The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Whiteblood Terakhir


__ADS_3

Setelah satu hari perjalanan di kapal, akhirnya mereka sampai di pelabuhan Vogros Town.


Dikota ini cukup banyak para ksatria pengguna Qube. Mereka berasal dari ras bermacam-macam dan juga kelas yang berbeda-beda.


Namun, bukan itu yang menjadi perhatian Arion, melainkan para ras Demi-Human disana yang diperlakukan seperti budak dan diasingkan. Banyak dari mereka yang tidak punya tempat tinggal disana dan terpaksa duduk di pinggir jalan dan menerima hinaan dari orang-orang yang melewati mereka.


"Apa yang terjadi pada mereka?" tanya Kenneth.


"Sepertinya... sesuatu yang besar terjadi dan aku melewatinya" jawab Arion. Ia menggigit bibir bawahnya dan mengepal tangannya erat.


Mereka berjalan menuju ke sebuah restoran kecil. Saat mereka hendak masuk, seorang gadis Demi-Human didorong keluar oleh pemilik restoran dan mengenai tubuh Arion.


"Kau itu iblis! Jangan pernah berani menginjakkan kaki kesini" kata pria itu. Lalu, ia menoleh ke Arion. "Maafkan aku Tuan, karena harus melihat hal semacam tadi. Anda boleh masuk"


Arion tidak langsung merespon. Ia memandangi gadis yang masih berpangku di tubuhnya. Gadis Demi-Human itu berjenis Harimau, ditubuhnya terdapat beberapa loreng hitam, terutama di bagian lengan.


Gadis itu segera berdiri dan membungkuk maaf kepada Arion. Penampilannya sangat kacau, wajahnya kotor karena debu arang, rambut hitamnya yang panjang kusut-kusutan dan pakaiannya sobek-sobek, sudah tidak layak dijadikan pakaian lagi.


"Kenapa ini?" tanya Kenneth, tidak suka dengan perlakuan Sang pemilik restoran kepada gadis itu.


"Dia dari ras keturunan iblis, Tuan. Para pengunjung saya tidak menyukai dia disini. Dari tadi, ia meminta makanan. Saya sudah memberikannya tapi ia malah meminta uang" jelas pria tersebut.


"Tidak apa, aku akan beli beberapa makanan dan pergi dari sini" kata Arion. Ia memberikan pria itu beberapa koin emas.


"Baik, Tuan. Akan kami siapkan, mohon tunggu sebentar" lalu pria itu masuk kembali ke dalam.


Kenneth terkejut karena Arion mengeluarkan uang yang cukup banyak. "Jangan habiskan uang kita, perjalanan kita masih jauh, Arion"


"Kalau uangnya habis, kita bekerja untuk mendapatkannya" jawab Arion dengan santai. Ia menoleh ke gadis yang ada di hadapannya kini.


"Siapa namamu?"


"Fieyni"


Kenneth menatap dekat Fieyni. "Kau itu kotor sekali dan.. kau tidak punya ekspresi. Datar sekali"


Arion terkekeh pelan. "Itu mengingatkanku kepada seseorang"


"Siapa?" tanya Kenneth. Lalu, makanan mereka sampai dan sudah dibungkuskan.


Lalu, Arion memberikan beberapa makanan kepada dan beberapa koin emas kepada Fieyni. Gadis itu sedikit melongo melihat Arion memberikan semua itu kepadanya, sudah dua tahun ini tidak ada orang sebaik Arion, menurutnya.


"Terima kasih. Aku berhutan budi kepada kalian" ucapnya.


Arion tersenyum. "Tidak masalah, kau bisa membawa itu semua"


Fieyni mengangguk dan membungkuk hormat kepada mereka, lalu pergi dari sana dengan membawa seluruh pemberian Arion.


Kenneth memandangi Fieyni sejenak lalu menoleh ke Arion. "Bisa kau ceritakan, apa yang terjadi dengan ras ini?"


Arion menghela napas panjang. "Ini ada hubungannya dengan kemunculanku tiga tahun yang lalu. Aku dipindahkan melalui gerbang dimensi untuk menghindari pertarungan"


"Gerbang dimensi? Itu Ilmu Meta, apa kau yang melakukan itu?"


"Tidak, temanku lah yang melakukannya. Disaat itu aku tengah bertarung dengan saudariku, situasi menjadi kacau ketika aku terkena luka ini.." ia menunjuk punggungnya.


"Mungkin kejadian itu mengakibatkan pengucilan terhadap ras Demi-Human" lanjutnya.


"Aku tidak menyalahkan siapapun. Aku membuat langkah ini agar ras Demi-Human tidak dikucilkan di masa depan"


Arion menunduk. Ia mengingat perkataan Eden kepada Faesa, dan firasatnya ternyata benar.


..


...


Masih di Vogros Town, karena hari sudah malam, mereka berdua memilih menginap di salah satu penginapan sederhana disana.


"Ayo, ayo. Siapapun dengar aku" Arion masih mencoba untuk berkomunikasi melalui cermin sihir itu. Hasilnya tetap nihil, Arion mendengus pelan dan menyimpan cermin itu kembali.


"Hmm.. tujuan kita selanjutnya.. Dareville" Kenneth baru saja memasuki kamar sambil memegang sebuah peta. "Sepertinya tujuan kita selanjutnya cukup jauh"

__ADS_1


"Lihat" Arion merebut peta itu dari tangan Kenneth. "Butuh waktu berhari-hari agar sampai ke Rabadar Kingdom.." Arion tidak sengaja melihat sebuah daerah di peta itu.


"Blackclaws Temple"


Lokasi daerah itu berada tidak jauh dari Anvio Village. "Tidak ada salah untuk mengunjunginya, kan?"


"Terserah, aku ikut saja. Tapi, aku tidak mau tahu kalau uang kita habis" jawab Kenneth.


"Iya, iya"


Mendadak, gempa bumi kecil melanda kota. Arion dan Kenneth diam di tempat karena kaget, lampu di dalam kamar mereka sempat berkedip-kedip.


"Apa itu tadi?" tanya Kenneth.


"Sepertinya hanya gempa kecil" jawab Arion.


Tidak lama kemudian, getaran kembali muncul, kali ini lebih kuat dan mengeluarkan suara nyaring. Mereka berdua langsung bersiaga, Kenneth memeriksa keadaan diluar dari melihat keluar jendela.


"Sejak kapan diluar hujan?" tanya Kenneth. Tiba-tiba, es merambat ke jendela secara perlahan. "Apa-apaan ini?"


"Apa suhu diluar sangat dingin?" tanya Kenneth lagi.


"Ini bukan fenomena alam, ada sesuatu diluar" jawab Arion. Ia membuka pintu kamarnya. Para pengunjung penginapan berada di luar kamar mereka untuk memeriksa keadaan juga.


Arion menutup pintu kamar kembali. Ia merasa ada sesuatu diluar, tapi anehnya ia tidak dapat merasakannya.


"Ada sesuatu yang besar diluar" ucap Kenneth.


"Yang benar?" Arion turut melihat keluar jendela.


Tidak jelas makhluk apa itu, tapi ukurannya besar dan memiliki empat kaki. Diatas makhluk itu ada seseorang berjubah lebar seperti hantu. Arion menyipitkan matanya untuk melihatnya lebih jelas.


"Sial, itu Retian" wajahnya menjadi pucat.


"Hah? Siapa?" tanya Kenneth.


"Kita harus pergi dari sini" Arion segera mengemasi barang-barangnya.


"Orang yang tidak ingin kutemui. Necromancer"


"Itu buruk" Kenneth juga ikut mengemasi barang-barangnya.


Suara jeritan orang-orang diluar penginapan terdengar. Ada juga suara makhluk-makhluk buas, entah apa yang mereka lakukan diluar sana.


Tiba-tiba, seorang Goblin terlempar masuk ke dalam kamar mereka. Arion dan Kenneth terdiam memandanginya, Kenneth menoleh keluar jendela. Goblin itu masih hidup tapi langsung dibunuh oleh Arion dengan pedangnya.


"Um.. Arion, sebaiknya kau lihat ini" ucap Kenneth. Arion langsung menghampirinya. Diluar sana, sudah terjadi kekacauan. Disana sudah mirip seperti medan perang. Para ksatria disana sedang bertempur melawan para Orc dan juga Goblin.


"Apa yang dilakukan Retian sampai seperti ini?" gumam Arion.


BRAK! BRAK!


Ada sesuatu yang berusaha mendobrak pintu kamar mereka. Pintu itu hancur, disana ada empat Goblin dengan pedang.


"Pergi dari sini, hidup-hidup. Paham?" ucap Kenneth.


"Ya" Arion bersiap untuk bertempur.


Mereka bertarung dengan empat Goblin itu, tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menyelesaikannya. Arion menyandang tasnya dan berlari keluar penginapan, diikuti Kenneth.


Di ujung koridor ada seorang Goblin sedang menyerang orang disana. Arion menggunakan Element angin untuk menyerangnya.., Goblin itu terhempas dari sana dan menghantam dinding sampai mati.


Arion dan Kenneth berhenti sejenak di lobby penginapan. Mereka memandangi tempat yang sudah hancur dan dipenuhi dengan darah.


"Ayo" kata Arion.


Mereka keluar dari sana. Beberapa ksatria berlari melewati mereka, Arion melihat belasan Orc sedang bertarung dengan beberapa Swordman.


"Strike Air!"


Arion menebaskan pedangnya ke udara. Para Goblin yang ada di depannya menjadi terluka akibat angin dari tebasan udara Arion.

__ADS_1


"Jangan lengah!" seru Arion.


Mereka terus berlari dari kekacauan. Hujan yang lebat serta gelapnya malam menganggu penglihatan mereka. Tiba-tiba, seorang pria terjatuh dan terseret kebelakang mengenai Arion yang ikut terjatuh ke tanah.


"Arion!" Kenneth langsung membantunya berdiri. "Ayo!"


Beberapa bola api melesat diatas mereka dan meledak di kerumunan Orc. Belasan anak panah menghujani daratan dan hampir mengenai Arion.


"Awas!!" teriak seseorang.


Kereta gerobak terlempar di udara. Keadaan disana sudah sangat kacau. Arion dan Kenneth terus berlari, mereka tidak ingin langsung terlibat, karena dibalik ini semua berasal dari seorang Necromancer, Retian.


Dengan cepat, para Undead mengepung Arion dan Kenneth beserta para ksatria lainnya. Seharusnya para Undead ini bisa mereka tuntaskan dengan cepat, tapi Arion tidak ingin mengundang perhatian Retian.


"Namun, para Undead ini.. lebih kuat dibandingkan Undead yang dulu kulawan di Ovaio Forest" batin Arion.


"Sepertinya, memang harus kulakukan.." gumam Arion. Ia mengepal tangannya, keluar hawa dingin dari tangannya itu.


Kenneth ingin melawan, tapi ia sadar kekuatannya tidak cukup kuat untuk menumbang dua dari mereka. Satu mungkin, namun ia akan kehabisan setengah dari Qubenya.


"High Art - Ice Valley!"


Dari pijakan kaki Arion, es menjalar cepat. Membekukan apa saja disana, termasuk para Undead itu. Es terus menjalar kemana-mana hingga membentuk bukit es. Para Goblin dan Orc yang berada disana ikut membeku dan terjebak dalam kurungan es. Kenneth dan ksatria lainnya langsung menghindar setelah mendapat seruan dari Arion.


"Wah.." para ksatria berdecak kagum melihat kemampuan Arion dan sayangnya, Retian mengetahui perbuatan Arion.


"Kau kah itu?" Retian muncul secara tiba-tiba dibelakang Arion.


Arion dan Kenneth langsung bersiaga. Mereka menghunus pedang ke depan.


"Sudah lama tidak berjumpa, Nak. Aku harap kau tidak menganggu rencanaku kali ini"


"Apa rencanamu?" tanya Arion, menatap tajam kepada Retian.


"Seperti yang orang-orang lakukan saat ini" jawab Retian. "Memburu Whiteblood terakhir"


Mata Arion melebar, tanda ia sangat terkejut. "Apa maksudmu?"


"Apa maksudku? Kau tidak bercanda 'kan?" Retian menganggap Arion konyol sekarang.


"Ya, dia selalu bercanda" sahut Kenneth. Arion menatapnya datar.


"Selama tiga tahun ini, berita tentang Whiteblood terakhir tersebar ke seluruh Benua Timur. Rabadar Kingdom yang memulai menyebarkan berita itu. Dan aku disini, sedang mencarinya" Retian menatap tajam pada Arion.


Ia mengibaskan tangannya, angin menabrak tubuh Arion, membuat tudung jubah dan topi jeraminya jatuh dari kepalanya. Rambut putih Arion yang panjang itu dilihat oleh semua orang.


"Tidak mungkin.."


"Dia.. Whiteblood terakhir?"


"Astaga, aku tidak percaya melihatnya dengan mata kepalaku sendiri"


Arion tidak bergerak di tempatnya. Ia hanya mengenggam pedangnya dengan erat dan berusaha menghilangkan rasa takutnya.


Ya, Arion takut, sangat takut. Walaupun ia bertambah kuat, namun tetap saja ketakutannya kepada Retian tetap tidak berkurang.


"Aku kemari untukmu! Arion Whiteblood!" Retian menunjuk kearah Arion.


"Kemari kau!" Retian melesat dengan satu tendangan tanah. Ia mengulurkan tangannya ke depan.


"Sial, lagi-lagi aku tidak bisa bergerak" batin Arion.


"Tiger Wave!" Sebuah cakaran besar mengarah ke Retian. Dengan sigapnya, Retian melindungi dirinya dengan perisai hitam dan terhempas beberapa meter ke belakang.


"Ice Release - Ice Burst!"


Kenneth menyemburkan hawa dan kabut es dari mulutnya. Jurus Kenneth itu membuat sekitarnya ditutupi oleh kabut es tersebut.


"Ayo, kesini!" Fieyni muncul ditengah-tengah mereka. Arion dan Kenneth mengikuti gadis tersebut.


Retian mengetuk tongkatnya ke tanah, kabut itu langsung hilang. Arion juga hilang dari pandangannya.

__ADS_1


"Cih! Akan kuburu kau, Whiteblood"


__ADS_2