The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Kunjungan


__ADS_3

"Karena Arion? Apa maksudmu?" tanya Kenneth.


"Sebaiknya, kita bicarakan ini di tempat lain" usul Aciel. Arion setuju, mereka keluar dari rumah tersebut lalu melangkah ke suatu tempat yang tidak ada satupun orang disana selain mereka. Disana rumah kecil Aciel yang masih bertahan sampai sekarang.


Rumah Aciel berada di pinggir sawah yang sepi akan prajurit untuk berlalu lalang. Disana juga tempat masa kecil Aciel sebelum pergi ke akademi. Kedua orang tua Aciel meninggal karena sakit tepat setelah kepulangan Aciel.


Di moment itu, Aciel sangat bersyukur bisa melihat orang tuanya untuk terakhir kalinya. Rumah kecil ini tidak akan ia jual dan akan seperti ini sampai ia tua.


"Silahkan anggap seperti rumah sendiri" kata Aciel, mempersilahkan kedua tamunya untuk duduk.


"Rumah ini lebih besar dari gubuk Kakek" ucap Kenneth.


"Coba kau jelaskan keanehan ini semenjak aku pergi" ucap Arion, ia ingin langsung mengetahui apa saja yang sudah ia lewatkan selama ini.


"Bermula saat hari itu, ketika identitasmu yang sebenarnya diungkapkan oleh dewan kerajaan..."


Aciel bercerita sejak kejadian ketika Hanza yang membocorkan rahasia Arion kepada para dewan yang terus mendesaknya.


Kelima dewan yang telah mengetahui siapa sebenarnya Arion, mulai melakukan rapat.


"Hanza telah melakukan kesalahan yang sangat-sangat fatal!" Theo memukul meja dengan keras. Ia sangat kesal saat ini.


"Menyembunyikan seorang Whiteblood sama saja dengan korupsi puluhan tahun!" Gio menambahkan.


"Seharusnya ia berunding dengan kita terlebih dahulu saat membawa anak itu kemari" lanjut Theo.


"Ini informasi yang berharga. Kita baru menyadari ada seorang Whiteblood yang hidup di istana selama ini. Seharusnya kita korek info ini dari dulu" Retfa berucap dengan tenang.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Whiteblood itu telah menghilang" tanya Redmund.


"Mau bagaimanapun Whiteblood ini tetap akan kita cari. Masalah Hanza akan kita selesaikan sekarang juga" ujar Robio.


"Kau ingin menurunkannya dari posisi Raja?" tanya Theo.


"Itu tidak bisa kita lakukan tapi Hanza tetap akan turun dari tahta, ia sudah melanggar beberapa peraturan dan sudah bisa di turunkan" jawab Robio.


Dari sana posisi Hanza sudah jelas akan digantikan. Butuh waktu berhari-hari para dewan untuk berunding. Disaat itu juga, Daendra datang menemui Hanza.


Daendra membuka pintu ruangan Hanza dengan raut wajah yang sangat serius.


"Ayah, coba jelaskan semua ini" kata Daendra.


Hanza menghela napas panjang. "Kau sudah kembali dan mendengar semua yang terjadi, ya?"


"Aku ingin mendengarnya langsung dari mulut Ayah" ucap Daendra.


"Arion adalah seorang anak yang Ayah selamatkan beberapa tahun yang lalu di Anvio Village..." Hanza menceritakan seluruh kejadian saat ia menemukan Arion di desa itu.


"Ayah baru sadar kalau ia adalah Whiteblood ketika Ibunya tewas dihadapan Ayah dan dirinya. Ya, Arion adalah Whiteblood, itu adalah salah satu alasan Ayah membawanya kemari dan menjadikannya anak angkat"


Daendra mendengus pelan. "Ayah menyembunyikan fakta selama ini? Apa Ayah sadar membiarkan Arion yang merupakan Whiteblood terakhir berkeliaran tanpa keamanan yang pasti?! Dia sudah menghilang dan Ayah akan dihukum!" Nada bicara Daendra meninggi. Tepat disaat bersamaan, belasan prajurit mendobrak masuk ke dalam ruangan. Mereka menghunuskan pedang mereka kedepan.


"Apa-apaan kalian ini?!" Daendra menarik pedang dari sarungnya.


"Minggir"


Dua orang pria paruh baya turut memasuki ruangan yang diberi jalan oleh para prajurit itu. Mereka adalah Redmund dan Robio.


"Turunkan pedangmu, Pangeran. Ini masalah Ayahmu" ucap Redmund.


"Aku berhak untuk ikut campur dalam masalahnya" Daendra tidak gentar, ia tetap bersiaga.


"Ayahmu telah membuat kesalahan besar. Ia pantas untuk dihukum dan..." Robio mengeluarkan sebuah gulungan. "Dan ia akan digeser dari posisinya sebagai Raja dan kau tidak menjadi Pangeran Mahkota lagi" Robio menunjukkan isi gulungan itu yang berisi pergeseran posisi Hanza beserta keluarga utama istana.


Daendra menjadi terkejut. Ia melebarkan matanya ketika melihat surat itu.


"Kami menunjuk Dominick Gareins sebagai Raja ke-15 Rabadar Kingdom" kata Redmund.

__ADS_1


Daendra langsung menoleh kebelakangnya untuk melihat reaksi Hanza. Pria itu hanya tenang dan bangkit dari kursinya, ia melangkah kesamping putranya.


"Aku merelakan jabatan itu" kata Hanza.


"Ayah.." Daendra tidak percaya apa yang didengarnya ini.


"Lakukanlah secara hukum dan beri aku hukuman sesuai undang-undang yang berlaku disana" Hanza berkata tanpa takut, ia mengakui kesalahannya dan menerima akibatnya.


Setelah penangkapan Hanza, dua hari selanjutnya Dominick diangkat menjadi Raja. Ia berdiri dengan bangga, bagaimana tidak? Posisi ini sudah lama ia idamkan dan tanpa ia rencanakan sekalipun, akhirnya ia mendapatkannya.


"Bagaimana dengan nasib Hanza?" tanya Theo.


"Usir dia beserta keluarganya" jawab Dominick.


Satu per satu anggota keluarga Hanza dipaksa keluar. Totalnya ada 9 anggota keluarga Hanza termasuk Rena dan kedua adiknya. Mereka semua di letakkan di lapangan, Dominick menatap mereka seakan mereka adalah sampah yang harus dibuang. Daendra menatap tajam kearah Pamannya itu.


"Bawa mereka keluar" perintah Dominick.


Mereka digiring keluar. Pakaian mereka tidak lagi seperti bangsawan, melainkan seperti pengemis. Seluruh warga menyaksikan keberangkatan mereka.


"Daendra.." Yaena memanggil Daendra.


"Kami akan kembali dan akan kurebut kembali istana ini" Daendra berkata dengan tekadnya.


"Maafkan aku. Aku tidak ingin kau pergi setelah Arion dan Faesa" Yaena meneteskan air matanya, tidak rela dengan kepergian Daendra.


"Kak" Rena memanggil Yaena. "Daendra dan aku tidak akan pernah membenci Kakak, dan aku yakin Arion pasti akan kembali"


Yaena terdiam sejenak sambil menyeka air matanya. "Rena, jaga dirimu, ya"


"Ya" Rena mengangguk sambil tersenyum.


Mereka semua pergi pada hari itu dan tidak pernah kembali. Satu-satunya kabar yang pernah terdengar dari mereka, ketika Daendra muncul kembali saat segerombolan Undead menyerang kota, ia menyelamatkan kota itu dan dijuluki Golden Eagle lalu masuk ke dalam 10 Ksatria agung.


Rena, Sang keturunan naga tidak pernah terdengar lagi. Ada rumor bahwa Dark Lord tidak menginginkannya lagi dan berpindah ke Arion Whiteblood.


"Begitulah. Banyak sekali kejadian yang terjadi ketika kau menghilang" kata Aciel.


Arion mengepal tangannya erat. Kenneth melihatnya. "Ini bukan salahmu" ucap Kenneth.


"Aku harus masuk ke dalam istana dan mencari Kak Yaena" kata Arion.


"Eh? Untuk apa?" Aciel menjadi bingung.


"Aku yakin Kak Yaena masih berpihak kepada Ayah Hanza dan ia pasti akan membantuku" jawab Arion.


"Membantumu apa?" Kini Kenneth yang bertanya.


"Mencari keberadaan Daendra"


"Tapi-"


"Kak Yaena pasti sering berkomunikasi dengan Daendra melalui apapun. Itulah kebiasaan mereka ketika berpisah jauh, Daendra suka jengkel dengan banyak surat yang muncul di kediamannya ketika sedang jauh dari istana" jelas Arion memotong ucapan Aciel.


Aciel terdiam sebelum setuju dengan Arion. "Aku bisa mengantar kalian kesana"


"Bagaimana caranya?" tanya Kenneth.


"Dengan melewati jalan rahasia. Tapi, sukses atau tidaknya penyusupan ini tergantung oleh kalian"


"Baiklah" Arion mengangguk.


"Kita berangkat malam ini, dimana seluruh penjagaan difokuskan ke atas. Kita akan lewat jalan bawah tanah, memasuki bawah dapur lalu tembus ke penjara. Kalian bisa menyamar sebagai prajurit sampai ke kamar Kak Yaena" jelas Aciel.


"Begitu saja?" Kenneth merasa rencananya sangat sederhana.


"Ya, ini seharusnya mudah tapi kalian harus tetap hati-hati. Aku akan terus memantau dari luar dan menjaga kalian" ujar Aciel.

__ADS_1


"Aku mengandalkanmu, Aciel" Arion memegang pundak Aciel.


Aciel tersenyum tipis. "Jika kau tidak menghilang, kau akan masuk ke dalam 10 Ksatria agung"


Arion menggeleng. "Julukan dan posisi tidak terlalu penting bagiku. Lagipula, aku sudah punya julukan"


"The Last Whiteblood.. sepertinya itu keren" kata Aciel.


"Sudah kubilang" Arion tertawa kecil.


***


Yaena duduk di kursi sambil memandangi bulan purnama di langit malam. Angin sejuk masuk ke dalam kamar, tanpa ia sadari ada orang yang masuk ke dalam kamarnya.


"Kak Yaena"


Panggil seseorang dari belakangnya. Yaena segera menoleh kebelakang dan bangkit secara perlahan.


"Siapa disana?!" tanya Yaena, was-was.


"Tenang, ini aku" orang itu muncul dari sisi gelap kamarnya. Ia melepaskan topeng penutup mulut. "Aku Arion"


"Arion?" Yaena menurunkan siaganya. Ia menajamkan penglihatannya untuk melihat sosok di hadapannya itu.


"Aku kemari untuk meminta bantuanmu" kata Arion.


"Arion? Kaukah itu?" Yaena melangkah mendekat. "Arion, kau Arion sungguhan?" Yaena tidak dapat membendung air matanya, rasa rindunya kepada Arion sangat besar dan kini mereka kembali bertemu.


"Oh, Arion.. syukurlah kau masih hidup dan sehat" Yaena memegang pundak Arion yang kini berada setara dengan kepalanya.


"Kau juga terlihat sehat Kak dan..." Arion melirik ke perut Yaena yang besar. "Astaga.. kau hamil?"


Yaena tersenyum. "Ya, aku mengandung anak pertama. Ini keponakanmu"


"Ya ampun.." Arion menutup mulut dengan tangan kanannya. Ia kaget sekaligus senang melihat Yaena hamil, ini berita bagus.


"Aku senang kau kemari setelah berita menghilangnya dirimu dan Faesa. Bagaimana kabar Faesa sekarang?"


Raut wajah Arion berubah drastis. "Dia tidak bersamaku lagi"


"Kenapa?"


"Dia memutuskan untuk masuk ke dalam Ethinos dan meninggalkanku"


Yaena menahan napasnya karena terkejut mendengar berita buruk itu. "Mengapa semua hal buruk terjadi secara tiba-tiba?" Yaena duduk di atas kasurnya.


"Seperti yang kau lihat, Arion... istana ini sudah berubah. Paman Hanza tidak lagi memimpin, istana ini tidak secerah dulu" ucap Yaena, putus asa.


Arion duduk berlutut dihadapan Yaena. "Akan kukembalikan kecerahan dulu ke istana ini dan aku tidak akan biarkan Keponakanku hidup dalam masa yang suram" ucap Arion.


Arion menggenggam kedua tangan Yaena. "Tapi, aku membutuhkan pertolonganmu. Aku ingin mengetahui lokasi Daendra, tanpa dia aku tidak bisa membawa cahaya kebahagian kembali ke istana ini"


Yaena tersenyum lembut. "Kau memang anak yang penuh tekad"


"Itu semua karena Kakak" Arion tersenyum lebar.


Yaena lalu memberitahu Arion lokasi Daendra. Ia berada di sebuah desa terpencil yang berada di wilayah sebuah kerajaan bernama Athiesh Kingdom. Lokasinya cukup jauh dari Rabadar Empire.


"Baik, terima kasih tentang infonya, Kak"


Lalu, ada suara Kenneth masuk melalui cermin komunikasi sihir itu. "Sebaiknya kau cepat, beberapa prajurit mulai mendekat"


"Arion, cepatlah, kau kehabisan waktu" begitu juga dengan Aciel.


"Kalau begitu, aku akan pergi lagi" Arion bangkit. Tiba-tiba, Yaena menariknya lalu memeluknya erat.


"Bawalah Daendra kemari" bisik Yaena.

__ADS_1


"Pasti akan kulakukan" jawab Arion.


__ADS_2