The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Rumah 132


__ADS_3

"Sial.."


Tas terlepas dari genggaman Daendra karena syok melihat daftar pembagian tempat tinggal. Daendra akan tinggal di rumah bagian kelas Swordman nomor 132.


Setiap rumah akan diisi oleh enam orang murid dari kelas yang sama. Tapi, bukan itu yang membuat Daendra tidak bisa menerima kenyataan, melainkan ia harus tinggal dengan Arion satu rumah dan satu kamar pula.


"Kenapa aku selalu berada di dekatnya?!" Daendra berlutut lalu berteriak menghadap langit.


"Kalau kau tidak suka sekamar denganku, aku bisa pindah" ucap Arion yang tiba-tiba berada di belakang Daendra.


Daendra menoleh ke belakang dan langsung berdiri menghadap Arion. "Aku tidak pernah memintamu seperti itu dan asal kau tahu, ya .. kau tidak akan bisa tidur dengan tenang. Awas saja nanti!"


Daendra mengangkat tasnya kembali, lalu berjalan melewati Arion dengan sedikit menyenggol bahunya dengan sengaja.


Arion hendak mengikuti Daendra, tetapi ia berhenti karena melihat Aciel sedang kesusahan mengangkat tasnya yang terlihat sangat berat.


"Perlu bantuan?" tanya Arion.


"Oh hai! Tidak, aku bisa.. melakukannya sendiri" jawab Aciel sambil tersenyum.


"Kau yakin?"


"I..ya!" Aciel melangkah dengan susah payah seraya mengangkat tasnya itu. Arion mengangkat kedua bahunya lalu berlari menyusul Daendra.


Mereka berdua jalan menuju rumah nomor 132. Daendra terus mengeluh karena rumah yang dituju sangat jauh dan mereka belum boleh diizinkan memakai alat transportasi seperti kuda atau keledai.


"Hey, menurutmu bagaimana orang-orang penghuni rumah 132?" tanya Daendra.


Arion tidak menjawab.


"Semoga saja mereka menurut kepadaku. Kau jangan berbuat hal yang aneh disana" ucap Daendra.


Arion menghela napas dan terpaksa mengangguk. "Kau lebih cerewet dari Kak Yaena" gumamnya.


"Apa kau bilang?!" ucap Daendra, kesal mendengar perkataan Arion.


"Yo, kalian disana. Apa kalian anak baru rumah 132?" seorang murid senior berdiri di hadapan mereka, menyapa kepada mereka.


"Siapa kau?" tanya Daendra.


"Bisa tidak lebih sopan sedikit?" Senior itu tersenyum kesal kepada Daendra. "Aku senior kalian yang satu rumah dengan kalian. Namaku Aryan Fearlio"


"Aku Arion"


"Aku Daendra, putra Raja Hanza"


"Ooh! Seorang Pangeran, ya? Kalian berdua Pangeran? Kalian tampak akrab" Aryan melangkah mendekati mereka.


"Tidak! Hanya aku saja Pangeran dari keturunan asli" jawab Daendra sambil menunjuk dirinya. Arion memutar kedua bola matanya, bosan dengan sikap pamer saudara angkatnya itu.


"Begitu ya? Aku ingat terakhir kali seorang Pangeran tinggal bersama kami... ia tewas dengan setengah badannya yang tersisa" Aryan menggelen pelan, mengingat insiden yang pernah ia saksikan sendiri. Daendra melebarkan matanya sambil meneguk ludahnya sendiri.


"Tapi, jangan khawatir. Aku disini untuk melindungi kalian" Aryan merangkul kedua bocah itu lalu berjalan bersama-sama menuju rumah nomor 132.


"Umurmu berapa? Kau masih sangat muda" tanya Aryan kepada Arion.


"8 tahun"


"Woah! Kau masih terlalu muda! Aku takjub"


"Ya, ya, ya, dia masih sangat muda. Bagaimana dengan penghuni lainnya?" tanya Daendra.


"Ah, kau akan tahu nantinya" Aryan tersenyum.


***


"Kuharap Pangeran bisa betah disini" ucap Aryan.


Rumah untuk para murid tinggali cukup sederhana. Model arsitekturnya terlihat sama untuk seluruh rumah.


Di setiap rumah tersedia satu ruang tamu, dapur, satu kamar mandi, satu ruang lepas dan dua kamar yang masing-masih ditempati oleh tiga orang.


Untuk halamannya hanya taman simpel, tidak istimewa.


"Gilbert, Ron, Rifham, sambut anggota baru kita!"


Ketiga lelaki itu sama-sama menoleh kearah mereka membuat Arion sedikit grogi.


"Hai"


"Halo!"

__ADS_1


"Selamat datang!"


Mereka memberi sambutan sederhana setelah itu mereka kembali sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing.


"Masuklah, akan kuperkenalkan mereka kepada kalian" kata Aryan. Arion dan Daendra saling berpandangan sebelum masuk ke dalam rumah. Mereka bertiga menghampiri lelaki yang sedang tidur-tiduran di sofa.


"Perkenalkan, dia Gilbert. Murid tahun kelima, kalian akan sekamar dengannya"


"Hai" Gilbert melambai pada mereka. Penampilannya seperti orang pengangguran, ia hanya berpakaian baju kulit tanpa lengan dan ada noda kecap di bajunya.


"Hebat" gumam Daendra.


Lalu, mereka pindah ke lelaki yang duduk bersandar di dinding. Ia sedang sibuk dengan pedang yang terbuat dari batu.


"Kalau orang ini bernama Ron. Dia fanatik dengan senjata, tapi sayangnya ia tidak dilahirkan sebagai ras Dwarf"


"Itu karena takdir" tiba-tiba saja ia bermeditasi.


"Ya, meditasi" Aryan mengangguk pelan sambil tersenyum seperti orang bodoh.


"Aneh" gumam Daendra lagi. Ia seperti ingin lari dari sini.


Mereka lalu menghampiri seorang lelaki yang ada di dapur. Dari fisiknya ia berasal dari ras Elf yang berjenis Wood Elf. Rambutnya berwarna hijau dan ada sedikit corak coklat, ia berkulit coklat dan tinggi serta tampan. Sepertinya idola para gadis.


"Wood Elf" Arion sedikit kaget melihat Elf jenis itu disini. Wood Elf terbilang langka karena mereka jarang berbaur dengan masyarakat.


"Kau benar, Rifham adalah Wood Elf. Dia seumuran denganku yang berarti ia murid tahun keenam sama sepertiku. Untuk satu tahun ini, Rifham yang jadi koki kita"


"Salam kenal" Rifham tersenyum.


"Woah ..." Arion dan Daendra bisa merasakan aura kewibawaan dari lelaki itu.


"Akhirnya ... ada yang normal" batin mereka serentak.


"Hey, Rifham, kau lagi masak, ya?" tanya Ron.


"Iya. Ada dua kecoa goreng untukmu" jawab Rifham.


Kedua bocah ini serentak melebarkan mata melihat menu masakan yang dihidangkan oleh Rifham. Itu kecoa! Gosong pula.


"Aku akan sakit" ucap Daendra.


Merekapun dituntun ke kamar. Kondisi kamar itu sama kacaunya dengan keadaan di luar. Saking berantakannya, Daendra ingin menangis.


Daendra menutup pintu kamar secara perlahan, ia menatap Arion dengan tajam. "Kita akan mati disini sebelum tamat" kata Daendra.


Arion memilih berkeliling, melihat-lihat isi kamar. Tidak ada kasur disana, hanya tikar yang bisa dipakai oleh tiga orang. Ada tiga lemari kecil, satu meja belajar dan satu lukisan.


"Sangat berdebu" kata Arion ketika menyentuh meja belajar.


"Aku akan mengadukan keadaan ini kepada Ayah, sehingga pemilik akademi ini bisa dihukum" ucap Daendra.


"Aku akan membersihkan kamar ini, kau mau bantu?" tanya Arion.


"Tidak! Kau kira aku pelayan?" tolak Daendra.


"Kalau begitu, pergi keluar. Aku mau bersih-bersih"


"Ck, yasudah" Daendra pun pergi dari sana. Lima belas menit kemudian, Gilbert hendak masuk ke dalam kamar tapi dihentikan oleh Daendra.


"Anak itu sedang bersih-bersih, nanti saja masuknya"


"Tak apa, aku hanya ingin mengambil ..." Gilbert masuk ke kamar, tapi alangkah terkejutnya ia ketika mendapati kamarnya yang ia tempati sangat bersih.


"A-apaan-apaan ini ..? Ini .. kamarku, kan?"


Daendra ikut masuk ke dalam kamar. "Nah, ini baru layak ditempati"


Aryan, Ron dan Rifham ikut melihat isi kamar Arion. Mereka berdecak kagum dan terpana melihatnya.


"Baru kali ini aku lihat kamarmu sebersih ini" kata Rifham kepada Gilbert.


"Aku juga" jawabnya.


Arion berdiri di tengah-tengah ruangan dengan raut wajah polosnya.


***


KREK!


Seorang pria paruh baya memasuki ruangan seseorang. Orang itu sedang menghadap ke jendela, ia berbalik menengok siapa yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.

__ADS_1


"Oh, Dominick. Ada apa? Tumben sekali kau mendatangiku" tanya Hanza.


"Aku ingin menanyai sesuatu, Yang Mulia" jawab Dominick.


"Tidak usah formal, biasa saja. Kau ingin menanyakan apa?" Hanza duduk di sebuah sofa yang ada disana. Ia menuangkan minuman anggur ke secangkir gelas untuk Dominick.


"Minumlah"


"Aku tidak datang untuk minum. Aku kesini karena penasaran dengan asal usul Arion" ucap Dominick.


"Kenapa? Sudah kuceritakan setahun yang lalu, bukan? Arion adalah anak dari pedagang di desa Anvio, ia adalah satu-satunya korban yang selamat disana"


"Bukan itu. Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu, Hanza. Dan juga, kenapa kau memasukkan anak ini lebih awal ke akademi? Umurnya saja belum cukup"


"Keputusan yang tepat untuk memasukkannya lebih awal. Anak itu sangat berbakat ... terlebih lagi ia sudah menguasai teknik Sensor yang ada di tingkat Ilmu High. Anakmu saja masih mempelajarinya sampai sekarang"


"Apa itu alasanmu mengangkatnya sebagai anakmu?"


"Bisa jadi. Tidak perlu khawatir, Dom ... anak itu tidak akan mengancam keselamatan kita"


"Bukan itu jawaban yang ingin kudengar" Dominick mendengus kesal lalu pergi dari ruangan Hanza.


Hanza melihat Dominick pergi lalu kembali menengok jendela. Ia menghela napas panjang sambil menggeleng pelan.


***


"Qube Art - Fire Birds!"


Daendra mengeluarkan api berbentuk burung dari dalam mulutnya.


Patung jerami yang dijadikan target oleh Daendra menjadi terbakar dan hancur sebagian. Ia melipat tangan di dadanya, berlagak pamer di depan Arion.


"Kau bisa mengalahkanku, bocah bersih-bersih?" Daendra tersenyum miring.


"Bisa" Arion tidak mau kalah. Ia mengambil posisi lalu mengalirkan Qube ke tangannya.


"Qube Art - Ice Bullets!"


Es keluar dari kedua tangan Arion, ia mengarahkannya ke patung jerami. Es-es kecil itu melesat dengan cepat layaknya peluru menuju patung jerami. Dalam waktu singkat, patung itu tumbang dalam keadaan bolong-bolong.


"Bagaimana?" Arion membalas senyuman Daendra.


"Lumayan untuk pemula" Daendra mengibas-ngibaskan tangannya.


"Woy! Kalian disana! Kemari!" Instruktur memanggil mereka dari kejauhan. Mereka berdua langsung menghampirinya.


"Ada apa, Pak?" tanya Daendra.


"Kalian bukannya berlatih pedang, malah adu Ilmu Qube" jawab instruktur itu.


"Tapi, berlatih Ilmu Qube juga penting, kan?" sahut Arion.


"Memang penting, tapi kalian disini sebagai Swordman, senjata utama kalian adalah pedang. Kalian harus memantapkan seni pedang kalian" jawab instruktur.


Ketika instruktur itu sedang menasehati keduanya, seseorang mengejutkan dengan mengeluarkan Ilmu Qube yang hampir mengenai instruktur tersebut.


"Qube Art - Dark Fire"


Bola api hitam meluncur dengan cepat melewati ketiganya. Bola api itu mengenai patung jerami disana dengan telak sampai hancur.


"Apa-apaan itu?" kata Daendra syok.


"Itu kan ..." Arion mengenalinya. Pelakunya adalah bocah misterius waktu itu.


"Hey! Apa kau mau dihukum?!" Instruktur itu murka tentunya. Ia mengomeli murid itu sampai melupakan kehadiran Daendra dan Arion.


"Dasar pamer. Kekuatanku bahkan lebih besar darinya" gerutu Daendra.


Arion mengangkat kedua tangannya ke depan.


"Qube Art - Ice Bullets"


Ia mengeluarkan es peluru dari kedua tangannya, mengarah ke instruktur dan anak itu. Daendra sangat terkejut, instruktur itu menjerit ketika puluhan es menuju kearahnya.


Tanpa satu gerakanpun, bocah itu mengeluarkan perisai api hitam dari dalam tanah untuk melindunginya dan instruktur itu.


"Apa yang kau lakukan?!" tanya Daendra, kaget.


Arion tidak menjawab, melainkan terus menatap anak itu.


"Hey! Apa kau ingin membunuhku?!" teriak instruktur. "Kalian berdua akan ku laporkan ke Madam Varegha"

__ADS_1


Arion dan anak itu tidak menunjuk raut wajah cemas. Mereka tetap tenang.


__ADS_2