The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Ethinos, Merubah Segalanya


__ADS_3

"Aku merasakan firasat buruk" ucap Kenneth sambil menoleh kebelakang.


Benar saja. Tepat setelah ia mengatakan itu, muncul tiga hewan raksasa bertanduk yang dipenuhi zirah disekujur tubuh mereka. Mereka berkaki empat, berukuran 10 meter dan mirip seperti banteng purba. Mereka menghantam tembok kokoh ini hingga membuat lobang besar, sehingga jadilah gerbang masuk disana.


Luke menjadi pucat, tapi setelah itu ia menyuruh seluruh rekannya untuk mencari tempat perlindungan. Mereka tidak akan bisa lolos dari serudukan ketiga hewan ini jika berada ditanah lapang.


"Dorum Art - Aiyesh!"


Luke menembak ketiga anak panah. Saat diudara, ketiganya berubah menjadi ular sepanjang 5 meter.


"Seharusnya itu menahan mereka" gumamnya. "Cepat lari!" teriak Luke.


Tidak hanya ketiga hewan itu saja yang muncul, ada puluhan orang dari ras Demi-Human dengan berbagai jenis berlari masuk dengan membawa senjata mereka.


"Sial, apa yang terjadi? Itu bala bantuan mereka?" tanya Kenneth sambil berlari.


"Kurasa tidak" Luke menjawab sambil memandang puluhan prajurit kekaisaran sedang bertarung sengit dengan pasukan Demi-Human itu.


Di lain pihak, Leni berlari sendirian sambil menganalisis keadaan. Setelah kejadian hujan hewan tadi, ia tidak dapat melompat antara gedung ke gedung karena sebagian besar sudah runtuh.


"Leni! Bagaimana?" Mifori datang dengan menunggangi seorang Centaur.


"Buruk. Area ini dikepung, kita tidak bisa kabur. Satu-satunya cara adalah melawan dan masuk ke kastil dengan cepat" lapor Leni.


"Ini sungguh diluar dugaan" gumam Mifori. "Kau butuh tumpangan?"


Kembali ke tempat Arion.


Situasi disini juga tidak kalah memanas. Faesa sedang dipojokkan oleh Eden dan Alice, sedangkan Fieyni yang awalnya berada dalam mode Cremon kini disibukkan oleh beberapa Undead.


Blaar!


Eden mengarahkan sepuluh bola api hitam kearah Faesa hingga terjadi ledakan disekitar gadis itu. Tidak mau kalah, Alice menyatukan jemari tangannya, seketika muncul sepuluh pasak besi dari langit lalu mengunci tubuh Faesa.


Mereka berdua mundur untuk mengambil jarak aman sekaligus menunggu kepulan asap bekas ledakan itu reda.


Setelah menghilang, terlihat Faesa yang berlutut dengan sepuluh pasak besi yang mengunci tubuh dan gerakannya. Pandangannya tertunduk seperti orang yang sudah menyerah.


"Menyerahlah, Faesa" ucap Eden. "Tarik mundur Ethinos dari sini dan serahkan dirimu ke Pengadilan Benua"


Tidak ada jawaban darinya untuk sementara ini. Ia tertawa pelan lalu kemudian terbahak-bahak layaknya orang yang kesurupan. Arion sungguh tidak menyukai tawa sinis dari Faesa, ia ingin menghampiri gadis itu lalu menamparnya, namun tentu saja ia tidak bisa melakukannya sekarang.


"Pengadilan Benua? Apa aku sudah berbuat kejahatan yang besar?" Ia menatap kearah Eden sambil masik cekikikan. "Kalian anggap kami jahat, begitu?"


"Menghancurkan dua puluh desa, membantai seluruh orang didalamnya, apa itu bukan kejahatan?" Alice kini yang bersuara.


"Aku hanya menghancurkan desa manusia, jika ras lain tidak akan kuhancurkan, hanya manusia" jawab Faesa.


"Manusia tetap makhluk hidup dan membunuh makhluk hidup adalah kejahatan besar" ujar Eden.


"Ha? Begitukah? Lalu, perbudakkan dan pembunuhan pada ras Demi-Human bukan suatu kejahatan?" Faesa bertanya sambil mengangkat satu alisnya.


"Gadis ini..." Retian menggumam. Arion dan Daendra mendengarnya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Daendra.


"Dia begitu terobsesi sekali untuk membalas dendam pada manusia" jawab Retian sambil tetap memandang kedepan. "Apa kalian tahu ia ada dendam?"


Keduanya berpikir sejenak sebelum menggeleng. Mereka tidak tahu selama ini Faesa memiliki dendam, bahkan diantara mereka berdua, ia yang paling ceria dan tidak menunjukkan rasa kebencian.


"Apa yang Sava lakukan?" tanya Retian.


Arion melebarkan mata, ia merasakan sesuatu yang besar datang dari belakang mereka. Belum sempat Arion menoleh, dinding hitam langsung muncul untuk melindungi mereka dari sesuatu yang besar tersebut.


BLAAR!!


Sekelebat cahaya putih menghantam dinding hitam penghalang yang ada dibelakang mereka bertiga lalu meledak dan menciptakan goncangan.


Daendra yang baru menyadari langsung pucat pasi. Arion sadar ia tidak mengeluarkan sihir, apalagi Daendra, tapi Retian langsung menciptakan dinding ini untuk melindungi mereka.


Apa-apaan Necromancer ini?


Sesosok orang muncul dari atas langit sambil mengeluarkan angin kuat untuk mematahkan sepuluh pasak besi yang mengurung Faesa. Sesesok itu mendarat disamping Faesa, dialah Yora. Seorang Bunglon yang memiliki senyum mengerikan.


"Ternyata kau" raut wajah Eden semakin menggelap, ia tahu Yora akan datang tapi tidak menduga akan secepat ini berhadapan dengannya.


"Kau kenal?" tanya Alice.


"Ya, dia salah satu orang yang pernah membuatku mengucurkan darah" jawab Eden yang tetap memandang dingin ke Yora.


Yora tersenyum lebar, apalagi saat melihat Eden.


"Lama tidak jumpa, Mata Emas, apa kabarmu sekarang?" tanya Yora, basa-basi.


"Oh, maaf kalau begitu" Yora memiringkan kepalanya. "Tapi, tidak mungkin aku membiarkan temanku ini dikeroyok begitu saja, harus ada lawan yang setimpal, bukan?"


"Ya, kau benar" Eden mengangguk ringan. Ia melirik ke Alice lalu memberi kode, Alice mengangguk.


"Bagaimana kita pindah ketempat lain yang lebih sunyi? Disana kita bisa bertempur sepuas mungkin" tawar Yora.


"Baiklah. Sampai jumpa disana" Eden membuka portal, lalu masuk kedalamnya.


Yora pun telah pergi kesuatu tempat yang katanya akan menjadi arena bertarung antara dirinya dan seorang Shadow Emperor, Eden Blacklaws.


Kini tinggal Faesa dan Fieyni yang baru saja menyelesaikan pertarungannya.


"Fieyni" bisik Faesa yang membuatnya menoleh kearahnya. Faesa membisikkan sesuatu, Alice tidak dapat membaca gerakan bibir dari Faesa karena tertutupi oleh tangannya.


Alice menoleh Retian lalu kembali ke Faesa. Tampak Fieyni mengerutkan dahinya dan tampak bingung.


"Lalu, kau sendiri bagaimana?" bisik Fieyni.


"Aku tidak apa. Sebentar lagi mereka datang" jawab Faesa, meyakinkan.


"Baiklah" Fieyni langsung pergi dari sana.


Alice memutar pedang ditelapak tangannya. "Bagaimana? Sudah siap?"

__ADS_1


"Ya" Faesa mengangkat gada yang terletak ditanah. "Ayo kita-"


Trang!


Sebuah panah melesat dan bisa ditangkis oleh Faesa. Anak panah itu berputar diudara lalu tertancap ditanah belakang Faesa.


Luke tiba. Ia berdiri disamping Daendra. Seluruh orang menatap kearahnya.


"Psycho Archer?" Alice langsung mengenali Luke karena julukannya.


"Nona Alice" Luke membungkukkan badan sambil tersenyum, tanda hormat pada gadis itu. "Suatu kehormatan dan juga keterkejutan bertemu dengan anda disini"


"Aku juga begitu" Alice tersenyum lalu kembali menoleh ke Faesa.


"Apa yang kau lakukan disini? Bukannya kau bersama Kenneth?" tanya Daendra.


"Karena Ethinos, kami terpaksa mengubah formasi dan.. mengenai Kenneth, ia bersama Ayahmu dan Indra, sekutumu itu" jelas Luke. Ia menoleh ke Retian. Awalnya mereka saling diam dan memandang satu sama lain, bahkan Luke memasang wajah bodoh sambil mengerjap beberapa kali.


"GYAAA!!!"


Ia berteriak, hal itu membuat Arion dan Daendra kaget. Tapi, Retian tetap memasang tatapan datar dan menoleh kedepan, mengacuhkan teriakan Luke.


"I-ini... dia ini.. Necromancer waktu itu! Hey, kenapa kau disini?! Nona Alice, tangkap Necromancer ini, dia penjahat!"


"Luke" panggil Arion, tapi Luke masih mengoceh keberadaan Retian, akhirnya ia ditampar Daendra.


"Dia ini datang bersamanya" jelas Daendra geram seraya menunjuk ke Alice.


"Ooh.." Luke akhirnya paham dan saat itu juga Retian memberinya tatapan yang mengancam.


"Apa kabar, bocah?"


"Sial, wajahmu jelek sekali" respon Luke.


"Hey, apa sudah selesai?" Diujung sana, Faesa telah menunggu.


Luke kembali fokus dan mengangkat busurnya. "Hey, Arion, Daendra, sebaiknya kalian pergi ke kastil"


Keduanya sama-sama menoleh ke Luke. Dengan kerennya ia berlagak seperti orang yang akan menanggung segalanya.


"Biar aku yang menahan Faesa" ucapnya.


Mendengar ucapan Luke, Retian protes.


"Bukan kau saja yang akan melawannya, bocah"


"Jangan panggil aku bocah lagi! Apa kau mau kuhajar?!"


Arion tertawa, begitu juga dengan Daendra. "Kalau begitu, kami serahkan kepada kalian" mereka berbalik lalu pergi dari sana.


"Jangan mengacaukannya, ya" gumam Luke sambil memandangi punggung mereka yang perlahan menjauh.


"Mereka tidak akan mengacau" sahut Retian. "Terlebih lagi, Whiteblood itu"

__ADS_1


"Ya, kau benar"


__ADS_2