The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Permohonan


__ADS_3

Luke dan Daendra telah sampai desa kelahiran Luke, Asfian Town.


Asfian Town berada di kaki gunung. Dengan luas hampir mencakup dua kerajaan, Asfian Town merupakan salah satu daerah terbesar tanpa terikat dengan satupun kerajaan atau kekaisaran.


Desa ini adalah desa mandiri. Mereka hidup dan menjaga diri dengan segala kemampuan yang ada di dalam desa.


"Dwarf?"


Daendra menatap jengkel kepada Luke. Bagaimana tidak? Yang dipikiran Daendra dulunya adalah sekelompok barbarian atau ksatria yang berasal dari ras Manusia. Kiranya, Asfian Town ini adalah tempat tinggal para Dwarf, makhluk cebol yang pemarah.


"Sudah kubilang, ini tak akan sesuai dengan ekspetasimu"


Luke membalasnya dengan tatapan datar. Daendra menghela napas pasrah, mau tidak mau ia harus mendapat bantuan sebanyak mungkin.


Mereka pun masuk. Baru saja mereka melangkah masuk, segerombolan Dwarf anak-anak menyambut mereka, terutama Luke.


"Luke!"


"Luke sudah datang!"


Luke hanya tersenyum lebar menanggapi mereka. Para Dwarf ciliki itu mengerumuni mereka.


"Kau terkenal juga, ya?" Daendra mulai sedikit heran.


Luke hanya tertawa renyah. Di daerah ini, Luke dianggap sebagai pedoman. Pasalnya, ia adalah kebanggaan Asfian Town karena julukan dan kemampuannya di luar sana. Jadi, tidak sedikit dari para Dwarf cilik ini yang menganggumi Luke.


"Dimana-"


Disaat Luke ingin bertanya kepada anak-anak itu, tiba-tiba saja ia ditampar dengan keras dari samping hingga terhempas dan keluar dari kerumunan anak-anak itu.


Daendra melebarkan matanya, ia segera menoleh langsung ke sumbernya. Ternyata, seorang gadis manusia dengan pakaian seperti seorang Archer, rambut hijaunya panjang hingga menutupi hingga menutupi lehernya.


"Luke!" seru gadis itu, ia nampak kesal sekali kepadanya.


"A-aduuh.." Luke hanya bisa meringis kesakitan dan berusaha sekuat tenaga untuk bangkit. "Untuk apa kau menamparku?!"


"Seharusnya kau tahu" kata gadis itu sedingin es.


Daendra hanya diam, tidak ingin ikut campur ke dalam masalah mereka.


"Hanya masalah itu kau ingin meributkannya?!"


"Oh" Gadis itu tambah marah. "Kau sepertinya sudah tidak sayang kepada nyawamu, ya?"


Luke menjerit di dalam hatinya. Ia menyesal melontarkan ucapan itu kepada gadis itu, rasanya ingin kabur secepat mungkin darinya.

__ADS_1


"Apa kau tidak lihat aku punya tamu disini?!"


Gadis itu segera menyadarinya, ia pun menoleh ke Daendra yang berdiri membeku dari tadi. Gadis itupun langsung bertingkah sopan.


"Maafkan aku karena kau melihat pemandangan yang tidak enak tadi" ia tertawa kecil sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke udara.


"Y-ya, tidak apa-apa" jawab Daendra.


"Perkenalkan, namaku Leni" ia mengulurkan tangannya kepada Daendra. Seketika Daendra terdiam mendengar nama gadis itu.


Hampir mirip dengan nama Ibunya.


"Daendra" ia menjabat tangan Leni.


Leni menoleh ke Luke. "Ada urusan apa kau membawa tamu kesini?"


"Sebelum itu, aku ingin bertemu dengan Tetua" jawab Luke dengan serius.


***


Dwarf adalah ras yang mengandalkan kemampuan pandai besi mereka. Tak jarang mereka menghasilkan senjata-senjata yang bagus dibandingkan pandai besi dari ras lain.


Selain kemampuan pandai besi mereka, Dwarf tergolong ke ras yang cerdas namun pemarah.


Daendra berusaha mengacuhkan pandangan itu, tapi setiap ia berusaha melakukannya, ia tetap saja terganggu. Rasanya, Daendra ingin menendang bokong dua Dwarf itu.


Pintu pun terbuka, Luke mengajak Daendra masuk. Leni ikut dengan mereka karena penasaran.


Seorang pria pendek sedang duduk bersila diatas batu giok. Wajahnya keriput dan dipenuhi rambut, matanya masih bisa menatap dengan tajam dan... tampaknya ia masih kuat dan bugar.


"Luke, kau sudah kembali" katanya.


"Tetua" Luke membungkuk hormat.


"Hm?" Tetua itu melirik ke Daendra. "Kau membawa seorang teman?"


"Iya, Tetua"


"Kalau begitu duduklah, kau juga Leni"


Mereka bertiga duduk di kursi rotan yang memanjang kesamping. Rumah Tetua ini cukup sederhana dan tidak besar, perhiasan rumah juga tidak banyak di ruangan ini.


Tetua itu masih duduk, namun tidak lama kemudian ia melayang menuju kursi. Daendra membuka sedikit mulutnya yang mengatup rapat itu dari tadi. Ia sedikit kaget melihat Dwarf tua itu terbang.


"Luke jarang membawa orang luar kesini" kata Tetua itu. "Ada urusan apa kau kemari, Mantan Pangeran Rabadar, Daendra Gareins?"

__ADS_1


Lagi-lagi, Daendra dibuat kaget. Bagaimana cebol tua ini tahu identitasnya? Dwarf ini pasti bukan sembarangan Dwarf yang biasa ia temui di jalanan.


"Dia... Pangeran Rabadar?" Leni juga kaget.


"Pertama-tama, saya memohon maaf pada anda karena datang secara mendadak" ucap Daendra.


"Saya kemari dengan satu tujuan, untuk meminta bantuan dari Asfian Town"


"Bantuan apa itu, Pangeran?" tanya Tetua itu.


"Bantuan untuk mengembalikan Rabadar Empire ke pemimpin aslinya, Hanza Gareins"


Tetua mengangkat alisnya. Ia sudah menebaknya, Daendra pasti ingin meminjam kekuatan dari Asfian Town. Sementara itu, Leni tersedak napasnya sendiri karena terkejut mendengarnya.


"Bukannya ingin menolak, tapi Asfian Town belum tentu menerima tawaranmu ini, Pangeran. Dan juga, tidak ada jaminan kalau kau akan menang nantinya"


Napas Daendra tertahan karena mendengarnya. "Kami akan mati-matian merebut Rabadar Empire. Kekaisaran itu bukan hanya sekedar tempat pemerintahan, itu adalah rumah kami. Jadi, kami pasti akan merebutnya dengan penuh"


"Pangeran, aku hargai semangatmu itu, tapi aku takut kalau Asfian malah yang rugi di dalam perperangan saudara ini"


"Kami menawarkan aliansi dan hubungan yang erat kepada Asfian jika kami menang nantinya. Akan kami usahakan semuanya, Asfian bisa tambah makmur lagi dan mempunyai rekan yang tangguh"


Daendra masih berusaha membujuk.


"Aku adalah orang yang tidak ingin pesimis, tapi dalam keadaan ini apakah kau merasa cukup kuat untuk menaklukan kekaisaran itu? Berapa bantuan yang berada dipihakmu sekarang?"


Pertanyaan itu mampu mengunci mulut dan otak Daendra. Tetua Asfian ini benar, Daendra memang tidak mempunyai bala bantuan yang besar.


Tetapi, muncul jawaban di kepalanya.


"Memang benar saya tidak memiliki bala bantuan yang besar, tapi setidaknya kami mempunyai rencana yang mampu mengalahkan musuh yang besar sekalipun"


"Tetua" panggil Luke. "Kau pernah mengatakan ini kepadaku. Dalam perang hitungan pasukan tidak bisa dijadikan jaminan untuk menang perang, tapi rencana dan strategi bisa menjadi jaminannya"


Tetua itu mengangguk perlahan sambil mengelus janggutnya.


"Memang benar, strategi adalah pusatnya. Tetapi, strategi bisa dikalahkan dengan strategi juga. Mungkin saja mereka mempunyai strategi yang hebat dari punyamu"


Tiba-tiba, Daendra bertekuk lutut dihadapan Tetua. Luke dan Leni sama-sama kaget melihat reaksi dari Daendra.


"Kumohon! Bantulah kami, aku telah berjanji untuk membawa pasukan yang bisa membantu. Aku juga sudah berjanji untuk mengembalikan istana itu kepada keluargaku... dan aku juga sudah berjanji untuk membawa kembali keluargaku untuk hidup lebih baik. Aku mau mati untuk keluargaku, kumohon"


Ia mengingat kembali pada waktu itu, ketika Rena bekerja dengan susah payah. Disaat itu ia sedang sakit, tapi ia masih bekerja. Keringat terus mengucur di wajahnya, tetapi Rena tidak mengeluh dan terus bekerja. Hal itu membuat hati Daendra sangat sakit.


"Kumohon.."

__ADS_1


__ADS_2