The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Necro dan Whiteblood?


__ADS_3

"Jika Necromancer dan seorang Whiteblood bekerja sama, apa jadinya, ya?" ucap Retian sambil tersenyum miring.


"Hah?" Arion menjadi bingung, begitu juga dengan Banier dan Fieyni serta orang-orang disana. Retian menghentakkan tongkatnya ke tanah, pasukan Undeadnya berkumpul di dekatnya.


"Jangan memperumit situasi ini, Retian" kata Banier.


"Kau yang lebih dulu memperumitnya" jawab Retian. Arion merasa sedikit risih karena dikelilingi oleh para Undead ini, sebagian dari mereka berbentuk sangat mengerikan.


"Soal perdamaian yang kau bicarakan tadi, tidak buruk juga. Kita berdamai untuk sejenak, Ethinos sangat kuat, kita harus bekerja sama" kata Retian.


Arion terdiam sejenak sebelum mengangguk. "Baiklah, kerja sama denganmu akan menjadi sejarah bagiku"


Caith mendekati mereka. "Bocah, bagaimana sekarang?"


"Kita akan mengalahkan Ethinos, cukup pusatkan saja perhatianmu ke Avan. Kali ini... lakukan sesukamu" jawab Arion. Ia sudah tidak peduli lagi dengan Avan dan Fieyni.


"Baiklah, kalau ini aku baru menyukainya" Caith tersenyum lebar hingga gigi-giginya menjadi terlihat.


Banier menunjukkan kekesalannya, ia tidak menyangka Retian akan bekerja sama dengan Arion. Kini, masalah lebih rumit masuk ke dalam benaknya.


"Bersiaplah" kata Retian.


"Ya!" jawab Arion.


Keduanya sama-sama mengangkat tongkat ke udara. Dari tongkat Arion, muncul muncul lingkaran es dan di tongkat Retian muncul lingkaran api. Karena kekuatan mereka, angin disana menjadi lebih kencang.


"High Art - Necrofusion!" ucap mereka serentak. Jurus mereka melesat menuju Banier dan yang lainnya.


Banier melindungi dirinya dan Fieyni dengan perisai sihirnya. Yang lain melindungi diri mereka masing-masing, namun karena daya hancur dan efek ledakan dari jurus itu, tiga dari anggota Ethinos gugur.


"Cih" Banier menjadi kesal karena ketiga orangnya mati. "Fieyni, kalahkan mereka, tapi ingat! Jangan bunuh mereka"


"Baiklah" jawab Fieyni. Qube Fieyni berkumpul di kedua tangannya, membentuk seperti cakar raksasa.


"Gadis harimau itu akan menyerang" ucap Retian.


Arion menatap tajam kearah Fieyni. Ia masih kesal karena dikhianati.


Ketika Fieyni ingin bergerak, Caith mengaum layaknya seekor macan. Timbul gelombang angin yang kencang, menghantam apapun yang ada di depannya. Avan sekali lagi jatuh olehnya, Caith melompat kearah Avan dan bertarung dengannya disana.


"Biarkan saja Avan, dia pasti bisa mengatasi kucing itu!" kata Banier yang menyadari Fieyni cemas terhadap Avan.


Fieyni melesat cepat menuju Arion dan Retian. Dengan cepat, Retian memerintahkan prajurit Undeadnya untuk menjadi dinding agar Fieyni tidak sampai ke tempat mereka.


Pasukan Undead segera berkumpul di depan Arion dan Retian. Fieyni tidak mengurangi kecepatannya, ia menghantam para Undead itu dengan cakarnya.


Arion menarik pedang dari sarungnya dan menyimpan tongkat ke punggungnya. Dalam waktu sesingkat mungkin, Fieyni menghancurkan dinding pertahanan Undead dan sudah sampai di lapis terakhir. Dengan sekali tebasan cakar, ia berhasil menembusnya.


"Sekarang, Whiteblood!" seru Retian.


Arion menusuk tanah dengan pedangnya. Dari sana tanah sekitar Arion berubah menjadi es dan menjalar cepat menuju Fieyni. Gadis itu melompat ke udara, namun Retian sudah membaca pergerakannya.


Bola hitam besar muncul diatas Fieyni. Bola itu membesar dan memasukkan Fieyni ke dalam seperti melahap bulat-bulat gadis itu. Bola tersebut mengeras seperti karet.


"Mudah sekali" ucap Retian.

__ADS_1


Banier menjadi tambah kesal dan frustasi. Ia tidak paham dengan kekuatan Retian dan merasa bingung harus berbuat apa. Di sisi lain, Arion berdecak kagum karena Retian bisa mengalahkan Fieyni dalam sekali gerakan di waktu yang singkat.


"Aku memang tidak mempercayai Ethinos sejak kemunculan kalian pertama kali, tapi entah kenapa kalian bisa muncul kembali" kata Retian.


"Kau tidak perlu tahu, Necromancer. Ethinos pasti akan bangkit dan aman di tangan Yang Mulia Sava" jawab Banier.


"Dasar.." Retian menggeleng pelan. "Sava itu tidak lain hanya seorang pelayan, dia tidak lebih tinggi dari raja manapun"


"Berani sekali kau menghina Tuan Sava!" Banier menunjuk kearah Retian. "Dia adalah Raja Ular dan penyelamat bangsa ras Demi-Human. Ideologinya membuat kami sadar dari kelicikan dunia ini"


Retian menggaruk kepalanya karena pusing mendengar ocehan Banier. Arion hanya diam sambil melangkah ke samping Retian.


"Pinjamkan pedangmu" Retian mengulurkan tangannya. Meski bingung, Arion meminjamkan pedangnya. Retian menyimpan tongkatnya ke belakang punggung dan mengenggam pedang Arion ke depan.


"Baiklah, kau pemuja Sava, bagaimana kita akhiri saja ini?"


Retian berlari kearah Banier dengan pedang yang terhunus ke depan.


"Bodoh" gumamnya. Banier mengangkat kedua tangannya ke depan, puluhan belati muncul di udara sambil berputar. Banier lalu mengarahkan puluhan belati tersebut kearah Retian.


Dengan cepat, Retian menangkis belati yang mengarah tepat kearahnya.


"Whiteblood, jaga dirimu di belakang sana!" seru Retian. Belati yang lolos dari gerakan Retian, melesat ke Arion.


Arion pun mengeluarkan pelindung sihir. Walau pelindung itu tidak cukup kuat untuk menahan seluruh belati yang muncul, tapi lumayan untuk pertahanan.


Retian menangkis belati terakhir dan sudah berada di depan Banier. Tatapannya yang dingin sangat mencekam dan menekan tubuh Banier.


"Perasaan apa ini?" gumam Banier.


"Mati kau!" teriak Banier. "Owl Heart!"


Sebuah kurungan berbentuk burung hantu yang di dalamnya ada banyak ranjau. Tiba-tiba, pukulan es menghantam kurungan itu menjauh dari Retian.


"Huh?" Retian kaget, lalu menoleh kebelakang.


"Bocah.." ucapnya.


"Aku tidak suka diam di tempat" kata Arion.


Arion berlari lalu melompat dan mendarat dengan keras di tanah. "Ice Valley!" Arion membekukan tanah disana, es menjalar cepat kemana-mana, membekukan pohon dan rumah bahkan daratan. Retian menjadi paham, ia mengeluarkan tebasan pedang hitam dan menebaskan pohon-pohon disana.


Pohon-pohon itu tumbang kearah Banier menyebabkan gelombang udara yang cukup cepat.


"Berhasil?" tanya Arion.


"Tidak, tentu saja tidak berhasil" Retian menyipitkan matanya. Ia melihat Banier melindungi dirinya dengan sayap yang besar, tidak itu saja beberapa anggota Ethinos lainnya juga selamat.


Banier tertawa, bukan karena senang melainkan kesal. "Dasar kurang ajar! Kau ingin membunuhku?!"


Retian mengambil kembali tongkatnya. Ia menilai Banier adalah lawan yang sangat-sangat merepotkan.


"Ethinos memang menyusahkan" gumam Retian.


"Tidak perlu main-main lagi! Kita akhiri saja. Bawa Necromancer dan Whiteblood itu hidup-hidup!" Seru Banier.

__ADS_1


Tiba-tiba, Retian tersenyum.


"Akhirnya.."


Ia menghentakkan tongkatnya ke tanah. Tiba-tiba, muncul puluhan Undead dari dalam tanah, bersiap untuk bertempur dan melindungi Arion dan Retian.


Kemunculan puluhan mayat hidup itu membuat semangat tempur Ethinos menjadi ciut. Banier menurunkan tangannya, ia menghela napas pendek.


"Gerakan yang bagus, Necromancer. Aku kagum"


"Dari mana mereka datang?" batin Arion.


Mendadak, Avan jatuh di depan mereka. Harimau itu perlahan mengecil dan berubah kembali menjadi bentuk manusia. Ia terluka parah akibat pertarungannya dengan Caith.


"Menyusahkan saja" Caith datang dari samping. Ia sama sekali tidak terluka dan masih terlihat bugar.


Fieyni keluar dari kurungan bola hitam itu, ia melompat keluar dan mendarat di dekat Avan.


"Avan!" teriaknya.


Banier menatap tajam kearah Retian. "Baiklah, kau lolos kali ini. Itu tidak masalah, karena kami akan menyiapkan segalanya" ia tersenyum licik lalu pergi dari sana.


Fieyni menatap Arion sejenak. Arion membalasnya dengan tatapan dingin. Fieyni membopong Avan lalu pergi dari sana bersama yang lain.


"Memuakkan" kata Arion.


Kenneth yang baru sadar dari pingsannya, berjalan keluar dari rumah itu. Ia sangat terkejut melihat pasukan Undead di depan.


Dengan mundur Banier, tersisalah Retian di hadapannya. Untuk bersiaga, Arion menyiapkan butiran salju di tangannya. Butiran itu berguna untuk meledakkan tempat itu sebagai padang es dan Arion bisa melarikan diri bersama Kenneth.


"Pergilah, kulepaskan kau" kata Retian tanpa menatap Arion.


"Hah? Bolehkah?" tanya Arion, kurang percaya.


"Whiteblood.." Retian berbalik. "Keberadaanmu telah diketahui dunia. Orang-orang mulai memburumu, begitu juga dengan pihakku. Kusarankan saja, mulai titik ini berhati-hatilah dan jangan mudah percaya dengan orang lain atau apapun"


"Kenapa kau memberitahuku?"


"Jujur saja, kau adalah orang yang paling menyebalkan sepanjang hidupku ini. Tapi, kau adalah Whiteblood terakhir, berhak untukmu hidup panjang"


"Kau peduli kepadaku?"


"Tidak"


Arion menunduk sedih. Bodoh.


"Tapi, aku pernah mempunyai kekasih seorang Whiteblood. Ia dibunuh setelah identitasnya diketahui"


"Aku turut berduka"


"Tidak apa, dia bangga mati sebagai Whiteblood. Sekarang dengar, Dark Lord masih mempunyai ketertarikan kepadamu, akan kujauhkan dia darimu"


"Baik, terima kasih, Retian" kata Arion sambil berlari kearah Kenneth. "Aku mempercayaimu" katanya sambil tersenyum.


Retian menghela napas setelah Arion dan Kenneth pergi bersama Caith.

__ADS_1


"Kata-kata itu... kapan terakhir kali aku mendengarnya?" gumam Retian tentang ucapan terakhir Arion sebelum pergi.


__ADS_2