
- ???
Retian datang menemui Dark Lord di kastilnya. Kastil itu berada di dalam lembah terdalam di dunia dengan di jaga ketat oleh para Troll dan Orc.
Gerbang kastil terbuka lebar untuk Retian. Ia menemui salah satu Troll untuk mengabarkan ia sudah sampai kepada Dark Lord.
Troll itu mengangguk lalu berlari ke dalam kastil. Retian mengikuti dari belakang, ia menunggu di lantai satu. Kastil itu mempunyai empat lantai, Retian tidak akan pernah berani menginjakkan kakinya ke lantai dua, tiga maupun empat. Kabarnya, ketiga lantai itu merupakan tempat privasi Dark Lord yan tidak boleh diganggu gugat.
Di lantai satu itu, lantainya diberi warna hitam yang dilapisi karpet coklat. Ada tangga melingkar yang menghubungkan lantai satu dan dua yang terletak di pinggir. Api biru berterbangan kesana-kemari, bertugas untuk menyinari ruangan dan terakhir ada patung orang mati di pojok-pojok ruangan.
Beberapa saat kemudian, muncul seseorang bernama Dark Lord itu. Ia mengenakan jas hitam dan celana hitam, wajahnya putih, memiliki bekas luka di pinggir bibirnya dan mempunyai rambut coklat. Matanya berwarna biru cerah dan ia mengenakan cincin di jari manisnya.
"Tuan" Retian duduk berlutut ketika melihat orang itu muncul.
Ia turun dari lantai dua melalui tangga. Suara langkah sepatunya terdengar ke seluruh penjuru lantai satu itu.
"Kau gagal, huh?"
"Maafkan saya, Tuan" Retian tetap duduk berlutut sambil memandang lantai. Ia tidak memiliki nyali untuk menatap langsung pemimpinnya itu.
"Baiklah, apa alasannya kau menjadi gagal?"
"I-itu.." Retian menggigit bibir bawahnya. "K-karena beberapa.. bocah"
"Hm?"
Retian menutup kedua matanya, malu akan dirinya sendiri. Dark Lord berjalan mengelilinginya.
"Apa tidak ada alasan lain?"
Retian tidak menjawab. Memang tidak ada alasan lain, ia memang benar-benar dikalahkan oleh sekumpulan bocah yang belum lulus akademi.
"Lalu, bagaimana keturunan itu?"
"Dia dibawa menuju Rabadar Kingdom"
"Oh, Rabadar, ya. Kau sudah memastikannya?"
"Sudah, Tuan"
"Baik. Kita biarkan untuk beberapa saat, akan kutugaskan seseorang untuk mengawasi keturunan itu. Kau boleh pergi"
***
- Akademi Gyrawart
Malam hari di akademi sangat meriah pada tahun ini, karena mereka mengadakan pesta perpisahan untuk murid tahun terakhir.
Kita kembali ke pagi hari, sebelum pesta diadakan. Seluruh murid tahun terakhir dikumpulkan di aula untuk diberi pengumuman akan acara terakhir untuk mereka ini.
Madam Varegha dan Felim berdiri di tengah-tengah mereka.
"Sebelum kita mengalihkan topik ke acara malam ini, aku akan memberikan kalian ucapan. Selamat, kalian akan menjadi ksatria setelah lulus dari sini. Kalian semua telah membuktikan diri kalian layak sebagai ksatria setelah menjalani ujian yang berat. Sekali lagi, selamat" kata Felim.
Seluruh murid bertepuk tangan. Felim melirik ke Arion. "Selamat" ucapnya.
Arion mengangguk sambil tersenyum.
"Baik. Untuk acara malam ini, kita akan mengadakan dansa sebagai acara puncaknya..."
Sebagian murid laki-laki bersorak kecewa. Mereka tidak menginginkan itu tentunya.
"Ini sudah tradisi akademi. Kalian akan berpasang-pasangan antara laki-laki dan perempuan. Carilah pasangan kalian, tidak ada protes" kata Madam Varegha.
"Lalu, di acara itu juga, akan ada pengumuman juara" sambungnya.
Kembali ke malam hari.
Akademi dihiasi oleh cahaya. Seluruh murid dari tahun pertama hingga akhir hadir ke acara perpisahan itu yang berlangsung di aula.
__ADS_1
Disana sudah dihiasi oleh pita dan cahaya. Lampu gantung besar terletak di langit-langit ruangan, kemudian ada air mancur yang terbuat dari sihir tentunya. Ada juga meja panjang yang berjejer di pinggir aula sebagai letak makanan dan minuman.
Arion sudah datang. Ia dibaluti oleh jas hitam dan rambutnya diikat rapi, membuatnya terlihat tampan.
Daendra berada disampingnya. Ia memakai jas merah dengan kameja putih di dalamnya. Ia sama rapinya dengan Arion, membuat keduanya menjadi perhatian siswi-siswi disana.
"Sial, aku rasa aku ingin mual" Arion ingin pergi dari sana, tetapi Daendra memegang kerah jas belakang Arion.
"Jangan coba-coba" kata Daendra, dingin.
"Aku tidak bisa melakukan ini!" ucap Arion.
"Tenanglah, ingat saja latihanmu tadi siang" Daendra menarik kembali Arion ke sampingnya.
Mereka sama-sama masuk ke dalam aula. Tidak lama kemudian, Faesa datang menghampiri mereka. Gadis itu dibaluti gaun biru yang mewah, rambutnya dicepol tinggi dan ia terlihat seperti gadis istana, tidak seperti petarung jalanan lagi.
"Hai, dua tampan" sapa Faesa.
"Hai Faesa" balas Arion.
"Mana pendampingmu?" tanya Daendra.
"Dia disini" Faesa menarik Aciel dari balik tirai. Ia terlihat malu dan gugup.
"H-hai" sapa Aciel.
Lalu, bel berbunyi, menandakan semua murid berkumpul di aula.
"Kami pergi dulu" Faesa menggandeng lengan Aciel, lalu pergi. Tak lama kemudian, pasangan Daendra sampai.
"Ingat saja latihanmu" kata Daendra sebelum ia pergi dengan pasangan dansanya itu.
"Baiklah" gumam Arion.
Setelah seluruh murid berkumpul, Felim berdiri diatas podiumnya untuk menyampaikan sesuatu.
"Dengan dimulainya acara ini, berarti para murid tahun terakhir akan menjalani malam terakhirnya disini sebelum pulang ke rumah masing-masing. Dengan begitu, para ksatria baru telah dilahirkan kembali tahun ini.
Penghargaan pertama yang akan disebutkan adalah kelas terbaik. Kelas Archer mendapat posisi ketiga, Kelas Assassin mendapat posisi kedua dan Kelas Swordman mendapat posisi pertama.
Lalu, dilanjutkan ke siswa yang jenius untuk seluruh tahun. Posisi ketiga ada Faesa.
Gadis itu tidak percaya, sambil menutup mulutnya, ia maju kedepan. Arion bertepuk tangan untuknya.
Lalu, Luke di posisi kedua.
"Benarkah?" Luke juga kaget.
Dan posisi pertama, ada Aciel sebagai jenius terhebat.
"Aku?" Ia maju ke depan dengan kaki yang gemetaran.
Dan terakhir, murid dengan nilai tertinggi. Posisi ketiga didapatkan oleh Daendra. Ia maju ke depan dengan tenang.
Posisi kedua ada Eden. Lelaki itu seperti biasa dengan raut wajahnya yang datar dan dingin.
Dan, posisi pertama ada Arion. Ia maju dan berdiri di tengah-tengah Daendra dan Eden. Ini mengingatkannya waktu bertarung dengan Retian, saat itu mereka juga bekerja sama melawan Necromancer.
"Inilah juara kita!" seru Felim. Seluruh murid bertepuk tangan. "Tunggu apa lagi? Mari kita mulaikan pestanya!"
Musik mulai dialunkan. Seluruh orang disana berdansa mengikuti alunan musik.
Walau gugup, Arion tetap melakukannya dengan baik. Pasangan dansanya itu hampir tidak mengetahui kalau Arion terlihat gugup.
Di sisi lain, Faesa mendominasi pentas dansa. Aciel yang sebagai teman dansanya itu tidak bisa berkata apa-apa dan hanya mengikuti Faesa.
Felim menambahkan kemilau di aula dengan sihirnya. Luke dan Glenn makin menggila, mereka berjoget dan sempat akrobat, bahkan mengenai kepala Daendra.
"Kalian kurang ajar!" Daendra melempari mereka dengan air sirup.
__ADS_1
Arion tertawa melihatnya, tetapi ia merasa ada yang kurang. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, tapi tidak menemukannya.
Pesta semakin meriah saat para Instruktur turut menari.
Beda dengan keadaan di dalam. Seseorang duduk sendirian diatap menara akademi, hembusan angin malam menabrak dirinya, rambutnya ikut terhembus kesana kemari, matanya yang emas menatap bintang-bintang yang menghiasi langit.
Ia mengambil cerutu di jasnya lalu membakarnya. Ia merokok disana, sendirian dan tidak ada gangguan.
Mungkin memang itu yang ia nikmati selama ini. Kesunyian tidak selamanya mengerikan, kesunyian membuat penikmatnya larut dalam kedamaian yang sunyi.
***
Di pagi harinya...
Arion dan yang lainnya sudah berkemas. Mereka dijadwalkan akan berangkat kembali ke rumah hari ini.
Azio, junior Arion yang tinggal serumah dengannya merasa tidak rela Arion pergi. Arion menenangkannya, ia berkata bahwa teman-temannya akan selalu berada di sampingnya dan juga ia akan mendapat junior baru yang siap menolongnya kapanpun.
Azio pun tenang dan merelakan Arion pergi. Arion dan Daendra pergi menuju terminal, akan ada rombongan kereta kuda yang siap menjemput mereka.
"Kita pulang juga akhirnya" kata Daendra.
"Ya, berada enam tahun disini membuatku lupa akan rumahku sendiri" jawab Arion.
"Hey... kau ada benarnya" Daendra mengangguk setuju.
"Apa yang akan kita lakukan setelah ini?" tanya Arion.
"Aku belum memikirkannya. Sebagai Pangeran Mahkota, aku mungkin akan mempelajari tata hukum dan politik, serta sistem pemerintahaan" jawab Daendra.
"Wah, kau sibuk. Aku yang hanya sebagai Pangeran biasa ini hanya bisa diam di tempat"
"Jangan seenaknya, akan kubuat kau sibuk, karena kau adalah Adikku" Daendra merangkul Arion.
"Ah, janganlah! Aku tidak mau sibuk"
"Kau memang tidak cocok sebagai Raja ternyata" Daendra menatap datar Arion. "Tapi... apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"
Arion terdiam sejenak. Ia memikirkan untuk mencari peninggalan klannya. Setelah mendengar bahwa darah seorang Whiteblood lebih berharga dari darah keturunan naga, membuatnya makin penasaran dengan klannya sendiri.
Tentunya ia tidak mengatakan hal seperti itu kepada Daendra. Ia masih merahasiakan identitasnya.
Sambil memegang kalung liontin yang melingkar di lehernya, ia menjawab "Aku belum mempunyai rencana sejauh ini"
Mereka sampai di terminal. Kereta kuda penjemput itu belum sampai, terpaksa mereka menunggu disana.
"Kalian meninggalkanku!"
Faesa membuat keduanya terkejut.
"Tenang, kami belum pergi" ucap Daendra.
Lalu, Eden dan Aciel datang. Arion melihat Aciel sangat kerepotan dengan barang-barangnya itu.
"Kau kerepotan, mau kutolong?" tanya Arion.
"T-tidak perlu, aku bisa.. sendiri" jawab Aciel.
Arion ingin mengambil tongkat Aciel, tapi ia teringat kembali tentang Jalan Energi itu. Ia menarik tangannya kembali.
"Eden, setelah ini kau akan kemana?" tanya Faesa.
"Entahlah, mungkin aku akan berkenala dulu sebelum memutuskan sesuatu" jawab Eden.
"Um.. kalau begitu, aku akan memberimu ini" Eden memberikan sebuah cermin kepada Eden. "Cermin ini membuat kita bisa terus berkomunikasi" lanjutnya.
"Terima kasih, akan kusimpan"
"Ya, sepertinya dari kita belum memutuskan apapun" kata Faesa.
__ADS_1
"Kau benar. Mungkin.. kita bisa menemukannya suatu saat" Aciel mengelus dagunya sendiri.
"Yah, mungkin."