota" kata Hanza.
"Ya, apakah aku layak?" tanya Daendra.
"Tentu saja" jawab Raja itu sambil tersenyum.
Daendra melirik ke Rena yang berdiri sambil memegang tangannya sendiri.
"Arion, Ayah ingin menemuimu" panggil Daendra. Arion tersenyum canggung, ia tahu niat sebenarnya dari Daendra itu. "Mencari kesempatan dalam kesempitan" batinnya.
Daendra ingin menghampiri Rena, tapi Yaena langsung memeluknya. Daendra sekarang lebih tinggi dari Yaena, membuat Putri itu sedikit menjinjit.
"Aku merindukanmu, Pangeran Galak! Kau sangat tinggi sekarang"
"Ya, dan kau masih sama seperti dulu, Putri Payah"
"Apa kau bilang?!" Yaena mencubit perut Daendra sehingga ia meringis kesakitan.
"Baiklah, ada orang yang sangat ingin kau temui dariku" Yaena menjitak kepala Daendra, lalu pergi menghampiri Arion dan Faesa.
"Orang gila" gumam Daendra sambil mengusap-usap kepalanya.
Rena tertawa kecil melihat Daendra menggerutu seperti itu. "Selamat datang, Pangeran" sambutnya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Sudah jadi Tuan Putri sekarang, huh?" Daendra tersenyum jahil.
"T-tidak.. siapa yang jadi Tuan Putri" Rena kembali gugup.
Daendra tertawa renyah. "Kau terlihat sangat-" tiba-tiba, muncul Elia disampingnya.
"Daendra, aku sangat merindukanmu" katanya seraya memelaskan wajahnya.
"Siapa kau?" Daendra memberi tatapan curiga.
Elia terkejut dan tidak percaya Daendra memberi respon seperti itu. Ia melangkah pergi dari sana karena merasa telah dipermalukan lagi.
"Dasar aneh" gumam Daendra. Ia kembali menatap Rena lekat. Lalu, tiba-tiba saja muncul Faesa dari belakang Daendra.
"Jadi, kau yang namanya Rena? Wah! Kau manis sekali, bahkan mengalahkan orang ini!" Faesa menunjuk kearah Yaena yang sedang sibuk mengelus kepala Arion.
"Apa maksud perkataanmu tadi, hah?!" Yaena menjadi kesal, ia pun mencubit pipi Faesa.
"Ampun! Aku hanya bercanda!"
Yaena melepaskannya, lalu merangkul Daendra dan Arion yang sedari tadi tidak bertingkah, hanya diam mengikuti alur pembicaraan.
"Kita ke dalam dulu, ada hadiah untuk kalian" kata Yaena.
"Hadiah?!" Mata mereka bertiga berbinar-binar mendengar kata itu.
***
"Apa-apaan? Menunggu hadiahnya lama sekali sampai malam gini" kata Daendra kesal.
"Sudahlah, nikmati saja" sahut Arion sambil menyantap roti bakar, makanan favoritnya.
Rena datang, ia membawa lilin kecil di tangannya. Arion, Daendra dan Faesa terdiam, mereka menatap Rena, mata mereka mengikuti Rena berjalan ke tengah-tengah lapangan.
Lalu, muncul Yaena yang juga membawa lilin. Mereka berdiri berdampingan.
"Upacara kematian?" tanya Arion.
Orang-orang yang ada disana menatap tajam pada Arion. "Aku salah bicara" ucapnya.
Yaena dan Rena duduk berlutut dan mengarahkan lilin itu ke lilin yang ada disamping mereka masing-masing. Mereka membakar lilin tersebut dengan api yang ada di lilin yang mereka bawa sebelumnya.
Lalu, mereka menghembuskan lilin tersebut. Bukannya padam, api yang ada di lilin itu menular ke lilin-lilin yang ada disamping dan terus menjalar kemana-mana yang terdapat ada lilinnya.
Lapangan itu bercahaya oleh lilin yang ada disana. Mungkin ada ratusan lilin yang telah disiapkan oleh Yaena dan Rena disana.
Yaena menepuk tangannya sebanyak dua kali, kemudian muncul cahaya dari lampu-lampu yang telah dipasang di pohon-pohon dan pagar-pagar.
"Wah.." ketiganya terpukau dan tidak bisa berkata apa-apa.
"Ta-da! Cantik dan simpel, kan?" tanya Yaena.
"Ini mengagumkan" jawab Arion.
"Kau hebat, Rena" puji Daendra.
"Eh? Ini ide-"
"Ini ideku!" seru Yaena.
"Oh, lumayan" Daendra mengedikkan kedua bahunya.
"Arion, kau masih ada disana?"
Suara itu muncul di saku celana Arion. Ia segera menjauh dan mengambil cermin sihir tersebut dari dalam sakunya.
"Eden? Ada apa?" tanya Arion.
"Pergilah ke kastil Midorian, temui aku disana lusa"
__ADS_1