
"Jadi, apa benar kalian membuat masalah dengan Instruktur Rovio?" tanya Varegha sambil meletakkan sebuah pensil di atas mejanya.
Kedua bocah yang berdiri di hadapannya ini hanya menunduk, tidak menjawab. Varegha mengambil sebuah surat diatas mejanya, lalu membacanya.
"Baik, sesuai laporan dari Instruktur Rovio, kalian akan dihukum. Kalian berdua akan diberi tugas untuk menjaga hewan ternak dari incaran Red Wolf"
"Apa?!"
Daendra terkejut mendengar tugas yang diberikan oleh Varegha kepada Arion dan anak itu. Ia sengaja menguping pembicaraan mereka dari luar dan tidak sengaja berteriak karena kaget.
Madam Varegha, Arion dan anak itu sama-sama menoleh ke luar tapi tidak ada siapa-siapa disana, karena Daendra kembali bersembunyi.
"Siapa di sana?" tanya Varegha, namun tidak ada jawaban.
Daendra menjadi terengah-engah. "Apa-apaan hukuman itu? Bisa-bisa bocah bersih-bersih itu bisa mati ... eh? Kenapa aku harus peduli?" batin Daendra, ia menggeleng pelan, heran dengan sikapnya ini. "Kalau dia mati, aku bisa terbebas darinya!" ia menjerit senang dalam hatinya.
"Oh, Daendra, kenapa di sini?" tanya Varegha yang sudah berdiri di samping Daendra, membuatnya kaget setengah mati.
"A-ah.. anu .. i-itu ..." Daendra tidak bisa berkata-kata dihadapan Madam Varegha.
***
Arion dan anak itu diantar ke padang rumput, tempat para ternak untuk berkumpul dan makan. Padang rumput itu berada di atas tebing, Arion melihat ke bawah tebing yang ternyata ada jurang yang sangat dalam.
"Tugas kalian melindungi hewan ternak ini sampai sore tiba. Jika ada yang terbunuh, kalian akan dihukum lebih berat lagi"
Setelah itu, pria utusan yang mengantar Arion dan anak itu pergi. Anak tersebut berjalan menuju tumpukan batang pohon yang ada di tanah untuk duduk, Arion memperhatikan wajah bocah itu yang ditutupi oleh rambut.
"Seharusnya kau tidak perlu melakukan semua ini" ucap anak itu.
"Melakukan apa?" Arion melangkah mendekatinya.
"Melakukan hal yang membuatmu kena hukuman" jawabnya.
"Kau ini siapa?" tanya Arion.
Ia memperlihatkan mata kirinya yang berwarna emas. "Kau akan tahu dengan sendirinya tanpa kuberitahu"
"Mata itu ...? Kau yang mengawasiku sebelumnya pada malam itu?"
"Kau mempunyai aliran Qube yang aneh. Entah kenapa aku mendapati aliran yang ... langka dalam dirimu"
"Langka? Apa maksudnya?"
"Aliran Qubemu sudah tidak ada di dunia ini. Mungkin ... aliran ini hanya berada di tubuh orang-orang tertentu" ia bangkit dari duduknya. "Misalnya orang-orang dari klan Reddust, Grenefour atau ... klan yang sudah punah, Whiteblood"
Arion mengerutkan dahinya. "Itu kekuatanmu, ya?"
"Ya"
"Siapa namamu?"
"Eden Blackclaws"
__ADS_1
"Aku Arion"
"AUUUU!!!" Suara lolongan serigala terdengar dari balik hutan, Arion dan Eden sama-sama menoleh kearah hutan.
Tidak lama kemudian, muncul sekawanan Red Wolf berjumlah 6 ekor. Hewan-hewan ternak menjadi panik dan mulai berlarian.
"Qube Art - Black Fire"
Eden mulai menyerang, bola api hitamnya berhasil mengenai seekor serigala.
"Ingat tugasmu" kata Eden.
"Qube Art - Ice Barrier!"
Arion menciptakan pelindung es di depan mereka untuk menghentikan gerakan dari Red Wolf. Namun, Red Wolf itu menyemburkan api dari mulutnya, sehingga es itu meleleh.
"Kekuatan dari Red Wolf adalah api. Qube Element Es mu tidak terlalu efektif untuk saat ini" sahut Eden.
"Kalau begitu, aku akan menggunakan Element angin" jawab Arion.
"Qube Art - Wind Attack!"
Arion menghembuskan angin ke Red Wolf. Tubuh hewan-hewan itu tergores karena angin.
"Apa itu ide bagus?" tanya Eden. Tidak lama kemudian, salah Red Wolf menyemburkan api dari dalam mulutnya. Karena bertabrakan dengan angin Arion, api itu menjadi besar dan berdampak buruk untuk Arion.
"Ya tuhan ..." kata Arion. "Qube Art - Ice Barrier!"
Bwoossh!
Eden mengeluarkan beberapa bola api hitam dari tangannya. Melesat menyerang Red Wolf satu per satu.
"Fokus, Arion" katanya datar. Eden dengan cepat, membunuh dua ekor Red Wolf dengan sekali semburan api.
Arion pun menggunakan Ilmu Qube menjadi senjatanya. Ia membentuk sebuah pedang es dari Elementnya. Ia melihat seekor Red Wolf berada di dekat hewan ternak.
Dengan sekali tendangan ke tanah, Arion melesat menuju Red Wolf itu. Ia menebasnya dan berhasil melukai tubuh serigala tersebut. Hewan itu mengerang kepada Arion lalu melayangkan cakarnya, tapi bisa ditangkis oleh Arion dengan cepat. Ario berputar setelah menangkis serangan Red Wolf itu dan kemudian ia berhasil menusuk jantung serigala tersebut dengan telak.
Bwoosh!
Tanah dipenuhi oleh api hitam. Serigala yang tersisa juga sudah mati akibat api itu.
"Itu yang terakhir" kata Arion, menghampiri Eden.
"Tidak, ini baru saja dimulai" Eden menoleh kedalam hutan. Ada banyak Red Wolf disana, menatap mereka dengan menunjukkan gigi-gigi mereka yang tajam.
Api hitam menyelimuti tangan kanan Eden. "Bersiaplah"
Dari kejauhan, Felim dan Madam Varegha mengawasi mereka. "Aku tidak tahu Red Wolf bisa sebanyak itu di sini" ucap Felim.
"Aku akan menghentikannya. Mereka tidak akan bisa menangani ini" ujar Varegha.
"Tidak, mereka bisa" kata Felim.
__ADS_1
Kembali ke Arion dan Eden. Mereka sedang bertarung dengan sekawanan Red Wolf.
Eden tak bosan-bosannya mengeluarkan api hitam dari tubuhnya untuk melukai mereka. Arion dari belakang berusaha melindungi Eden dari titik butanya.
Eden menendang seekor serigala ke langit, lalu dilanjutkan memasukkan bola api ke dalam mulut serigala yang lain. Ia mengambil ekor serigala itu lalu memutar-mutarkannya ke segala arah.
Arion datang dari atas Eden dan mendarat di atas kepala salah satu serigala. Es runcing terbentuk di telapak tangannya, kemudian ia tusukkan ke tubuh serigala yang berada di bawahnya itu.
Tak selesai sampai disana, Red Wolf lainnya melompat kearah Arion yang sedang dalam keadaan tidak siap. Tiba-tiba, muncul perisai api hitam dihadapannya, membakar tubuh Red Wolf itu sampai tidak bersisa.
"Terima kasih" ucap Arion.
Eden hanya diam dan tetap bertarung. Arion menebas serigala-serigala itu dengan pedang esnya, sedikit demi sedikit ia berhasil membunuh satu per satu.
"Baik, ini sudah cukup" kata Felim, ia melihat jumlah Red Wolf itu bertambah banyak. Felim mengetuk tongkatnya ke tanah. Para Red Wolf ini tiba-tiba berubah menjadi abu. Arion kaget dengan hal itu sambil memandangi sekitar.
"Sepertinya tugas kita sudah selesai" kata Eden.
"Ya.. sepertinya" jawab Arion.
Felim tersenyum dari kejauhan lalu melangkah pergi dari sana, diikuti oleh Madam Varegha.
Hari menjadi sore, mereka berdua duduk di tumpukan kayu.
"Tadi itu cukup menyenangkan, ya" kata Arion.
"Ya" jawab Eden singkat.
"Baik, waktunya kembali" Arion bangkit dari duduknya, meregangkan badan sedikit.
"Ayo" Eden juga bangkit lalu berjalan duluan.
***
Sore itu Daendra sedang jalan-jalan santai di koridor Trophy. Di sana sudah tidak ada orang, ia kesana hanya untuk melihat-lihat saja.
Ada banyak piala dan segala penghargaan yang disimpan di lemari kaca besar yang didapat dari berbagai kompetisi.
"Hmm" Daendra mengangguk perlahan melihat semua itu. Mata pun tertuju pada satu piala, disana ada nama Yaena sebagai pemenang pacu kuda.
"Lumayan juga si cerewet itu" katanya. Ia terus berjalan, semakin lama semakin banyak ia menemukan nama Yaena.
Di sisi lain, Faesa juga sedang berada di koridor Trophy. Sama dengan Daendra, ia juga ingin melihat-lihat.
"Wah, Kak Yaena! Hebat" Faesa berdecak kagum ketika melihat sebuah piala bertuliskan nama Yaena sebagai pemenang kompetisi Ilmu Qube.
Ia terus berjalan, dan seiring berjalan, ia terus menemukan nama Yaena. Sampai ia menghentikan langkahnya ketika melihat sesuatu di dinding, begitu juga dengan Daendra. Mereka sama-sama menghadap ke dinding.
"Apa..?" gumam Daendra.
"Ini.." Faesa membeku.
"APA-APAAN INI?!!" mereka sama-sama berteriak, ketika melihat lukisan besar Yaena di dinding.
__ADS_1