
"Hell Beast ..." Daendra tidak bisa bergerak karena masih syok.
"Tuan, ada apa?" Gadis itu kembali dari belakang, memeriksa keadaan di depan rumahnya. Matanya melotot melihat makhluk besar itu berdiri beberapa meter dari depan rumahnya.
"Berlindung di belakang bersama adik-adikmu, jangan keluar sebelum kami bilang untuk keluar" bisik Arion.
Ia mengangguk dan langsung berlari ke belakang. Daendra mengambil pedangnya yang terletak di kursi secara perlahan.
"Kita harus menyingkirkannya" bisik Daendra.
"Ya" Arion mengangguk.
Di luar, makhluk itu masih menyantap seorang korban di tanah. Mulutnya dipenuhi darah dari mangsanya itu. Tiba-tiba, ia berhenti memakannya dan menatap ke depan, ia melihat Daendra berdiri dengan pedang yang ia pegang.
"Tenang Daendra, mereka sama seperti Qube Beast lainnya" ucap Daendra, menenangkan dirinya.
Qube Beast adalah hewan-hewan yang bisa menggunakan Qube, contohnya Red Wolf.
Hell Beast itu menggeram, mulutnya mengeluarkan asap. Ia bersiap untuk berlari, menerkam Daendra. Namun, Daendra tidak akan membiarkan itu terjadi kepadanya.
"Qube Art - Dragon Fire!"
Naga Api keluar dari lengan kiri Daendra. Naga itu melesat menuju Hell Beast. Kedua makhluk itu bertarung, Hell Beast cukup kerepotan karena Naga Api itu menyemburkan api kepadanya.
"GRRAAUURR!!!" Ia mengaum sambil melayangkan cakarnya kepada Naga Api sehingga makhluk Qube itu menghilang menjadi asap.
Hell Beast tersebut menjadi marah, ia berlari menuju Daendra. Tiba-tiba, Arion datang dari atas, ia bersiap menebas hewan itu.
Slash!
Satu tebasan berhasil ia layangkan ke kepala makhluk itu, membuatnya mengerang kesakitan. Darah hitam memuncrat keluar mengenai wajah Arion.
Arion mundur beberapa langkah menyamai lokasi berdirinya Daendra.
"Apa itu cukup?" tanya Daendra.
"Kurasa tidak" jawab Arion.
Makhluk itu mengaum kepada mereka. Ia melayangkan kembali cakarnya, mereka bisa menghindar dengan cepat. Makhluk itu terus menyerang keduanya, membuat mereka tidak dapat menyerang balik.
Arion mendapat ruang untuk menyerang, ia dan Hell Beast itu saling tukar serang sebelum Arion di lempar ke tumpukan kayu. Daendra datang dari belakangnya, ia melompat ke tubuh makhluk itu.
Daendra berhasil menggoreskan pedangnya ke kepala makhluk tersebut. Hell Beast itu mengaum, lalu memegang kepala Daendra, kemudian ia lempar ke tempat Arion yang baru saja ingin bangkit.
Kedua lelaki itu sama-sama meringis kesakitan. Tiba-tiba, Hell Beast muncul dari atas mereka, bersiap untuk memukul mereka.
"Oh sial!"
Mereka langsung menghindar, Daendra berlari menjauh begitu juga dengan Arion. Gabungann kekuatan mereka belum cukup kuat untuk mengalahkan Hell Beast itu.
"Qube Art - Ice Bullets!"
Puluhan peluru es melesat menuju Hell Beast. Makhluk tersebut membuat gerakan perlindungan dengan lengannya, alhasil peluru itu hanya berhasil mengenai lengan Hell Beast tanpa melukai wajah dan badannya.
Jleb!
Daendra menusuk Hell Beast dari belakang. Bukannya kesakitan atau terjatuh ketanah, makhluk itu menoleh ke belakangnya. Ia mendapati Daendra berada di punggungnya dengan posisi sedang menusuk dirinya.
"Hai" sapa Daendra.
Makhluk itu mengaum, lalu memegang tubuh Daendra dan kemudian ia lemparkan ke rumah warga.
"Aduh.." Daendra meringis kesakitan. Ia berusaha bangkit sambil memegang pedangnya. "Makhluk ini berasal dari dunia berbeda, pasti ada cara untuk mengalahkannya" gumamnya.
Arion sedang bertarung dengan Hell Beast. Daendra berjalan perlahan seraya mengamati makhluk itu.
"Mana titik kelemahanmu ...?"
Tiba-tiba, Hell Beast muncul di belakangnya. "Apa?!" kata Daendra kaget.
"Qube Art - Ice Barrier!" Muncul pelindung es di hadapan Daendra, perisai itu muncul karena Arion.
Hell Beast ingin memukul Daendra tetapi malah perisai itu, namun tetap saja efek pukulannya mengenai Daendra, membuat lelaki itu terseret ke belakang, beberapa meter jauhnya.
__ADS_1
Hell Beast menepuk tangannya, menyebabkan angin tercipta dari tepukan tangan itu. Angin tersebut menyapu apapun yang ada di jalannya, beberapa pohon ikut tumbang dan dua gerobak berterbangan.
Daendra menancapkan pedangnya ke tanah untuk menahan dirinya dari serangan Hell Beast. Arion berlari mendekatinya.
"Qube Art - Wind Barrier!"
Sebuah perisai angin muncul di hadapan mereka. Arion berusaha menahan angin dari Hell Beast itu, namun kekuatan angin tersebut lebih kuat sehingga Arion menjadi kesulitan.
"Kita harus mencari cara untuk mengalahkannya!" seru Arion.
Daendra diam sejenak, tidak lama kemudian ia mendapatkan ide.
"Aku ada ide" ucapnya.
Makhluk itu berhenti menyerang, ia tidak melihat sosok Arion dan Daendra lagi disana. Dengan bingung, ia berputar-putar mencari keberadaan mereka.
"Mencariku?" tanya Arion yang berdiri beberapa meter di belakangnya. Arion memegang pedang esnya dengan erat.
"Grr!" Makhluk itu menggeram kepada Arion.
"Qube Art - Ice Prison Technique!"
Es bermunculan disekitar Hell Beast, makhluk itu mulai panik. Es menjalar cepat menuju kakinya hingga kakinya itu membeku, tak dapat di gerakan. Es mulai berhenti ketika sampai di pahanya.
"Sial, hanya segini kemampuanku" kata Arion.
Daendra muncul, dengan pedang yang diselimuti oleh api, ia berlari menebas Hell Beast itu. Makhluk tersebut mengerang kesakitan, cara ini cukup efektif.
"Baik, kita mulai serang dia!" seru Daendra.
Arion dengan cepat menyerang Hell Beast tanpa henti, begitu juga dengan Daendra. Mereka tidak membiarkan makhluk itu untuk bernapas.
Slash!
Slash!
Slash!
Slash!
Slash!
"Kau periksa" ucap Daendra.
"Tidak, kau saja" ucap Arion.
Tiba-tiba, makhluk itu mengaum, es yang membuatnya tidak bisa bergerak itu pecah. Mata Hell Beast menjadi merah menyala, giginya bertambah taring. Ia menoleh ke Arion dan Daendra.
"Mustahil" kata Arion.
Hell Beast bersiap untuk bergerak, Arion menyadari hal itu.
"Hati-hati!" kata Arion, namun siapa sangka? Hell Beast muncul di samping Daendra dengan lengan diatas, bersiap untuk menyerang Pangeran itu.
"Dia cepat!" ucap Daendra sebelum ia dipukul dan terhempas dari sana.
"Daendra!" teriak Arion. "Sial, kau belum mati juga rupanya"
Hell Beast melayangkan lengannya ke Arion, namun Arion bisa menyambut itu dengan pedang esnya.
"Ice Sword Technique" ucapnya. "Aku sudah mengasah kemampuan ini dari dulu!" Arion menyerang terlebih dahulu.
Arion kini lebih efektif dalam menyerang. Ia meminimalisir gerakan menghindarnya untuk menghemat tenaga dan memaksimalkan gaya menyerang. Arion terlihat seperti menari dengan menggunakan pedang.
Hell Beast itu kembali menyerang dengan lengannya, Arion dengan tangkas menebas lengan makhluk tersebut hingga terputus dari tubuhnya.
Hell Beast itu mengerang, tapi Arion belum selesai. Ia menusuk mata makhluk tersebut lalu memukul tubuh Hell Beast hingga terseret ke belakang.
Dengan sebuah pedang yang masih menancap di matanya, Hell Beast berlutut menahan sakit.
"Aku belum selesai!" teriak Arion.
Arion berlari kearahnya, Hell Beast hendak bergerak, tapi tubuhnya kembali membeku. Kali ini seluruh tubuhnya kecuali dari kepala sampai leher.
__ADS_1
Slash!
Tanpa banyak basa-basi, Arion berhasil memenggal kepala Hell Beast dengan sekali tebasan yang sempurna.
Napas Arion terputus-putus, ia sudah menggunakan Qube terlalu banyak dan kini ia sudah kekurangan Qube. Tubuhnya seakan ingin jatuh karena lemas, tetapi Arion tetap berusaha berdiri.
"Daendra ..." Arion berjalan sempoyongan menuju lokasi Daendra jatuh. Ia melihat seorang lelaki tanpa baju sedang tergeletak di tumpukan kayu. Walau penglihatannya buram, ia dapat mengenali bahwa lelaki itu adalah saudara angkatnya.
Arion sampai di tempat Daendra, lelaki itu sedang tidak sadarkan diri. Ada bekas luka tiga sayatan cakaran yang cukup besar di tubuh Daendra, jika tidak ditangani lebih cepat, maka Daendra bisa mati kekurangan darah.
Gadis itu keluar dari rumahnya, memeriksa keadaan di luar. Ia melihat jasad Hell Beast tanpa berkepala berada di dalam es yang hendak mencair. Lalu, ia menoleh ke Arion yang terlihat ingin jatuh pingsan beberapa meter dari jasad Hell Beast itu.
Gadis itu berlari menuju kearahnya.
"Tuan!" panggilnya.
Arion menoleh ke gadis itu. "Tolong.. panggilkan ... medis atau apapun. Daendra .. sedang sekarat"
"Sudah tidak ada waktu, biar aku saja" kata gadis itu. Ia meletakkan kedua tangannya di bekas luka cakar di tubuh Daendra, seraya membaca mantra penyembuhan, gadis itu menutup kedua matanya. Sinar kuning terpancar dari lengannya menuju ke seluruh tubuh Daendra.
Arion dapat melihat itu. Ia agak terkejut melihat gadis ini menguasai teknik penyembuhan.
Luka di tubuh Daendra mulai memulih, walau belum sepenuhnya tapi itu bisa menghentikan darah yang terus keluar. Luka Daendra mulai menutup secara perlahan.
"Mmgh ...!" Daendra mulai sadar.
"Syukurlah" Gadis itu bernapas lega, begitu juga dengan Arion.
Daendra membuka kedua matanya secara perlahan, yang ia lihat pertama kali adalah gadis itu. "Bidadari ... kau cantik sekali" ucapnya.
Seketika gadis itu tersipu, wajahnya merah merona dan ia tidak berani menatap Daendra lebih lama. Daendra menoleh ke Arion yang tersenyum padanya, ia pun menyadari perkataannya tadi.
"Astaga! M-maksudku ... a-aku tidak bermaksud merayumu ... aku ... mm ... a-anu .. aku tidak mengatakan ..." Daendra hilang kata-kata dan menjadi salah tingkah, wajahnya juga memerah.
Arion tertawa kecil melihatnya.
"Kenapa kau tertawa?! Aku membencimu, Arion!"
"Kenapa kau selalu membenciku?
"Sudah takdirku untuk membencimu"
"Hahaha! Itu baru saudaraku"
"Aku bukan ... Ugh!" Tiba-tiba Daendra merasa kesakitan, Arion dan gadis itu menjadi panik.
"Bawa dia kerumahmu, dia masih belum pulih" kata Arion.
"Baik" gadis itu setuju, lalu ia membantu Arion untuk membawa Daendra ke rumahnya.
Sesampai di sana, Daendra direbahkan di kasur, ia terlihat masih menahan sakit.
"Apa kau masih bisa menyembuhkannya?" tanya Arion.
"Aku akan berusaha" jawabnya.
Gadis tersebut kembali menyentuh tubuh Daendra untuk memulihkannya kembali. Beberapa saat kemudian, gadis itu merasa kesakitan terutama di lengannya.
"Ada apa? Kau tampak kesakitan" tanya Arion.
"T-tidak apa, Tuan ... aku bisa mengatasi ini" jawabnya sambil tersenyum tipis. Ia terus menyembuhkan Daendra, tapi seiring waktu berjalan, ia merasa kesakitan.
"Ah!" Gadis itu berhenti melakukan penyembuhan, ia memegang lengan kanannya. Arion menjadi khawatir.
"Kau tidak apa? Kau tidak perlu memaksakan diri, Daendra juga terlihat sudah lebih baik"
"Tidak, aku ingin menyembuhkan Tuan Daendra" ucapnya dengan nada meyakinkan.
Ia kembali melakukan tugasnya, meskipun meringis kesakitan, ia tetap menyembuhkan Daendra. Beberapa saat kemudian, Daendra menjadi tenang, lukanya sudah pulih tapi harus diperban dan ia tidak boleh bertarung dulu.
Gadis tersebut menjadi terengah-engah, ia sudah kehabisan tenaga dan Qube. Arion langsung menangkapnya sebelum gadis itu jatuh pingsan. Ia meletakkannya disamping Daendra yang tertidur pulas, kasur itu cukup untuk dua orang.
"Kau seorang Priest, ya" gumamnya. "Akan kutinggalkan kalian di sini sampai pulih" Arion melangkah keluar.
__ADS_1