The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Ovaio Forest


__ADS_3

Hujan deras membasahi bumi. Arion dan teman-temannya beserta kedua adik Rena berdiam diri di penginapan. Tidak ada dari mereka yang mulai membuka suara sejak dua jam yang lalu.


Daendra juga, ia dari tadi hanya berdiri menghadap jendela. Dua jam berlalu tapi ia tetap disana memandang langit.


Arion menghela napas panjang. Ia sudah melaporkan kejadian ini kepada Kepala Desa, Mike sedang mencari lokasi persembunyian Retian. Jadi, mereka hanya berharap Mike dapat menemukan lokasi itu secepat mungkin.


"Aku sudah mengirim pesan ke akademi tapi mungkin akan memakan waktu yang lama" Luke membuka suaranya.


"Itu terlalu lama" Arion menggeleng.


Glenn menghela napas panjang. Ia sedang berbaring di kasur karena luka yang ia alami dan racun yang sedang Neo usahakan untuk mengeluarkannya dari tubuh Glenn.


Glenn merasa bersalah dan mengutuk dirinya sendiri atas insiden yang menimpa Rena, ia menyalahkan dirinya.


Arion melirik ke Rofa dan Ed yang melamun menatap lantai. "Mereka berdua juga keturunan Naga, aku harus menjaga mereka atau tidak ..."


Arion menggeleng pelan lalu bangkit dari duduknya. Ia melangkah keluar dari kamar. Arion turun ke lantai satu, tepatnya ke lobby penginapan yang sederhana.


Arion memilih duduk disana dan membiarkan pikirannya tenang untuk sejenak. Untuk pertama kali dalam hidupnya sejak Ibunya meninggal, Arion mengasihi dirinya.


"Kau tampak kacau, Arion" suara bariton itu sedikit mengejutkan Arion, ia langsung menoleh kesampingnya dan mendapati seorang Eden di sana.


"Eden?!"


Eden menoleh kearahnya. Tatapan datar itu membuat Arion tetap tidak percaya melihat Eden disini.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Arion.


"Tugasku sudah selesai dan aku masih punya beberapa hari lagi sebelum kembali ke akademi" jawab Eden sambil melahap sebuah apel.


"Bagaimana dengan Faesa dan Aciel?" tanya Arion lagi.


"Mereka kusuruh berlibur ... bersama seorang bocah kecil" Eden kembali menatap Arion. "Ujianmu tidak berjalan sesuai ekspetasimu, apa aku benar?"


Arion menoleh ke lantai, ia terdiam sebelum menjawab pertanyaan Eden. "Iya. Aku ... entahlah. Banyak hal yang harus dicerna oleh pikiranku sekarang ini ..."


"Hmm. Anak rangking satu ternyata bisa depresi juga" ujar Eden.


"Aku masih ragu kalau aku mendapat posisi paling atas. Aku yakin kau bisa mendapat rangking itu dengan mudah"


"Jika itu keinginanku bisa saja. Tapi, aku tidak ingin"


Arion tersenyum mendengar jawab Eden yang sedikit angkuh itu. Eden mengambil cerutu dari dalam jubah hitamnya, ia membakar ujung cerutu itu lalu menghisap ujung lainnya.


"Tidak kusangka kau perokok" kata Arion, agak kaget.


"Kau memang tidak pernah menyangkanya" jawab Eden sambil mengembuskan asap dari dalam mulutnya.


"Arion, aku menemukannya lokasinya!" Suara Mike muncul dari saku celana Arion. Arion pun dengan segera merogoh sakunya dan mengambil cermin itu.


"Kau sudah?! Di mana?!" tanya Arion, antusias.


"Di dalam Ovaio Forest, tapi aku tidak bisa masuk karena ada puluhan Orc yang berjaga" jawab Mike.


"Tidak apa. Terima kasih banyak, Mike! Aku akan ke sana, kau boleh pergi"


Setelah itu, Arion kembali menyimpan cerminnya ke dalam saku.


"Semangatmu kembali" sahut Eden.

__ADS_1


"Aku harus cepat, dunia bergantung pada ujian ini" ucap Arion.


Eden mengambil cerutu itu dari mulutnya lalu ia padamkan di piring yang terletak di depannya. "Aku akan membantumu"


"Baiklah!" Arion mengangguk. Ia memanggil teman-temannya dari lantai atas dan memberitahukan semuanya kepada mereka.


"Baik! Mari kita hajar Retian sialan itu!" Luke kembali bersemangat, ia mengambil busur dan anak panahnya.


Daendra juga kembali hidup, kali ini ia bertekad untuk tidak membiarkan Rena dibawa lari lagi.


"Kau tetap di sini, apapun yang terjadi jangan berpindah tempat" kata Arion pada Glenn.


"Aku paham" Glenn mengangguk. Padahal sebenarnya ia ingin ikut dan menyelamatkan Rena.


"Kalian berdua, tinggal juga di sini. Kami akan membawa Kakak kalian kembali, itu janji kami" ucap Arion kepada Rofa dan Ed. Mereka menurut dan mengangguk.


"Jaga Glenn, kami akan kembali secepatnya" Arion melangkah keluar. Ia sudah siap untuk bertempur. Setelah semuanya keluar, Glenn memanggil kedua adik Rena untuk mendekat.


"Kita akan merencanakan serangan kejutan" bisik Glenn.


"Waaah! Setuju!" jawab Rofa dan Ed serentak.


Mereka semua turun ke lantai satu. Daendra dan seluruh anggota kelompok kecuali Arion terkejut melihat Eden di sana.


"Apa yang ia lakukan di sini?" bisik Luke.


"Apa yang kau lakukan di sini, Blackclaws?" tanya Daendra.


"Untuk berlibur" jawab Eden singkat.


Arion melangkah menghampiri Eden. "Kau tahu jarak dari sini ke Ovaio Forest?"


"Kurang lebih tiga kilometer. Sulit untuk ke sana jika menggunakan kuda pada saat ini" jawab Eden.


Eden menyentuh dinding lobby. Tiba-tiba, dinding yang disentuh Eden itu meledak, untungnya saat itu penginapan lagi sepi dan tidak ada pegawai yang berjaga di lobby karena serangan oleh para Goblin.


Arion dan kelompoknya terkejut dan langsung menjauh. Setelah ledakan itu, mereka melihat sisi lain dari dinding yang menampilkan hutan lebat.


"Jangan khawatir, ledakan itu hanya efek saja. Dinding ini nanti akan kembali seperti semula" ucap Eden.


Arion saling pandangan dengan teman-temannya.


"Masuklah, ini akan mengantarkan kita cepat ke hutan itu"


Arion melangkah duluan, ia masuk ke dalam lubang itu. Dengan sekejap mata saja, ia sudah berada di luar hutan. Hujan masih mengguyur dengan deras disana.


Daendra menyusul, lalu diikuti Luke dan anggota lainnya. Eden pun masuk, setelah mereka semua berpindah tempat, dinding itu kembali ke semula seperti tidak pernah terjadi apa-apa pada dinding tersebut.


"Kau menguasai Ilmu High? Wah, kau mengagumkan!" tanya Luke.


"Begitulah, sebaiknya kita cepat atau tidak target ujian kalian akan hilang" Eden melangkah lebih dulu.


Arion dan Daendra langsung jalan di samping Eden. Mereka semua bersama-sama memasuki hutan.


***


"Dark Lord menginginkan darah gadis ini segera diberikan kepada mayat-mayat untuk dijadikan pasukan, kita harus bergerak cepat" kata Retian.


Mereka saat ini berada di dalam hutan dengan beratapkan sihir agar tetesan hujan tidak mengenai mereka. Rena diletakkan di pohon dengan posisi terikat oleh rantai sihir.

__ADS_1


"Aku memerlukan mayat-mayat lagi. Stock mayatku hampir habis" kata Retian.


"Tidak perlu khawatir, Tuan. Dengan cepat kami akan memberikan dua ribu mayat yang siap untuk bertempur" kata Goblin bermata putih.


"Sebaiknya cepat. Ia terlihat kesakitan" Retian melirik ke Rena.


Goblin itu membungkuk lalu pergi bersama prajurit Goblin lainnya. Retian menghela napas pendek, ia duduk di depan Rena yang sedang memandangnya.


"Sebenarnya aku tidak mengharapkan keturunan Sang Naga jatuh ke seorang gadis sepertimu. Aku terpaksa kalau begini jadinya" kata Retian.


Rena kaget tentunya. Seorang Necromancer seperti Retian ternyata masih punya peduli kepadanya yang seorang gadis.


"Kenapa kau masih mau menjalankan misimu ini?" tanya Rena.


"Aku adalah orang yang patuh pada perintah"


"Kalau begitu, kenapa kau tidak membawaku ke tempat pemimpinmu?"


"Karena kau adalah seorang gadis. Aku membuat sumpah untuk tidak menyiksa gadis atau anak-anak. Jika kau sudah di tempat Dark Lord, kau sama seperti di neraka. Di sini, kau masih bisa berharap jika seseorang akan menyelamatkanmu, walau aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi"


Rena tertahan napasnya lalu ia tersenyum hangat. "Aku yakin Tuan Daendra akan menyelamatkanku dan juga menyelamatkanmu dari kegelapan"


Retian mengerutkan dahinya. "Apa maksudmu?"


"Aku melihat setitik cahaya kebaikan di dalam dirimu"


***


Arion mengintip dari balik pepohonan. "Ada tiga Orc di sana" bisik Arion.


"Akan kuatasi" kata Luke.


Luke menyiapkan tiga anak panah sekaligus di busurnya. Ia mulai membidik.


Wush!


Ketiga anak panah itu melesat tetapi satu anak panah yang berhasil mengenai tubuh Orc, sedangkan dua lainnya meleset. Gawatnya, kedua Orc itu menyadari serangan Luke.


"Sial, mereka akan melapor kepada kawan-kawannya!" bisik Luke.


Sebuah belati melesat dari semak-semak dan mengenai pipi salah satu Orc. Pisau itu menembus masuk ke dalam mulut dan berakhir di pipi sebelahnya.


Eden dengan cepat menyerang Orc yang satunya, Orc itu terlihat kebingungan. Dengan keheningan, Arion melukai tubuh Orc itu lalu menebas lehernya.


"Sisanya kalian saja" kata Eden dengan datar, ia duduk diatas mayat Orc yang baru saja ia bunuh itu.


Daendra datang dari atas dengan pedang yang mengarah tepat ke bawah. Sambil mengerang, ia menusuk kepala Orc itu hingga darah memuncrat dari kepalanya.


Bum!


Orc itu tumbang tepat di samping mayat Orc, korban dari Eden.


"Ayo, cepat, kita tidak boleh membuang-buang waktu" Daendra langsung bergerak maju.


Mereka menelusuri hutan hujan itu. Hutan tersebut lebat dan tanahnya banyak berlubang, sehingga mereka semua sedikit kesulitan melangkah di sana.


Arion yang berjalan di depan terus memotong dedaunan dan semak-semak yang ada di depan untuk membuat jalan. Tiba-tiba, ia berhenti, seluruh temannya juga berhenti karena melihatnya menghentikan langkahnya.


"Teman-teman ... sepertinya misi ini akan memakan waktu yang lama" kata Arion.

__ADS_1


Daendra dan Luke melebarkan mata mereka. Di hadapan mereka saat ini, lebih tepatnya mereka berada di atas tebing, mereka semua dapat melihat pemandangan seluruh hutan dari atas sana.


Ovaio Forest adalah hutan yang luas dengan makhluk-makhluk yang berbahaya di dalamnya.


__ADS_2