The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Info Dari Cremon


__ADS_3

- Unknown POV


Di mana aku?


Tempat apa ini? Aku tidak bisa melihat apapun, disini sangat gelap. Saking gelapnya, aku bahkan tidak bisa melihat anggota tubuhku.


Unngg.. Tubuhku tidak bisa bergerak. Apa ini? Apa aku diikat? Ya, tampaknya memang seperti itu. Aku diikat di tengah-tengah ruangan antah berantah.


Apa yang membuatku berakhir disini? Aku berusaha mengingatnya kembali. Oh, benar juga.


Saat itu, aku memperhatikan dua orang sedang berbicara diantara mayat para bandit yang berserakan dijalan. Bahkan, mereka tampak akrab dengan makhluk itu, makhluk buas yang membantai sekelompok bandit itu.


Tiba-tiba saja, aku diserang salah satu dari mereka. Pedang meluncur begitu cepat hingga tertancap dibahuku, tusukannya sangat menyakitkan sampai ke tulang. Jadi, itu rasanya ditusuk oleh pedang.


Karena terluka dan mereka yang juga sudah tahu keberadaanku, aku memutuskan untuk lari. Sebuah keputusan yang bodoh, kurasa.


Aku berlari memasuki hutan, berusaha untuk lepas dari kejaran mereka. Ya, mereka mengejarku dan kurasa itu adalah akhir dari hidupku. Disisi lain, bahuku semakin perih dan tidak lama kemudian aku tidak merasakan bahuku ini.


Tiba-tiba, simbol yang ada ditangan ini mulai mengedipkan cahaya. Sial, aku tahu hal ini akan terjadi, dan...


Begitu, ya. Aku berubah jadi Cremon.


Ngik! Suara decitan pintu menarik perhatianku untuk menatap kedepan. Suaranya dari depan. Semburan cahaya masuk kedalam ruangan ini, sempat menyilaukan pandangkanku sebelum cahaya itu ditutup oleh tiga orang yang berdiri disana.


"Kau sudah sadar?"


***


"Kau sudah sadar?" tanya Arion.


Kini, disampingnya, sudah ada Elena dan Hanza yang siap dengan ribuan pertanyaan. Tentu saja, mereka tetap bersiaga, jaga-jaga jika Cremon ini akan berubah lagi.


Hanza menyalakan beberapa obor diruangan ini dengan element apinya. Seisi ruangan telah diterangi, disini tidak ada apapun, selain Cremon dan kursi yang ia duduki. Ruangan itu lumayan kecil dengan dinding yang terbuat dari beton.


Pria ini, tubuhnya hanya ditutupi oleh selembar kain. Dibahunya dibaluti perban, masih ada noda darah yang terlihat disana. Sepasang telinga berbulu dan ekor yang bergerak kesana kemari juga ada ditubuhnya.


"Kau Cremon, bukan?" Arion bertanya sambil melangkah maju. "Katakan, siapa yang mengirimmu kemari?"


"Tidak ada yang mengirimku kemari" pria itu menjawab dengan sinis sambil mendengus kasar.

__ADS_1


"Benar begitu?" tanya Arion balik. Namun, sebelum dia merespon, Arion menampar pria itu dengan punggung tangannya.


Pria itu hampir jatuh dari kursinya jika tubuhnya tidak ditahan oleh lilitan tali yang mengunci seluruh gerakan tubuhnya.


"Siapa yang mengirimmu kemari?" Arion mengulangi pertanyaannya.


"Tidak ada! Apa kau tidak percaya? Tidak ada siapapun yang mengirimku hingga detik ini!" pria itu berteriak, termakan kesal sekaligus takut kepada Arion. Pipinya yang ditampar oleh Arion tadi mulai memerah dan meninggalkan jejak.


"Kenapa kau lari dari kami?" Elena bertanya dari belakang sana.


"Kalian sendiri yang menyerangku! Aku hanya sembunyi dari makhluk yang bersama kalian itu" jawabnya.


Arion tahu yang ia katakan 'makhluk itu'. Foma.


"Bisa kau jelaskan dari mana kau mendapat simbol itu?" Di sisi lain, Hanza bertanya dengan tenang.


"Aku tidak ingin memberi informasi kepada penjahat seperti kalian" jawabnya tanpa menyembunyikan rasa jijik. Ia menoleh ke Arion. "Berteman dengan Whiteblood, seharusnya kalian semua berakhir di penjara"


Mendengar ucapan dari pria Demi-Human ini, Elena menjadi geli dan tidak kuasa menahan tawanya.


"Aku tahu kau dari Ethinos" Arion bertumpu pada pegangan kursi. "Jika kau tidak memberikan informasi yang berharga, akan kupastikan, kutukan Cremon ini tidak akan ada apa-apanya dari siksaan yang akan kuberikan"


Diluar sana, sudah tersebar berbagai rumor negatif dan positif tentang Arion. Bahkan ada kabar kalau seorang Arion dapat menyelinap masuk kedalam kastil Rabadar. Tentu saja hal itu menjadi pusat perhatian orang-orang dan itu menunjukkan Arion bukanlah orang sembarangan.


"Baik, baik.." akhirnya ia menyerah dengan mudah. "Aku memang tidak dikirim oleh Ethinos, tapi aku sempat mendengar rencana besar yang akan mereka jalankan"


"Jelaskan, Nak" Hanza memberi izin.


"Aku mendengar..." ia mulai menceritakan apa-apa saja yang ia dengar dari markas Ethinos. Mereka berbicara soal menaklukan dua kekaisaran di benua ini. A-aku tidak tahu kekaisaran yang mana"


Hanza memegang dagunya sambil berpikir. Berpikir kekaisaran yang mana yang akan dijadikan sasaran.


"Kapan mereka bergerak?" tanya Arion.


"Jujur, aku tidak tahu. Aku hanya mendengar dari prajurit sana"


"Arion" Elena memanggil. "Ini perlu kita bicarakan"


Arion mengangguk tanpa menoleh kebelakang. "Baiklah" setelah mengucapkan itu, Arion dan yang lainnya pergi dari ruangan itu, meninggalkan pria itu sendirian.

__ADS_1


***


- Rabadar Empire


Disuatu kawasan elit di kota Rabadar, rombongan bangsawan tampak berbondong-bondong menuju gedung besar yang bercat emas.


Gedung ini memiliki dua tiang penyangga berwarna putih didepan. Gedung ini tidak memiliki pintu, orang-orang hanya berjalan masuk setelah diperiksa oleh keamanan. Didalam, gedung ini terasa lebih luas dengan puluhan meja dan kursi disertai hiasan yang mengisi ruangan.


Banyak dari kalangan atas yang menghadiri acara ini. Mereka memenuhi undangan dari Sang Pangeran Calon Menantu dari Yang Mulia Dominick. Acara ini dilangsungkan untuk mengumumkan calon bayi yang akan dilahirkan oleh Yaena.


Beberapa pangeran dari kerajaan sekitar juga turut hadir. Mereka mengucapkan selamat kepada tuan rumah, Klein dan Yaena.


"Selamat, Yang Mulia, sebulan lagi kau akan dikarunia keturunan yang hebat"


Klein tertawa ringan dan mengucapkan terima kasih. Ia sedang berbincang-bincang ringan dengan kolega-koleganya disana. Sedangkan Yaena, ia memilih duduk dengan ditemani beberapa temannya.


"Tinggal sebulan lagi, Yaena. Kau mendahului kami"


"Benar, semoga saja, anakmu nanti akan tampan dan berani seperti Ayahnya"


Yaena tertawa mendengar teman-temannya ini. "Aku sangat menantikan kedatangannya kedunia ini" ucapnya sambil mengelus perutnya.


"Silahkan, Yang Mulia" seorang pelayan wanita menaruh napan minuman di meja mereka. Lalu, berlalu pergi menuju Klein.


Klein berbincang-bincang tentang waktu kelahiran anaknya dengan koleganya.


"Sebulan lagi, Hahaha"


Tanpa ia sadari, seseorang menguping pembicaraan mereka. Ia adalah pelayan wanita itu, yang baru saja menaruh minuman di meja Yaena.


Pelayan itu adalah Fieyni.


Ia berlagak seperti pelayan. Fieyni memainkan aktingnya dengan hebat. Dari tadi, ia mengitari gedung ini, berpura-pura melayani. Tujuan sebenarnya adalah mencari informasi.


Namun, sehebat apapun ia memainkan perannya, seseorang yang juga berpakaian pelayan mencurigai dan memperhatikannya dari jauh.


"Bos Ka, aku keluar dulu. Kita tidak sendirian disini" bisik Indra.


"Tuntaskan dia" jawab Bos Ka.

__ADS_1


"Dengan senang hati"


__ADS_2