
Arion dan Eden berlari menuruni tangga. Mereka berdua sangat tergesa-gesa, terutama Arion.
Kembali ke Faesa.
Ia masih terlilit oleh rantai sihir yang dimantrai oleh pria misterius itu. Pria tersebut tidak memakai jubah, ia mengenakan kameja hitam yang lebar, ditambah pedang yang menggantung di punggungnya lalu rambut merahnya yang sisir rapi ke belakang.
Matanya yang besar menyipit karena tersenyum kepada Faesa.
"Dari Demi-Human yang kutemui, kaulah yang paling manis" Ia memperhatikan fisik Faesa. "Ah, rubah ya. Hm.."
Pria itu terlihat berpikir sambil mengelus dagunya. "Kalau kau dijadikan sebagai Cremon pasti akan sangat disayangkan, bagaimana kalau kau ikut denganku?"
"Ikut denganmu? Cih! Jangan bodoh kau" jawab Faesa, kasar. Ia tetap berusaha untuk lepas dari ikatan rantai.
"Kau yakin? Jika kau ikut denganku, Tuan Sava pasti akan sangat senang"
Mata Faesa melebar, ia tidak menyangka akan mendengar nama itu lagi.
"Paman Sava? Kau mengenalnya?"
"Tentu, dia adalah Masterku. Dibawah bimbingannya aku bisa seperti ini sekarang"
"Dimana dia?"
"Takkan kuberitahu, kau harus setuju untuk ikut denganku"
"Apa untungnya bagiku?" Faesa tetap berusaha untuk mengacaukan perhatian pria itu agar ia bisa lepas dari ikatan tersebut dengan api yang ada di ekornya yang tengah membakar rantai itu.
"Kau akan diuntungkan dalam banyak hal, contohnya diakui dan disegani oleh banyak orang"
Usaha melepaskan diri dari rantai itu terhenti. Faesa menjadi diam menatap pria itu.
Arion dan Eden berlari di koridor. Mereka pun sampai di kamar Faesa. Arion hendak membukanya, namun pintu itu terkunci.
"Minggir" Eden bersiap, lalu menendang pintu itu hingga terbuka lebar.
"Faesa!" kata Arion.
"Sialan itu" Eden menatap dingin pada pria tersebut.
Pria itu berdiri dan berbalik, tapi ia tetap menatap Faesa. "Semoga kau memikirkannya dengan matang-matang" ia terjun dari sana.
Eden menyusulnya, ia ikut lompat dari jendela itu. Arion sibuk untuk melepaskan ikatan rantai dari tubuh Faesa.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Arion sambil memegang kedua pundak Faesa.
"Y-ya, aku... tidak apa-apa" Faesa sedikit termenung dan kembali menatap jendela.
***
Di pagi harinya, Serva mengumumkan untuk menutup acara pelamaran. Seluruh hadirin menjadi kecewa dan menuangkan protes kepada Serva.
Serva dibantu oleh tetua lainnya berusaha menenangkan hadirin dengan memberi ganti rugi terhadap kekecewaan mereka. Dari lantai dua, Arion dan Faesa melihat itu semua.
"Midorian membuat langkah yang nekat" kata Faesa.
"Ya, aku setuju" jawab Arion.
Arion sedikit menunduk, ia teringat kejadian tadi malam. "Faesa, soal tadi malam-"
"Soal tadi malam, apa yang pria itu bicarakan denganmu?" Eden muncul di belakang mereka, terdapat luka tebasan yang sudah mengering di dahinya.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Arion.
__ADS_1
Faesa mengerutkan dahinya dan tidak berani menatap lantai. "Tidak ada apa-apa, paham? Dia mencoba untuk-"
"Aku tidak segan untuk menghajarmu sekarang jika tidak ingin jujur" Eden menekankan.
"Sudah cukup, hentikanlah" Arion segera menengahi. Arion dan Eden sama-sama menatap Faesa.
"Dia.. mencoba untuk menjadikanku sebagai Cremon atau apalah itu, tetapi ia mencoba untuk menawari sesuatu, namun..." Faesa berhenti berbicara.
"Namun apa?" tanya Eden.
Faesa menggigit bibir bawahnya. "Namun kalian datang, aku tidak sempat mendengar tawarannya" ia memegang erat roknya.
Eden mengeluarkan belatinya dan mengacungkannya kepada Faesa. "Aku harap kau jujur, aku akan memburu pria itu sampai dapat" ia kembali memasukan belatinya kedalam kantung belakangnya.
Frimeya melihat mereka bertiga dari kursinya. Ia menjadi penasaran, lalu meminta izin untuk pergi.
"Mengurus satu Demi-Human sudah merepotkan-" Eden hendak melangkah pergi.
"Apa kau benar-benar menyalahkan-"
"Aku tidak menyalahkan siapapun. Aku membuat langkah ini agar ras Demi-Human tidak dikucilkan di masa depan"
Eden pun pergi dari sana. Faesa berbalik, ia mencengkram tiang pembatas lantai dua yang ada di depannya.
"Faesa.." panggil Arion, pelan.
Faesa menghela napas panjang. "Aku mau cari udara segar dulu" ia melangkah pergi meninggalkan Arion.
"Arion?" Frimeya baru saja datang. Arion berbalik untuk melihat gadis itu.
"Nona Frimeya, kenapa anda disini?" tanya Arion, heran dan kaget.
"Aku melihat kalian tadi, apa ada masalah disini?"
"Nona benar-benar mengakhiri acara ini, ya" ucap Arion, mengganti topik.
"Iya" Frimeya mengangguk. "Aku berencana untuk menambah ilmu lagi sebelum benar-benar harus menikah"
"Baguslah, ilmu itu penting. Aku dengar Nona Archer yang hebat, temanku Luke pasti akan senang bertemu dengan anda. Luke itu salah satu Archer berbakat di akademi"
"Benarkah? Sepertinya bertemu sesama Archer akan cukup menarik" Frimeya tersenyum.
Dari lantai satu, Trimetra melihat mereka berdua sedang mengobrol di lantai dua. Tangannya mengenggam erat pedang yang ia pegang, ia merasa geram kepada Arion.
"Tuan Muda, waktunya untuk pulang"
"Ya" jawab Trimetra dingin, sambil menatap mereka berdua.
***
Eden duduk di sebuah bar pada malam hari. Dahinya sudah diperban dan ia hanya perlu untuk menenangkan dirinya.
Ia mendengus pelan dan menyingkirkan minumannya dari pandangannya.
"Entah kenapa.. aku tambah curiga kepada Faesa?"
Seorang pelayan bar menempelkan dua buah poster di dinding. Eden yang cuek itu tertarik untuk melihat poster yang ditempelkan pelayan itu.
"Apa?" Matanya melebar dan mulutnya sedikit menganga.
Dua poster itu menampilkan wajah Mender dan Brian, dimana keduanya adalah Paman kandung Eden.
"Brian?!"
__ADS_1
***
Di tempat lain, tepatnya berada di dalam hutan, Faesa melangkah sendirian dengan ditemani oleh obor api yang ia pegang. Tangannya yang satunya memegang sehelai kertas yang tampaknya seperti sebuah peta.
Setelah menghabiskan berjam-jam, akhirnya ia menemukan tempat yang ia cari. Itu sebuah monumen kuno yang sudah di tinggalkan. Keadaan monumen itu sudah dipenuhi lumut, dindingnya ada yang retak dan dijadikan sarang oleh hewan buas.
"Sacred Turn.." ucapnya pelan.
Ia mengucapkan mantra itu untuk menghilang energi gelap di dalam monumen. Setelah tidak terjadi apa-apa di dalam, ia melangkah masuk secara perlahan.
"Fire Release - Fire Ghost"
Puluhan api berwujud hantu kecil keluar dari kedua lengan Faesa, mereka bertugas menerangkan jalan untuk Faesa.
Gadis itu kembali berjalan mengikuti arahan peta. Setelah melangkah ke dalam, ia menemukan ruangan kosong dengan lantai yang sudah di genangi air. Dinding ruangan itu dipenuhi relief kuno dan rumit.
"Siapa disana?" Faesa mendengar suara langkah dari kegelapan.
Ia menatap tajam kearah sana. Tiba-tiba, sebuah belati muncul satu sentimeter di depan lehernya. Faesa membeku terdiam, tidak bisa bergerak.
"Berani juga kau kemari"
Suara serak seorang lelaki berasal dari belakang Faesa. Kini lengan yang memegang belati itu muncul, dengan kulit putih pucat. Lengan yang satunya melingkar di bawah leher Faesa.
"Kau cukup tangguh, Faesa. Kau memang tipe cewek yang kucari" kata lelaki itu.
Wajah pucatnya muncul dari belakang Faesa.
"Hentikan, Yora, jangan ganggu dia"
Seorang pria paruh baya muncul dari kegelapan. Ia memakai seragam hitam, berkulit sisik, bermata seperti ular dan tidak memiliki hidung. Ia juga mempunyai rambut panjang yang diikat.
Yora melepaskan Faesa. Pria itu berjalan mendekati gadis rubah tersebut.
"Sudah lama tidak bertemu, Faesa. Terakhir kali kita bertemu saat kau masih kecil"
"Paman Sava, aku kesini untuk meminta bantuan darimu. Jadikan aku sebagai muridmu, aku ingin menjadi lebih kuat" ucap Faesa.
"Oooh.. aku paham. Masuklah, kita akan membicarakan ini di dalam" Sava tersenyum miring, ia melangkah kembali ke dalam, diikuti dengan Faesa dan Yora.
Mereka berjalan melalui lorong yang gelap sebelum sampai di suatu ruangan yang dipenuhi oleh kursi kayu yang tersusun rapi. Disana ada lampu gantung yang dicahayai oleh sihir api. Di pojok ruangan ada patung ular raksasa.
"Apa alasanmu untuk menjadi kuat?" tanya Sava.
"Aku tidak ingin terus dibawah orang lain dan... ingin diakui" jawab Faesa, dingin.
"Aku bisa saja menjadikanmu lebih kuat tapi aku ragu dengan tekadmu"
"Akan kulakukan apa saja" jawab Faesa.
"Baik.. kau sudah membuktikannya" kata Sava. Ia menjetikkan jarinya, muncul asap hitam di tengah-tengah mereka. Disana ada kepala singa bertanduk domba.
"Bersumpahlah dan jadilah salah satu dari kami, dengan begitu kau akan kujadikan murid dan akan kuberi kedudukan yang tinggi" ucap Sava.
Faesa menyentuh kepala singa itu. "Dengan ini, aku Faesa Foxia, bersumpah akan menuruti perkataan pemimpinku dan menjadi bawahannya yang setia"
Tidak lama kemudian, punggung tangan Faesa menampilkan simbol singa bertanduk domba yang dilingkari oleh sebuah tali kawat. Dengan begini, ia sah menjadi salah satu dari mereka.
"Selamat datang di Ethinos. Faesa, kau sudah resmi menjadi anggota. Kau boleh menghapus segala kenangan masa lalumu dan menyerahkan takdirmu kepada kami"
"Baik, Tuan Sava" Faesa membungkuk hormat.
"Maafkan aku, Arion, Daendra.. semuanya" batin Faesa.
__ADS_1