The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Teka-Teki Desa Egrit


__ADS_3

Daendra membuka matanya secara perlahan. Ia melihat langit-langit rumah yang tidak ia kenali, ia meraba tubuhnya yang dibaluti perban. Ketika ia menoleh ke samping, ia mendapati gadis itu disampingnya, sedang tertidur pulas menghadap ke arah dirinya.


Daendra diam sejenak sebelum beranjak menjauh tanpa bersuara. Wajahnya memerah tapi secara bersamaan ia juga kaget.


"Sejak kapan aku di sini?!" batin Daendra.


Gadis itu lalu membuka matanya, ia sudah terbangun dari tidurnya. "Selamat pagi, Tuan" katanya serak, santai tanpa masalah. "Maaf anda harus tidur di sini, tidak ada kamar lain lagi di sini" kata gadis itu sambil bangkit untuk duduk.


"I-iya ... tidak masalah" Daendra memalingkan wajahnya dari pandangan gadis itu. "Oh iya ... namamu .. siapa?" tanya Daendra, malu-malu.


"Rena, Tuan" ia menjawab sambil tersenyum. Senyuman itu menghentikan detak jantung Daendra untuk sejenak karena tidak bisa menerima keindahan senyuman itu.


"Hoaamm ... kalian sudah bangun?" Arion muncul di luar kamar, rambutnya yang panjang dan lebat itu berantakan. Ia sepertinya juga baru bangun tidur.


Daendra menatap tajam dan dingin kepada Arion.


"Apa?" tanya Arion, heran. Tidak lama kemudian, ia dilempari sepatu oleh Daendra.


"Tuan, anda tidak boleh banyak bergerak dulu, nanti lukanya terbuka" kata Rena, khawatir.


"Tidak apa, untuk menghajar Arion tidak perlu banyak gerakan" jawab Daendra.


Rena tertawa pelan. "Kalau begitu, aku akan menyiapkan sarapan. Anda pasti kelaparan sejak bertarung kemaren" Rena bangkit lalu pergi ke dapur, Arion sendiri mengomel tapi tanpa bersuara, ia berjalan menghampiri Daendra.


Daendra masih terpaku, diam di tempat sambil melamun. Perkataan Rena barusan terngiang-ngiang di kepalanya.


"Kalau begitu, aku akan menyiapkan sarapan."


"Ya ampun.. cewek itu seperti istri idaman para lelaki! ... tidak, tidak, tidak! Kau harus lihat kastanya, Daendra! Dia dari kalangan biasa dan aku dari bangsawan. Apa kata orang-orang nanti? Tapi ... dia memang menawan! Hatiku seakan disentuh olehnya!" Daendra seakan mengalami dilema dalam hatinya.


Arion menatap datar pada Daendra, bingung dengan tingkahnya.


"Kau kenapa? Sakit perut?" tanya Arion, membuyarkan lamunan Daendra. Daendra menatap Arion dengan kesal.


"Apa yang terjadi saat aku tak sadarkan diri kemarin?" tanya Daendra.


"Kau hanya tidur. Gadis itu yang menyembuhkanmu sampai lengannya menjadi sakit. Dia terlihat ... ingin menyembuhkanmu sampai benar-benar pulih" jawab Arion.


"Begitu ya. Rena berbeda dari gadis yang pernah kutemui sebelumnya" katanya.


Arion tersenyum lebar. "Kini kau sudah tahu namanya, kemajuan yang hebat, saudaraku"


"Apa maksudmu?! Aku bukan saudaramu!" ucap Daendra kesal.


Arion duduk dikasur, disamping Daendra. "Dia seorang Priest, aku cukup kaget melihatnya.


"Benarkah? Keberadaan seorang Priest cukup langka. Mereka sudah banyak terbunuh akibat perang ribuan tahun yang lalu" ujar Daendra.


"Gadis ini ... Rena memang seorang Priest. Ia menyalurkan Energi Kehidupan kepadamu"


Daendra menatap lantai. "Berarti dia telah menyelamatkan nyawaku. Aku tidak bisa membalas budinya"


"Mudah, tinggal nikahi saja dia" jawab Arion.


"Sial" Daendra memukul kepala Arion.

__ADS_1


***


Pagi ini tidak terlalu cerah karena mendung namun itu tidak membuat masyarakat membatalkan aktivitas rutin mereka.


Dari rumah Rena, Daendra bisa melihat ibu-ibu desa sedang memetik daun teh di kebun. Ia bisa melihat Rena sedang asyik memetik daun teh, ditemani oleh beberapa gadis desa lainnya.


Daendra masih tidak boleh banyak bergerak, tubuhnya masih terluka tapi masih bisa berdiri dengan tegak.


"Aku hampir tidak percaya kalau desa ini dulunya tempat singgahan para Naga ..." gumam Daendra.


Arion berdiri memerhatikan Daendra dari dalam rumah sambil meminum secangkir teh. Ia berada di sana menemani adik-adik Rena yang sedang bermain.


"Kalian berdua belum memperkenalkan diri kepadaku. Siapa nama kalian?" tanya Arion.


"Aku Rofa! Dan ini adikku, Ed"


"Baik, Rofa dan Ed. Bisa kalian jaga Kakak Daendra sampai aku kembali?" tanya Arion.


Kedua bocah itu menjadi ragu. "Tapi ... kami takut dengannya" jawab Rofa.


"Eeh? Kalian tidak perlu takut dengannya, Kak Daendra itu baik, dia itu hanya tegas. Kak Daendra adalah calon pemimpin suatu kerajaan di masa depan, makanya dia menjadi begitu tegas, bukan berarti ia menakutkan" kata Arion.


"Kalian jaga dia, ya? Aku akan pergi sebentar" Arion bangkit dari duduk sambil mengusap kepala kedua bocah itu. Ia mengambil pedangnya dan ia letakkan di pinggang, lalu Arion pergi melangkah keluar rumah.


Arion pergi mengitari desa, mencari sesuatu. Di perjalanan, ia bertemu dengan dua anggota kelompoknya.


"Arion, kau kemana saja? Dari kemarin kami menunggumu di penginapan" ucap Luke, salah satu anggota.


"Aku ... sedikit mendapat masalah kemarin tapi sudah kami atasi" jawab Arion sambil tersenyum tipis.


"Ngomong-ngomong, di mana Daendra?" tanya Glenn, anggota lainnya.


"Ke mana?"


"Pergi ke rumah Kepala Desa"


Luke dan Glenn setuju, mereka bertiga pun akhirnya pergi mencari rumah Kepala Desa. Mereka bertanya-tanya ke warga tentang lokasi rumah Kepala Desa, namun mereka merasa enggan memberitahu, terlihat reaksi khawatir di wajah para warga.


Arion mengerutkan dahinya, ia mengira mencari rumah Kepala Desa akan mudah tapi ternyata yang terjadi adalah sebaliknya.


Mereka duduk di salah satu warung minum di sana. Mereka duduk di meja yang berada di pojokkan. Arion terus menatap gelas minumannya tanpa menyentuhnya.


Luke dan Glenn saling berpandangan. Mereka bingung apa yang Arion pikirkan sekarang.


"Bukankah aneh kalau masyarakat di sini tidak mau memberitahu tempat tinggal Kepala Desa?" tanya Arion.


"Memang aneh. Selama kita berkeliling tadi, aku tidak melihat satupun pengawal atau prajurit" jawab Luke.


"Benar, padahal desa ini mendapat laporan tentang penyerangan Goblin dan Orc, kan?" sambung Glenn.


Tidak lama kemudian, tiga orang pria berpenampilan seperti berandalan datang menghampiri meja mereka. Luke meletakkan gelasnya secara perlahan ke meja dengan memasang tatapan datar.


"Kalian orang baru di sini, ya?" tanya pria yang di tengah.


"Oh, iya ... kami baru di sini, baru sampai" jawab Arion dengan senyuman.

__ADS_1


"Hmph! Pantas saja, aku mencium amatiran" kata pria yang disamping kanan.


"Apa di antara senior-senior tahu rumah Kepala Desa, kami harus melapor" Arion menyipitkan mata kanannya.


"Desa ini tidak memiliki Kepala Desa. Yang kuat di sini ialah yang memimpin!" jawabnya.


"Begitu, ya ..." kata Arion, ia meneguk minumannya sampai habis. "Waw. Minumannya tidak enak"


Setelah Arion berkata seperti itu, ia melempar gelasnya ke wajah pria itu. Gelas itu pecah dan serpihannya mengenai wajah pria itu hingga berdarah. Pria tersebut mengerang kesakitan sambil memegang wajahnya dan mundur secara perlahan.


Luke dan Glenn menyerang dua pria lainnya. Arion naik meja dan melompat menyerang pria yang ia serang tadi.


Warung minuman itu menjadi kacau dan pengunjungnya memilih berlarian keluar.


"Kemari kau, bocah!" kata pria berjanggut tebal dan memiliki kumis yang aneh. Ia melayangkan pukulannya ke Luke, tapi ia menghindar dan memukul dagu pria itu hingga terbang dan mendarat di salah satu meja.


Glenn menendang kepala lawannya dengan beberapa kali tendangan. Pria itu tak terima, ia melesatkan pukulannya, namun Glenn menangkap pukulan itu lalu memelintirkan lengan pria tersebut.


"Arrgh!" teriaknya.


Glenn mematahkan lengan pria itu tanpa gangguan.


"Luke!" panggil Glenn.


"Baik!" Luke berlari kearah pria yang dipegangi oleh Glenn. Ia melesatkan tendangannya ke wajah pria itu hingga terhempas keluar melewati kaca warung.


Arion dari tadi sama sekali tidak ada niat untuk menyerang sama sekali. Lawannya juga tidak bisa menyerang Arion secara jelas, karena kedua matanya terluka akibat serpihan kaca gelas tadi.


"Beritahu saja di mana rumah Kepala Desa" kata Arion, melipat tangannya di dada sambil menghindari setiap pukulan pria itu.


"Kau! Kurang ajar!" Pria itu melesatkan pukulannya ke wajah Arion, tapi Arion menangkap pukulan itu dengan mudah. Ia membalasnya dengan memukuli wajah pria tersebut.


Hidung pria itu patah akibat pukulan Arion.


"Beritahu di mana rumah Kepala Desa" kata Arion lagi.


"Tidak.."


Bugh!


Pria itu kembali di pukuli.


"Beritahu di mana rumah Kepala Desa"


"Baik! Baik! Akan kuberitahu!" teriaknya.


Ia memberitahu rumah Kepala Desa berada di tepi danau. Di sana ada dijaga ketat oleh beberapa Centaur dan belasan manusia serta tiga Elf.


"Kepala Desa.. tidak ingin menerima tamu, jadi kalian tidak perlu pergi kesana!"


Bugh!


Glenn memukul pria itu. Arion dan Luke memandang heran Glenn.


"Untuk apa kau melakukan itu?" tanya Luke.

__ADS_1


"Entahlah" Glenn mengedikkan bahunya.


"Ayo, kita kesana" Arion melangkah duluan keluar warung.


__ADS_2