The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Penyerangan


__ADS_3

“Bagaimana? Apa Yaena baik-baik saja?”


Klein langsung bergegas ke istana setelah mendapat kabar Yaena mengalami kesakitan.


Awalnya ia berada disekitar kastil untuk memantau latihan para prajurit. Sejak kedatangannya kemari, Klein yang bertanggung jawab atas prajurit-prajurit istana. Prajurit-prajurit yang dimaksud adalah prajurit pilihan yang kemampuannya berada diatas rata-rata. Selain itu, Garne, pengawalnya, juga ikut berlatih disini.


Belum sempat pelayan itu menjawab, ia melihat kedatangan Dominick. Dengan terpaksa, pelayan tersebut menunda jawaban dan memberi hormat kepada Dominick.


“Tuan Putri baik-baik saja, Tuan. Dia saat ini sedang beristirahat dan sedang tertidur” jawabnya.


Helaan napas lega keluar dari mulut pria itu, dadanya tidak kembali sesak dan rasa cemas itu perlahan memudar. Dominick mengangguk ringan, ia mengintip kedalam untuk memastikan keadaan. Wanita cantik itu memang benar-benar sedang terlelap, tubuhnya dibungkusi oleh selimut dan rambutnya terburai diatas kasur.


“Kita biarkan Yaena beristirahat. Klein, ikuti aku ke ruang tahta”


“Baik, Yang Mulia”


Setelah dari kamar Yaena, mereka melangkah menuju ruang tahta. Disana sudah ada beberapa menteri yang menunggu, dan yang paling menarik perhatian Klein adalah adanya Aciel disana.


“Duduklah, Klein”


Dominick berucap sambil terus berjalan menunggu singgasananya. Klein duduk dikursinya, matanya masih tidak bisa berpindah dari Aciel yang bersikap dingin padanya.


“Semuanya” Dominick membuka suara. “Aku mendapat kabar diluar sana, bukan... lebih mengarah seperti rumor. Rumor ini mengatakan akan ada rombongan yang sedang mengarah kemari”


“Rombongan apa itu, Yang Mulia?” tanya Klein.


“Untuk saat ini, kita belum bisa memastikan rombongan ini, apalagi yang menyebarkan baru hanya rumor. Tapi, rumor bisa menjadi kenyataan dan sebaiknya kita bersiap”


Setelah itu, ruangan ini menjadi hening, tidak ada yang membuka suaranya. Melihat keheningan ini, Dominick berpindah ke topik lain. Ia ingin mendiskusikan pembiayaan senjata kepada Menterinya, tetapi seorang prajurit masuk kedalam ruangan.


“Ada apa?” tanya Dominick tanpa menutupi rasa kesalnya.


“Tuan Putri siap untuk melahirkan, Yang Mulia”


Mendapat jawaban yang mengejutkan, Dominick langsung bangkit dari singgasananya, begitu juga dengan Klein yang tampaknya lebih cepat. Diikuti oleh orang-orang disana, mereka sama-sama bangkit dari kursi.

__ADS_1


“Yang Mulia” tiba-tiba saja, Reilo masuk, mencegah Dominick melangkah. “Ada kabar buruk dari luar”


“Kabar apa?” tanya Klein. Reilo sempat menoleh ke Klein sejenak sebelum kembali memandang kaisar.


“Sekelompok orang menyerang prajurit perbatasan kita...” jawab Reilo, ia belum sempat menyelesaikan kalimatnya, suara gaduh mulai terdengar disekitar kastil “Sepertinya ada penyerang bulan ini”


Wajah Dominick menunjukkan kemurkaan. Ia mengepal tangan dengan erat dan memandang tajam kedepan. “Kumpulkan prajurit luar dan segera tangkap orang-orang itu! Aku ingin mereka ditangkap”


“Baik, Yang Mulia!” ucap seluruh orang disana. Mereka langsung bergerak keluar. Klein dan Aciel masih menetap diruangan untuk menunggu perintah dair Dominick.


“Aciel, aku ingin kau membuat perisai disekitar kastil. Aku tidak ingin membuat Yaena berada dalam bahaya”


“Tentu saja” jawab Aciel.


“Dan, Klein, aku ingin kau tetap disini. Tunggu perintahku, sebelum itu, tetap jaga kastil ini”


“Baiklah”


***


“Satu, dua, tiga!” Dua Centaur melempar Elena dan Leni keatas dinding pembatas raksasa ini. Dengan satu kali lemparan, mereka sudah berada dipuncak. Sesampainya disana, mereka langsung disambut oleh beberapa prajurit dan terjadilah pertarungan kecil disana.


Elana dan Leni melakukan tugas dengan cepat. Mereka tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengalahkan seluruh prajurit yang berada disana. Dinding pembatas ini sangat luas dan besar, serta panjang. Sejauh mata memandang, masih ada prajurit-prajurit penjaga yang berlalu lalang, tapi tugas itu bisa dimudahkan oleh Luke. Dari bawah tanah, Luke menembak seluruh penjaga diatas sana dengan panahnya.


Luke memberi jempol kepada Elana dan Leni, tanda sudah aman. Mereka berdua mengacungkan jempol kepada Luke. Setelah itu, Elana bersiul dengan keras menggunakan dua jari dimulutnya.


Di sisi lain, Arion dan Daendra berada di pusat kota. Mereka mendengar isyarat itu dari Elana. Sebelum melakukan aksinya, Arion menyuruh Daendra untuk menjauh dengan kibasan tangan. Ia akan melakukan kemampuan pemanggilnya.


Setelah Daendra menjauh, Arion menyayat tangannya sendiri hingga darah segarnya bertumpah ketanah. Tiba-tiba saja, terjadi ledakan disana, diiringi oleh auman hewan yang menggelegar di udara. Masyarakat disana menjadi panik dan berlarian menjauh. Arion memberi waktu untuk mereka mencari tempat berlindung, disaat yang sama beberapa prajurit sedang menuju kearah mereka.


“Kau memanggilku lagi, bocah?!” Caith menunjukkan gigi-gigi tajamnya, ia mendengus kesal karena dipanggil lagi oleh Arion.


“Aku membutuhkan bantuanmu dan kali ini kau bisa melakukan apa saja” ucap Arion.


“Oh? Benarkah?” sebuah senyuman mengerikan muncul dari wajah hewan itu.

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu, aku akan mengamuk!”


Caith menghentakkan kedua kakinya ditanah, menciptakan getaran yang besar. Beberapa rumah disana menjadi hancur dan tumbang ke tanah. Arion dan Daendra segera lari dari sana, membiarkan Caith menghancurkan apa saja yang ada disana.


“Ah sial, aku akan mengalami kerugian yang cukup besar” Daendra ingin menangis melihat beberapa infrastruktur kota yang hancur lebur berkat dari serangan Caith.


Dari kejauhan, Kenneth melihat Caith sudah beraksi. Kali ini, giliran mereka yang maju. Di sisi lain dari kota, ada Kenneth dan Luke. Mereka telah menyebarkan seluruh orang di pihak mereka ke seluruh penjuru kota. Walaupun sedikit, tapi itu cukup untuk mengepung kota besar ini.


“Ayo, Luke” Kenneth menepuk pundak Luke.


“Ayo” jawab Luke. Ia mengarahkan busur keudara lalu menembakkan beberapa anak panah.


Indra dan teman-temannya melihat anak panah itu sudah diterbangkan diudara. Itu adalah tanda mereka harus melakukan aksi mereka.


“Ayo, demi nama Bos Ka dan Yang Mulia Daendra!” seru Indra.


“Ya!!!”


Indra dan yang lainnya keluar dari beberapa rumah dan mulai menyerang prajurit-prajurit yang berada disana. Dengan adanya Caith yang memporak-porandakan pusat kota, seluruh perhatian pasti tertuju kearahnya sehingga melupakan adanya bahaya lain.


“Mike!” Arion memanggil dari cermin sihir.


“Siap!” Mike memberi konfirmasi, ada juga Mifori disana. Saat ini mereka berada di luar dinding bersama para Centaur dan dua Giant yang tingginya mencapai 10 meter ini.


“Ayo!” Mike berseru, seluruh Centaur dan Giant ikut berteriak. Mereka menyerbu bagian depan dari gerbang masuk kota ini. Prajurit disana lengah karena ada pemberitahuan hewan raksasa yang tiba-tiba muncul menyerang pusat kota.


Mike dan yang lainnya masuk kedalam kota. Mereka langsung bertemu dengan Glenn dan rombongannya didalam.


“Serang para prajurit selagi mereka lengah!” kata Mike.


“Baik! Teman-teman ikuti aku” Glenn segera berbelok setelah mendapat perintah Mike.


Kembali lagi ke Arion dan Daendra. Mereka berdiri diatas menara dan menyaksikan semuanya diatas sana, seluruh orang mulai bertarung, Caith juga mulai menerima beberapa serangan dari para prajurit istana. Daendra menghela napas panjang.


“Tidak kusangka akan melihat penyerang disini dan nyatanya.. akulah yang menyerangnya” Daendra mengembangkan senyum ironi.

__ADS_1


Arion mengerutkan dahinya, bukan karena ucapan Daendra, tapi melihat sesuatu kearah istana. Disana, istana mulai dibungkusi oleh pelindung sihir tembus pandang, menutupi seluruh dari kastil tersebut.


“Aciel..”


__ADS_2