The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Keturunan Sang Naga


__ADS_3

"Jadi, di sini rumahnya" kata Luke dengan mulut yang menganga.


"Ini sama saja dengan rumah seorang Gubernur!"


Mereka bertiga tercengang ketika melihat rumah Kepala Desa yang besar dan mewah. Rumahnya memang terletak di tepi danau dan memiliki sebuah pelabuhan pribadi untuk perahu yang ingin melintas ke seberang danau.


Rumahnya bertingkat tiga dengan arsitektur mewah. Kepala Desa memiliki taman yang besar di depan rumahnya serta air mancur putih. Lalu, di sana ada empat menara penjaga.


Ada beberapa Centaur yang berkeliling di sekitar rumah dan sepuluh pria dengan baju zirah.


"Ketat sekali" kata Glenn.


"Hampir seperti pengawal seorang Raja" Arion berdecak kagum. Mereka mulai bergerak dari tempat mereka bersembunyi.


Arion ingin langsung menemui penjaga gerbang rumah untuk meminta masuk, tapi Glenn memegang pundak Arion.


"Jangan! Mungkin itu akan berbahaya, kita akan ditembak mati sebelum masuk ke dalam"


"Kita kan belum tahu" jawab Arion.


"Glenn benar, mungkin saja berbahaya. Kau tidak ingat reaksi para warga?" tanya Luke.


Arion terdiam. "Lalu, bagaimana caranya kita menemui Kepala Desa?"


Luke tersenyum lebar. "Serahkan kepadaku"


Seorang prajurit manusia menguap sambil berjalan, ia terlihat mengantuk namun tetap berjaga. Ketika ia melangkah melewati pagar tanaman, ia ditarik masuk ke dalam. Dua penjaga lain juga melewati tempat yang sama dan juga ditarik ke dalam pagar tanaman itu.


Beberapa saat kemudian, Arion, Luke dan Glenn keluar dari sana dengan penampilan seperti tiga prajurit tadi. Mereka merampas pakaian ketiga prajurit itu dan membuat ketiganya kehilangan kesadaran di dalam pagar tanaman itu.


"Selesai" Luke tersenyum.


"Ayo masuk" Arion melangkah terlebih dahulu.


Arion dan dua temannya berjalan dengan bersikap seolah-olah seperti prajurit. Mereka bertiga berbaur dengan baik di sana. Para pengawal bahkan penjaga menara tidak menyadari penyamaran mereka.


Ketika mereka melangkah ke teras rumah, seorang Centaur memanggil mereka dari belakang. Ketiganya terdiam membeku, kaget olehnya.


"Kalian mau ke mana? Ingin meninggalkan pos kalian?" tanya Centaur itu.


Arion membalikkan badannya ke belakang secara perlahan, begitu juga dengan Luke dan Glenn. Keringat dingin bercucuran di wajah mereka dan Luke menelan ludahnya sendiri.


"Hm?" Centaur itu menaikan salah satu alisnya.


"K-kami ..." Arion berusaha mencari alasan, namun suaranya terpotong oleh suara lelaki dari dalam rumah.


"Di situ kalian ternyata, cepat bantu aku" ucapnya.


Lelaki itu memakai pakaian seperti para bangsawan. Rambutnya pendek berwarna hitam dan membawa pedang di pinggangnya.

__ADS_1


Arion mengangguk cepat, mereka masuk bersama lelaki itu ke dalam rumah. Centaur tersebut memandang mereka dari luar, Luke menatapnya sedetik melalui bahu. Ia bergidik ngeri dan kembali menatap ke depan.


"Penyamaran kalian bagus juga" kata lelaki itu. Sontak ketiganya menjadi kaget dan saling berpandangan.


Mereka berempat berhenti, lelaki tersebut berbalik dan menatap mereka sambil tersenyum tipis.


"Dari mana ... kau tahu?" tanya Arion.


"Aku adalah putra Kepala Desa, namaku Mike" ia mengulur tangannya kepada Arion yang disambut perlahan. "Kalian pasti utusan dari akademi?"


"Benar. Kami ke sini untuk ujian" jawab Arion.


"Ya, aku tahu. Kalian lebih baik dari utusan kerajaan" kata Mike.


Glenn mengerutkan dahinya. "Apa maksudmu?"


"Kalian akan tahu nanti, tapi kalian harus bertingkah seperti prajurit" Mike kembali berjalan ke depan.


Awalnya Arion dan kedua temannya bingung dengan ucapan Mike, tapi mereka tetap menurut dan jalan mengekori Mike.


Mereka memasuki koridor yang dipenuhi prajurit yang berdiri berjejer di dinding sambil memegang tombak. Ada sepasang pintu di ujung koridor, ke sanalah tujuan mereka.


"Aku ingin bertemu dengan Ayahku" ucap Mike pada pengawal pintu.


Prajurit itu menyipitkan matanya pada Mike, tapi Mike tidak mempedulikannya. Mereka pun dibiarkan masuk. Di dalam sana ada seorang pria paruh baya dengan kumis dan janggut yang tebal. Pria itu mempunyai rambut yang panjangnya sebahu. Ia sedang duduk lesu di kursinya.


"Ayah" panggil Mike. Pria tersebut mengangkat kepalanya keatas, menatap Mike dengan mata lelahnya.


"Siapa mereka?" tanya Kepala Desa.


"Mereka utusan dari Akademi Gyrawart, Arhav" jawab Mike.


"Benarkah? Hmph! Tampaknya pemerintah kerajaan sudah mulai mengacuhkan kita" ujar Kepala Desa itu, kesal.


Desa Egrit berada dibawah pemerintahan Kerajaan Gavlium yang berkuasa di sebelah perbatasan utara Kerajaan Rabadar.


"Maaf, Pak ... kenapa anda begitu kesal sekali? Apa permasalahannya?" tanya Arion.


"Kalian dari akademi tidak tahu apa-apa, ya? Baiklah, akan kujelaskan"


Kepala Desa itu bangkit dari duduknya. Berdiri menatap Arion dan kedua temannya dengan tajam.


Ia menceritakan bahwa Desa Egrit kena serangan dari kawanan besar para Goblin. Bersama-sama dengan sejumlah Orc, mereka menyerang desa sampai mereka di paksa menyerah.


Kepala Desa sudah tidak punya pilihan lain selain benar-benar menyerah. Prajurit penjaga desa dan sebagian besar laki-laki di desa sudah dibunuh, dengan begitu kekuatan desa menurun drastis dan utusan kerajaan juga belum datang.


Di tengah-tengah kepanikan itu, seorang pria berjubah hitam dengan tudung yang menutupi kepalanya tiba. Ia memegang tongkat sebagai senjatanya. Kepala Desa bertambah panik dengan kemunculannya.


"Siapa dia?" tanya Glenn.

__ADS_1


"Namanya adalah Retian dan dia seorang Necromancer"


"Nec-Necromancer?" Luke dibuat sangat kaget. Ia tidak pernah menduga akan mendengar kelas itu di desa ini.


Kepala Desa kembali bercerita. Retian mengatakan kepadanya bahwa ia harus menyerahkan keturunan Sang Naga kepadanya, jika tidak desa ini akan hancur sepenuhnya. Kepala Desa tidak tahu apa-apa tentang itu, Retian pun mengancam akan menyiksanya dan keluarganya jika berbohong tapi Retian bisa melihat Kepala Desa memang jujur.


Lalu, Retian menjalin kesepakatan dengan Kepala Desa untuk bekerja sama menemukan keturunan itu. Tapi, selama mereka sedang mencari keturunan tersebut, gerak-gerik Kepala Desa diawasi dengan ketat dan masyarakat desa tidak boleh keluar dari desa ini.


"Segala cara sudah kukerjakan untuk lepas dari pengawasan Retian, salah satunya meminta bantuan kerajaan tapi mereka tidak mau tahu dan tidak peduli.


Kalian lihat pengawal-pengawal di luar itu? Mereka bukan pengawalku, seluruh prajurit yang ada di desa ini sudah dibunuh atau dilempar ke penjara bawah tanah" ucap Kepala Desa.


Glenn melihat keluar jendela, memperhatikan seluruh prajurit itu.


"Mereka bukan makhluk hidup, melainkan mayat. Mereka semua adalah boneka-boneka dari Necromancer itu, Retian" Kepala Desa sudah berada di puncak amarahnya, ia hampir kehilangan kendali pada dirinya.


"Ayah ..." Mike memberikannya segelas air. Kepala Desa itu meminumnya habis.


Arion terlihat berpikir. Ia tidak mengira akan serumit dan sesulit ini. Ia tidak boleh mengambil langkah yang salah atau tidak akibatnya akan fatal.


"Necromancer itu bukan tandingan kita saat ini, aku juga belum tahu kekuatannya" ucap Arion.


"Tapi .. kita harus cari tahu dulu siapa keturunan dari Sang Naga ini, baru kita pikirkan cara lain untuk menghadapi Necromancer ini" lanjutnya.


***


Sambil bersenandung, Rena sibuk memetik daun teh. Sesekali ia mengusap keringat di dahinya. Walau matahari terik diatasnya, ia tetap bekerja dan tidak mengeluh. Rena terlihat sangat menikmati pekerjaannya ini.


"Eh?" Rena dikagetkan oleh tangan seseorang yang mengambil daun teh yang ingin ia ambil. Rena menoleh ke sumbernya, ternyata pelakunya adalah Daendra.


"T-Tuan? A-apa yang anda lakukan disini? Anda 'kan masih terluka" tanya Rena, khawatir sekaligus kaget.


"Aku tidak ingin berhutang padamu, jadinya biar aku membantumu bekerja" jawab Daendra sambil memasukan daun teh ke dalam bakul yang ia bawa.


"Tapi, aku merasa ikhlas menolongmu" kata Rena.


"Iya, aku hanya tidak ingin berhutang padamu" kata Daendra dengan nada yang meninggi. Bukannya takut atau tertekan, Rena malah ingin tertawa.


"Hey, apanya yang lucu?!" Daendra tambah kesal.


"T-tidak, entah kenapa kalau anda marah-marah seperti itu kelihatannya lucu" jawab Rena sambil tersenyum menahan tawa.


"Kau aneh. Hampir mirip dengan Arion bodoh itu" gerutu Daendra.


"Saudara anda itu?"


"Dia bukan saudaraku!"


Dari kejauhan, Goblin bermata putih memperhatikan desa dari kejauhan. Ia bersama dengan beberapa Goblin lainnya, misinya adalah mencari keberadaan keturunan Sang Naga itu.

__ADS_1


"Cari keturunan itu dan jangan ada yang menculik warga desa, atau tidak aku yang akan dibunuh oleh Retian. Kalian cari petunjuk atau semacamnya, kali ini kita harus tahu keberadaannya"


Goblin itu mengembang senyum liciknya.


__ADS_2