
"Bagus! Tingkatkan lagi!"
Arion berseru kepada teman-teman alumninya yang telah menawarkan diri mereka untuk ikut membantu Arion dalam perang merebut kembali kerajaannya.
Tentu saja, sebelum mereka mendarat di medan peperangan, mereka harus berlatih dan mempersiapkan diri. Glenn dan lainnya dilatih oleh Arion atas permintaan mereka sendiri.
"Ingat! Lawan kita adalah Faesa, dia yang sekaran berbeda dengan yang dulu. Jangan anggap dia sebagai kawan masa lalu kalian, anggap dia sebagai musuh yang harus dimusnahkan"
Arion mengatakan semua itu dengan gagah, padahal didalam dirinya ia begitu ragu. Ikatan saudara yang pernah ia jalin dengan Faesa masih melekat didirinya.
Selain Glenn dan teman-temannya, Rofa dan Ed turut berlatih. Mereka yang masih muda begitu perkasa dihadapan mereka semua, tapi walaupun begitu, Rofa dan Ed tetap diberi pengarahan oleh mereka semua.
"Kenneth! Di mana keperkasaanmu?!" Arion merasa tidak puas melihat kelembekan dari seorang Kenneth.
"Didalam celanaku!" jawab Kenneth, asal-asalan.
Arion merasa geli dengan jawaban Kenneth. Melihat seluruhnya berlatih dengan giat, Arion pergi kedalam rumah. Disana ada Hanza dan Mifori yang sedang membahas tentang strategi penyerangan.
Secara tidak sadar, Mifori juga ikut mengambil peran dalam perang ini. Yang awalnya pelayan setia Hanza, sekarang ia berhasil naik pangkat sebagai pengatur strategi.
"Bagaimana, Ayah?" tanya Arion. Ia duduk disamping Mifori.
"Kita berhasil menyebarkan pasukan tersembunyi didalam Rabadar. Jika rencana kita mulus, pasukan itu akan mudah mensabotase pihak penguasa sekarang" jawab Hanza.
"Ini semua berkat komunikasi Mifori" Arion menepuk pundak Mifori dengan bangga, lantas hal itu membuatnya malu.
"Jika perang ini berhasil, Ayah akan duduk kembali disinggasana" Arion menyimpulkan.
"Sayangnya, aku sudah tidak bisa melakukan tugas itu lagi"
"Hah?"
Arion dibuat bingung dan kaget dengan jawaban yang diberikan Ayah angkatnya ini. Di sisi lain, Mifori hanya memberi tersenyum masam.
"Seharusnya kau tidak bingung Arion. Dengan umurku yang sudah tidak muda lagi, sudah sepatutnya aku turun tahta" ucapnya.
"Jika begitu, Daendra yang akan naik" Arion melanjutkan perkataan Hanza. "Tetapi... kalau Ayah turun, maka.."
"Ya, Arion, aku akan pergi mengasingkan diri, seperti pendahuluku dulu"
Arion menunduk sambil mengepal tangannya dengan erat. Sesuatu yang normal untuk sang raja turun dari tahtanya dan pergi mengasingkan diri. Tapi, dengan berpisahnya Arion dengan Hanza lagi, itu pasti akan membuatnya sedih.
"Aku percaya, dengan Daendra sebagai Raja dan kau sebagai pembimbingnya, Rabadar akan bertambah baik, jauh lebih baik"
"Apa Ayah sudah memikirkannya matang-matang?" tanya Arion.
__ADS_1
Hanza mengangguk sambil tersenyum. Tampaknya, pria tua ini memang sudah bertekad.
"Baiklah. Apapun keputusan Ayah, aku tetap menghormatinya"
"Terima kasih"
"Umm.. Arion"
Ditengah-tengah itu semua, Elena memanggil Arion. Ia berdiri diambang pintu. Whiteblood ini menghampirinya, mereka berjalan keluar.
"Ada apa?"
***
"Foma yang melakukan semua ini?"
Arion benar-benar dibuat tercengang dengan pemandangan yang ia tatapi saat ini.
Dihadapannya, ada bekas pertarungan yang menyebabkan beberapa orang bertopeng dan dua kereta gerobak tergeletak dijalanan. Sudah dipastikan, orang-orang bertopeng ini adalah bandit dan mereka tewas.
Hal yang tidak kalah aneh adalah, Foma. Hewan itu duduk ditengah-tengah mereka, bersikap seperti anak anjing.
"Ya, sepertinya begitu" Elena membenarkan dugaan Arion.
Foma berlari menghampiri Arion lalu melompat ke tubuhnya. Ia tampak jinak dan menggemaskan jika berada didekat Arion, tapi bisa menjadi mimpi buruk jika mencari masalah dengannya. Sepertinya, Arion mendapat senjata baru.
"Uuh, tampaknya ada yang sudah menjadi pahlawan" Arion merasa bangga pada Foma, ia menggelitiki perut Foma. Hewan itu tampak kesenangan. Di sisi lain, Elena hanya menghela napas melihat kemesraan mereka.
Sriing
Alarm sensor milik Arion berbunyi. Ini tanda bahwa mereka tidak sendirian dijalur ini. Jalur ini merupakan jalur antar desa yang diapit antara dua hutan. Di sisi kanan dan kiri merupakan pepohonan yang menjulang keatas.
"Kirimu, Elena"
Mendapat perintah dari Arion, Elena melempar pedangnya kearah yang dimaksud. Suara erangan seseorang terdengar setelah Elena melempar pedangnya itu.
"Kita ikuti dia" Arion melangkah lebih dulu. Ia meletakkan Foma diatas kepalanya.
Mereka memasuki hutan. Ada noda darah di tanah dan terus masuk kedalam hutan, seperti meninggalkan jejak.
"Ayo, seharusnya dia tidak jauh" ucap Arion.
Mereka terus berlari mengejar orang tersebut. Ia berlari sangat cepat, walau ia terluka.
Tiba-tiba, Elena dan Arion berhenti secara bersamaan ditengah hutan. Mereka melihat kesekeliling, merasakan ada bahaya yang mendekat.
__ADS_1
"Didepan" bisik Elena.
Arion mengangguk, ia juga merasakan kehadirannya. Tidak lama kemudian, suara geraman muncul dihadapan mereka. Yang menghalangi pandangan mereka dengan sumber suara hanya semak-semak belukar.
Mereka diam dan bersiaga. Arion dengan pedangnya, sedangkan Elena dengan kedua belatinya. Mereka melangkah mundur dengan perlahan secara bersamaan.
Tiba-tiba...
"Roaaarrr!!!"
Auman disertai pemiliknya muncul dari sana. Menerjang kearah mereka berdua, Arion dan Elena segera melompat kesamping, menghindari terkamannya.
Makhluk ini mirip harimau, hanya saja, ia berwarna hitam dan lorengnya berwarna putih. Ia memiliki taring besar, bermata kuning, memiliki sepasang tanduk dikepalanya dan mengeluarkan napas api.
"Cremon!" seru Arion.
"Tetap tenang, Arion" kata Elena. Setelah itu ia melompati hewan itu sambil melempar sebuah belati ke punggung Cremon tersebut.
Cremon itu mengaum karena menerima serangan dari Elena. Arion berlari kesampingnya, disana ia melihat pedangnya Elena. Dengan dua tangan mengulur kedepan, Arion menyemburkan es ke kaki Cremon itu.
Selagi Arion membekukan kaki makhluk itu, Elena mengibaskan tangannya, beberapa dahan pohon datang untuk melilit tubuh Cremon tersebut.
Tidak butuh waktu lama untuk mereka bisa mengunci pergerakannya. Harimau itu terperangkap dan tidak bisa bergerak. Ia hanya mengaum, lalu menjadi semakin lemas. Pada akhirnya, ia menjadi lesu dan duduk berlutut.
Tubuh besar itu perlahan berubah menjadi seorang manusia. Ia laki-laki, tanpa busana dengan posisi masih terikat oleh dahan pohon Elena. Ia tampak pingsan, pedang Elena masih tertancap di tubuh pria itu.
Elena langsung mencabut kembali pedangnya dari tubuh pria itu. Darah segar mengalir dari tubuhnya, tapi hal itu tidak membuat keduanya menjadi iba kepadanya.
"Apa yang dilakukan Cremon disini?" tanya Elena.
Arion merendahkan tubuhnya, mencoba meneliti pria Cremon ini. Jika dia Cremon, maka dia ada hubungannya dengan Ethinos.
"Menurutmu?" Arion bertanya balik tanpa menoleh ke Elena. Ia memegang tangan pria itu, melihat sebuah simbol yang menjadi khas organisasi Ethinos.
"Apa dia mencoba memata-matai kita?" Elena menduga-duga.
"Entahlah. Pria ini masih hidup, kita bisa menginterogasinya di rumah. Bantu aku membawakannya"
***
Halo Pemirsa.
Pertama-tama, saya mengucapkan maaf, karena tidak upload untuk waktu yang cukup lama.
Dengan uploadnya The Last Whiteblood pada kali ini, maka novel ini akan terus dilanjutkan sampai tamat.
__ADS_1
Jadi, stay tune. Oke?