
Seorang prajurit bertubuh kekar dan juga tinggi memasuki sebuah tenda yang diperuntukkan untuk atasannya. Prajurit itu membawa sepucuk surat di tangannya yang besar itu.
Di tenda itu, ada seorang pemuda tampan, dibaluti baju zirah perak yang kokoh. Kulitnya yang putih dan mata coklatnya itu akan menghipnotis setiap wanita yang melihatnya. Ia duduk dengan tegap di depan meja yang diatasnya ada peta dengan empat titik merah sebagai penanda.
Mata coklatnya itu yang awalnya fokus dengan peta di depannya menjadi bergerak kearah prajurit yang berdiri di hadapannya saat ini. Tak butuh waktu lama memandangi pria itu, ia menoleh ke surat yang dibawa prajurit tersebut.
"Apa yang kau bawa untukku, Garne?" suara baritonnya terdengar gagah, ia bertanya kepada bawahannya itu yang sekaligus pengawal pribadinya.
"Surat dari Yang Mulia, Tuan" jawab Garne sambil menyerahkan surat itu kepada tuannya.
"Oh? Ada perlu apa?" Garne menaikkan alis matanya. Ia membuka surat itu lalu membacanya. Setelah membaca surat itu, ia mengembangkan bibir di wajahnya itu.
"Ada hal yang menarik terjadi di istana" katanya, ia membuang surat itu ke lantai. "Bereskan semuanya, kita akan bergegas pulang" ucapnya dengan nada memerintah, pemuda itu bangkit dari kursinya.
"Baik, Tuan" Garne membungkuk hormat lalu berjalan keluar tenda.
***
Suara terompet di gerbang kota terdengar sampai istana. Dominick yang duduk di singgasananya segera bangkit.
"Pangeran telah sampai" katanya. Para menteri juga turut bangkit dan mengikuti Dominick keluar.
Suara itu juga merambat menuju kamar Yaena. Wanita itu terkejut mendengarnya, ia segera bangkit dengan perlahan dari kursinya. Wajahnya yang awalnya muram menjadi cerah mendengar suara terompet yang menandakan kedatangan suaminya yang lebih awal ini.
Dari luar istana, rombongan kuda dan prajurit memenuhi jalan kota yang terarah menuju istana. Garne berjalan di samping pemuda itu, dengan senyumnya yang tipis dan juga tatapan matanya yang seperti elang, pemuda tersebut terus memandangi istana.
Gerbang istana terbuka lebar, Dominick dan pejabat istana menyambut kedatangan pemuda tersebut. Kuda putih yang menjadi kendaraannya berhenti di perkarangan istana. Pemuda itu turun, diikuti dengan Garne dan para prajurit di belakangnya.
"Selamat datang kembali, Pangeran Klein" Dominick menyambutnya dengan senyumnya yang lebar, ia memeluk menantunya itu.
Klein membalasnya dan juga dengan senyumannya. Dominick melepaskan Klein, pemuda di depannya ini lebih tinggi tiga sentimeter darinya dan juga lebih kekar.
"Terima kasih atas sambutannya, Yang Mulia" kata Klein.
"Tentu saja, kau akan selalu disambut disini karena ini adalah rumahmu" jawab Dominick.
Klein memindahkan pandangannya ke seorang penyihir di belakang Dominick.
"Heaven Mage, senang bertemu denganmu lagi" salamnya kearah Aciel.
Aciel tersenyum tipis, ia tidak berkata apa-apa selain membungkuk hormat. Aciel tidak menyukai pria ini, selain licik, Klein juga bisa menjadi ancaman untuk Arion. Tapi, ia tidak boleh menunjukkan rasa ketidaksukaannya itu di depan mereka semua.
Mata Klein menyisiri perkarangan depan istana, ia mencari-cari sesosok orang yang ia rindukan selama ini.
"Kau mencari Yaena, ya?" tanya Dominick, yang mengetahui pandangan mata Klein. "Tenang saja, dia-"
"Sayang" suara Yaena dari pintu masuk istana membuat Dominick harus menghentikan ucapannya. Klein tersenyum melihat istrinya disana.
Yaena berjalan perlahan menuruni tangga istana yang terbuat dari beton. Aciel yang ada di jalan Yaena berjalan mundur untuk memberinya jalan menuju Klein.
__ADS_1
Klein memeluk istrinya itu di depan semua orang. "Aku merindukanmu" bisik Klein.
"Senang mendengarnya" jawab Yaena, sambil sedikit tersenyum jahil. Klein hampir ingin tertawa mendengar jawaban Yaena. Ia menyentuh perut Yaena, lalu ia berlutut di depannya.
"Ayah disini, kau merindukan Ayah, ya?" bisiknya ke perut Yaena yang sedang mengandung calon anaknya itu.
"Tentu saja dia merindukanmu, kau pikir bagaimana kesepiannya dirinya selama ini?" Yaena melipat tangan di dadanya sambil memasang wajah cemberut.
"Dia yang rindu kenapa kau yang marah?" Klein memasang tatapan heran.
Dominick mendehem, membuat kedua pasutri ini sama-sama menoleh kearahnya. Mereka baru sadar disaksikan orang-orang disana.
"Ayo masuk. Kita akan menyambutmu di dalam" ajak Dominick.
***
Kedatangan Klein hari ini bukan tanpa alasan biasa, mereka memanggilnya karena Arion Whiteblood dengan sengaja menyusup ke istana ini. Dan juga, karena posisi Arion sebagai buronan utama Rabadar Empire membuat Klein harus ikut bertindak.
Dengan kemunculan Arion yang mendadak, membuat Dominick harus menjalankan rencana baru dengan memulangkan Klein lagi ke istana.
Pada waktu ini, mereka menyelenggarakan rapat yang dihadiri petinggi istana dan juga prajurit kelas atas yang dimiliki Rabadar Empire.
Dominick duduk di singgasananya, memperhatikan seluruh orang-orangnya dari sana. Disana ada Klein yang telah memakai pakaian Pangeran, lalu ada Aciel yang duduk berseberangan dengan Klein sambil memegang tongkat dengan tangan kanannya. Kemudian, ada Reilo yang merupakan adik dari Klein, ia duduk disamping Kakaknya itu.
Tak lupa, lima dewan kerajaan juga hadir disana, ikut dalam membahas Arion.
"Kita telah kecolongan dan kehilangan kesempatan untuk menangkap Whiteblood itu. Dia seperti hantu saja" Theo menggeleng pelan.
"Menurut Pangeran Reilo, dia juga bertambah kuat. Arion mampu menjatuhkan Pangeran dari gedung dengan satu jurus" kata Robio.
"Satu jurus?" bisik Klein dengan nada yang mengejek. Reilo hanya menatap datar kearah Kakaknya itu.
"Ya, Whiteblood itu bertambah kuat, dan itu akan merugikan kita" ujar Redmund.
"Lalu, apa yang harus kita rencanakan?" tanya Dominick.
Arion bertambah kuat dan itu memang sangat merugikan bagi pihak yang ingin menangkapnya. Belum lagi orang-orang yang mau membantunya, Rabadar harus berpikir sebanyak dua kali sebelum menangkapnya.
"Anak ini bisa membuat kalian ragu untuk memburunya, itu cukup merepotkan juga" Klein menopang kepala dengan tangannya.
"Whiteblood terakhir sudah menarik perhatian banyak orang di dunia ini, tidak sedikit juga yang mau menangkapnya. Darahnya sangat berharga, aku pernah membaca buku tentang klan legendaris itu" lanjutnya, dengan tenang.
Aciel menyipitkan matanya kearah Klein. "Apa yang akan direncanakannya?"
"Apakah kalian pernah berpikir, dia kemari untuk bertemu dengan keluarga angkatnya?" tanya Klein, menebak.
Mata Aciel melebar, ia melirik kearah Dominick yang menunjukkan reaksi kaget.
"Aku hanya menebak saja, ini firasatku yang mengatakan kalau ia kemari untuk bertemu dengan mereka. Apa mungkin ia sedang perjalanan ke tempat keluarganya itu?"
__ADS_1
Deg!
"Astaga, dia mampu melihat kemana arah pergi Arion. Ini bisa gawat kalau dibiarkan!" batin Aciel yang sudah cemas.
"Bagaimana kau bisa menebaknya, Pangeran? Arion bisa saja pergi bukan ke tempat keluarga kerajaan terdahulu" Aciel mencoba membuat seluruh orang menjadi ragu.
"Kau ada benarnya, Heaven Mage. Bisa saja ia pergi ke berbagai tempat dan melakukan apa yang ingin ia lakukan" Klein mengangguk pelan. "Tapi, pertanyaannya saat ini, kenapa ia kemari? Siapa yang sudah ia temui? Bukankah sudah pasti, ia mencoba cari tahu tentang keberadaan Hanza dan yang lainnya?" Klein tersenyum miring.
Aciel mengerutkan dahinya. Ia sudah menebak kalau pria ini bisa melawan kata-katanya.
"Ia masuk dan keluar dengan cepat. Mencari tahu keberadaan mereka dan saat ini mungkin ia sedang kesana dan meminta bantuan mereka"
"Hmph, bantuan apa yang kau maksudkan?" tanya Aciel.
"Entahlah, bantuan dengan bantuan sepertinya"
Dominick memahami maksud Klein. "Ia mencari Daendra"
Klein menyeringai. "Bisa jadi, Yang Mulia"
"Kau sudah mengetahuinya?!" Ucap Aciel dalam hati, ia menatap Klein dengan tidak percaya.
Dominick bangkit dari duduknya dan segera memerintahkan untuk mempersiapkan pasukan. Ia meminta Klein dan Reilo ikut serta dalam pengejaran ini.
"Pergi ke Athiesh Kingdom! Cari dia dan jangan sampai ia bertemu dengan Daendra!"
***
Klein melangkah dengan cepat di koridor, tiba-tiba Aciel muncul dari belokan dan hampir menabrak Klein.
"Kau rupanya" kata Aciel, sedikit mendongakkan kepalanya keatas.
"Bukannya kau sudah pergi?" tanya Aciel, bingung dengan Klein yang seharusnya sudah berangkat bersama Reilo dan yang lainnya.
"Aku tidak perlu berangkat bersama yang lain, lagipula aku bisa menyusul mereka dengan cepat" jawab Klein dengan enteng.
Klein melangkah ke samping Aciel sambil menepuk pundak penyihir itu.
"Sepertinya rencanamu gagal total, ya, Heaven Mage"
Aciel mengerutkan dahinya, ia menoleh ke Klein yang ada disampingnya.
"Apa maksudmu?"
Klein merasa geli, ia menyeringai lalu menghela napas pendek. "Jangan berpura-pura padaku, Heaven Mage, kau tidak bisa berbohong dihadapanku. Kau berusaha untuk menepis keberadaan dari teman lamamu itu"
Klein sudah mengetahui dari awal rupanya, ia telah menyadari Aciel masih berpihak kepada Arion, namun itu bukan masalah besar untuknya. Bagi dirinya, Aciel bukanlah apa-apa selain menjadi bawahan Rabadar Empire.
"Biar kuberitahu, Heaven Mage, Whiteblood itu pasti akan kutangkap dengan tanganku sendiri. Tidak peduli seberapa keras usahamu untuk membelanya, ia pasti takluk ditanganku" Klein mengangkat telapak tangannya di udara lalu mengepalnya erat.
__ADS_1
"Aku akan mencoba untuk tidak memberitahu orang-orang tentang berpihaknya dirimu kepada buronan itu. Jadi, kau jangan coba-coba berbuat hal yang tidak-tidak, jika kau sampai melakukannya akan kupastikan kau... menyesalinya"
Setelah Klein mengancamnya, ia menepuk pundaknya sebanyak tiga kali lalu pergi dari sana. Aciel mengenggam tongkatnya dengan erat. Ia sadar bahwa gerak-geriknya sudah terbatas, ia hanya bisa berharap Arion bisa menjaga dirinya sendiri.