
Suara terompet dan suara drum didendangkan ketika rombongan Raja memasuki kota Rabadar.
Masyarakat kota itu telah menanti-nanti kedatangan raja mereka. Seisi kota telah dihiasi sebagus mungkin hanya untuk menyambut kedatangannya.
Hanza melambai ke masyarakatnya sambil tersenyum. Arion terpana dengan pemandangan kota besar itu, ini baru kali pertama ia berkunjung ke kota besar. Ia duduk di kuda yang sama dengan Thomas. Pria botak ini mengelus kepala Arion --yang duduk di depannya-- sesekali.
"Hidup Yang Mulia Hanza!"
"Hidup Yang Mulia Hanza!"
Nama Hanza mulai dielu-elukan saat memasuki istana. Di sana, Sang Ratu bersama petinggi kerajaan beserta keluarganya telah menanti di depan istana. Istana besar yang dicat dengan warna putih dan emas dan dicoraki dengan berbagai relif kuno membuat Arion tambah kagum.
Hanza menghentikan langkah kudanya, diikuti oleh rombongan yang ada di belakang. Ia pun turun dan melangkah menghampiri mereka, Thomas dan Arion berjalan di belakangnya.
"Selamat datang kembali, Yang Mulia" sambut Perdana Menteri. Seorang pria yang sudah beruban dengan wajah keriput dan memakai seragam hitam.
"Terima kasih, Hagiro" ucap Hanza.
Di sisi lain, Daendra baru sampai ke depan istana. Dominick langsung menarik bocah itu ke sampingnya dengan raut wajah kesal.
"Kau terlambat, untung saja tidak ada yang melihat" kata Dominick.
Mata Daendra tertuju pada satu arah, yaitu Arion.
"Jadi, itu dia" gumam Daendra.
Lenia --nama Sang Ratu-- melangkah menghampiri Hanza. Ia tersenyum lembut, lalu sedetik kemudian pandangannya tertuju pada Arion yang menatapnya balik.
Lenia segera mendekati Hanza dan membisikkan sesuatu di telinganya. "Ya ampun, dia manis sekali"
Hanza terkekeh lalu mengajak semuanya masuk ke dalam istana tak terkecuali Dominick dan Daendra. Terkhusus untuk Daendra, hatinya merasa sakit ketika Ayahnya tidak menanyai dirinya, padahal mereka sudah berpisah selama dua bulan lamanya.
Seorang putri dengan jubah putih dan mahkota kecil di kepalanya menghampiri mereka. Dia adalah putri satu-satunya Dominick, ia bernama Yaena.
"Astaga, Yang Mulia, aku tidak tahu kau kembali, maafkan aku" Yaena menunduk.
"Yaena, tidak apa" kata Hanza.
Pandangan Yaena berpindah menuju Arion. Matanya langsung berbinar dan senyum mulai mengembang di wajahnya.
"Astaga! Dia manis sekali! Siapa namanya?" Yaena menghampiri Arion dan duduk berlutut di depannya. Yaena mengelus pipi Arion dengan jari telunjuknya.
"Arion. Mulai sekarang ia adalah bagian dari kita" jawab Hanza sambil tersenyum. Ia senang keluarganya menerima kehadiran Arion, pikirnya.
Dominick menggeleng pelan melihat tingkah Yaena.
"Oh iya, bagaimana kalau kau ajak saja Arion ini berkeliling, tapi ia harus mandi dulu" kata Lenia, tersenyum ramah.
"Bolehkah?! Oh, maksudku, tentu saja" Yaena hampir saja melompat kegirangan. Ia memegang lengan kurus Arion dan mengajaknya berkeliling istana. Arion menoleh ke belakang melalui bahu, Hanza melambai kepadanya, bocah itupun membalas lambaian dengan tangan kecilnya.
"Kak Yaena sudah diambil alih oleh iblis kecil itu" bisik Daendra geram.
"Bagaimana kalau kau ikuti mereka?" tanya Dominick.
"Tidak, aku ingin bicara dengan Ayahku" jawab Daendra.
***
"Nah, sudah bersih dan wangi. Kau tambah tampan" Yaena mengusap-usap rambut Arion dengan handuk.
Arion sudah diberi pakaian layaknya seorang bangsawan, tubuhnya sudah tidak kumal seperti sebelumnya malahan ia terlihat seperti bayi yang baru lahir. Kulitnya putih dan lembut, rambut hitamnya yang lebat disisir ke kanan dengan rapi.
"Ya ampun! Kau lucu sekali, aku ingin mencubitmu!" Yaena tak kuasa menahan kegemasannya pada Arion.
"Hm ... tampaknya kau lebih muda beberapa tahun dari Daendra. Astaga! Aku hampir lupa memperkenalkan diri ..." Yaena menggeleng pelan.
"Mulai saat ini kau panggil saja aku dengan sebutan Kak Yaena, paham?"
Arion menggangguk. "Paham"
Dengan satu kalimat itu, jantung Yaena ingin copot karena sudah tidak sanggup melihat keimutan anak itu.
__ADS_1
"Ayo, kita jalan-jalan" Yaena mengenggam tangan kecil Arion. Mereka berjalan di koridor yang tembus mengarah ke taman. Taman istana sangat besar dan indah dengan air mancur raksasa di tengah-tengahnya serta taman bunga tulip di setiap sisi.
"Ini taman istana. Kau bisa bermain-main disini"
Alih-alih memperhatikan taman, Arion malah duduk berjongkok, melihat seekor jangkrik yang hinggap di rerumputan. Yaena menatap bingung Arion, diantara seluruh pemandangan yang ada di taman ini, Arion malah lebih tertarik pada seekor jangkrik.
"Energi alami yang ada di jangkrik ini sangat menenangkan" kata Arion.
Yaena melebarkan matanya, kaget mendengar perkataan Arion.
"A-apa ...? Tunggu sebentar, dia mengatakan apa tadi? Energi alami? Arion bisa merasakan energi jangkrik ini? Kalau iya berarti.. Arion seorang Sensor Knight! Tidak ... kemampuan itu masih terlalu awal untuk Arion" batin Yaena.
Jangkrik itu melompat dari sana, Arion kembali berdiri dan mengenggam tangan Yaena, membuat gadis itu buyar dari lamunannya.
"Arion, kau bisa merasakan energi jangkrik tadi?" tanya Yaena.
Arion mengangguk. "Energinya mirip seperti aliran air sungai"
"Mustahil, kan? Arion ... kau ini berbakat atau kutukan?" Yaena menggeleng sendiri, menghilangkan pikiran negatifnya, ia pun kembali mengajak Arion berkeliling.
***
"Benar, aku akan mengangkat Arion sebagai anakku. Akan kuurus data-datanya di Kementrian" Hanza bangkit dari tahtanya, diikuti oleh seluruh orang yang ada di ruangan itu.
"Tapi, Yang Mulia, kita belum tahu dari mana asal-usul anak itu, kita tidak tahu dampak apa yang diberikan olehnya" sahut Hagiro, membujuk Hanza untuk membatalkan niatnya.
"Aku sudah memastikan ia tidak berasal dari luar keturunan Bangsa Garvens" jawab Hanza, meyakinkan.
"Yang Mulia, pikirkan kembali" Hagiro masih tidak setuju.
"Keputusanku sudah mutlak, Arion akan menjadi Pangeran kedua setelah Daendra dan menjadi bagian keluarga kerajaan" kata Hanza dengan tegas.
"Yang Mulia, kenapa kau begitu yakin?" tanya Dominick yang dari tadi hanya diam.
"Ada satu hal yang tidak kau ketahui. Walau bagaimanapun juga, Arion sudah dipastikan menjadi putraku. Rapat ini ditutup" Hanza melangkah keluar. Sesampainya ia diluar, ia berhenti karena Daendra berdiri di jalannya dengan tangan dilipat di dada.
"Jadi, benar kalau Ayah ingin mengangkatnya menjadi anak Ayah" kata Daendra.
"Ayah bukan tidak sempat! Ayah sudah melupakanku karena anak itu! Aku tidak menyukainya, Yah!" teriak Daendra.
"Apa maksudmu? Arion bisa menjadi adikmu, kalian bisa tumbuh menjadi dua saudara yang tangguh" bujuk Hanza.
"Bohong! Aku membencinya!" Daendra berlari meninggalkan Hanza. Hanza menghela napas panjang seraya memijat pelipisnya, ia tidak menyangka harus sampai begini.
Hanza berjalan menuju balkon yang mengarah langsung ke taman. Disana ia dapat melihat seisi taman dan kebetulan disana juga ada Arion dan Yaena. Pikirannya mulai berkabut tentang Arion yang ia percaya sebagai keturunan terakhir klan Whiteblood.
Ia pun dilema, di satu sisi, Daendra memiliki kecemburuan terhadap Arion dan petinggi kerajaan juga masih ragu kepada Arion, di sisi lainnya dengan Arion sebagai keturunan terakhir Whiteblood yang bisa merubah takdir dunia serta mencari tahu asal usul pulau misterius itu.
***
Malam tiba, penjaga malam pun mulai berjaga. Pencahayaan di istana dihidupkan dengan sihir.
Di ruang makan istana, ada meja besar di tengah-tengah ruangan, bisa untuk 6 sampai 10 orang. Para pelayan terus berdatangan untuk menghantarkan makanan. Tanpa mereka sadari, ada seorang anak kecil berdiri tak jauh dari sana.
Ini baru kali pertama Arion melihat makanan dalam jumlah sebanyak itu.
"Kau Arion, ya?"
Arion menoleh ke belakang, mendapati seorang gadis bertelinga rubah di kepala tersenyum padanya.
"Rubah?" ucap Arion dengan polos.
Faesa hampir jatuh karena Arion memanggilnya dengan sebutan rubah. Memang benar ia dari jenis rubah tapi tetap saja itu tidak sopan.
"Biar kuperbaiki. Aku Faesa dari ras Demi-Human jenis rubah" kata Faesa.
"Aku Arion dari ras Manusia"
"Ya, aku bisa melihatnya" jawab Faesa. "Seharian ini kau menghabiskan waktu dengan Kak Yaena, ya? Hm ... kalau pemuda-pemuda kota melihatnya pasti mereka akan iri padamu"
"Apa maksudmu? Kenapa mereka iri?" tanya Arion.
__ADS_1
Faesa menarik lengan Arion mendekat. "Biar kuberitahu, Kak Yaena itu idaman pemuda disini. Sudah rahasia umum sih kalau Kak Yaena termasuk putri tercantik di dua belas kerajaan di Provinsi Hagavini"
"Aku tidak mengetahuinya" Arion menggeleng.
"Kau ini anak mana sih? Tidak tahu semuanya. Ngomong-ngomong umurmu berapa? Kau lebih kecil dariku sepertinya" tanya Faesa.
"7 tahun"
"Hm, kau muda setahun dariku. Eh, apa kau sudah bertemu dengan Daendra?"
"Belum"
"Kalau begitu, ayo kita ke tempat Daendra"
"Tidak perlu, Faesa. Aku sudah disini" Daendra berdiri di tangga, menatap tajam kepada mereka. Faesa mengangkat alisnya melihat kedatangan Daendra.
Pangeran itu melangkah menuruni tangga, berjalan menghampiri mereka. Daendra berhenti di hadapan Arion, mereka saling bertatap-tatapan. Faesa bisa melihat tatapan amarah dari Daendra.
"Arion, itu namamu, bukan?" tanya Daendra.
"Iya"
"Cih, kau berasal dari mana? Sihir apa yang kau gunakan untuk memantrai Ayahku?"
"Wow! Wow! Wow! Tenang, tenang. Kalian baru bertemu" Faesa langsung menengahi mereka.
"Arion, jangan bilang kau aman dan tentram disini. Kau tidak akan bisa mendapat kasih sayang orang tuaku. Jangan ambil mereka dariku" ucap Daendra.
"Ya ampun, Daendra. Kenapa kau bicara seperti itu?" Faesa mendorong tubuh Daendra menjauhi Arion.
"Aku tidak mengambil kasih sayang orang tuamu" jawab Arion.
"Jangan bohong!" seru Daendra.
Suara tepukkan tangan membuat ketiganya menoleh ke sumber suara. Ternyata, itu adalah Yaena dengan dibaluti gaun biru, membuatnya tambah anggun.
"Kenapa kalian ribut-ribut disini?" tanya Yaena.
"Kak Yaena" Faesa menghela napas lega. "Daendra memarahi Arion" ucapnya.
Yaena menoleh ke Daendra. "Apa itu benar?"
Belum sempat Daendra menjawab, Faesa kembali mengoceh. "Ia menuduh Arion mencuri Ayahnya darinya"
"Ya ampun" Yaena menggeleng pelan, lalu ia menjewer telinga Daendra. "Jangan menuduh yang macam-macam, kalian saat ini bersaudara"
"Aduh! Aku tak sudi!" jawab Daendra.
"Apa?!" Yaena tersenyum kesal dan kembali menjewer Daendra. "Arion ini adikmu, kau harus menyayanginya"
"Aku tidak ingin!" Daendra melangkah pergi, tapi ia menabrak seseorang.
Yaena sedikit kaget, Faesa langsung bersembunyi di belakang Yaena. Daendra menengok keatas, melihat orang yang ia tabrak.
"Paman Dominick!"
"Tidak ada yang boleh ribut di acara makan malam ini" kata Dominick, dingin.
"Ayah" Yaena membungkuk hormat lalu kembali tegak. Kedua tangannya ia sembunyikan di belakang tubuhnya.
"Yaena, selamat ya. Saat ini kau menjadi kakak lagi" kata Dominick, namun tidak ada nada bahagia dari ucapannya.
"Aku senang Arion menjadi adikku" jawab Yaena.
"Oh begitu, baiklah. Tanggung jawabmu semakin besar" Dominick tersenyum tipis pada Arion, lalu melangkah pergi dari sana. Daendra mengikutinya seraya menatap sinis pada Arion.
Yaena membalikkan badannya, menatap Arion yang ada di belakangnya. Ia tersenyum lebar lalu mencubit kedua pipi Arion.
"Kau makin imut! Aku tambah gemas" ucapnya. "Tenang saja, aku akan ada di sampingmu. Kau tidak perlu takut pada Ayahku, dia memang mengerikan tapi dia tidak akan melukaimu"
"Ya?" Yaena tersenyum lembut sambil mengelus kepala Arion.
__ADS_1
"Ya" jawab Arion dengan senyuman.